TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 85. KEJUTAN


__ADS_3

Berada di tanah kelahiran memang membuat Khadijah merasa senang, meski kini sudah tidak lagi bersama kedua orang tua kandung nya, namun keberadaan Abah dan Umi Amina tentu membuat Khadijah merasa memiliki sosok pengganti.


Hari ini merupakan pagi ke tiga Khadijah bersama Aksara berada di kota Jombang.


"Sudah siap ?" tanya Aksara


"Sudah mas. Memang kita mau kemana sih mas ?"


Mendengar pertanyaan Khadijha, Aksara hanya menjawabnya dengan senyuman saja. Dan tentu saja hal itu membuat Khadijha semakin penasaran saja.


"Aku jamin kamu pasti suka"


Aksara mencubit manja pipi Khadijah. Dan hal itu juga semakin membuat nya merasa penasaran.


Setelah berpamitan pada Abah dan Umi serta kedua mertua nya, Khadijah bersama Aksara pergi meninggalkan pesantren. Tanpa Asisten dan tanpa supir pribadi sang suami, hanya berdua saja, Aksara menyusuri jalanan yang tentu sangat familiar di dalam ingatan nya.


Namun Khadijah cukup terkejut sebab suaminya begitu hafal jalanan yang di lalui mereka, entah sejak kapan, namun Khadijah merasa ini mungkin saja juga kali pertama suaminya berkendara di tanah kelahiran nya tanpa supir dan asisten pribadi.


"Mas ?"


"Em ?"


"Kita mau kemana sih sebenarnya?"


Mendengar hal itu Aksara hanya kembali mengulas senyum di wajah nya tanpa berniat untuk memberikan jawaban pada Khadijah.


"Mas ??"


Khadijah tetap berharap Aksara akan mengatakan kemana tujuan mereka.


"Kamu akan tahu sebentar lagi"


Kerutan halus tampak jelas terlihat di kening Khadijah, namun Khadijah sedikit tertegun mendapati Aksara mengarahkan kendaraan tersebut menuju rumah lama nya.


Rumah itu sudah cukup lama tidak di tempati, dan tentu tidak terawat, lalu untuk apa Aksara mengajaknya kesana,'Pikir Khadijah'.


Namun benar dugaan nya, Tidak butuh waktu lama Aksara telah menepikan mobil nya di depan rumah masa kecil Khadijah. Namun yang dia ingin tidak seperti ini rumah nya dulu.


Rumah yang Khadijha lihat saat ini tampak begitu indah dan sangat jauh berbeda dari rumahnya dahulu.


"Mas ?. Ngapain kita kesini ?"


Khadijah pun bertanya, sebab dia berpikir jika mungkin saja rumah yang didatangi Aksara adalah rumah milik orang lain.

__ADS_1


"Ke rumah kita lah sayang"


Dua bola mata Khadijah terbelalak sempurna, mendengar ucapan Aksara yang begitu mengejutkan tentu nya.


"Rumah kita ?"


Anggukan kepala menjadi jawaban Aksara atas pertanyaan Khadijah.


"Iya sayang, rumah kita, Rumah yang aku beli dari Abah dan saat ini aku serahkan pada mu"


Aksara meraih tangan Khadijah dan menyerahkan sebuah kunci yang baru saja dia ambil dari saku celana nya. Khadijah begitu terkejut bahkan gantungan kunci yang melekat pada kunci baru rumah tersebut sama dengan gantungan kunci rumah lama nya.


"MashaAllah. Mas ??"


Tanpa terasa cairan bening menggenang begitu saja di pelupuk mata indah Khadijah, bukan bersedih, sebab tangis Khadijah adalah karena dia sangat bahagia.


Aksara lantas meraih bahu istrinya, dan mendekap erat dalam pelukan nya, Aksara merasakan getaran dalam tangisan Khadijah, dan hal itu nyatanya cukup membuatnya terharu.


"Kita masuk ?" Ajak Aksara setelah Khadijah lebih tenang dari sebelum nya, dan anggukan kepala menjadi jawaban Khadijah atas ajakan sang suami.


"Bismillah"


Dengan menyebut nama Allah, Khadijah membuka pintu rumah lama nya, yang telah Aksara sulap bak istana.


"Terima kasih ya Mas"


Khadijah memeluk Aksara dengan begitu erat, entah kebaikan apa, namun limpahan kebahagiaan begitu menyelimuti dirinya. Khadijah merasa Allah begitu baik pada nya, hingga apa yang tidak pernah dia minta dan tidak pernah dia duga pun alah berikan saat ini juga.


***


Waktu menunjukkan pukul 15.30


Satu Minggu sudah Aksara dan Khadijah bersama kedua orang tuanya berada di kediaman Abah dan Umi Amina.


Sore ini mereka akan melakukan perjalanan untuk kembali ke ibukota, selain karena Aksara yang harus kembali bekerja, juga karena Khadijha pun juga harus segera memulai kuliah nya. Tinggal beberapa langkah lagi, usaha dan cita-citanya menjadi seorang dokter akan segera terwujud.


Semua yang Khadijah dapatkan tentunya tidak lepas dari doa dan ridho Allah serta tangan-tangan baik orang di sekitarnya, termasuk Aksara.


Tok tok tok.


Terdengar ketukan pintu dari balik kamar Khadijah. Mendengar hal itu Khadijah segera menghentikan aktifitasnya, dan bergegas membuka pintu kamar nya.


"Ning, Abah dan Umi dawuh semua makan dulu sebelum berangkat"

__ADS_1


"Bu Gita dan pak Lukman juga sudah menunggu Ning"


Salah seorang santri yang Memnag bertugas piket di dapur besar pesantren di minta Umi Aminah untuk memanggil Khadijha dan yang lain tentu nya.


"Iya Aisyah, Sebentar lagi saya kesana"


Aisyah pun mengangguk dan berlalu meninggalkan kamar Khadijah.


"Siapa sayang ?"


Aksara yang sebelumnya sibuk menelfon, menanyakan siapa yang datang ke kamar mereka.


"Abah dan Umi minta kita makan dulu mas sebelum pulang"


Aksara menganggukan kepala, menyimpan kembali ponsel kedalam saku nya, dan mengajak Khadijha segera untuk menemui kedua orang tua mereka.


Benar saja, tampak nya di meja makan hanya kurnag mereka saja, Aksara dan Khadijah bergegas untuk duduk di kursi kosong yang memang tinggal dua saja, pas untuk mereka.


"Alhamdulillah, semua sudah berkumpul" Ujar Abah Hasim.


Tidak menunggu lama Abah dan Umi Aminah mempersilahkan seluruh anggota keluarga untuk segera mencicipi masakan sederhana buatan tangan nya.


Semua orang tampak fokus dan minim perbincangan tatkala tengah makan. Hal ini juga memang sudah menjadi kebiasaan di tengah keluarga Abah dan Umi Aminah. Dan kebiasaan ini juga diterapkan pada para santri di pesantren nya.


***


Terik matahari membuat Marissa merasa sangat lelah, betapa bodoh nya dia meninggalkan tas miliknya di dalam kamar hotel yang dia tinggalkan sebelum nya.


Kepanikan yang menyelimuti hati nya membuat Marissa merasa hanya kabur lah jalan terbaik baginya. Pikiran nya benar-benar kacau, tidak hanya itu penampilan nya juga sangat kacau saat ini.


Gaun malam serta rambut acak-acakan membuat Marissa menjadi tontonan sepanjang jalan. Tidak hanya itu saja, Marissa tak ubahnya tunawisma yang sangat membutuhkan bantuan sesama.


Marissa merasa tubuhnya sangat lemah dan terasa begitu lelah, setelah berlari jauh diatas teriknya matahari ibukota tentu sangat menguras energi nya.


Terlebih sebelum dapat meloloskan diri dari pria hidung belang sebelum nya, Marissa telah menguras tenaga nya habis-habisan untuk meloloskan diri dari kukungan pria yang usianya tidak jauh berbeda dari papa nya.


Entah mengapa Marissa merasa kepalanya begitu pusing dan terasa begitu berat, berjalan diatas trotoar, satu hal yang sangat jarang dan hampir tidak pernah Marissa lakukan sebelumnya.


Cittttt!!!!


Brakkkkk!!!!


****

__ADS_1


__ADS_2