TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 70. BINCANG


__ADS_3

...Terkadang hidup yang engkau keluhkan merupakan kehidupan yang orang lain inginkan ...


...☘️...


Deru nafas yang kian membara, membuat dua anak manusia itu beberapa kali mencapai puncak nya. Kenikmatan dunia yang baru saja mereka rasakan tak ayal membuat mereka selalu ingin mengulangi kegiatan yang sama.


Sempat merasa begitu kesakitan, namun saat ini Khadijah mulai bisa menikmati ritme yang di buat oleh Aksara, meski belum lihai dan pro seperti kebanyakan pasangan lainya, namun dibawah kukungan Aksara, Khadijah membiasakan dirinya, dan belajar untuk mengimbangi gerakan suami nya.


Untuk yang kesekian kalinya Aksara merasa puas, hingga tubuh kekar itu selalu tumbang tatkala telah mencapai puncak kenikmatan nya.


"Maaf kan aku sayang"


"Terlalu sulit untuk ku hentikan"


Dengan nafas terengah, Aksara memberi penjelasan pada Khadijah. Aksara lantas menarik tubuh ramping Khadijah dalam pelukan nya. Mendekap penuh erat.


Aksara lantas mengusap punggung wanita yang baru saja telah menyerahkan kehormatan nya pada dia. Aksara merasa bangga sebab Khadijah menjaga nya hingga waktu nya tiba. Dan Aksara lah yang memenangkan nya.


"Apa masih terasa sakit ?"


Mendengar pertanyaan Aksara tentu saja Khadijah meras malu, sebab apa yang di tanyakan merupakan bagian sensitif nya. Namun Khadijah bahagia sebab Aksara tidak hanya memikirkan kepuasan dirinya saja, tapi juga dengan kenyamanan Khadijah.


"Sedikit mas" Bisik Khadijah dengan rona merah di wajah.


Suara Khadijah yang terdengar sangat pelan membuat Aksara gemas saja. Aksara lantas terkekeh begitu saja, menyadari meski Khadijah menahan sakitnya namun setiap permintaan darinya tidak pernah dia tolak.


"Maafkan aku sayang" Aksara kembali mengeratkan pelukan nya.


Dalam dekapan dada Kekar Aksara, Khadijah merasa dua buah miliknya begitu dekat dengan kulit suami nya, hal itu membuat dia merasa sedikit geli sejujurnya, sebab ketika tidak sengaja bersentuhan dengan kulit Aksara, dia akan kembali meminta nya.


"Mas. Aku pakai baju dulu ya"


"Kenapa memangnya ?, begini saja, aku lebih suka" ucap Aksara.


Keduanya terkekeh bersama, mengingat baru beberapa saat yang lalu Aksara mengulang mi kegiatan nya, dan membuat Khadijah kelelahan atas ulah nya.

__ADS_1


"Tapi mas ?"


"Kenapa ?. Kamu malu ?, atau takut aku meminta lagi ?"


Khadijah meringis mendengar pertanyaan Aksara, begitu lebar senyumnya hingga menampakkan deretan gigi putih Khadijah. Perlahan namun pasti Khadijah pun mengangguk kan kepala nya. Dan hal itu semakin membuat Aksara gemas pada istri nya.


Jujur karena memang Khadijah merasa tidak nyaman, tidak mengenakan sehelai benang pun dalam tubuh nya, keduanya hanya berbalut selimut tebal di sana. Dan pelukan Aksara lah yang menutupi Khadijah.


Sementara Khadijah dan Aksara tengah menikmati malam panjang nya, Sosok wanita yang ada di apartemen Aksara tengah begitu merana. Kedatangan nya ke ibu kota tentu tidak lain tujuan nya untuk menggaet kembali Aksara, namun nyatanya dia telah gagal bahkan sebelum memperjuangkan nya.


Kilatan api jelas terlihat pada dua bola mata Marissa, menyadari semua yang dia lakukan dan dia inginkan tidak sesuai dengan harapan dan kenyataan.


Marissa terlihat kacau dengan rambut acak-acakan, wanita tersebut mungkin baru saja menghancurkan apartemen Aksara, sebab saat ini beling pun berserakan di mana-mana.


"Arghhh...!!!"


Begitu kesal hingga Marissa hanya bisa menangis dan meraung saja. Jika dia tidak bisa kembali mendapatkan Aksara, sudah pasti tamat sudah riwayatnya. Menyadari hal itu Marissa semakin murka saja memikirkan nya.


Sebab Marissa yang biasa dengan kehidupan mewah tentu tidak bisa jika harus hidup susah.


***


Aksara dan Khadijah telah selesai dengan dua raka'at kewajiban mereka, setelah drama panjang di atas ranjang, sempat juga terjadi pergulatan di dalam kamar mandi, meski tidak sampai milik Aksara masuk ke dalam sana, namun ciuman panas nyatanya membuat Aksara begitu tergoda.


Kemolekan tubuh istri nya, begitu membuat Aksara tidak tahan, dan selalu ingin menyentuhnya.


Terlebih mengingat gaya Khadijah yang masih malu-malu, tentu semakin membuat Aksara bersemangat untuk mengajaknya berpetualang diatas ranjang.


Aksara dan Khadijah, Keduanya duduk diatas sajadah panjang yang sebelumnya mereka gunakan untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat Islam. Sejak menjalin hubungan baik dengan Khadijah, Aksara memang lebih rajin dalam ibadah nya.


Pagi ini menjadi lebih berkesan bukan hanya karena kegiatan semalam, sebab semalam mereka baru saja menghalalkan hubungan, menjadi suami dan istri sepenuh nya, namun juga pagi ini terasa spesial karena Aksara menjadi imam Khadijah untuk yang pertama kalinya.


Namun keindahan pagi ini tidak lepas dari usaha dan kerja keras asisten pribadi Aksara. Titah dadakan Aksara membuatnya kelabakan di pagi buta, Yang meminta untuk dibawakan satu set baju Koko dan juga mukena untuk Khadijah, tidak hanya itu, Dion harus ekstra mencari permintaan Aksara.


Beruntung nama besar Aksara, membuat Dion tidak kesulitan untuk menemukan butik yang mau buka meski masih di jam tiga. Tentunya juga dengan biaya yang tidak sedikit pula. Namun tidak masalah sebab hal itu sangat kecil bagi Aksara.

__ADS_1


Hingga pagi ini terasa khidmat dengan ibadah pelengkap, dimana malam tadi mereka begitu berbahagia, sebab telah saling memiliki satu sama lainya.


Soal ibadah pun kini Aksara juga tidak segan-segan untuk bertanya pada Khadijah tentang sesuatu yang tidak di pahami nya.


Aksara menyandarkan kepalanya di pangkuan Khadijah, menatap wajah teduh wanita yang saat ini telah benar-benar sah berstatus sebagai istrinya.


"Boleh aku bertanya ?"


"Tentu. Katakan saja Mas" ucap Khadijah


Aksara terlihat menghela nafasnya dalam,nama bersiap untuk mengatakan sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Khadijah.


Cukup lama Khadijah menunggu, hingga dia merasa begitu penasaran tentang apa yang ingin suaminya ditanyakan.


"Em"


"Status mu sebagai mahasiswa apakah masih aktif, atau saat itu kamu sudah mengundurkan diri ??"


Terdapat keraguan di wajah Aksara ketika menanyakan hal itu pada Khadijah, hingga dia pun bangkit dari tidurnya dan menghadap Khadijah, menatap tajam wajah istrinya.


Entah mengapa ada sesuatu yang sangat mengganjal hati Aksara, sehingga dia ingin sekali menanyakan hal itu padahal.


Bukan apa-apa, hanya saja mungkin Aksara juga merasa bersalah, sebab putusnya kuliah Khadijah tentu salah satunya, karena ulah Aksara yang berada di dalamnya.


Hadijah pun menautkan kedua alisnya.


"Untuk kuliah Khadijah, saat itu aku mengajukan cuti Mas, sebab Dijah pikir kita tidak akan sampai sejauh ini"


Terdengar pelan, namun masih sangat jelas didengar oleh Aksara yang berada tepat di depan Khadijah.


"Aku pikir pernikahan kita saat itu hanya sebagai jaminan saja"


"Dan Mas Aksara akan menceraikan ku pada akhirnya"


"Dan Dijah berfikir jika hal itu benar-benar terjadi, Mungkin setelah perceraian kita, Aku pun akan melanjutkan kuliah ku, setelah ada biaya tentunya"

__ADS_1


Meski sedikit ragu untuk mengatakan hal itu namun Khadijah memilih untuk jujur pada Aksara, sebab apapun itu, menjadi dokter merupakan salah satu keinginan terbesar Khadijah .


***


__ADS_2