TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 46. WAKTU SUBUH


__ADS_3

...Menjadi sempurna bukan kewajiban kita, yang terpenting kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya...


...☘️...


Meski Aksara mengatakan jika dia baik-baik saja, namun Khadijah tidak yakin dengan apa yang di ucapkan suaminya. Pasalnya Aksara terlihat berkeringat dan pucat.


Segar diingatkan Khadijah saat tadi Aksara mendekatinya Aksara terlihat baik-baik saja l, dan sepertinya sehat, namun saat ini sangat jauh berbeda dengan apa yang dia lihat sebelumnya.


"Stop !! Tetap di sana"


Aksara berusaha menghindar dari Khadijah yang saat ini semakin mendekat ke pada nya.


Namun Khadijah yang merasa Aksara tengah tidak baik-baik saja, bukan mengindahkan titah suami nya, justru Khadijah semakin mendekat pada Aksara.


Tidak ada maksud lain, karena jujur saja Khadijah mengkhawatirkan perubahan sikap suami nya.


Terlebih melihat wajah pucat suami nya, serta keringat dingin yang keluar bercucuran dari pelipisnya. Tentu hal itu semakin menambah kekhawatiran Khadijah.


"Mas. Tapi Mas Aksa Kenapa ?"


"Bukanya tadi baik-baik saja ?"


"Dijah cuma mau pastikan saja Mas Aksa baik-baik saja"


Khadijah terus berusaha mendekatkan tangannya di kening Aksara, namun dengan cepat pula Aksara menolak dan menghindari tangan Khadijah.


Menyadari situasi dan kondisi yang sudah tidak terkendali, Aksara bergegas bangkit dari tempat tidur dan beranjak meninggalkan Khadijah.


"Mas Aksa mau kemana ?"


Aksara pun menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Khadijah.


"Tidurlah, aku akan tidur dengan Dion"


Ucap Aksara sebelum pergi meninggalkan kamar Khadijah. Dan sontak hal itu membuat Khadijah merasa bingung dengan apa yang terjadi pada suaminya.


Bukankah disini ada dia, jika sakit pun Khadijah akan merawatnya, mengapa harus meminta pada Asisten nya, 'Pikir Khadijah'.


Namun tidak ingin semakin bergelut dengan pikirannya, Khadijah memilih untuk menuruti kemauan Aksara, toh di Jakarta pun juga seperti ini kenyataanya, mereka tidak pernah benar-benar menjadi suami dan istri semestinya, tidur bersama, dan menjalani suka duka bersama.


Aksara memilih tidur terpisah dari Khadijah, dan hal itu sudah terjadi sejak 1 bulan ini, satu bulan usia pernikahan mereka. Dan masih entah sampai kapan Aksara akan memperlakukan Khadijah seperti itu

__ADS_1


***


Adzan subuh telah menyapa telinga pasang anak manusia.


Tidak terkecuali Khadijah, Abah dan Umi Amina. Aksara dan Dion pun juga tengah bersiap menuju masjid untuk menjalankan dua raka'at ibadah wajib nya.


Ramai lalu lalang santri yang ingin mengambil posisi sholat di bagian dalam masjid. Tidak jarang mereka berlari-lari. Meski masih pagi buta nampaknya para santri memang telah siap untuk menjalani hari dan kegiatan pagi, Aksara pun melihat para santri telah rapi dengan rambut yang terlihat masih basah.


Aksara ditemani Abah Hasyim menunggu Dion di teras rumahnya sebagai tuan rumah kepada tamunya, tentu Abah akan memperlakukan Dion sebagai layaknya seorang raja. Meski Dion merupakan asisten dari menantunya.


"Sepertinya Dion masih cukup lama, Bagaimana kalau kita berjalan ke masjid dulu saja Bah" ajak Aksara pada ayah mertuanya.


Mendengar ajakan menantunya, Abah pun lantas tersenyum manis pada Aksara.


"Kita tunggu sebentar lagi nak Aksa, kasihan Kalau ditinggal"


Mendengar hal itu Aksara yang sudah merasa kesal hanya menurut saja, karena pekerjaan menunggu tentu bukan tipenya, terlebih menunggu seorang asisten yang biasa justru melayani dirinya.


"Alhamdulillah"


Ucap Abah Hasyim menyadari Dion keluar dari pintu rumahnya.


"Maaf Abah saya telat"


Abah pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, namun lain halnya dengan Aksara yang justru mendengus kesal melihat tingkah asistennya.


"Tidak apa-apa nak Dion"


"Mari kita jalan ke masjid sama-sama" ajak Abah Hasyim pada kedua pria di samping kanan dan kirinya.


Aksara lantas menganggukkan kepalanya, disusul dengan Dion yang juga melakukan hal yang sama.


Ketiganya berjalan bersama menuju masjid yang jaraknya beberapa meter dari kediaman Abah Hasyim.


"Alhamdulillah kalau nak Dion betah di sini, salah satu tanda orang betah adalah tidurnya nyaman dan bangunnya bisa jadi kesiangan" ujar Abah bergurau, untuk menghilangkan kepanikan di wajah Dion.


Mendengar ucapan Abah Hasyim, Aksara pun seketika tertawa, dan melihat wajah Asisten nya yang tampak sangat malu.


"Tidak begitu sebenarnya Bah, semalam saya justru tidak bisa tidur"


"Karena di kamar ada tikus besar sekali Bah, sampai-sampai saya tidak bisa tidur dengan nyenyak"

__ADS_1


"Makanya sekarang saya bangun kesiangan"


Aksara pun membulatkan kedua bola mata nya, mendengar perkataan Dion yang agaknya tengah menyindir dirinya.


Kekesalan di wajah Aksara juga tidak luput dari penglihatan Dion, dan hal itu seketika mengundang gelak tawa di hatinya, namun sebisa mungkin Dion menahannya .


Segar di ingatan Dion, saat malam tadi Aksara masuk ke dalam kamarnya, dan mensabotase tempat tidurnya.


Karena tidak ada tempat lain untuk Dion merebahkan tubuhnya, terpaksa Dion harus berbagi ranjang dengan Aksara, dan lebih menjengkelkan nya, semalaman suntuk Aksara terus saja mengganggunya.


"Lho. Memang iya nak Dion ?"


"Bukanya kemarin sudah di bersihkan ya ?"


Mendengar pertanyaan Abah, Dion pun mengangguk cepat, dan mengiyakan apa yang ditanyakan oleh Abah Hasyim padanya.


"Benar Bah. Tikus berkepala hitam, yang terus mengganggu saya semalaman"


Ucapan bernada sindiran dari asistennya, tentu membuat Aksara merasa kesal, namun di hadapan Abah Aksara terpaksa harus diam dan mendengarkan.


Terlebih Dion yang menganggapnya sebagai tikus pengganggu, hal itu sangat mencederai perasaan Aksara tentu nya.


'Hem Awas ya kamu !!' batin Aksara dalam hati nya.


Menyadari tatapan tajam Aksara, Dion pun seketika menundukkan wajahnya, jujur Dion pun merasa takut kalau-kalau Aksara akan memarahinya, namun untuk saat ini sepertinya tidak akan seperti itu, sebab ada Abah Hasyim yang akan melindunginya, 'pikir Dion'.


Namun jujur saja Dion merasa puas, bisa membalas perlakuan bosnya semalam yang terus mengganggunya.


"Maklum nak Dion, kamar itu memang sudah lama tidak ditempati, kalaupun ada tikus ya lumrah" Ucap Abah.


Tanpa terasa obrolan ketiganya membawa mereka lebih cepat menuju tujuannya 'Masjid Darul Qur'an' tempat di mana para santri dan juga punggawa Pesantren melaksanakan salat subuh berjamaah serta salat salat fardhu lainnya.


Aksara yang merasa tidak percaya diri sebab hal ini tentu jarang dia lakukan memilih Shaf paling belakang.


Namun yang tidak disangka, justru aba Hasyim menariknya ke barisan paling depan bersama para santri senior dan punggawa Pesantren tentunya.


Aksara cukup lega karena nyatanya dia hanya menjadi makmum saja, sempat terpikirkan jika dia harus menjadi imam entah akan seperti apa kepanikannya pagi ini.


Menjadi makmum tentu tidaklah buruk bagi Aksara yang bahkan mungkin sudah lupa dengan bacaan dan tata cara salatnya.


Salat subuh pagi ini terasa begitu tenang, Sudah menjadi kebiasaan tidak akan ada suara gaduh atau sekedar santri mengobrol saat salat telah dimulai.

__ADS_1


***


__ADS_2