
...Kehidupan akan terus melangkah, tanpa bertanya pada kita siap atau tidak kah...
...☘️...
Aksara begitu bersemangat mengantarkan sang mama, bahkan seorang Aksara yang terkenal dingin dengan sikap arogannya gitu bahagia dengan sikap lembut dari ibunya.
Sejak dulu memang Aksara sangat dekat dengan Bu Gita, itu sebabnya Bu Gita bisa memahami apa keinginan sang putra, termasuk salah satunya ini, Aksara yang ingin berdua bersama Khadijah.
Aksara memang bukan tipe laki-laki yang frontal, menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata, dia lebih memilih menunjukkannya dengan tindakan dan aksi nyata.
Aksara mengantarkan Bu Gita hingga ke lobby apartemen, tidak lupa dia berpesan pada supir sang mama untuk selalu menjaga nya, dan selalu berhati-hati dalam berkendara.
"Akas !"
"Titip untuk Dijah ya !"
Sebelum meninggalkan putranya, Bu Gita sempat memberikan sebuah paper bag pada Aksara, paperbag yang ingin dia berikan pada Khadijah, namun sebelumnya Bu Gita lupa untuk membawa nya, dan saat ini memilih untuk menitipkannya pada Aksara.
"Apa ini mah ?"
Aksara tampak begitu penasaran dengan apa isinya.
"Udah, kasih Dijah aja, nanti kamu juga tahu !"
Setelah mengatakan itu, Bu Gita lantas berlalu meninggalkan Aksara yang masih berdiri di depan lobby apartemennya.
Begitu pula dengan Aksara setelah kepergian sang mama, Aksara memilih kembali menyusul Khadijah di Apartemen nya.
Rona bahagia terlihat jelas di wajah Aksara, entah karena sebab apa namun pagi ini terasa begitu menyenangkan baginya. Semacam ada sesuatu yang berbeda tengah menyelimuti hatinya.
***
Setelah kepergian Bu Gita, tentu Khadijah dan Aksara hanya akan kembali ber dua, menyadari nya membuat Khadijah tersenyum malu saja.
__ADS_1
Semua tentang Aksara tentu merupakan sesuatu yang baru bahagia Khadijah, dia yang tidak pernah sedekat ini dengan pria, tentu sangat canggung rasa nya.
Namun mau bagaimana pun Aksara adalah suami nya, dan Khadijah harus belajar untuk melayani dan menyenangkan hati nya.
Meski begitu malu untuk mengakui jika ini memang cinta, namun Khadijah sadar jika di hatinya kini benar-benar telah ada Aksara.
Tampaknya Khadijah memang begitu bahagia hingga, hingga piring di tangannya sudah dia sabun sebanyak 3 kali. Tanpa sadar Khadijah memikirkan Aksara, dan pikiran itu selalu membuat hati kecil Khadijah bahagia.
Ting Tung.
Khadijah begitu menikmati lamunannya tentang Aksara, sampai tanpa terasa bunyi bel pintu mengagetkannya, Masih dengan sabun yang menempel di tangannya cepat-cepat Khadijah membilas dengan dengan air bersih di sana.
Khadijah semakin bahagia dengan senyum lebar di wajahnya, Sebab Dia tahu yang datang adalah suaminya, karena tidak akan ada orang lain yang bertamu, selain Aksara yang datang setelah mengantar sang mama.
Ceklek.
Masih dengan binar bahagia menghiasi wajahnya, Khadijah menatap sang suami yang kini berdiri tepat di hadapannya, namun senyum Khadijah sirna begitu saja, tatkala melihat sosok wanita di belakang suaminya.
Segar di ingatan Khadijah, sosok wanita di belakang suaminya, adalah dia yang baru kemarin Aksara perkenalkan saat di bandara.
Tidak lain dan tidak bukan, sosok yang saat ini tengah berdiri tepat di belakang Aksara adalah Marisa, tepatnya mantan kekasih dari suami Khadijah.
Jujur saja Khadijah tampak tidak suka melihatnya, Dia seolah tidak ingin Aksara membiarkan wanita tersebut masuk ke dalam apartemennya.
Tatapan Aksara pun semakin membingungkan bagi Khadijah. Sebab Aksara masih diam tatkala melihat Khadijah.
"Aku bertemu dia di bawah, kita bicara di dalam saja ya" ujar Aksara.
Meski tidak suka, namun pada akhirnya Khadijah pun menganggukkan kepalanya, Seraya melebarkan pintu apartemen untuk memberi ruang bagi Aksara dan Marissa masuk ke dalam sana.
Dalam pandangan Khadijah, Marisa masih sama dengan terakhir kali pertemuan mereka di bandara Surabaya, tidak lupa juga dengan koper di tangannya. Hal ini tentu saja sangat mengejutkan Khadijah.
Tidak hanya Khadijah saja, namun tampaknya Marissa juga terlihat tidak suka dengan kehadiran Khadijah di sana.
__ADS_1
Khadijah tetap diam, setelah keduanya masuk tidak lupa dia menuntut kembali pintu apartemen, hingga pada saat Aksara mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa.
Meski tidak suka, namun Khadijah tetap menghidangkan minuman untuk tamunya, walau bagaimanapun Khadijah tetap harus menghormati mereka yang datang untuk bertamu.
Khadijah hanya berharap tidak ada tujuan lain dari Marissa yang mendatanginya dan juga Aksara. Sebab jika dilihat dari gelagatnya agaknya Marissa cukup mencurigakan bagi Khadija.
"Duduklah" pinta Aksara pada Khadijah.
Mendengar titah sang suami, Khadijah pun mengangguk, dan mendekat pada Aksara, memilih duduk tepat di samping suami nya. Bukan apa-apa, hanya saja Khadijah memang sangat ingin menunjukkan pada Marissa siapa dirinya dalam hidup Aksara.
Jujur saja Khadijah memang belum begitu yakin dengan perasaan sang suami, sebab Aksara sendiri tidak pernah mengatakan jika dia mencintai Khadijah, namun yang Khadijah yakini sebagai istri, jelas dia akan menjaga keutuhan rumah tangga yang dia bina bersama Aksara.
Sebagai istri sah, tentu Khadijah akan selalu menjaga rumah tangganya dari prahara dan badai yang datang melanda.
Setelah Khadijah duduk di samping Aksara, Aksara pun lantas memulai dengan penuturan nya, Aksara menceritakan jika sebelumnya dia bertemu dengan Marissa di lobby.
Belakangan diketahui Khadijah, jika Marisa datang ke ibukota karena alasan pekerjaan yang memanggilnya, namun setibanya di ibukota, ternyata Marissa hanya dibohongi oleh seseorang yang sebelumnya menawarkan pekerjaan pada nya.
Marissa yang tidak memiliki siapa-siapa di ibu kota, dan tentu tidak memiliki tempat tinggal hanya mengingat Apartemen ini sebagai tujuannya.
Entah itu benar atau tidak adanya, Khadijah tidak ingin memusingkan soal alasan Marissa datang pada suami nya, karena yang jelas harus dia pikirkan adalah mempersiapkan diri menghadapi wanita penggoda seperti Marissa.
"Oh jadi begitu. Kasian sekali kalau begitu" Khadijah tampak merasa iba dengan cerita yang baru saja dia dengar sebelum nya.
"Lalu sekarang rencana Mba Marissa bagaimana ?"
Khadijah tampak memancing lawan bicaranya, Sebab dia juga ingin tahu apa yang ingin Marissa lakukan sebenar nya.
Namun agaknya Marissa tengah berakting di hadapan Khadijah dan Aksara, sebab Marissa hanya menggelengkan kepalanya, terlihat pula kebingungan dan kepanikan di wajahnya, seolah dia yang tidak memiliki solusi apa-apa atas musibah yang dihadapinya. Marissa pun berkamuflase menjadi sosok paling menyedihkan di dunia, namun meski begitu Khadijah tidak sedikitpun tertipu.
"Aku tidak tahu. Tapi jika di izinkan aku ingin menumpang beberapa hari saja di sini" ujar Marissa dengan tanpa rasa malu.
Khadijah pun lantas menautkan kedua alisnya, Aksara yang berada di sampingnya juga terlihat sedikit kaget dengan ucapan mantan kekasihnya. Sebab apa yang Marissa katakan sebelumnya bukan itu.
__ADS_1
Marissa hanya ingin menumpang sebentar untuk istirahat saja, bukan menginap seperti yang dia katakan pada Khadijah.
***