
Meski ada sedikit keraguan di hatinya, namun Aksara tetap harus mengatakan semua pada Khadijah, sebab hal ini juga menyangkut Khadijha kedepannya.
Mengingat keputusan ini Aksara ambil sepihak tanpa melibatkan Khadijha sebelumnya, jujur saja membuat Aksara ragu untuk mengatakannya.
"Mas !. Kok malah bengong ?"
Khadijah meninggikan sedikit suaranya, menyadarkan sang suami dari lamunan nya, dan benar saja hal itu membuat Aksara tersadar begitu saja.
"Oh. Em. Maaf"
"Mas Aksa mau bicara apa ?"
Dengan lembut Khadijah kembali bertanya, kerutan di kening Khadijah terlihat sangat jelas, sebab dia pun sangat penasaran dengan apa yang ingin suaminya katakan.
Menantikan apa yang ingin Aksara katakan pada nya. Sekali lagi Khadijha mendapati Aksara menghela nafas dalam.
"Aku mungkin lancang"
Aksara menjeda ucapanya, dan hal itu membuat Khadijah mencondongkan tubuhnya, mendekat pada sang suami.
"Tempo hari aku sudah mengurus perpindahan kuliahmu, kamu akan pindah kuliah di Jakarta"
"Aku tidak sanggup jika kita berpisah. Dan jujur saja aku tidak ingin kamu dekat dengan Adik ku"
Aksara terlihat menundukkan wajahnya, jujur saja mungkin ini kali pertama dia merasa rendah di hadapan seorang wanita, dan Aksara jujur tidak ingin berpisah dengan istrinya, meski hanya untuk sesaat saja.
Dengar penuturan Aksara, Jujur saja Khadijah sedikit tidak percaya, namun senyum merekah begitu saja di bibir cantik nya, secara tidak langsung ucapan Aksara begitu sangat meyakinkannya dengan Cinta yang di miliki Aksara untuk dirinya.
Helaan nafas menjadi tanda betapa Khadijah merasa begitu sangat bahagia.
"Aku pikir ada apa mas"
"Tidak masalah Mas, Apa pun yang mas Aksa inginkan tentu aku akan menyetujuinya, Karena semua sudah pasti untuk kebaikan kita, Sekalipun Mas Aksa tidak bertanya pada Khadijah sebelum nya" Ujar Khadijah.
__ADS_1
Aksara pun bernafas lega setelah mendengar penuturan dari Khadijha yang begitu ikhlas menerima keputusan yang telah diambil sebelumnya, tanpa keraguan, bahkan tidak ada sedikitpun kemarahan.
"Terima kasih sayang"
"Dijah, Mas yang seharusnya berterima kasih" ucap Khadijah seraya tersenyum manis pada Aksara.
Khadijah memilih untuk memeluk suami nya, daripada bertanya bagaimana Aksara bisa melakukan semuanya, sebab apa yang di lakukan Aksara tentu sudah di pikirkan secara matang sebelum nya, termasuk menjaga interaksi dirinya dengan Dirga adik ipar nya.
***
Ibukota terasa lebih panas, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Ditengah teriknya Matahari yang begitu menyengat kulit, dengan hiruk pikuk kota yang tidak pernah ada mati nya. Marissa baru saja terbangun dari tidur lelap dan panjangnya.
Lelah tubuhnya membuat wanita tersebut masih belum dapat mengembalikan kesadaran nya seperti semua. Marissa merasa kepalanya begitu pusing dan berat, hal ini mungkin karena efek minuman keras yang semalam banyak dia minum.
Marissa begitu lelah dan sakit di beberapa bagian, terlebih bagian inti tubuhnya yang terasa begitu sakit dan perih.
Meski masih begitu berat matanya untuk terbuka, namun Marissa mulai menggabungkan ingatan-ingatan semalam, sehingga membuatnya begitu tidak berdaya seperti saat ini. Seingat nya, Marissa tidak pernah sampai tidak sadarkan diri meski telah banyak menenggak minuman keras.
Setelah benar-benar dapat membuka mata nya, Marissa begitu terkejut dengan penampilannya yang acak-acakan, bahkan yang terburuk adalah dia mendapati tubuhnya tanpa sehelai benang pun menempel.
Marissa mengacak kasar rambutnya, memukul kepala, dan menggosok tubuhnya dengan kasar, merutuki kebodohan dirinya, yang bahkan tidak mengingat apa yang semalam terjadi pada dirinya.
Meski sering melakukan hubungan dengan banyak pria, Marissa semalam adalah yang terburuk, sampai-sampai dia merasa seluruh inti tubuhnya sangat sakit bahkan untuk berjalan pun Marissa merasa sangat kesulitan.
Susah payah Marissa melangkah kan kakinya menuju kamar mandi, hingga cukup lama Marissa berjalan, tepat di hadapannya sebuah kaca besar terlihat pantulan dirinya yang masih tanpa sehelai benang melekat di sana. Marissa menatap lurus ke depan, melihat betapa kacau nya dia.
"Arghhhh !!!!"
Marissa meraung dan menangis sejadi-jadinya, menyadari kebodohan yang baru saja dia lakukan, nahasnya Marissa tidak tahu siapa laki-laki yang telah menggagahi nya semalam.
Marissa hanya merasa jika semalam dirinya tengah bersama Aksara, namun rasa-rasanya tidak mungkin Aksara melakukan ini padanya.
Saat masih menjalin hubungan pun Aksara tidak pernah mau melakukanya, sekalipun Marissa memaksa dan menggoda Aksara dengan segala cara.
__ADS_1
Marissa kembali merutuki dirinya, yang dengan mudahnya terperdaya, satu hal yang begitu Marissa sesalkan adalah tentu semalam laki-laki yang telah menggagahinya tidak menggunakan pengaman.
Marissa merasakan lendir lengket dan berbau anyir masih tersisa di bagian inti tubuhnya. Dan itu menguatkan dugaanya jika semalam lelaki tersebut berulangkali menyemburkan benihnya di dalam rahim nya.
"Arghhhh !!"
Hal semacam ini memang bukan kali pertama Marissa lakukan,namun dia selalu melakukan dengan rapi, dan selalu menggunakan pengaman tentu nya.
***
"Bagaimana sayang kamu sudah siap ?"
Khadijah menganggukan kepala nya, dua koper berukuran sedang telah siap dia kemas. Satu untuk barang-barang miliknya dan satu koper lainya tentu milik sang suami.
Sore ini Aksara, Khadijah beserta kedua orang tua Aksara Akan bertolak ke Jombang, bertemu untuk kali pertama dengan Orang tua angkat Khadijah.
Pagi tadi Khadijha telah menghubungi Abah dan Umi Aminah untuk mengabarkan hal ini, dan keluarga di Jombang tampak begitu senang dengan rencana Aksara membawa Khadijha dan keluarganya.
"Mas"
"Em?"
"Kita bawa apa ya untuk Abah dan Umi ?"
"Oleh-oleh?"
Aksara yang cukup paham dengan maksud pertanyaan istrinya, tentu hal itu yang saat ini menjadi pikiran Khadijah. Dan benar saja meski pelan namun Aksara menangkap anggukan kepala dari istrinya.
"Tenang saja sayang, Semua sudah aku pikirkan, Kamu tidak perlu khawatir"
Dengan lembut Aksara meraih bahu Khadijah dan menenggelamkan dalam pelukannya, seketika itu pula Khadijah merasa begitu bahagia.
***
__ADS_1