
...Hasil yang indah tidak terlahir dari langkah yang Mudah ...
...☘️ ...
Mendengar ucapan Khadijah dengan kejujuran di matanya , tentu saja Aksara merasakan dirinya begitu tersindir.
Menyesal ?, Tentu saja.
Segar di ingatan Aksara saat itu dia yang menginginkan kehancuran keluarga Pak Hakim Dan juga Khadijah tentunya, saat ini tentu saja Aksara bagai menelan ludahnya sendiri.
Aksara justru sangat mencintai putri dari laki-laki yang telah dia jatuhkan harga dirinya. Dia pecat tanpa sedikitpun memberikan pesangon pada Pak Hakim, setelah apa yang dilakukan orang tua Khadijah terhadap perusahaan nya.
"Maafkan aku, semua ini salah ku"
Aksara pun tertunduk dengan penyesalan yang jelas terlihat di wajah nya. Namun bukan benci atau mendendam justru Khadijah meraih tangan suami nya dengan senyum yang merekah di wajah nya.
"Kenapa harus meminta maaf mas, bukan kah semua yang terjadi sudah di rencanakan"
"Termasuk pertemuan kita ?"
Khadijah terlihat mengulas senyum di wajah nya, dia hanya tidak ingin Aksara terus merasa bersalah karena masalalu nya, sebab Khadijah sudah memaafkan Aksara, begitu juga dengan Abah dan Umi Amina yang juga pasti telah memaafkan Aksara.
Melihat senyum Khadija, Aksara pun tampak lega dan tersenyum kembali pada istrinya.
"Jika kau masih ingin melanjutkan kuliah mu, Aku bisa mengurus semua untuk mu"
Binar bahagia seketika terlihat di wajah cantik Khadijah, jujur dia tidak meminta Aksara melakukannya, namun justru Aksara sendiri lah yang menawarkan nya.
"Dijah mau mas, namun itu juga Jika Mas Aksa ikhlas Dijah melakukan nya"
Mendengar ucapan Khadija, sejujurnya Aksara merasa bimbang, jika Khadijah kuliah, tentu saja waktu bersama istrinya akan tersita.
Hingga pertanyaan Khadijah hanya mendapatkan helaan nafas saja dari Aksara.
"Kenapa harus bingung Mas, jika Mas Aksa tidak rela, Dijah pun tidak akan melakukannya" Suara lembut Khadijah semakin membuat Aksara bimbang memikirkan nya.
Dia yang bertanya, namun Aksara juga yang pada akhirnya bingung memikirkan nya.
"Lalu jika aku tidak mengizinkan apa kamu juga akan ikhlas menerima nya ?" Tanya Aksara
__ADS_1
Mendengar hal itu Khadijah pun lantas tersenyum,meski begitu sangat menginginkan, namu tanpa keraguan Khadijah memberi penjelasan.
"Jika itu yang Mas Mau, Dijah tentu Ikhlas mas"
"Dulu mungkin Dijah menganggap dengan menjadi seorang dokter, Dijah bisa mengabdi kan diri, dan Berjihad di jalan Allah"
"Namun setelah menikah, Sepertinya jihad terbaik ku adalah menjadi istri shalihah"
Tidak sedikitpun terlihat keraguan di wajah Khadijah dengan semua yang di ucapkan nya.
Tamparan keras bagi Aksara mendengar penuturan dari Khadijah, meski terpaut usia yang cukup jauh, nyatanya Khadijah begitu dewasa menyikapi setiap pertanyaan dari nya.
Jika dipikir-pikir memang usia tidak menentukan kedewasaan manusia, sebab kedewasaan tentu diperhitungkan dari bagaimana cara berpikirnya. Bagaimana cara menyikapi masalah yang hadir dalam kehidupannya.
Dan aksara telah menemukan sosok istri yang memiliki kedewasaan tinggi, meski masih berusia sangat mudah seperti Khadijah.
"Kamu yakin ?"
Dengan mantap Khadijah menganggukkan kepala nya, tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya, sebab menikah pun juga termasuk ibadah bagi nya.
"Tentu saja mas, Kenapa tidak !"
Jujur saja Aksara tidak menyangka akan banyak belajar dari sosok wanita muda seperti Khadijah, dan kenyataan berkata juga wanita itu juga merupakan istrinya.
Menjadi Dokter mungkin bukan hanya cita-cita nya, namun juga cita-cita Almarhum kedua orang tua nya, namun menjadi istri yang shalihah tidak hanya cita-cita di dunia namun untuk akhirat tentunya.
Di antara keutamaan istri yang taat pada suami adalah akan dijamin masuk surga. Ini menunjukkan kewajiban besar istri pada suami adalah mentaati perintahnya.
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Aksara begitu bahagia hingga dia mengeratkan pelukannya pada Khadijah, tidak di sangka jika dia akan bisa begitu mencintai Khadijah.
"Kalau begitu aku juga akan Ikhlas"
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut suami nya. Tentu membuat Khadijah merasa bingung dengan apa maksudnya.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Akuu akan mengikhlaskan istriku ini meraih cita-citanya" ucap Aksara dengan semakin mengeratkan pelukan nya.
Khadijah terperangah.
Ucapan Aksara tentu membuat dirinya sedikit tidak percaya, sebab sebelumnya Aksara terlihat tidak akan memberi izin pada Khadijah.
"Mas. Mas Akas Serius ?"
Khadijah mengurai pelukan dari Aksara, menatap lekat wajah suaminya, dan mencari kebenaran di wajahnya, mengenai ucapan yang baru saja dia dengar.
"Mas ??"
Dengan mantap Aksara menganggukkan kepalanya, meyakinkan pada Khadijah jika memang dia tidak pernah main-main dengan ucapan nya. Termasuk pilihannya untuk membiarkan Khadijah kembali meraih apa yang menjadi cita-cita nya.
Binar bahagia seketika terlihat di wajah cantik Khadijah, mengingat jika semua yang terjadi pada dirinya tentu sudah merupakan kehendak Nya, dan semua ini terasa begitu indah bagi Khadijah.
"MashaAllah, Mas. Terima kasih" Hari bahagia jelas menyelimuti hati Khadijah.
Keduanya kembali berpelukan, namun kali ini Khadijah lebih dulu memeluk suaminya, mengeratkan tangannya, seperti tadi saat Aksara melakukan pada nya.
"Tapi sebelum itu, bukankah seharusnya aku mendapatkan imbalan ?"
Khadijah seketika menautkan kedua alisnya.
"Bagaimana aku bisa memberi imbalan, jika uang saja aku tidak punya" ucap Khadijah dengan begitu polos nya.
"Tidak harus uang"
"Lalu?"
Satu kata dari Khadijah membuat Aksara semakin bersemangat untuk memberitahu apa keinginan nya.
Tanpa basa-basi Aksara mengangkat dagu nya, menunjuk pada tempat tidur yang ada di belakangnya.
Khadijah pun seketika membulatkan kedua bola mata nya, menyadari jika suami nya menginginkan sesuatu yang tidak bisa dia tolak, meski dia merasa lelah.
Tanpa aba-aba Aksara mengangkat begitu saja tubuh Khadijah, kembali ke tempat dimana semalam keduanya menghabiskan waktu bersama. Meski tanpa persetujuan dari Khadijah.
__ADS_1
***