
...Bagian mana yang mau di keluh kan, bukan kah ini semua adalah pemberian. ...
...☘️...
Dengan kimono dan rambut yang masih acak-acakan jujur saja Aksara sangat malu keluar dari kamar Khadijah. Belum lagi pandangan para pelayan.
Sebenarnya Aksara ingin menumpang mandi di kamar Khadijah. Namun apa lah daya, karena itu hanya sampai di pikiran dan otak nya saja, sementara mulutnya masih diam tanpa suara, sebab Aksara sangat menjaga ego nya, 'Pikir Aksara'.
"Bagaimana aku bisa tidur di sini ?"
Dengan tidak tahu malu nya Aksara bertanya, sementara Khadijah hanya menggelengkan kepala. Menyadari kekonyolan dan kepribadian lain suami nya.
"Mana Dijah tahu mas, Bukan kah seharusnya Dijah yang tanya ?"
Mendengar jawaban bernada sindiran, jujur saja Aksara semakin merasa tidak berdaya berlama-lama di kamar Khadijah.
Hingga pada akhirnya Aksara berlalu dari kamar Khadijah. Sementara Khadijah yang juga masih merasa terkejut dengan drama rumah tangga pagi ini, memilih untuk membereskan kekacauan kamar nya, sebelum beranjak membersihkan diri nya.
Senyum di bibir Khadijah mereka begitu saja, menyadari sebelumnya Aksara tidur di tempat yang saat ini tengah Khadijah rapikan Seprai nya.
Tanpa di sadari wajah Khadijah pun kembali menghangat, menampakkan rona merah di pipi nya.
Meski malu terhadap kedua mertua nya, namun Khadijah merasa bahagia, jujur saja Khadijah belum bisa menjabarkan kebahagiaan seperti apa yang kini dia rasakan, hanya saja Khadijah merasa begitu senang saat ini.
'Cinta?' mungkin saja.
Khadijah sendiri tidak tahu apa itu, sebab dia yang memang tidak pernah berpacaran sebelumnya, hanya bisa menduga saja, karena tidak jelas seperti apa perasaan nya.
***
Suasana Meja makan tampak canggung, setelah sebelumnya kejadian yang terjadi antara Aksara dan Khadijah.
Sementara kabar mengenai hal itu pun ternyata sudah sampai pada telinga Dirga. Yang saat ini hanya bisa terdiam dengan sesekali memandang wajah Khadijah dengan cadar yang di kenakan nya.
Mungkin saja Dirga tengah berfikir jika Khadijah dan Kakak nya telah memiliki hubungan yang lebih baik dari sebelum nya, sebab semalam dia melihat sendiri bagaimana Aksara begitu intim dengan Khadijah.
"Dijah ?"
Suara Pak Lukman memecah keheningan diantara mereka.
Mendengar panggilan dari ayah mertua nya, Khadijah pun lantas mendongakkan wajahnya.
"Iya Pa ?"
"Papa dengar Abah mu Sakit ?"
Dijah lantas menyimpan kembali sendok Dian garpu di atas piring nya. Menghadap sosok yang mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Iya pa, Dijah juga baru tahu kemarin" lirih Khadijah.
Melihat Khadijah dengan rasa sungkan di mata nya, jujur hal ini semakin menyadarkan Aksara jika semalam hanya ke salah pahaman saja.
"Bagaimana Aksa ?"
Aksara terperangah mendengar pertanyaan papa nya.
"Apa ?"
"Kamu suaminya !. Kapan kamu akan mengantar Dijah ?"
"Aku sibuk, dia bisa pulang sendiri" Ucap Aksara masih dengan makanan di mulutnya.
"Aksa !" Ujar Bu Gita
Semua orang tampak tidak percaya dengan ucapan Aksara, namun tidak dengan Khadijah, karena bagi nya asal suami nya mengizinkan makan dia bila pulang sendiri saja.
Melihat perubahan di wajah mertua nya, jujur Khadijah menyadari jika situasi sudah tidak lagi terkendali.
"Ma. Pa. Tidak masalah, Dijah tahu mas Aksa pasti lagi sibuk, Dijah bisa sendiri, lagi pula perjalanan nanti Dijah tidak akan lama"
Dari bangku di hadapan nya, Dirga masih tampak menjadi pendengar setia.
"Tapi tidak bisa begitu Dijah !"
Khadijah lantas menggenggam tangan ibu mertua nya, memastikan jika dia akan baik-baik saja meski tanpa Aksara di sampingnya, Izin dari sang suami saja bagi Khadijah sudah lebih dari cukup.
***
Sesuai yang telah di rencana Khadijah sebelumnya, dia akan bertolak ke Jombang untuk menemui Abah.
Ada rasa bahagia dan sedih tentu nya, kebahagiaan karena bisa bertemu Abah dan Umi Amina, namun sedih karena pertemuan mereka harus terjadi saat kondisi Abah tengah kurnag sehat, dan lagi Khadijah harus sendiri tanpa di temani sang suami.
Namun mau bagaimana pun, Khadijah tentu sadar jika dia tidak bisa berharap lebih atas pernikahan yang memang karena keterpaksaan saja.
"Sudah siap semua ?"
Khadijah pun menoleh ada ibu mertua yang baru saja masuk ke kamar nya.
"Sudah ma. Tidak banyak yang Dijah bawa"
Bu Gita lantas mengangguk kan kepala nya.
"Maafkan Aksa ya"
Entah karena apa namun Bu Gita merasa telah menelantarkan menantu nya, sebab Aksara tidak mengantarkan Khadijah, meski sejujurnya Alasan sibuk itu tidak bisa di benarkan. Sebagai wanita dan seorang ibu, Bu Gita tentu tidak menginginkan hal ini terjadi pada menantu nya.
__ADS_1
"Ma. Mama tidak perlu khawatir, InshaAllah Dijah akan baik-baik saja"
"Lagi pula setelah semua urusan selesai Dijah akan segera kembali"
Khadijah tidak ingin membebani pikiran mertua yang telah begitu baik pada dirinya.
Waktu menunjukan pukul 15.23
Kurangnya dari setengah jam lagi pesawat yang akan mengantarkan Khadijah hingga bandara Juanda surabaya akan berangkat.
Setelah berpamitan pada kedua mertua nya, Khadijah di temani pak Hasan supir pribadi pak Lukman bertolak ke bandara.
Khadijah hanya sempat mengirimkan pesan pada sang suami, Tentang keberangkatan nya, sebab untuk ke kantor Aksara tentu Khadijah harus kembali berfikir dua kali. Mengingat tempo hari Aksara begitu emosi karena Khadijah datang tanpa permisi.
'Centang satu' pikir Khadijah.
Mungkin Aksara memang sedang sangat sibuk, dan bisa jadi handphone nya tengah mati, sehingga pesan yang telah dia kirim belum sampai pada sang suami.
"Mba Sudah sampai" ujar pak Hasan
Meneliti ke luar jendela mobil yang di tumpangi nya, benar saja Khadijah telah sampai di bandara.
"Pak Hasan terima kasih ya"
Pak Hasan lantas mengangguk kan kepala, dan bergegas membuka kan pintu untuk Khadijah, dan menyiapkan koper yang ada di bagasi belakang mobil nya.
"Mba hati-hati ya"
Khadijah lantas menganggukkan kepala nya, sebagai jawaban atas ucapan pak Hasan sebelumnya.
Sebelum berjalan masuk sempat Khadijah menoleh ke belakang, berharap mungkin sang suami akan berubah pikiran dan berniat mengantarkan, namun agak nya harapan Khadijah terlalu tinggi.
Baru akan melangkah kan kaki nya, Khadijah pun di kejutkan dengan sebuah tangan yang meraih koper milik nya.
"Aku akan mengantar mu"
Suara yang tentu tidak asing bagi Khadijah 'Mas Dirga' Batin Khadijah.
Melihat sosok yang ingin selalu Khadijah hindari membuat nya beringsut karena tidak ingin terjadi fitnah diantara mereka.
"Tidak ada yang mengenal kita"
"Mas tapi ini tidak benar"
"Siapa bilang ?"
Khadijah lantas terdiam, jujur mau menjelaskan bagaimana pun Dirga memang sulit untuk di nasehati nya.
__ADS_1
Tidak ingin terlibat perdebatan lebih panjang Dirga segera menarik Koper Khadijah dan bergegas masuk, mengingat waktu keberangkatan tidak akan lama lagi.
***