
...Yang terbaik bukanlah yang datang dengan segala kelebihannya. Namun yang tidak pergi setelah mengetahui kekurangan kita...
...☘️...
Rasa lelahnya membuat Aksara menghempaskan begitu saja tubuh kekarnya di sofa. Perjalanan hari ini memang cukup memakan waktu, tidak seperti biasanya yang hanya butuh waktu sekitar 1 sampai 1 setengah jam saja dari Surabaya hingga ibukota.
Sementara aksara Tengah menyandarkan tubuhnya, Khadijah justru memilih kegiatan lainnya, menikmati dan mengagumi interior apartemen Aksara, ruangan yang banyak didominasi dengan warna abu-abu. Tidak banyak hiasan, hanya beberapa lukisan yang menambah kesan manis ruangan tersebut.
Apartemen ini cukup besar, dan sangat luas tentunya, jika hanya ditempati berdua saja, terdapat dua kamar tidur, ruang kerja, dapur dan juga ruang tamu yang sangat mewah disana.
"Apa kau akan berdiri sepanjang malam ?!"
Aksara merasa pusing melihat Khadijah yang telah berputar tiga kali di dalam apartemennya.
"Istirahatlah di kamar, aku akan tidur di sofa"
Melihat Khadijah dengan wajah bingungnya, tentu Aksara paham dengan Apa yang dirasakan istrinya. Dan benar saja sejujurnya itu memang hanyalah alibi dari Khadijah saja, sebab dia tentu tidak begitu leluasa karena hanya berdua.
"Bukan kah ada dua kamar, Kenapa tidur di sofa ??"
Tanya Khadijah yang menyadari terdapat dua pintu kamar di sana.
"Apa kau memintaku untuk tidur di gudang ?!"
Mendengar ucapan Aksara, seketika Khadijah paham jika mungkin salah satu ruangan di sana telah Aksara pergunakan sebagai tempat penyimpanan barang, atau lebih tepatnya merupakan gudang.
Khadijah pun lantas menghembuskan nafas kasarnya, menyadari dinginnya sikap Aksara, sementara mereka hanya berdua saja disana.
Hanya berdua dengan Aksara tentu membuat Khadijah merasa begitu canggung rasanya. Terlebih ini mungkin juga merupakan kali pertama mereka akan tinggal bersama tanpa adanya orang lain di tempat tersebut.
Namun tubuh lelahnya membuat Khadijah memilih untuk segera menuju kamar yang sebelumnya ditunjuk oleh Aksara.
Sempat ada keraguan sebab Aksara yang memilih tidur di sofa sementara Khadijah tahu tentu hal itu tidak biasa Aksara lakukan. Terlebih ini merupakan apartemen miliknya, Aksara bebas memilih akan tidur di mana, namun yang tidak di sangka mengapa justru Aksara memilih tidur di sana, 'Pikir Khadijah'.
"Mas Aksa, tidak apa-apa tidur di sofa ?"
Jujur saja Khadijah merasa ragu untuk menanyakan itu, namun Khadijah tidak mungkin juga bisa mengabaikan Aksara begitu saja.
__ADS_1
"Memangnya boleh kalau tidur bersama" ucap Aksara, dengan senyum yang sulit untuk diartikan oleh Khadijah.
Mendengar ucapan Aksara, Khadijah pun seketika membulatkan kedua bola matanya, menatap tidak percaya pada Aksara yang saat ini justru terlihat tersenyum pada dirinya.
Entah mengapa Khadijah merasakan jantungnya bertalu-talu tak menentu, sebab ucapan Aksara sebelum nya, tentu sebagai wanita dewasa Khadijah paham akan maksudnya.
Menyadari situasi yang di luar kendali, Khadijah pun hanya dapat tersenyum Getir, sekilas melihat Aksara yang masih duduk dengan menatap dirinya.
Suasana canggung seketika begitu mendominasi hati Khadijah, Namun tampaknya Aksara justru biasa saja.
Ting Tung
Belum juga sirna kegugupan di hati Khadijah, suara bel pintu pun berbunyi, dan hal itu seketika mengagetkan kedua nya.
Aksara lantas bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju pintu, entah siapa yang datang di jam seperti ini, 'Pikir Aksara'.
Ceklek.
Tidak butuh waktu lama Aksara pun membuka pintu di hadapannya, setelah pintu terbuka, sosok tampan asisten pribadinya lah yang ternyata tengah Berdiri tegap di sana.
"Selamat malam pak bos"
Namun melihat dua paper bag di tangan Asisten nya, Aksara pun seketika paham apa maksud Dion mendatanginya.
"Saya pikir tadi Bapak pulang ke rumah, Jadi saya ke sana Untuk mengantarkan koper. Namun ternyata bapak tidak ada di sana, dan saya yakin jika tempat ini menjadi tujuan Pak Aksa dan Bu Khadijah"
"Apa !! kamu ke rumah ??!"
Sontak Aksara begitu kaget mendengar penuturan dari asistennya, Sebab sebelumnya Dia memang tidak mengatakan pada keluarganya, jika akan kembali ke ibukota.
Entah apa yang akan dipikirkan oleh papa dan Mamanya ketika mengetahui Aksara justru membawa Khadijah ke apartemennya.
"Iya Pak, tadi baru saja Saya dari rumah, ketemu sama ibu dan Bapak juga"
Dion mengatakan hal itu dengan tanpa rasa berdosa, bahkan saat ini terlihat jelas oleh Aksara, dimana Dion tengah menertawakan dirinya, dan menertawakan kegugupan di wajah Aksara.
"Makanya pak saya langsung datang ke sini"
__ADS_1
"Pak Aksa dan Bu Dijah pasti tidak membawa pakaian satupun"
Lagi-lagi Dion mengatakan hal itu dengan senyum tengil di wajahnya, Jujur saja senyuman asistennya semakin membuat Aksara tidak suka melihat nya.
Aksara pun hanya dapat menghembuskan nafas kasarnya Seraya mengusap dagu, dan menatap tidak percaya pada asisten pribadinya jujur sebetulnya bukan kesalahan Dion hanya saja rasanya, ah ya sudah lah , 'Pikir Aksara'.
Aksara lantas merebut 2 paper bag di tangan asistennya, dengan wajah yang tidak bersahabat tentu saja Aksara segera mengusir asistennya, sungguh berlama-lama dengan Dion semakin membuat kepala Aksara pusing rasanya.
Aksara pun lantas mendorong, dan meminta asistennya untuk segera pergi dari apartemennya. Sementara Dion melihat sikap Aksara tentu saja dia semakin ingin tertawa dengan kelakuan Bos besarnya.
"Selamat bersenang-senang pak"
Belum sampai Dion melangkahkan kakinya, Aksara kembali mendengar satu kalimat yang cukup menohok di telinganya.
Dan sebagai pria dewasa tentu Aksara tahu apa maksud dari ucapan asisten pribadinya. Sontak Hal itu membuat Aksara membulatkan kedua bola matanya, menatap tajam pada asisten pribadinya, yang saat ini mulai berani menggoda nya.
Hingga Dion pun mendapatkan bogem dari dua paper bag di tangan Aksara.
Bughh !!!
"Auhh Sakit Pak !!" Pekik Dion menahan sakit akibat hantaman dua paperbag di lengan nya.
"Besok lebih parah dari ini !!" ancam Aksara pada asisten pribadinya.
Mendengar ucapan Aksara tentu saja Dion merasa bergidik ngeri memikirkannya, bisa jadi besok Dion akan mendapatkan bogem dari tangan Aksara yang langsung akan mendarat di tubuhnya.
"Ampun Pak !!" ucap Dion dengan wajah memelas nya.
Namun meski terdengar nada suara memelas, agaknya mimik wajah Dion justru tetap saja tengil pada Aksara, dan seolah dia begitu menikmati kegugupan dari bos besarnya.
"Sudah-sudah pergi sana !!"
Usir Aksara pada asisten pribadinya, dan ini untuk yang kedua kalinya Aksara melakukan nya.
"Siap Pak Bos. Good night" ucap Dion dengan melemparkan senyum tengil pada Aksara.
Hampir saja Aksara kembali melayangkan lagi paper bag di tangannya, namun belum sempat dia melakukannya, Dion lebih dulu mengambil langkah seribu dan berlari meninggalkan Aksara yang masih berdiri di ambang pintu apartemennya.
__ADS_1
***