
...Kamu marah jika ada yang mendekati ku ?. Lalu apa kabar orang yang kau buat nyaman tanpa sepengetahuan ku ?. ...
...☘️...
Kantor Aksara
Waktu menunjukan pukul 10.45, Seperti biasa kesibukan di kantor Aksara sudah di mulai sejak pagi tadi. Begitu juga Aksara yang sudah berada di kantor sejak tadi.
Aksara terlihat fokus dengan beberapa laporan di tangan nya, ada yang butuh untuk di koreksi, ada pula yang butuh untuk di tanda tangani.
Brak !!!
Melihat pintu ruang kerja nya di buka paksa, Aksara tidak lantas marah atau pun tersulut emosi nya, Aksara lebih tertarik melihat siapa yang berani menerobos ruang kerja nya.
Aksara pun tersenyum menyadari jika yang mendatangi nya adalah orang yang begitu dekat dan sangat Aksara kenal tentu nya.
Kilatan kemarahan di mata adiknya, tampak jelas mengarah pada Aksara, dan jujur saja Aksara tahu apa yang saat ini ada dalam pikiran adik nya.
"Duduklah" pinta Aksara.
Tanpa kata, Dirga pun langsung duduk tepat di depan kakak nya. Keduanya duduk saling berhadapan, dengan meja sebagai pemisah diantara mereka.
"Tumben sekali adik ku ini datang"
Aksara masih begitu santai menanggapi kedatangan Dirga, yang sejujurnya dia sangat tahu apa alasan Dirga mendatangi nya.
"Tidak usah basa-basi"
Melihat keseriusan di wajah adiknya, Aksara pun membenarkan posisi duduknya.
"Katakan !"
"Aku ingin membicarakan soal Khadijah!!" ucap Dirga tanpa ragu.
Mendengar nama istrinya di sebut oleh Dirga, Aksara pun menyimpan kembali pena yang sebelumnya dia mainkan.
"Jika kedatanganmu ingin membicarakan soal wanita itu maka, lebih baik kau pulang saja"
Ucapan Aksara tentu saja semakin memantik emosi dari Dirga. Tidak terima jika wanita yang begitu dia cinta diabaikan begitu saja oleh Kakak nya, sementara dia sangat berharap jika masih akan ada kesempatan dirinya bersama Khadijah.
"Kenapa Kakak mengabaikan nya begitu saja?"
Jujur saja beberapa hari yang lalu Dirga mengantarkan Khadijah, Dirga menyadari kesedihan dari mata wanita yang tengah di kagumi nya, dan sebagai seorang laki-laki tentu Dirga tidak tega melihatnya, terlebih alasan kesedihan Khadijah adalah kakak nya.
Mendengar pertanyaan dari adik nya, Aksara hanya terus menatap wajah lawan bicara nya.
__ADS_1
"Orang tuanya sakit, dan Kakak sebagai menantu hanya diam saja di sini ?" Cecar Dirga pada Kakak nya.
Sudut bibir Aksara pun terangkat keatas.
"Untuk apa aku ke sana, jika adik ku saja sudah menjalankan peranku sebagai suami nya !"
Deg.
Dirga terperangah.
Ucapan kakak nya tentu membuat dia terkejut, pasalnya tidak ada orang lain yang mengetahui jika tempo hari dia mengantarkan Khadijah, juga tidak ada satu orang pun yang tahu jika Dirga mengawasi Khadijah hingga ke rumah sakit.
Namun meski terkejut, justru Dirga merasa tindakannya telah memancing rasa penasaran dari kakak nya. Bahkan Aksara tahu jika Dirga nekat membuntuti Khadijah.
Dirga pun terkekeh melihat sikap kakak nya.
"Aku tahu alasan Kakak menikahi nya !!"
Sebelumnya mungkin memang tidak ada yang memberitahu Dirga perihal masalah yang melatar belakangi pernikahan Aksara dan khadijah. Sehingga muncul niat Dirga untuk mencari tahu alasan nya.
"Karena alasan uang perusahaan yang di bawa oleh kakak Khadijah bukan ?"
"Orang tua Khadijah pun terpaksa menikahkan kalian karena alasan menghindarkan fitnah yang akan timbul di kemudian bukan ??! "
"Namun diantara alasan sebelumnya, niat kakak menikahi nya hanya karena ingin mengikat Khadijah saja bukan?!"
"Lalu mau mu apa ?"
"Wanita itu sudah menjadi istriku !!"
"Aku tahu kamu menyukai nya, tapi saat ini itu hanya masa lalu saja !!"
"Jadi terserah aku mau mengabaikan atau tidak. Urusan ku !!"
Terdengar jelas setiap kalimat keluar dari mulut Aksara, seolah tidak ada keraguan sedikitpun di hati nya. DNA jawaban tersebut justru semakin mengobarkan api di hati Dirga.
"Jika hanya karena alasan mengikatnya !!"
"Lepaskan dia !!!"
"Aku bisa menikahi nya, dan aku rasa dia akan lebih bahagia jika bersama ku !!"
Sesuai dugaan Dirga, Setelah mendengar ucapan nya, yang dengan berani memerintah Aksara, seketika hal itu memancing kemarahan kakak nya.
"Tidak sulit. Ceraikan Khadijah, dan aku akan menikahinya. Niat kakak untuk mengikatnya dalam keluarga kita masih ada, Namun tentunya Khadijah lebih akan bahagia bukan ?"
__ADS_1
Kembali Dirga berkata, namun saat ini dia begitu santai berhadapan dengan Kakak nya.
Jika tadi Aksara yang terlihat santai menghadapi adiknya, kini justru Dirga yang dengan santai mengatakan setiap niat dalam hati nya pada Aksara.
Aksara terlihat tidak suka mendengar ucapan Dirga. Ucapan candaan yang bernada keseriusan dari Dirga tentu tidak bisa Aksara abaikan begitu saja.
Mungkin memang Aksara belum bisa menjadi suami yang baik untuk Khadijah, hanya saja sebagai seorang pria tentu harga dirinya ternoda, sebab Adiknya sendiri menganggap dia tidak bisa membahagiakan istrinya.
"Jika kau sibuk, aku bisa membantu mu mendaftarkan perceraian kalian !"
"Lancang !!!"
Saat ini justru Dirga yang di buat terkekeh melihat kemarahan di wajah kakak nya.
Segar di ingatan Dirga, saat tempo hari orang tua nya meminta Aksara untuk mengantarkan Khadijah, namun dia tolak mentah-mentah karena alasan kesibukan. Maka saat ini hal itu Dirga juga jadikan alasan.
"Tidak usah marah ka. Lagi pula kakak tidak menyukainya"
"Malam nanti aku akan ke Jombang, aku berniat mengutarakan semua pada Khadijah"
Ucap Dirga dengan pelan namun penuh penekanan.
"Ohya, juga dengan niat keseriusanku untuk menikahi nya !"
Ucap Dirga sebelum beranjak pergi meninggalkan ruang kerja kakak nya.
Bagaimana Aksara?, Tentu dia merasa sangat marah, entah karena sebab apa, namun dia merasa harga dirinya telah di injak-injak oleh adik nya.
Setelah kepergian adiknya, Aksara tampak tidak tenang. Tangan yang semula siap mengerjakan laporan di meja nya, kini terkepal sempurna, seolah Aksara tengah mencari sasaran untuk kemarahan di dalam hati nya.
"Selamat Siang Pak Aksaaa...."
Suara lembut mendayu Asila yang baru saja masuk kedalam ruang kerja Aksara.
"Jaga sikap mu !!!" bentak Aksara pada sekertaris nya.
Mendengar ucapan Aksara tentu saja Asila terkejut, jarang sekali Aksara menampakkan kemarahan nya.
"Bapak ada masalah ?, Saya hanya ingin mengantarkan kopi kesukaan Pak Aksa"
Masih dengan suara lembut nya, Asila mendekat dan ingin meletakkan secangkir kopi di meja Aksara.
"Letakkan di sana, dan segera pergi dari ruangan saya !"
Asila tidak percaya Aksara mengusirnya begitu saja, seingatnya Aksara akan mengatakan terima kasih setelah mendapatkan perhatian dari nya. Namun rasanya kali ini berbeda, 'Pikir Aksara'.
__ADS_1
Merasa tidak terima Ashilla langsung menghentakkan kakinya dan keluar begitu saja dari ruang kerja Aksara.
***