
...Rupa akan menua. Harta akan habis tak bersisa. Namun Akhlak Yang Mulia, akan terus menuntun mu ke surga...
...☘️...
Entah Karena sebab apa, namun Aksara tiba-tiba tersenyum dengan begitu manis nya. Tampak dari kejauhan Khadijah datang dengan nampan dan beberapa makanan di tangannya.
Namun Khadijah yang Aksara lihat saat ini berbeda dengan yang dia lihat sebelumnya, Khadijah tampak selalu menundukkan wajahnya, tidak seperti saat Aksara baru tiba tadi, seolah Khadijah begitu bahagia dan senang melihatnya.
"Silakan diminum"
Khadijah baru saja meletakkan beberapa cangkir teh hangat, serta beberapa cemilan untuk Aksara dan yang lainnya.
Setelah mempersilahkan semua tamunya untuk menikmati makanan yang dia sajikan, Khodijah memilih untuk duduk di samping Umi Amina, sebenarnya bangku di samping Aksara masih kosong, namun agaknya dia cukup segan jika harus duduk berdekatan dengan Aksara , meski status keduanya adalah Mahram.
Terlebih mengingat saat tadi Khadijah begitu percaya diri menyambut sang suami, namun nyatanya kedatangan Aksara hanya untuk mencari adiknya saja. Jujur saja Khadijah sedikit kecewa, namun dia bisa apa jika memang itulah tujuan kedatangan Aksara.
"Sudah malam, sebaiknya Nak Aksara menginap saja di sini"
Mendengar ucapan Abah Hasyim, seketika Aksara pun tersedak dengan minuman, yang tengah dia minum.
Dion yang menyadari jika Aksara tengah terkejut dan salah tingkah dengan ucapan mertuanya, hanya dapat menahan tawanya saja.
Dan sikap Dion tentu saja langsung mendapatkan respon keras dari Aksara, hingga tatapan tajam Aksara pun melayang begitu saja pada sang asisten pribadinya.
Jujur saja Aksara bingung untuk mengatakan apa pada Abah Hasyim. Ajakan bernada perintah membuat Aksara tidak berdaya menolaknya.
"Baik Abah"
Tentu tidak ada jawaban lain selain mengatakan hal itu. Meski Aksara bisa menolak namun entah mengapa hati kecilnya mengatakan untuk menerima ajakan Abah sebelumnya.
"Nak Dion juga sebaiknya tidur di sini saja, nanti biar di siapkan kamar untuk nak Dion istirahat"
Deg.
Dua bola mata Dion membulat sempurna, menyadari ajakan Abah Hasyim yang memintanya untuk menginap di pesantren juga.
"Tidak usah Bah, saya bisa menginap di hotel terdekat sini saja"
Tentu dengan cepat Dion akan menolak keras ajakan Abah Hasyim sebelum nya.
Dion telah memprediksi jika dia harus tidur dan menginap di pesantren, tentu besok dia juga harus bangun pagi, melaksanakan salat subuh, sesuatu yang sangat jarang dan hampir bisa dibilang tidak pernah Dion lakukan sejak sangat lama.
__ADS_1
Namun agaknya Aksara sudah dapat menebak isi hati asisten nya, hingga tatapan tajam seketika melayang pada Dion.
"Tidak papa, kamu juga pasti lelah menginap saja di sini" Ucap Aksara pada asisten nya.
Mendengar ucapan bernada perintah dari sang bos besar, tentu Dion hanya dapat tersenyum getir saja, pasalnya Dion sendiri juga tidak mungkin menolak.
"Baiklah" jawab Dion dengan menunduk kesal.
"Dijah, kamu ajak suamimu untuk ke kamar sana pasti nak Aksa sangat lelah, biarkan dia istirahat"
Mendengar perintah sang Umi, Khadijah pun membulatkan kedua bola matanya. Namun ternyata tidak hanya Khadijah, Aksara pun sama terkejutnya mendengar ucapan Umi Aminah.
Bukan tidak ingin, hanya saja Khadijah sedikit ragu akankah Aksara mau menerima ajakannya, karena sejak menikah, keduanya belum pernah sekalipun tidur bersama, 'pikir Khadijah'.
Segar diingatkan Khadijah, saat itu di mana Aksara dengan tegas dan keras menolak dirinya, dan memilih untuk tidur terpisah dari Khadijah.
"Baik Umi"
Jawaban yang pada akhirnya keluar dari mulut Khadijah.
Tidak mungkin juga bagi Khadijah untuk menolak nya, Khadijah memilih untuk menurut dan patuh saja. Lagi pula memang Aksara merupakan suaminya, tidak mungkin juga mereka tidur terpisah seperti saat Khadijah berada di kediaman Bu Gita dan Pak Lukman.
"Mari Mas"
Melihat Aksara yang masih diam dalam lamunannya, Khadijah pun bergegas untuk mengajak Aksara ke kamarnya.
"Mas. Mas Aksa !"
Khadijah sedikit meninggikan suaranya, pasalnya sedari tadi Aksara terlihat hanya diam dengan kebingungannya.
"Oh. Iya. Baiklah"
Aksara sedikit gugup dengan ajakan Khadijah, hingga pada akhirnya, Aksara memilih mengikuti Khadijah, keduanya berlalu meninggalkan Abah Umi dan yang lainya.
Berjalan menyusuri lorong kediaman Abah Hasyim, Khadijah dan Aksara hanya saling diam dengan pikiran masing-masing.
Sampai pada saat Khadijah menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kamar.
Ceklek.
"Silakan mas. Maaf kamar ini mungkin tidak seperti kamar Mas Aksa di Jakarta"
__ADS_1
Khadijah pun lantas melebarkan pintu kamarnya, mempersilahkan Aksara masuk, dan membiarkan laki-laki tersebut istirahat di dalamnya.
Khadijah merasa masih cukup sungkan, Ketika hanya berdua saja dengan Aksara, hingga pada akhirnya Khadijah memilih untuk berlalu.
"Mau ke mana ?!"
Belum sempat Khadijah melangkahkan kakinya, suara tegas Aksara membuat Khadijah mengurungkan niatnya, dan seketika berbalik menghadap Aksara.
"Em. Dijah mau bantu Umi mas, untuk siapkan Makanan"
Selain merasa sungkan, Khadijah pun juga masih merasa malu ketika harus berhadapan dengan Aksara, sementara Sebelumnya dia begitu percaya diri menantikan kedatangan sang suami.
Menyadari keanehan dari Khadijah, Aksara pun sadar jika mungkin saja Khadijah sedang tidak baik-baik saja ?"
"Kamu kenapa ?"
Tidak seperti sikap Khadijah sebelumnya, tentu hal itu mengundang tanya dari Aksara. Entah mengapa Aksara merasa begitu penasaran dengan apa sebabnya.
Mendengar pertanyaan Aksara, Khadijah pun lantas tersenyum di balik cadar nya.
"Memangnya Dijah kenapa mas ?"
Aksara terlihat salah tingkah, pertanyaan yang dia ajukan nyatanya bersambut dengan pertanyaan lainya dari Khadijah.
"Ohya, Sudah ketemu Dirga mas ?"
Tidak kunjung mendapatkan jawaban, Khadijah pun kembali mengajukan pertanyaan. Dan benar saja, raut wajah Aksara berubah seketika. Aksara terlihat hanya menggaruk kepala yang mendadak gatal rasanya.
Melihat perubahan di wajah sang suami, Khadijah pun mulai menyadari, jika kedatangan Aksara tidak untuk adiknya, mungkinkah memang untuk dia ?'Batin Khadijah bertanya'.
Khadijah pun lantas tersenyum dibalik cadar yang dia kenakan, jujur saat ini Khadijah merasakan wajahnya menghangat. Entah mengapa Khadijah pun juga merasa bahagia.
"Mas Aksa butuh sesuatu ?"
"Tidak. Terima kasih"
Rasanya Khadijah tidak dapat berlama-lama dengan Aksara, sebab kini jantungnya terasa bertalu-talu entah Karena sebab apa.
Khadijah memilih untuk berlalu dari kamarnya, meninggalkan Aksara yang juga tampaknya tengah menyembunyikan rasa malunya.
***
__ADS_1