
...Tidak ada hubungan antar manusia yang selalu berjalan mulus baik-baik saja. Yang ada hanyalah mereka yang mengedepankan toleransi dan pemakluman sesama ...
...☘️...
Dion yang merasa merupakan asisten pribadi, dan orang kepercayaan Aksara memilih untuk segera melaksanakan perintahnya. Sebab Dion sendiri pun, tidak ingin membuat Aksara kecewa.
Waktu menunjukkan pukul 13.45.
"Mas Aksa mau ke mana ?"
Melihat Aksara dengan tampilan yang lebih rapi dari sebelumnya, tentu mengundang tanya di hati Khadijah.
Sebelumnya Khadijah memang meninggalkan Aksara, untuk membantu Umi Amina di dapur besar, sebab malam nanti akan ada peringatan Maulid Nabi di pesantren.
Terakhir kali Khadijah sempat melayani Aksara saat makan siang, sebab Aksara menginginkan untuk makan di kamar saja.
"Aku ada urusan, mungkin juga langsung kembali ke Jakarta" ucap Aksara dengan sibuk mengancingkan kemejanya.
'Secepat ini ?' pikir Khadijah.
"Oh baiklah" ucap Khadijah pada akhirnya.
Khadijah bisa apa, jika itu memang keinginan Aksara, tentu Khadijah pun tidak bisa menahan.
Meski Khadijah berharap jika Aksara akan singgah untuk beberapa saat di kediaman Abahnya, namun agaknya Aksara memang benar-benar tidak betah berlama-lama dengan dirinya, 'Pikir Khadijah'.
"Jika memang begitu hati-hati dijalan Mas"
Mendengar ucapan Khadijah, Aksara pun menatap sekilas wajah Istri nya. Jujur saja melihat wajah Khadijah, Aksara semakin merasa bersalah. Entah Karena sebab apa, namun yang diyakininya adalah Khadijah menderita karena dirinya.
Mulai dari pemecatan yang Aksara lakukan pada orang tua Khadijah, menghentikan beasiswa pendidikan nya, serta menjadikan Khadijah sebagai jaminan atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan.
Aksara merasa berdosa, sebab kesedihan yang dialami Khadijah tentu sedikit banyak merupakan kesalahan darinya.
"Oh ya. Jika kamu merasa tidak nyaman di Jakarta, maka aku mengizinkan mu jika memang kamu ingin tetap disini, dan tinggal di tempat ini"
Deg.
Khadijah terperangah.
Mendengar ucapan Aksara, serta tidak adanya keraguan di wajahnya, tentu membuat Khadijah terkejut dengan suaminya.
Bukan ini yang Khadijah harapkan, Namun sepertinya Aksara memang tidak pernah benar-benar menginginkan dirinya.
__ADS_1
"Kenapa Mas Aksa bicara seperti itu ?"
Entah cairan dari mana, namun seketika pelupuk mata Khadijah tergenang begitu saja. Khadijah tentu paham dengan maksud dari perkataan Aksara sebelumnya.
Dan sebagai seorang wanita dan juga seorang istri, tentu Khadijah sangat sakit hati, sebab perkataan Aksara begitu terasa sangat melukai.
Aksara memang tidak mengatakan dengan ucapan kasar dan juga nada bicaranya yang ketus seperti biasanya dia bicara pada Khadijah, namun justru hal itu membuat Khadijah merasa Aksara mengatakan itu semua benar-benar dari hatinya.
"Kenapa Mas? katakan ??"
Khadijah pun memberanikan diri untuk menuntut sebuah jawaban. Khadijah tahu memang Aksara tidak pernah mencintainya, namun mengapa dia harus mengatakan nya.
"Bukankah aku ini istri Mas Aksa ?"
"Kenapa Mas Aksa justru meminta Dijah tinggal di sini, bukan meminta Dijah untuk kembali ke Jakarta bersama-sama ?"
"Kenapa Mas ?? katakan ??"
"Apa memang pernikahan kita tidak pernah ada artinya ??"
Mendengar banyaknya pertanyaan dari Khadijah, Jujur saja Aksara tidak memiliki jawaban untuk pertanyaannya, Sebab rasa bersalah begitu mendominasi di hatinya dan Aksara berpikir untuk tidak lagi menyakiti hati Khadijah, 'pikir Aksara'.
Cukup lama keduanya saling terdiam, dengan pandangan saling menatap satu sama lainnya.
Tidak ingin kembali bergelut dengan pikiran buruknya, Khadijah memutuskan untuk mengakhiri perbincangan mereka, sebab saat ini dia masih tidak percaya dan masih cukup terluka dengan sikap serta perkataan Aksara sebelumnya.
Begitu juga dengan Aksara, dia yang tidak memiliki kata dan ucapan untuk di sampaikan, Aksara memilih untuk segera pergi dan meninggalkan Khadijah.
"Tunggu mas"
Baru beberapa langkah Aksara, Khadijah pun kembali menghentikannya. Mendengar hal itu Aksara pun lantas berbalik dan kembali menatap istri nya.
Aksara menautkan kedua alisnya, menatap jeli pada Khadijah, dan menanti apa yang akan diucapkannya.
Melihat Aksara yang akan meraih handle pintu, Khadijah pun lantas berjalan mendekat ke pada suaminya. Khadijah lantas meraih tangan kanan Aksara.
Jujur saja saat ini Aksara begitu berdebar jantung nya, Entah mengapa dingin tangan Khadijah membuatnya merasa gugup berhadapan dengan sosok wanita yang telah sah menjadi istrinya.
"Aku hanya ingin memberikan ini"
Namun yang justru tidak disangka oleh Aksara adalah, Khadijah memberikan sesuatu pada nya, buku kecil yang bertuliskan nama sebuah bank konvensional yang tidak asing bagi Aksara, 'BCA'.
Aksara pun menautkan kedua alisnya, tidak butuh pemikiran panjang, Aksara tentu tahu apa maksudnya.
__ADS_1
"Abah menitipkan ini pada Khadijah, dan meminta Dijah untuk memberikannya pada Mas Aksa"
Belakangan diketahui ternyata pagi hingga siang tadi Azis menyelesaikan semua administrasi jual beli rumah serta seluruh aset yang dibeli oleh satu nama, sosok yang diketahui Azis dari ibukota, Namun Azis juga tidak bertemu langsung dengan dia, sebab hanya di wakilkan oleh seorang asisten saja. Dari situ pula pada akhirnya dapat melunasi seluruh hutang-hutang Azis pada perusahaan Aksara.
Aksara pun terpaku diam dan membeku, melihat Khadijah yang beranjak pergi meninggalkannya.
***
Bandara Juanda Surabaya.
Kurang dari 30 menit penerbangan Aksara menuju ibukota Jakarta.
Dion merasa ada yang berbeda dari wajah bos besar nya. Entah mengapa setelah kepergian dari rumah Abah, Aksara sedikit berbeda. Dan Dion pun menyadari perubahan itu.
Bahkan Dion merasa diabaikan oleh Aksara, sebab Aksara sedari tadi terus saja diam tanpa suara.
Lelah memikirkan sebab diamnya Aksara, Dion pun memilih memainkan ponselnya.
"Maaf Pak Aksa, saya ingin membeli minuman, apa bapak menginginkan sesuatu ?"
Cukup lama Dion menatap pada sosok Bos besarnya, menantikan jawaban apa yang akan dia terima, namun nyatanya kibasan tangan yang dia dapatkan dari sosok pria tangguh di hadapan nya.
Dion pun lantas menganggukkan kepalanya, dan beranjak pergi meninggalkan Aksara.
Setelah kepergian Dion sang asisten, Aksara masih tetap diam seperti sebelumnya. Kacamata hitam yang Aksara kenakan tentu mampu menutupi arah matanya yang melihat entah ke mana.
Namun seketika Aksara, dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Merasa tidak nyaman , Aksara pun lantas menoleh pada sosok yang telah dengan berani duduk di sampingnya.
Melihat siapa yang ada di sampingnya, jujur saja Aksara cukup terkejut, hingga dia menautkan kedua alisnya dan seketika menampakkan guratan-guratan halus di keningnya.
'Marissa !!'
Untuk sesaat Aksara pun terdiam dengan tatapannya. Hingga tanpa sadar dia membuka kacamatanya, untuk memastikan benar-benar siapa sosok yang ada di hadapannya.
Begitu juga dengan sosok yang saat ini tengah duduk tepat di samping Aksara. Terus memandang Aksara dengan rasa kagum di hatinya.
"Aksa, apa kabar ??"
Sepa sang wanita, dengan suara lembut mendayu. Wanita yang diketahui merupakan sosok yang pernah mengisi hati Aksara.
Wanita yang bertahun-tahun Aksara harapkan kedatangannya, wanita yang dulu pernah sangat dia cinta, namun Melihat sosok Marissa berada di hadapannya, entah mengapa Aksara merasakan, rasa yang dulu pernah ada, hilang begitu saja.
***
__ADS_1