
Waktu menunjukkan pukul 16.55.
Dengan polesan wajah maksimal Marissa mendatangi tempat dimana semalam dia bersama teman-temannya berpesta. Namun tujuan nya datang kali ini tentu untuk tujuan lain nya, sebab Marissa ingin menemukan siapa yang semalam membawanya keluar dari tempat tersebut, sekaligus menemukan siapa.yang telah melecehkan dirinya.
"Maaf Bu, semalam saya di bagian belakang"
Beberapa bartender yang Marissa interogasi nyatanya tidak satupun dari mereka yang tahu siapa yang telah membawa dirinya pergi.
Tidak patah semangat Marissa mencari pelayan lain yang dia ingat semalam melayani dirinya dan teman-teman nya.
Namun naas lagi-lagi usaha Marissa gagal, sebab tidak satupun dari mereka yang tahu tentang siapa yang semalam membawa Marissa pergi dari sana.
"Dimana manager Kalian?"
Masih tidak menyerah Marissa berniat mencari manager tempat hiburan malam tersebut, dan berencana melihat cctv yang ada di tempat itu, sebab tidak mungkin tempat sebesar dan semewah itu tidak memiliki kamera pengawas.
"Maaf Bu, tapi pak Angga sedang di Swiss"
"Lusa beliau baru akan kembali"
Sosok yang dimaksud sang pelayan merupakan manager yang yang tengah Marissa cari. Namun sial lagi-lagi Marissa terpaksa harus gigit jari.
Dengan berkacak pinggang, terlihat Marissa merasa sangat muak, dan lagi sepertinya ada yang sengaja melakukan ini pada dirinya, Marissa merasa pelayan yang ada di sana tidak berbicara jujur apa adanya.
"CK"
"Baiklah jika memang begitu, aku akan periksa sendiri cctv di tempat ini"
"Tunjukan dimana ruangan nya !!!"
"Maaf Bu, tapi kami tidak bisa" ujar salah satu pelayan.
"Aku tidak mau tahu !!, tunjukan ruangannya sekarnag juga"
Dengan nada sinis dan tatapan tidak bersahabat, Marissa memerintah pada pelayan di sana. Namun lagi-lagi Marissa harus bersabar, sebab sepertinya keinginan nya tidak akan sesuai rencana.
"Maaf Bu, kami tidak berani, lagi pula yang memiliki kewenangan tentang itu hanya pak Angga" ujar salah satu pelayan di hadapan Marissa.
Marissa merasa geram dengan jawaban pelayan di sana, namun terlihat suasana tempat hiburan malam semakin ramai, awalnya hanya Marissa saja di sana kini sudah ada beberapa orang pengunjung lainya.
__ADS_1
Marissa yang tidak ingin dianggap pembuat onar, memilih untuk mengalah, sebab pelayan disana juga harus kembali bekerja. Dengan mengibaskan rambut panjangnya, tanpa permisi dan ucapan terima kasih Marissa pergi begitu saja. Sementara beberapa pelayan disana hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Marissa yang menyebalkan.
Kali ini Marissa memilih duduk di pojokan ruangan, selain untuk menghindari keramaian, juga karena tujuan nya untuk mengamati satu persatu pengunjung yang datang.
Waktu menunjukan pukul 21.13.
Aksara bersama yang lainya baru saja tiba di kediaman Abah Hasyim dan Umi Amina. Seperti yang sudah Khadijha kabarkan pada Mereka, Abah dan Umi tidak lupa menyiapkan makanan dan minuman untuk penyambutan Mertua Khadijah serta suaminya.
"Perkenalkan saya Lukman apa nya Aksara , dan ini Gita mama nya Aksara" Dengan ramah Pak Lukman memperkenalkan dirinya.
"Assalamualaikum umi. Perkenalkan saya Mama nya Aksa"
Tidak kalah ramah Bu Gita menjabat tangan Umi Amina dan memperkenalkan dirinya. Begitu juga Umi Aminah yang tidak kalah ramah memperkenalkan dirinya dan sang suami pada kedua besan nya.
Cukup lama mereka saling berbincang, hingga tanpa terasa satu setengah jam terlewati begitu saja. Malam semakin larut membuat Umi Aminah menghentikan obrolan mereka dan memilih untuk mengantar besan nya beristirahat di kamar yang telah di siapkan sebelum nya.
"Maaf Bu, kamarnya seadanya" ujar Umi Amina.
Bukan tanpa alasan umi berkata demikian, sebab sudah barang tentu kediaman serta kamar Besarnya sangat jauh berbeda dengan apa yang bisa Umi siapkan di sini, namun respon Bu Gita justru tersenyum dengan ramah pada Umu Amina.
"Ini sudah sangat bagus Umi, bersih lagi, Terima kasih Umi"
Umi Amina pun tersenyum lega pada besan nya, sebab nyatanya besan nya Orang yang sangat sederhana meski kehidupannya bergelimang harta, jauh dari dugaan Umi sebelum nya.
Pak Lukman merasa ini pemandangan yang sangat jarang dia saksikan.
"Ada berapa santri di pesantren ini bah ?"
"Kurang lebih ada 950 an santri putra dan putri Pak Lukman"
"Dari beberapa daerah di pulau Jawa, ada juga beberapa santri yang berasal dari luar pulau Jawa"
Dengan ramah Abah Hasim menjawab pertanyaan besan nya, sementara itu pak Lukman mengangguk-angguk kan kepala nya.
Setelah cukup lama berbincang, Abah Hasim meminta pak Lukman untuk segera beristirahat saja, bukan tanpa alasan, udara malam tentu tidak begitu baik untuk kesehatan.
***
Di langit yang sama namun di tempat berbeda Marissa masih berusaha menemukan laki-laki yang semalam telah menggagahi dirinya dengan begitu brutal.
__ADS_1
Namun agak nya usaha Marissa sia-sia, sebab sedari sore tadi hingga tengah malam begini tidak satu pun orang-orang disana yang Marissa curigai sebagai pelaku nya.
Dengan perasaan berkecamuk Marissa menghentakkan kaki nya, dan berlalu pergi meninggalkan tempat hiburan malam yang semakin malam semakin ramai pengunjung.
Namun belum sampai Marissa melangkah keluar sebuah tangan lebih dulu mencekal nya.
"Marissa, buru-buru sekali sayang"
Suara lembut dari pria paruh baya yang Marissa jelas kenal siapa dia.
Tatapan nya tajam mengarah pada laki-laki tersebut, ada rasa takut di hati nya berhadapan dengan pria paruh baya, yang pernah Marissa jadikan sugar Daddy nya,dan berakhir pada perceraian antara laki-laki di hadapan nya dan istrinya.
"Kamu sudah lupa sama om ??"
Suara lembut itu kembali terdengar dan seketika membuat Marissa tersadar dari lamunan nya.
"Aku tidak punya urusan dengan mu lagi, lepaskan !!!!"
Marissa berusaha mengibaskan tangannya, namun kuatnya cengkeraman tangan pria tersebut, membuat Marissa sulit untuk menghindar.
"Eitss...! Sabar sayang, bukankah kamu masih punya janji sama om ??"
Mendengar ucapan pria tersebut, Marissa semakin gelagapan, keringat dingin sudah mulai bercucuran dari pelipisnya.
"Bukankah kamu berjanji akan bersama om asalkan om ceraikan istri dan tinggalkan anak-anak om?"
"Tapi kenapa kamu malah pergi saat om bangkrut ??"
Mendengar ucapan laki-laki di hadapannya Marissa semakin tidak dapat berkuti, berusaha melepaskan tangannya pun Marissa kewalahan.
"Lepaskan !!"
Sekeras apa pun Marissa berteriak, tetap saja di tempat tersebut tidak akan ada yang dapat mendengar suara nya.
"Tenanglah sayang, aku hanya ingin melepas rindu denganmu"
"Bukankah dulu kamu juga selalu ingin bertemu dan meminta untuk bertemu meskipun aku bersama istriku ??"
"Ayolah!!!"
__ADS_1
Mungkin apa yang di katakan laki-laki di hadapan Marissa benar adanya,namun itu dulu, saat ini Marissa sangat muak dan jijik mendengar nya.
***