
Sepasang mata di kejauhan, nyatanya tengah fokus mengamati perbincangan dua orang di apartment Aksara. Sudut bibirnya terangkat keatas, menyadari betapa liciknya anak dan orang tua disana.
Seperti tidak ada habisnya, menyusun rencana yang jujur saja sudah bisa ditebak bagaimana akhirnya.
'Bib'
Nada ponsel yang berbunyi, mengisyaratkan sebuah pesan masuk dalam ponselnya.
'Lima belas menit lagi aku akan tiba'
Sebuah pesan yang barusaja Dion terima merupakan kiriman dari Aksara.
'Siap Pak'
Sebuah pesan balas, Dion kirim pula untuk bos besarnya.
Waktu menunjukan pukul 13.17
Tidak butuh waktu lama, sesuai dengan pesan yang Dion terima sebelum nya, Aksara memang tiba di kantor sesuai dengan ucapan nya.
"Selamat siang pak !"
Sapa Dion dengan membungkukkan badanya. Aksara baru saja keluar dari lift dan Dion telah siap dengan beberapa berkas di tangan nya.
"Bagaimana ?!"
"Semua Sudah siap pak, untuk agenda hari ini juga sudah siap semuanya"
"Em. Bagus!"
Aksara di susul Dion berjalan ke ruangan rapat. Tempat dimana disana juga telah berkumpul beberapa orang yang sebelumnya telah membuat janji dengan Aksara.
"Selamat Siang Pak Aksa"
Suara lembut mendayu merdu baru saja Aksara dengar menyapa telinganya, sosok wanita yang jelas Aksara tahu siapa dia.
'Asilla'
Aksara hanya menatap sekilas, dan kembali melangkahkan kakinya. Sementara Dion hanya menahan tawa nya, melihat Asilla yang diabaikan oleh Aksara.
__ADS_1
Di susul Asilla, kini ketiganya berjalan bersama menuju ruang rapat.
Tidak butuh waktu lama, ketiganya telah berada di ruang rapat, dan semua orang tampak hormat pada Aksara. Aksara sekilas menganggukan kepala nya, menanggapi sapaan dari para relasi dan beberapa karyawan nya.
Tidak patah semangat, Asilla mengambil posisi duduk di samping kiri Aksara, sementara di sebelah kanan ada Dion Asisten pribadi Aksara.
Melihat tingkah Asilla, jujur saja Dion merasa jengah melihat nya, bagaimana tidak, meski Asilla tahu bos mereka telah memiliki istri dan kini telah bahagia, Asilla seakan tidak ada bosan-bosan nya berusaha mengambil hati Aksara.
Terlebih melihat penampilan Asilla yang selalu menampakkan seperempat belahan dada dan paha nya, membuat Dion merasa jengah melihat nya.
"Jaga mata mu !!" ketus Asilla pada Dion yang sedari tadi mengamati nya.
Mendengar ucapan Asilla yang justru berbanding terbalik dengan pikiran nya, hanya membuat Dion memutar bola mata nya.
Rapat pun di mulai dan Aksara kali ini berperan langsung sebagai pemimpin rapat. Membahas beberapa proyek penting yang sempat tertunda.
***
Setelah rapat usai semua orang tampak kembali ke ruang masing-masih, beberapa relasi juga telah kembali ke kantor mereka, menyisakan Aksara, Dion dan Asilla.
Ketiganya masih membahas beberapa point' penting hasil rapat sebelum nya.
Asilla memang centil, namun sikap profesional nya dalam bekerja tidak bisa di abaikan begitu saja, itu juga sebab nya mengapa Aksara tidak memecatnya meski dia tahu Asilla selalu berusaha menggoda nya.
Dua orang yang tidak pernah akur ini merupakan orang-orang kepercayaan Aksara.
"Kalian selesaikan sisa nya, aku akan kembali ke ruangan" Ucap Aksara pada Asilla dan Dion
Keduanya saling bertatapan, meski bukan tatapan mesra namun mereka sama-sama tidak percaya Aksara meninggalkan mereka begitu saja.
"Sial. Ini karena kamu lamban kerjanya Pak Aksa jadi nginggalin aku kan !" gerutu Asilla dengan menyilangkan tangan nya di dada.
Mendengar hal itu Dion hanya mendengus kesal, sebab Asilla selalu menyalahkan dirinya atas setiap hal yang berkaitan dengan Aksara.
"Kerja yang benar, jangan cuma bisa menggoda suami orang !!" Balas Dion tidak kalah ketus pada Asilla.
Mendengar hal itu Asilla pun hanya mendengus dan kembali mengerjakan sisa pekerjaan yang masih tersisa.
***
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul 16.23
Ruang kerja Aksara masih tampak rapi, sebab setibanya di kantor dia langsung memimpin rapat, dan baru saat ini dia kembali.
Meski begitu ingin cepat pulang, namun beberapa pekerjaan meminta Aksara untuk tetap di kantornya, mungkin akan membutuhkan waktu hingga malam tiba, sebab pekerjaan yang sempat tertunda harus pula segera Aksara selesaikan.
Aksara sempat mengirimkan pesan untuk Khadijah jika dia akan lembur hari ini, dan meminta Khadijah untuk tidak menunggu nya.
Tidak ingin berlama-lama, Aksara segera memulai pekerjaannya, dengan tumpukan kertas yang telah Dion siapkan sebelumnya.
Namun belum sampai Aksara memulai pekerjaan nya, sebuah tangan tiba-tiba saja melingkar di lehernya, bergelayut manja di belakang kursi kebesaran nya.
"Sayang"
Nada suara yang jelas Aksara tahu betul siapa itu. Tanpa sepatah kata, Aksara menghempaskan tangan Marissa. Dan hal itu tentu membuat wanita di belakangnya merasa kesakitan.
"Sayang, Aku mohon"
Marissa mencoba kembali mendekat pada Aksara dan lagi-lagi dia kembali berani memperlihatkan sisi agresif nya.
Tanpa permisi Marissa duduk begitu saja diatas pangkuan Aksara, sontak hal itu pun membuat Aksara begitu terkejut.
"Sayang, Aku sangat merindukanmu, Tidak bisakah kita kembali seperti dulu ?"
Marissa kembali berulah dengan bergelayut manja pada Aksara, dengan melingkarkan tangannya di leher Aksara. Hal itu tentu membuat Aksara merasa risih hingga dia berusaha kembali melepaskan tangan Aksara.
"Hentikan !!"
"Sayang Please!!"
"Aku tahu kamu Asti masih mencintaiku, kamu tidak akan semudah itu melupakan ku !!"
"CK"
Mendengar ucapan dan sikap percaya diri Marissa membuat Aksara tidak bisa menahan tawa nya, mungkin dulu 'Iya' namun sejak kehadiran Khadijah, Aksara tidak lagi menginginkan Marissa. Bahkan sedikitpun tidak lagi ada rasa yang tersisa dalam hati Aksara.
"Percaya diri boleh, tapi jangan naif Marissa"
Masih dengan tawa di bibirnya, Aksara menggelengkan kepala nya, menyadari sikap Marissa yang baru dia ketahui, 'Penggoda dan suka menghalalkan segala cara'.
__ADS_1
Marissa begitu kesal, sebab Aksara tidak sedikitpun bersimpati pada nya, bahkan setelah dia mengendap dan bersusah payah masuk kedalam kantor Aksara, bahkan dia melakukan penyamaran untuk dapat masuk kedalam ruang kerja Aksara. Meski begitu hasilnya tetap sia-sia saja.
***