TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 65. DUA WANITA


__ADS_3

...Setiap Manusia Adalah Ujian Bagi Manusia Lainya. ...


...☘️...


Waktu menunjukan pukul 11.45.


Sudah cukup terik ternyata, dan Aksara masih begitu menikmati permainan tipis nya dengan Khadijah, bahkan tidak hanya sekali, Aksara mengulangi ciuman nya berkali-kali, Khadijah mungkin telah menjadi candu dan Aksara merasakan itu, hingga keduanya tersadar dengan bunyi bel di pintu yang sedari tadi mengganggu.


"Mas sepertinya ada seseorang yang ingin bertemu dengan Mas Aksa" Ujar Khadijah mengingatkan suami nya.


Meski terpaksa, namun Aksara pun bangkit dari atas tubuh wanita yang sebelumnya telah memuaskan nya. Dengan berat hati, Aksara melangkah pergi.


Namun sebelum dia membuka pintu, Aksara kembali menghampiri Khadijah diatas tempat tidur nya, dan memberikan sebuah paper bag berukuran besar yang sebelum nya di berikan oleh Bu Gita mama nya.


Khadijah pun lantas tersenyum, masih begitu canggung dan malu rasanya setiap kali menatap wajah Aksara.


Apa yang baru saja tadi dia lakukan bersama Aksara tentu merupakan sesuatu yang baru bagi nya, dan sangat membuat Khadijah tak berdaya.


Cup.


Dengan mendaratkan ciuman di puncak kepala Khadijah, Aksara pun beranjak meninggalkan Khadijah, dengan berat hati Aksara membuka pintu kamar nya.


Khadijah hanya dapat tersipu malu, dengan wajah merah jambu, memandangi punggung Aksara yang menghilang di balik pintu kamar nya. Dan mungkin setelah kembali ke rumah ibu mertua, Aksara sudah tidak lagi tidur dalam kamar terpisah dengan nya, 'pikir Khadijah'


Bunyi bel di pintu masih terus saja mengganggu, hingga Aksara membuka kasar pintu apartemen nya.


Melihat siapa yang berdiri di sana, tentu membuat Aksara semakin kesal saja, hingga dia memutar bola mata nya. Tidak memberi kabar atau menghubungi sebelumnya, tiba-tiba datang dan mengagetkan.


"Maaf Bos, Apa saya mengganggu ?"


Dion begitu percaya diri bertanya, dengan tanpa rasa bersalah. Namun agaknya dia sadar telah datang di waktu yang salah, sebab raut wajah Aksara terlihat begitu murka melihat dirinya.


"Tidak. Aku hanya sedang main catur saja dengan Khadijah"

__ADS_1


Mendengar ucapan Aksara tentu Dion terhenyak seketika. 'Catur' batin Dion menatap lekat wajah bos nya. Agaknya Dion tidak percaya dengan ucapan bos nya, namun tidak mungkin pula Aksara membohongi diri nya.


Melihat Dion dengan wajah bingungnya, Aksara pun ingin sekali tertawa, Dion terlihat seperti keledai yang mudah saja di bohongi.


"Makanya cari pacar !!"


Ucapan Aksara tentu saja membuat Dion merasa tersindir tentu nya, bagaimana dia bisa mencari pacar jika setiap detik Aksara selalu memanggilnya, bahkan memikirkan wanita saja rasanya sulit sekali bagi Dion.


Dion pun hanya mendengus kesal, menyadari ucapan Aksara tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, dimana Aksara selalu memberi dia pekerjaan tanpa ada jeda.


"Katakan ada apa ?" Tanya Aksara


Mendengar ucapan Aksara tentu saja, Dion kembali fokus dengan tujuan utama dia datang menemui bos nya.


"Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan, berkaitan pemindahan Aset dan beberapa pekerjaan yang perlu Bapak bubuhkan tanda tangan.


"Masuk"


Aksara pun melebarkan pintu apartemen nya, dan membiarkan asisten nya masuk. Aksara berjalan duluan, disusul Dion yang juga berjalan di belakangnya.


Belum lama Dion duduk di ruang tamu, Khadijah pun keluar dari kamar nya, tentu Khadijah telah mengenakan gamis baru dari ibu mertua dan juga hijab serta cadar dengan warna senada.


"Selamat siang Bu Dijah" Sapa Dion dengan senyum manis di wajah nya.


"Siang" Khadijah pun mengangguk kan kepala nya.


"Mau kerja apa liatin istri Saya !!!" ketus Aksara


Menyadari tatapan Dion yang tidak berpaling dari istri nya, tentu Aksara merasa tidak suka. Dan hal itu seketika memancing kemarahan di hati nya.


Melihat ketus nya wajah Aksara, tentu saja Dion hanya tersenyum getir saja, niatnya hanya ingin menghormati Khadijah saja, justru Aksara yang salah sangka, Apes !! 'Batin Dion dalam hati nya'.


Khadijah pun berlalu menuju dapur untuk menyiapkan minuman untuk sang Suami dan juga tentu untuk Asistennya.

__ADS_1


Jarak antara Ruang tamu dengan dapur tidak begitu jauh, dan tidak ada pembatas diantara keduanya, sehingga Khadijah bisa melihat bagaimana wajah serius Aksara ketika bekerja. Sudut hatinya menghangat seketika, menyadari sosok pria yang tengah bekerja di sana merupakan suami nya.


'MashaAllah, Tampan nya' Gumam Khadijah menyadari betapa sang suami begitu sempurna di mata nya.


Meski tidak berjarak jauh dan tidak pula ada pembatas, namun Khadijah tidak bisa mendengar apa yang keduanya tengah perbincangkan di sana.


Tidak berselang lama, Air rebusan yang Khadijah akan gunakan untuk membuat kopi telah mendidih, langsung saja dia tuangkan diatas cangkir yang sebelumnya telah dia racik dengan kopi dan gula di dalam nya.


Selesai dengan kegiatan nya, Khadijah pun membawa minuman yang baru saja dia buat untuk suami dan tamu nya.


"Silahkan minuman nya" Ucap Khadijah dengan meletakkan cangkir di meja.


"Terima kasih Bu" Jawab Dion dengan menganggukkan kepala, tidak ada senyuman yang dia tampilkan sebab Aksara tengah menatap tajam diri nya.


'Orang kalau lagi jatuh cinta hemm...Ngeri !!!' gumam Dion


"Ngomong apa kamu ?!!"


Samar-samar Aksara mendengar ucapan Asisten nya.


"Hehe nggak kok Pak, Perih !!"


Jawab Dion dengan nyengir kuda pada Aksara, tidak yakin dengan apa yang dia dengar sebelumnya, Aksara pun memilih untuk abai saja, dan kembali fokus pada pekerjaan yang di bawa Dion untuk diri nya.


Setelah meletakkan minuman di meja, Khadijah pun memilih untuk kembali ke kamarnya, sebab dia tidak mungkin juga ikut nimbrung bersama Aksara.


Setelah kepergian Khadijah Dion pun menjelaskan beberapa hal yang tentu penting untuk dia sampaikan. Sebab hari ini Dion mendapatkan informasi jika Aksara sedang kurang sehat, Dion memilih untuk menemui nya saja, dan membawa pekerjaan serta untuk bos besar nya.


Sembari menunggu Aksara melihat laporan yang dia bawa, dan membubuhkan tanda tangan di sana, Dion pun menikmati secangkir kopi yang sebelumnya di hidangkan oleh istri bos besar nya. Nikmat dan begitu mantap, komposisi yang pas di lidah Dion tentu nya.


"Habiskan kopi mu, dan segera Pergi !!" titah Aksara dengan meletakkan kembali pena diatas tumpukan kertas di hadapan nya.


Dion pun lantas kembali tersenyum pada Aksara, meski sedih sebab Aksara mengusir nya, namun Dion juga merasa bahagia, sebab pekerjaan yang dia bawa tidak satupun ada revisi dari Aksara.

__ADS_1


Segar di ingatan Dion, setiap kali dia membawa laporan hasil kerja para karyawan, Aksara akan dengan cermat dan teliti memeriksa satu persatu dan tidak akan semudah itu Dion mendapatkan persetujuan dari Aksara.


***


__ADS_2