TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 86. BERBADAN DUA


__ADS_3

Semua terasa gelap tidak ada yang dapat Marissa lihat dan ingat, tubuhnya terasa melayang tanpa beban, hingga cairan kental terasa membasahi pelipisnya.


Sayup-sayup dalam sisa kesadaran nya, Marissa mendengar suara-suara orang berkerumun di dekat nya, tidak berselang lama telinganya menangkap suara sirine ambulans yang begitu nyaring terdengar.


Dingin nya ruangan membuat Marissa merasa tubuhnya sangat dingin. Sayup-sayup mata nya mencoba untuk terbuka, meski terasa begitu sakit kepalanya namun Marissa ingin memastikan dimana kini dirinya berada.


Semua yang tampak dalam penglihatan nya hanyalah warna putih bersih dengan beberapa bagian bercorak abu-abu. Marissa meyakini dirinya saat ini berada di rumah sakit, sebab tangannya terhubung dengan selang infus di atas nya.


'Siapa ?'


'Siapa yang telah membawa nya ketempat ini'


'Bagaimana bisa semua ini terjadi'


Pertanyaan-pertanyaan terus saja menghantui pikiran nya. Hingga tanpa terasa perut kosong nya menunjukan reaksi keras, sebab sejak pagi tadi belum ada makanan yang masuk kedalam perut nya.


"Ibu Sudah siuman ?"


Suara seorang wanita tiba-tiba saja terdengar menyapa Marissa. Sontak Marissa pun mengedarkan pandangannya mengarahkan pada sumber suara yang sebelumnya menyapa diri nya.


"Kamu ??!"


Marissa menajamkan penglihatan nya, menatap sosok wanita yang cukup dia kenal meski tidak begitu akrab sebelum nya.


"Ibu tidak perlu khawatir"


"Saya yang membawa ibu ke sini"


"Sebelumnya Ibu pingsan, dan hampir menabrak mobil saya"


"Beruntung jalanan lengang sore tadi, sehingga saya bisa banting stir, sehingga tidak sampai melukai ibu" Ujar Asilla.


Benar saja yang sebelumnya hampir menabrak Marissa merupakan Asilla, sekertaris pribadi Aksara, dan Asilla juga lah yang menolong dan membawa Marissa ke rumah sakit.


Panjang lebar Asilla menjelaskan kronologi kejadian yang di alami Marissa sebelumnya. Marissa pun terlihat percaya begitu saja, sebab yang dia ingat sebelum nya memang dia merasa pusing dan begitu lelah.


"Terima kasih"


Singkat Marissa mengatakan hal itu pada Sekertaris mantan kekasihnya.


"Sebaiknya ibu makan dulu, dokter mengatakan jika ibu kekurangan cairan dan kemungkinan telat makan"


"Hal itu juga yang membuat ibu pingsan"

__ADS_1


"Saya sudah belikan beberapa Buah dan pusing untuk ibu"


Asilla yang juga merasa bersalah, memilih melayani Marissa dengan baik, dari pada berurusan dengan aparat karena dituduh menjadi orang yang menabrak Marissa.


"Terima kasih kamu sudah membantu saya" Ucap Marissa


Marissa meraih paper bag yang di letakkan Asilla diatas meja samping tempat tidur nya, dan langsung saja menikmati isi didalam nya, tanpa sungkan meski masih ada Asilla disana.


"Pelan-pelan saja Bu"


Marissa tidak menghiraukan ucapan Asilla, sebab perut kosongnya sudah sejak pagi tadi tidak di isi. Hingga tanpa standar Marissa tersedak dengan makanan yang tengah dia kunyah.


Dengan cekatan Marissa mengambilkan air mineral untuk Marissa.


"Pelan-pelan saja Bu"


"Lagi pula tidak baik juga untuk kesehatan janin dalam kandungan ibu, jika makan terlalu cepat"


Deg.


Marissa membulatkan kedua bola mata nya, menatap tajam pada wanita di hadapannya. Jujur Marissa belum paham dengan apa maksud ucapan sekertaris mantan kekasihnya itu.


"Apa kamu bilang ?" tanya Marissa


Asilla yang juga tidak paham kenapa Marissa terkejut, justru melemparkan pertanyaan.


"Janin dalam kandungan ?"


Asilla yang saat ini justru merasa lebih bingung, sebab tampak nya Marissa belum mengetahui tentang kehamilan nya.


Asilla yang cepat tanggap dengan kebingungan Marissa, memilih mengambil secarik kertas yang sebelumnya diberikan oleh dokter yang telah memeriksa Marissa.


Asilla lantas menyodorkan kertas tersebut pada Marissa, dan dengan gerakan cepat pula Marissa meraih kertas tersebut.


Namun tampaknya Marisa tidak begitu memahami isi dari hasil diagnosa dokter yang sebelumnya memeriksa dirinya.


"Jadi itu adalah hasil tes laboratorium ibu, dan dari hasil pemeriksaan, kadar HCG dalam darah Ibu cukup tinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa saat ini Bu Marissa tengah mengandung"


Marisa menyampaikan apa yang sebelumnya Dokter katakan pada dirinya, Asilla sendiri sejujurnya juga tidak begitu memahami isi dari hasil pemeriksaan rumah sakit, namun sedikit dari penjelasan dokter sebelumnya Asilla tahu jika Marissa saat ini sedang berbadan dua.


Mendengar ucapan Asilla, Marissa mengeratkan kedua tangannya, meremas kuat kertas yang dia pegang melemparkan begitu saja ke lantai.


"Aarghhhh !!!"

__ADS_1


Melihat respon dan kemarahan pada Marissa, membuat Asilla semakin yakin jika Marissa tidak mengetahui tentang kehamilannya.


"Tenangkan diri ibu"


Asilla cukup paham situasinya,namun tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain berusaha menenangkan wanita di hadapan nya.


Masih dalam suasana tidak percaya Marissa merasa ini hanya mimpi bagi dirinya, tidak mungkin dia hamil. Sebab seingat nya hanya dengan pria hidung belang itu saja dia melakukan tanpa menggunakan pengaman.


Sebelumnya selalu Marissa menggunakan pengaman jika melakukan hubungan, dan berusaha untuk melakukan nya dengan cantik. Lalu bagaimana dia bisa hamil secepat itu, 'Pikir Marissa'.


"Tidak ini pasti Salah, aku tidak mungkin hamil kan"


Marissa terus saja bermonolog, dan meyakinkan dirinya jika semua hanya kesalahan yang dilakukan dokter saja. Sementara Asilla hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aaaaa... Tidak mungkin !!"


Marissa yang tidak dapat menerima kenyataan ini, mencoba menyakiti janin dalam perutnya dengan memukul bagian perut berkali-kali.


Hal itu di saksikan langsung oleh Asilla yang seketika itu berusaha menenangkan dan memegangi tubuh Marissa. Merasa kualahan Asilla akhirnya menekan tombol darurat yang ada di sisi tempat tidur Marissa.


Tidak butuh waktu lama dokter jaga beserta dua orang perawatan datang ke ruangan nya. Menyadari situasi yang tidak lagi terkendali, dokter dan dua orang perawatan laki-laki segera mengambil alih tubuh Marissa dari Asilla dan segera melakukan tindakan pemberian obat penenang.


Meski begitu Marissa tetap saja berusaha berontak dan tidak ingin dokter memberikan obat pada nya.


"Awas ya kalian, aku akan laporkan kalian ke polisi jika berani macam-macam !!"


Teriakan Marissa terdengar hingga bagian luar ruangan dimana Asilla berdiri. Asilla memilih untuk keluar ruangan setelah dokter dan perawat datang.


Asilla sendiri merasa bingung harus bagaimana, sebab dia tidak tahu harus berbuat apa, ingin menghubungi keluarga Marissa namun dia tidak mengenalnya, bahkan saat pingsan sebelum Asilla tidak mendapati tas atau handphone milik Marissa.


'Pak Aksara'


Jujur Asilla ragu untuk menghubungi bos nya, namun hanya dia yang Asilla kenal pernah begitu dekat dengan Marissa.


Meski begitu ragu sebab Aksara yang telah berkeluarga, juga Asilla tahu betul bagaimana sifat dan sikap Aksara, terlebih saat ini kenyataan Marissa tengah berbadan dua dengan entah siapa bapaknya.


'Seprtinya tidak mungkin pak Aksara, tapi siapa ?'


'Haruskah aku benar-benar menghubungi pak Aksa ?'


Asilla terus saja bermonolog dalam hatinya. Berusaha berfikir bagaimana baiknya, sebab tidak mungkin juga dia meninggalkan Marissa begitu saja.


***

__ADS_1


__ADS_2