
...Terbenam untuk terbit kembali 'matahari'...
...☘️...
Waktu menunjukkan pukul 05.43.
Sinar Surya mulai menyapa ibukota, masih tergolong pagi namun hiruk piku ibukota telah dimulai sejak beberapa saat yang lalu.
Namun tidak dengan Aksara yang justru menikmati tidur pagi nya, sebab disampingnya ada Khadijah yang sejak tadi belum juga terjaga.
Memandangi dan menatap wajah teduh Khadijah, baru Aksara sadari, Jika dia tidak pernah merasa bosan melihatnya. Entah obat apa yang digunakan Khadijah, sehingga membuat Aksara begitu terpikat padanya. Untuk saat ini, sedikit yang Aksara ketahui jika ini benar merupakan cinta, bukan hanya napsu semata.
Aksara lantas tersenyum, menyadari kekonyolan nya.
Perlahan namun pasti Khadijah pun mulai membuka matanya, Khadijah terbangun karena merasakan hembusan angin yang terus-menerus menyapa kulit wajahnya.
Khadijah lantas membulatkan kedua bola matanya, menatap tidak percaya pada Aksara yang begitu erat memeluk dirinya, dan hembusan angin yang sebelum nya Khadijah rasakan, ternyata merupakan nafas Aksara, yang saat ini begitu sangat dekat dengan dirinya.
Tidak hanya Khadijah saja, agaknya Aksara juga begitu terkejut melihat Khadijah yang tiba-tiba membuka matanya.
Menyadari hal itu, Khadijah pun bergegas bangkit dari tidurnya, namun nyatanya gerakan tubuhnya kalah cepat dengan Aksara yang tiba-tiba kembali mengeratkan pelukan nya.
Sontak Khadijah merasa begitu terkejut dengan sikap Aksara yang jauh berbeda dari biasanya. Aksara yang selalu dingin dan datar ketika berhadapan dengan Khadijah. Tidak jarang justru Aksara membentak nya.
"Mau kemana ?" ucap Aksara dengan semakin mengikis jarak diantara mereka.
Bulu di tengkuk Khadijah pun seketika berdiri, merasakan hembusan nafas Aksara yang menyentuh kulit pundaknya. Sesuatu yang jarang, bahkan bisa di bilang belum pernah Khadijah rasakan.
Melihat Khadijah dengan rasa malu nya, tentu semakin membuat Aksara bahagia. Segar di ingatan Aksara saat malam tadi Khadijah begitu mengkhawatirkan dirinya, bahkan Khadijah mengabaikan rasa malu nya, demi untuk memberikan kehangatan untuk Aksara.
Hingga saat ini Aksara telah kembali sehat dan bugar seperti sebelum nya, hal itu tentu tidak semata terjadi begitu saja, sebab ada Khadijah di sampingnya.
"Ma-Maaf mas, sudah pagi, Sebaiknya kita segera bersiap untuk pulang" Ucap Khadijah dengan menundukkan wajahnya nya.
__ADS_1
"Pulang ?"
Sahut Aksara dengan berbisik tepat di telinga Khadijah.
Mendengar pertanyaan Aksara, Khadijah merasakan jantungnya bertalu tak menentu, jujur itu mungkin memang hanya alibi Khadijah saja, dan Aksara menyadari hal itu.
"Mau pulang ke mana ? jika di sini tempat kita"
Sadar jika Khadijah ingin menghindar dari nya, Aksara berusaha tetap mempertahankan posisi, namun sadar jika tempo hari hal yang sama dia lakukan pada Khadijah, justru berujung pingsan nya Khadijah di kamarnya. Hal itu cukup membuat Aksara berfikir dua kali untuk melakukan nya.
Khadijah seketika membulatkan kedua bola mata nya, ucapan Aksara tentu sulit di artikan oleh Khadijah, dan pada akhirnya Khadijah hanya bisa menelan ludah nya saja.
"Mas tapi ini sudah pagi, Tidak lama mungkin mama akan tiba" Ujar Khadijah
"Biarkan saja"
Aksara begitu santai menjawab pernyataan Khadijah.
Sontak Aksara pun kaget, sebelumnya mungkin dia kurang begitu fokus dengan ucapan Khadijah, dan baru benar-benar menyadari jika Baru saja Khadijah mengatakan perihal mama nya.
Pertanyaan Aksara tentu langsung di anggukkan oleh Khadijah, dan Khadijah pun membenarkan jika Bu Gita mungkin tidak lama akan tiba. Setelah benar-benar meyakini jika yang Khadijah sebutkan sebelumnya adalah mama nya, tentu hal itu membuat Aksara sedikit merasa tidak suka. Karena Aksara paham betul sifat mama nya yang selalu akan mengganggu.
"Maaf mas, Semalam saat mas Aksa demam Aku sempat mengirimkan pesan pada mama"
Khadijah lantas menjelaskan pada Aksara mengenai cerita sebenarnya, tentu lah itu karena dia yang tidak ingin Aksara salah paham terhadap nya. Melakukan sesuatu yang sebelumnya belum dia tanyakan pada Aksara.
Menyadari kegelisahan dan ketakutan istrinya, Aksara pun lantas kembali menautkan kedua tangannya dan mengerat kan pelukan pada Khadijah. Jujur saja Aksara berpikir jika mungkin saja sikapnya yang sebelumnya, tentu sedikit banyak membuat Khadijah merasa trauma.
Namun entah mengapa untuk mengucapkan kata 'maaf' Aksara masih sangat enggan rasanya, karena tipikal orang seperti Aksara lebih memilih untuk menunjukkan keseriusannya dengan tindakan, dibandingkan dengan hanya kata-kata.
Menyadari perubahan dari sikap Aksara, Khadijah mulai merasakan jika apa yang Aksara lakukan pada dirinya tidak hanya semata karena alasan menggodanya saja.
Khadijah merasakan jika Aksara benar-benar tulus merubah sikap nya, termasuk pelukan hangat yang Khadijah rasakan bukan hanya karena nafsu saja.
__ADS_1
Meski begitu erat memeluknya, namun Aksara hanya tetap diam, dan entah apa yang tengah dipikirkannya.'Pikir Khadijah'.
Namun yang tidak disangka adalah Khadijah merasakan sesuatu benda yang terasa keras menusuk bagian belakangnya.
Deg.
Khadijah pun lantas membulatkan kedua bola matanya, sebagai seorang wanita dewasa dan juga seorang calon dokter, yang paham tentang anatomi tubuh seorang pria tentu dia sangat tahu itu apa.
Khadijah yang tidur dengan posisi miring membelakangi Aksara tentu sangat terasa sesuatu yang keras di belakangnya. Beberapa kali bahkan Khadijah mengerjapkan matanya, menyadari jika terus seperti ini, Mungkin saja situasi akan sulit terkendali.
Dan sepertinya hal itu juga dirasakan oleh Aksara, yang saat ini tengah menahan sesuatu yang begitu menyakiti dirinya. Terbukti dari Khadijah yang merasakan hembusan nafas kasar Aksara yang menyentuh kulit tengkuknya. Aksara seolah begitu keras berusaha menahan segala rasa.
Dan benar saja, baru selesai Khadijah memikirkannya Aksara telah membalik tubuhnya, perlahan namun pasti Khadijah pun mengikuti gerakan bernada permintaan dari Aksara.
Tidak butuh waktu lama, keduanya saling berhadapan, Aksara menatap lekat wajah Khadija, dan seketika Khadijah pun merasakan desiran kencang di dalam dadanya.
Glug.
Susah payah Aksara menelan ludahnya. Ketika saling berhadapan tentu Aksara dengan jelas dapat melihat dua bola berukuran cukup besar menyembul di hadapannya. Dan itu tentu juga baru pertama Aksara lihat dari Khadijah sosok wanita muslimah yang selalu menutup dirinya dengan cadar dan hijab besar.
Tatapan Aksara yang disadari oleh Khadijah tentu saja hal itu semakin membuat Khadijah merasa gugup dan gemetar.
"Apa Mas Aksa menginginkannya ?!"
Malu sekali rasanya Khadijah mengatakan kalimat itu, namun melihat ke mana tatapan mata Aksara tentu Khadijah apa yang diinginkan suaminya.
"Jika Iya, apa kamu akan memberikannya"
Jawab Aksara dengan mata yang seolah tengah berapi-api, menahan sesuatu yang terasa menggebu, sesuatu yang ingin sekali untuk segera dia salurkan.
Khadijah pun terpaksa kembali menelan ludahnya, bukan mendapatkan jawaban justru Aksara melemparkan pertanyaan, dan untuk saat Khadijah menundukkan pandangannya.
***
__ADS_1