
...Terkadang ada yang dipertemukan, Namun tidak dipersatukan, Karena tidak jarang pertemuan hanya datang sebagai ujian. ...
...☘️...
Pada akhirnya kepanikan berhasil menguasai seluruh penghuni rumah keluarga Brawijaya.
Ambruknya Khadijah tentu membuat semua orang bertanya-tanya. 'Ada masalah apa?'.
Tidak hanya keluarga, tentu para pelayan dan pekerja lainya pun turut menduga-duga jika gosip tentang cinta segitiga yang tengah merebak diantara Khadijah, Aksara, dan Dirga memang benar ada nya.
Khadijah tengah bersama Bu Gita dan seorang dokter keluarga. Beruntung saat jatuh Aksara cepat meraih tubuhnya, sehingga tidak sampai tumbuh atau kepala Khadijah membentur lantai.
Dokter menjelaskan beberapa hal, berkaitan dengan kesehatan Khadijah, selain memberikan obat, dokter juga menyarankan Khadijah untuk menjaga pikiran nya, agar tidak terlalu stress yang nantinya akan berakibat buruk bagi dirinya.
Beruntung Bu Gita sebelumnya sempat mendengar keributan di kamar Aksara, sehingga dia tahu apa yang terjadi pada Khadijah.
Jujur saja melihat kondisi Khadijah yang terkulai tak berdaya, cukup meningkatkan kepanikan di hati nya, entah apa yang sebelumnya kedua putranya lakukan sehingga Khadijah jadi seperti ini, 'Batin Bu Gita'
Ruang Kerja.
Tidak hanya Aksara, kini Dirga pun juga tengah menghadapi sosok tegas Lukman Brawijaya. Sosok ayah dari Aksara Virendra Brawijaya dan Dirga Virendra Brawijaya. Tegas dan sangat keras dalam mengatur kedisiplinan dalam keluarga.
Meski saat ini tengah berada di atas kursi roda, namun sedikitpun tidak mengurangi wibawa dari pria paruh baya di hadapan Aksara dan Dirga.
"Memalukan !. Kalian ini sudah dewasa !"
"Kenapa harus berebut hanya karena persoalan cinta !"
Pak Lukman terus saja mencecar kedua putranya, berusaha menyadarkan jika perbuatan yang mereka lakukan tidak hanya merugikan Khadijah namun juga tentu merugikan nama baik keluarga.
"Jangan saling menyalahkan !"
"Terima saja Keadaan yang sudah seperti ini, mari kita nikmati dan syukuri"
Aksara dan Dirga hanya menundukkan wajahnya, menyadari kesalahan dan ego mereka yang begitu tinggi hingga membuat Khadijah menjadi sasaran nya.
" Kamu ! Aksara !"
Tunjuk Pak Lukman pada putra Sulung nya.
"Kamu itu sudah dewasa. Jangan Bertindak Konyol, jangan gegabah !. Pikirkan matang-matang sebelum bertindak !"
"Semua ini terjadi karena ulah mu !. papa harap kedepannya kamu bisa mengambil pelajaran dari kejadian hari ini !"
Terdengar lantang dan tegas Pak Lukman mengatakan itu pada Aksara. Sementara Aksara pun hanya menunduk dan mengangguk kan kepala saja.
"Dan Kamu ! Dirga !"
Tunjuk Pak Lukman pada putra Bungsu nya.
__ADS_1
"Kamu ini calon dokter !. Jangan mempermalukan dirimu sendiri !"
"Berharap pada wanita yang sudah bersuami !. Ingat. Istri itu tidak di bawa mati !!"
Tidak hanya pada Aksara saja, namun juga pada Dirga Pak Lukman menegaskan setiap kalimat nya. Bukan tanpa alasan, karena bagi orang tua sedewasa apapun seorang anak, tetap akan selalu menjadi anak-anak di mata orang tua nya.
"Mengerti ?!!" Ucap Pak Lukman
"Mengerti pa"
"Mengerti pa"
Setelah Panjang lebar wejangan yang Pak Lukman berikan pada kedua putranya, kini semua masalah dianggap telah selesai. Meski antara Aksara dan Dirga entah bagaimana hati nya.
Dirga telah lebih dulu keluar dari ruang kerja, sementara Aksara masih diminta Pak Lukman untuk berada di sana.
Tentu masih banyak hal yang ingin pak Lukman sampaikan pada putra pertama nya, selain Aksara harus bersikap dewasa Aksara juga dituntut harus bertanggung jawab pada apapun keputusan yang telah dia ambil, termasuk menikahi Khadijah sebelum nya.
"Aksa !"
Mendengar panggilan dari orang tuanya, Aksara lantas mendongakkan wajahnya, menatap dalam pada papa yang begitu dihormati nya.
"Papa tahu niat mu menikahi Khadijah hanya karena keterpaksaan"
"Namun meski begitu, pernikahan bukan permainan"
"Jangan berfikir Khadijah akan terus bertahan. Karena setiap manusia memiliki batas kesabaran"
"Jika dia sudah tidak tahan, Bisa jadi kamu pun akan di tinggalkan"
Aksara hanya mendengar setiap apa yang keluar dari mulut sang papa.
Jujur saja apa yang di ucapkan orang tua nya memang benar, dan Aksara mengakui nya.
Namun entah mengapa untuk menerima pernikahan di antara mereka Aksara merasa masih membutuhkan waktu untuk itu.
"Coba lah buka hati mu"
"Tidak selalu apa yang kamu pikir baik, baik pula untuk mu"
"Buktinya Sabrina, dia meninggalkan mu, saat keluarga kita terpuruk dan tidak memiliki apa-apa !"
"Dan bisa jadi apa yang menurutmu buruk , justru sebaliknya"
"Misalnya Khadiah"
Untuk yang kedua kalinya Aksara mencoba membenarkan apa yang di ucapkan sang papa.
"Baik Pa"
__ADS_1
Entah harus berkata apa, karena jujur saja Aksara masih belum bisa untuk sepenuhnya mengisi hati nya dengan nama Khadijah.
Karena sejak perpisahan nya dengan Sabrina, Aksara selalu menganggap semua wanita sama.
Setelah panjang lebar perbincangan antara Aksara dan orang tua nya, Aksara pun bangkit dan beranjak dari ruang kerja.
Melangkahkan kaki hingga tepat di ujung anak tangga, Aksara mendapati sang mama yang baru saja keluar dari lift.
"Aksa !"
"Iya Ma ?"
Bu Gita pun mendekat pada sang putra.
"Khadijah masih di atas. Mama pikir biar dia istirahat di kamar mu dulu, besok saja kalau sudah lebih baik kondisinya baru pindah ke kamar tamu" Ujar Bu Gita.
"Baik ma" jawab Aksara
"Ohya Dijah sudah bilang sama kamu ?"
Mendengar pertanyaan sang mama, Aksara pun lantas menautkan kedua alisnya.
"Maksud mama ?"
"Itu. Tadi Dijah bilang kalau Abah nya sakit, katanya mau minta izin kamu buat pulang ke sana"
Deg.
Mendengar penuturan sang mama, Aksara pun terdiam seribu bahas, Segar di ingatan nya, saat Khadijah mengatakan hal yang sama sebelum nya.
Menyadari kesalahan nya, Aksara hanya menganggukkan kepala nya, setelah mendengar ucapan dari mama nya.
"Ya sudah, sana kamu temani Dijah, mama ke ruang kerja, temui papa mu dulu"
Mendapatkan titah dari sang mama, Aksara pun kembali melangkah kan kaki nya, menyusuri satu persatu anak tangga di rumah nya, meski ada lift namun Aksara dan yang lainya lebih memilih menggunakan tangga. Karena memang sudah terbiasa.
Hingga kakinya berada di ujung atas anak tangga, menatap pintu besar yang tepat di hadapannya, itu merupakan kamar Aksara, dan di dalam sana ada Khadijah dengan kondisi yang belum Aksara tahu seperti apa.
Perlahan Aksara membuka handle pintu, dan melangkahkan kaki nya masuk kedalam kamar, suasa kamar masih begitu terang. Sebab sang mama tidak merubahnya menjadi lampu tidur sebelum nya.
Benar saja di atas kasur nya, terlihat sosok Khadijah tengah tertidur pulas.
Aksara pun mendekat dan berdiri tepat di samping tempat tidur nya.
Dalam pandangan Aksara, jelas terlihat wajah cantik yang saat ini lebih pucat dari sebelumnya.
Dalam-dalam Aksara memandangi wajah Khadijah, ada sedikit rasa bersalah yang muncul di hati nya, terlebih mengingat ternyata tujuan Khadijah hanya untuk meminta izin pada nya.
***
__ADS_1