TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 53. APARTEMEN


__ADS_3

...Di dunia ini tidak ada yang benar-benar kita miliki, bahkan udara yang kita hirup pun, akan kita hembuskan kembali...


...☘️...


Melihat reaksi Aksara dengan tatapan tajamnya, Sontak Khadijah pun memundurkan tubuhnya. Namun ternyata gerakannya kalah cepat dengan Aksara yang menyadari sikap Khadijah, hingga Aksara pun dengan cepat menarik pergelangan tangan Khadijah.


Keduanya saling bertatapan. Khadijah pun mencoba menyelami dalamnya mata Aksara, apa yang ingin dilakukan suaminya itu pada dirinya.


Jujur saja Khadijah merasa takut kalau-kalau Aksara akan nekat berbuat buruk padanya. Melihat Bagaimana tanggapan dan respon Aksara, tentu Khadijah sudah bisa membayangkan bagaimana Aksara akan berujung nantinya.


'Memukul atau menamparnya atau mungkin mendorongnya', mikir Khadijah.


Sementara dalam ketakutan Khadijah, Aksara pun semakin mendekatkan wajahnya. Bahkan saat ini Khadijah merasakan tangan kanan Aksara telah menelusup di balik hijab besar yang dikenakan nya.


Menyadari hal itu Khadijah pun memilih menutup rapat matanya, tidak sanggup untuk melihat kemarahan dan tajam nya mata Aksara.


"Simpan saja !. Karena aku tidak membutuhkan !!"


Bisik Aksara tepat di telinga Khadijah, sontak hal itu pun seketika membuat Khadijah membulatkan kedua bola mata nya, Khadijah menatap tidak percaya pada suami yang kini masih berdiri begitu dekat dengan nya.


Khadijah memberanikan diri untuk menatap mata Aksara, dan mencari kebenaran di mata suaminya, dengan apa yang baru saja diucapkannya.


Tentu hal ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang dulu Khadijah dengar dari Aksara , saat pertama kali mereka bertemu sebelumnya.


Sepemahaman Khadijah, hanya karena uang alasan Aksara rela bersama dengan Khadijah, dan hal itu masih sangat segar di ingatan Khadijah tentu nya.


Namun melihat keseriusan di wajah suaminya, agaknya Khadijah pun tidak menemukan sedikitpun celah kebohongan di sana, apa yang Aksara katakan tentu hal itu benar adanya.


Dan Khadijah pun hanya menatap Aksara dengan tatapan tidak percaya. Begitu juga Aksara yang seolah terbius dengan mata Khadijah, tatapan yang tidak sering dia lihat dari banyak wanita sebelum nya.


"Maaf pak, penerbangan 5 menit lagi !"


Terdengar suara Dion yang kemudian kembali mengembalikan fokus Khadijah dan Aksara.


Aksara terlihat sedikit gelagapan, menyadari jika Asisten nya tentu melihat kekonyolan apa yang dia lakukan pada Khadijah.


"Em. Kita berangkat sekarang !" titah Aksara


Mendengar hal itu Dion pun lantas menatap pada bos besarnya, kemudian mengalihkan pandanganya pada Khadijah.


Sikap sang asisten nya, tentu mudah saja di pahami maksud nya oleh Aksara.


"Ohya !"


Aksara pun berbalik menatap Khadijah.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu sampaikan sudah kamu sampaikan, dan ku rasa jawabanku pun sudah cukup jelas"


Setelah mengatakan hal itu Aksara berlalu dari hadapan Khadijah begitu saja, sebab memang sudah tidak ada lagi yang ingin di bicara kan nya.


"Mas!"


Baru beberapa langkah, Khadijah kembali menghentikan suami nya. Dan hal itu mau tidak mau kembali membuat Aksara menghentikan langkah nya.


"Apa lagi ?" ucap Aksara dengan mengangkat dagunya.


"Tidak kah, Mas Aksa ingin mengajakku pulang bersama"


Jangan Ditanya Bagaimana Khadijah, tentu saat ini dia begitu sangat malu hingga Khadijah merasakan wajahnya memerah karena panas, dia memilih menundukkan wajah nya, demi menahan rasa malunya.


Sudut bibir Aksara pun terangkat ke atas, menyadari Ucapan Khadijah merupakan sebuah permintaan, meski tidak secara langsung namun Aksara tentu paham dengan apa maksudnya.


"Terserah kau saja !"


Meski begitu memahami ucapan Khadijah, namun Aksara memilih untuk membiarkan Khadijah menentukan nya, Sebab Dia tidak ingin terkesan memaksa.


Setelah mengatakan itu, Aksara pun lantas kembali berjalan meninggalkan Khadijah dan Dion yang masih bingung menafsirkan ucapan Aksara sebelumnya. Kata 'terserah' tentu tidak semudah itu Dion terjemah kan, sebab jika salah, Sudah barang tentu dia yang akan menjadi sasaran.


"Ibu sebaiknya ikut dengan Pak Aksa saja" Ujar Dion.


"Lalu kamu sendiri bagaimana ?"


Otak licik Dion pun mulai bekerja, sejujurnya Dion sangat diuntungkan dengan hadirnya Khadijah, sebab untuk beberapa saat tentu dia akan dapat beristirahat.


Tentu Dion akan melakukan segala cara untuk membuat Khadijah ikut bersama Aksara kembali ke ibu kota hari itu juga.


Menyadari ucapan Asisten pribadi suaminya, Khadijah pun mengangguk dan mengikuti saran dari nya, Khadijah pun berpamitan dan mengejar Aksara yang sudah sedikit lebih jauh di depan sana.


Namun sebelum itu, Khadijah telah menerima selembar tiket yang diberikan oleh Dion padanya, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, sebab nama yang tertera di sana merupakan namanya. 'Apakah Mas Aksa memang sudah mempersiapkan sebelumnya', pikir Khadijah.


Khadijah pun lantas tersenyum, melihat lembaran kertas di tangannya yang bertuliskan nama nya. Khadijah pun lantas kembali berlari menyusul Aksara.


Sebelumnya niat Khadijah ke bandara memang hanya untuk memberikan buku tabungan dari Abah dan Ummi Amina saja, untuk diserahkan kepada Aksara.


Dan rencana kembali ke ibukota pun sebenarnya tidak ada, dan bahkan belum terpikirkan dalam benak nya, namun entah mengapa Khadijah sangat ingin ikut kembali bersama Aksara.


Itu Mengapa saat ini Khadijah tidak membawa satupun barang miliknya ,kecuali hanya pakaian yang dia kenakan, serta tas dan juga ponsel miliknya saja.


Menyadari Khadijah telah berdiri tepat di sampingnya, Jujur saja Aksara sedikit terkejut, namun entah mengapa dia juga merasa sudut hatinya menghangat begitu saja.


***

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 22.15.


Sempat mengalami kendala, sehingga pesawat terpaksa harus transit di Jogja, dan hampir tengah malam keduanya baru tiba di Jakarta.


"Mas, apa tidak papa kita pulang selarut ini ?"


Sementara Aksara fokus dengan kemudinya, Khadijah pun memberanikan diri untuk bertanya, pasalnya tentu dia tidak ingin mengganggu kedua mertua serta penghuni rumah lainnya.


Namun meski membernarkan ucapan Khadijah, Aksara masih tetap diam dan kembali fokus pada kemudi nya.


Melihat diamnya Aksara, tentu Khadijah pun tidak lagi ingin bertanya, sebab mungkin saja Aksara memang sedang lelah.


Namun yang tidak disangka adalah, Aksara justru membawa mobilnya ke kawasan yang padat dengan gedung-gedung menjulang tinggi. Agaknya Khadijah pun juga baru pertama kali ke sana.


Namun meski penasaran, Khadijah memilih untuk diam, tidak ada nya respon dari Aksara sebelumnya, Membuat Khadijah sedikit merasa malas untuk bertanya tentang apa tujuan Aksara membawa nya kesana.


"Turun !"


Suara dingin Aksara seketika memenuhi telinga Khadijah, dan Khadijah pun menurut saja.


Khadijah masih tetap diam, begitupun dengan Aksara yang masih juga setia dengan diam nya, hingga keduanya sampai pada sebuah pintu ruangan, yang Khadijah sendiri tidak tahu itu apa.


"Malam ini kita akan tidur di sini"


"Apa ?!!"


Khadijah pun kaget, dan tanpa basa-basi dia mempertanyakan kebenaran ucapan Aksara sebelumnya.


"Bukankah kamu rasanya tidak nyaman mengganggu papa, mama, dan penghuni rumah lainnya ?"


Ucap Aksara dengan menekan Smart lock pintu yang ada di hadapannya.


Memang benar apa yang diucapkan Aksara, namun Khadijah tidak menyangka jika Aksara akan membawanya ke tempat tersebut.


"Apa kau akan terus berdiri di situ ?"


Sempat tidak percaya, Khadijah pun terdiam dalam lamunannya, hingga dia tersadar oleh ucapan Aksara.


Khadijah pun lantas masuk, dan mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan yang tampaknya merupakan sebuah apartemen, namun milik siapa ?, 'batin Khadijah bertanya'.


"Apartemen ini milikku, sudah sejak lama, namun memang aku jarang menempatinya"


"Hanya sesekali saja"


Mendengar cerita dari suaminya, Khadijah pun lantas menganggukkan kepalanya, dan memahami apa yang barusaja Aksara katakan pada nya.

__ADS_1


***


__ADS_2