TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 23. KABAR ABAH


__ADS_3

...Sabar Tanpa Batas...


...☘️...


Sarapan pagi telah usai.


Entah mengapa pagi ini Khadijah juga tidak melihat sosok Dirga di meja makan bersama mereka.


Namun meski begitu penasaran, Khadijah memilih untuk tetap diam dan tidak menanyakan. Karena apa pun yang berkaitan dengan Dirga itu bukan urusan nya 'batin Khadija'.


"Dijah"


"Iya ma"


"Nanti mama mau antar papa therapy ke rumah sakit, kamu kalau bosan keluar-keluar aja, biar supir antar kamu mau kemana"


Mendengar ucapan sang mertua sebenarnya Khadijah bahagia, namun pada kenyataanya Khadijah hanya bisa tersenyum getir saja. Jujur mungkin saja Khadijah menginginkan nya, namun sebagai seorang istri tidak mungkin dia keluar tanpa izin sang suami.


"Dijah di rumah aja ma"


Jawab Khadijah pada akhirnya.


***


Waktu menunjukan pukul 08.45


Sudah hampir siang terik pun juga semakin menyapa. Jujur saja bosan di rumah sebesar itu, Khadijah hanya bisa memandangi para pekerja di luar sana dari balik jendela kaca di kamar nya.


Jika di pikir-pikir ini menyenangkan, namun mengapa Khadijah tidak merasakan kenyamanan. Hati nya masih terasa kosong. Hingga lamunan Khadijah buyar tatkala dering telepon menyapa diri nya.


'Mas Azis ?' batin khadijah dalam hati.


Tidak biasanya Kakak sepupu nya itu menghubungi, hanya karena sesuatu yang penting saja Azis akan menghubungi Khadijah.


"Assalamualaikum mas Azis ?"


"Waalaikumsalam Dijah" Sambutan salam dari Azis yang berada di ujung telepon nya.


Panjang lebar Khadijah mendengar ucapan lawan bicaranya. Hingga wajah Khadijah mendadak pucat seketika , entah apa yang Azis katakan pada nya, hanya saja sepertinya merupakan sesuatu yang penting.


Tidak berselang lama telepon tersebut telah di matikan dari sang penelpon nya.


Jujur Khadijah masih terdiam memikirkan apa yang di katakan Azis pada dirinya.


Azis mengabarkan jika Abah tidak sadarkan diri pagi tadi, tidak hanya sampai di situ saja, ternyata setelah kepergian nya dan Aksara tempo hari, Abah tidak berhenti memikirkan dirinya.


Khadijah tahu, Mungkin saja Abah merasa bersalah, meski Khadijah mengatakan tidak papa dan tidak masalah atas semua pilihan Abah, namun nyatanya lain di mulut lain di hati, Abah yang juga mengatakan jika dia juga telah ikhlas ternyata menyimpan luka dalam hati nya, hanya saja Abah selalu menutupi nya.


Dalam sehari, dua kali Dijah mengabarkan dirinya pada Umi Amina, Khadijah pikir semua baik-baik saja, namun nyatanya Abah menyimpan kepedihan di hati nya. Dan Umi Amina sendiri tidak pernah mengatakan itu pada Khadijah.


Entah sejak kapan namun Khadijah merasakan sudut mata nya melelehkan cairan bening di sana. Ingin sekali Khadijah segera berlari untuk menemui Abah, namun apalah daya jika dia terkendala izin suami nya.


Tidak mungkin Khadijah begitu saja meninggalkan rumah tanpa Aksara ataupun izin dari nya. 'Pikir Khadijah'.


Mengingat Abah berada di ruang dingin rumah sakit, cukup membuat Khadijah tidak sanggup untuk memikirkan nya.


'Bagaimana ini' pikir Khadijah.

__ADS_1


Tok tok tok


Cukup lama Khadijah diam dalam lamunan nya, hingga suara ketukan pintu mengembalikan fokus nya.


"Mba Dijah. Ini Mbok Nah"


Terdengar suara Mbok Nah dari balik pintu kamar Khadijah.


"Masuk Mbok, tidak di kunci"


Pintu pun terbuka perlahan, menampakkan sosok Mbok Nah di ambang pintu kamarnya.


"Mba Dijah di tunggu Mas Dion di depan"


Mendengar ucapan Mbok Nah jujur saja Khadijah tidak mengerti maksudnya, Khadijah lantas menautkan kedua alisnya, terlebih Mbok Nah mengatakan jika Asisten Pribadi suami nya yang menunggu diri nya.


"Ada apa ya mbok ?"


"Saya juga kurang tahu Mba" Ucap Mbok Nah dengan menggelengkan kepala nya.


"Ya sudah, sebentar lagi Dijah keluar"


Mendengar jawaban dari Khadijah, Mbok Nah lantas mengangguk patuh, dan meninggalkan kamar Khadijah.


Setelah kepergian Mbok Nah, Khadijah lantas merapikan hijab dan cadar nya, dan bergegas menemui asisten pribadi suami nya. Jujur saja Khadijah penasaran apa maksud kedatangan nya.


Dari kejauhan terlihat sosok asisten sang suami berdiri. Hingga keduanya saling berhadapan, dan sebuah sapaan Dion berikan.


"Selamat pagi Bu"


"Pagi, Maaf ada apa ya ?" tanya Khadijah.


"Maaf Bu, Saya diminta Pak Aksara untuk menjemput Ibu"


"Mas Aksa ?"


Khadijah kembali bertanya, masih tidak percaya jika Aksara mencari nya, apa tujuan nya 'Batin Khadijah'.


Anggukan kepala menjadi jawaban Dion atas pertanyaan Khadijah. Dan itu semakin menguatkan dugaan Khadijah jika memang Dion datang atas izin suami nya.


"Mari Bu ?"


Ajak Dion dengan membuka pintu mobil di hadapan nya.


"Tunggu sebentar ya"


Khadijah lantas kembali masuk ke kamar nya, mengambil tas kecil yang berisi mukena dan ponsel milik nya, tidak ketinggalan dompet dan beberapa barang printilan lain nya.


Tidak lupa pula Khadijah berpamitan pada Mbok Nah, karena tidak ingin mertua nya mengkhawatirkan dirinya.


Setelah siap, Khadijah kembali kedepan dan berlalu bersama Dion, asisten pribadi suami nya.


"Kita mau kemana ?"


Cukup penasaran hingga pada akhirnya Khadijah memberanikan diri untuk bertanya.


Namun belum mendapatkan jawaban dari Asisten pribadi suami nya, Nyatanya Dion telah menepi kan mobil nya pada sebuah butik yang terlihat cukup besar di depan nya.

__ADS_1


"Kita sudah sampai Bu"


Dion lantas kembali membuka kan pintu mobil untuk Khadijah.


'Mau apa ke tempat ini' Batin Khadijah dalam hati.


Jujur Khadijah Memang belum paham untuk apa dirinya dibawa kesana.


"Mas Aksa dimana ?"


Tidak mendapati sang suami, Khadijah lantas bertanya, jujur saja dia tidak ingin kepergian nya kali ini tanpa izin Aksara sebelumnya.


"Bapak sedang di kantor Bu, Pak Aksa hanya berpesan pada saya untuk mengantarkan ibu berbelanja" Ujar Dion pada akhirnya.


"Berbelanja ?, Untuk apa ?"


Mendengar pertanyaan Khadijah, Dion pun hanya menggelengkan kepala nya, jujur dia hanya diminta untuk mengantarkan dan menemani istri dari bos besar nya.


"Mari Bu, Waktu kita tidak banyak" ucap Dion mengingatkan.


Jujur meski masih begitu penasaran, namun Khadijah menurut saja, karena Khadijah tentu tidak ingin orang lain terlibat masalah karena dirinya.


Setelah berada di dalam butik, jujur saja Khadijah kagum dengan koleksi-koleksi gamis dan hijab nya, semua serba mewah dengan harga selangit tentu nya.


"Silahkan di pilih Bu"


"Tapi untuk apa, baju saya masih bagus dan layak di pakai" jawab Khadijah dengan sopan


Dalam kebingunganya, Khadijah mengatakan keberatan pada asisten suami nya. Jujur saja setelah melihat harga gamis nya, Khadijah lantas mengurungkan niat nya.


"Maaf Bu, Saya hanya menjalankan tugas saja" ujar Dion.


Khadijah tahu jika Dion hanya menjalankan perintah dari suami nya saja, dan tidak bermaksud lain nya.


"Begini saja, jika ibu Bingung memilih, saya akan minta pelayan untuk menyiapkan nya"


Anggukan kepala menjadi jawaban Khadijah atas ucapan Dion sebelum nya. Jujur saja dia memang cukup sungkan untuk menentukan pilihan, terlebih koleksi-koleksi di sana memiliki harga yang tidak lumrah bagi Khadijah.


Cukup lama Khadijah menunggu Asisten suami dengan pelayan pilihannya memilihkan baju untuk nya.


Namun Khadijah di untungkan dengan itu, karena sembari menunggu Khadijah sempat menghubungi umi Amina, dan menanyakan kabar tentang Abah pada nya.


Dan benar saja, jawaban Umi Amina sama dengan Azis pagi tadi, Abah berada di rumah sakit, setelah sebelum nya tidak sadarkan diri.


Dalam lamunan nya, tanpa terasa Dion telah kembali bersama dua orang pelayan butik di belakang nya.


"Sudah ?" Tanya Khadijah pada akhirnya.


"Sudah Bu. Mari ?" Ajak Dion pada Khadijah.


Khadijah pun mengangguk, menyusul Dion yang lebih dulu berjalan di depan nya. Namun yang tidak di sangka nyatanya di belakang Dion tidak hanya ada dua pelayan saja, ada beberapa lainya yang tengah membawakan paper bag belanjaan sebelumnya.


'Sebanyak ini ?, Untuk apa ?' batin Khadijah


"Maaf Pak Dion ?. Ini tidak salah ?"


Tanya Khadijah pada akhirnya. Namun anggukan kepala menjadi jawaban Dion atas pertanyaan Khadijah sebelumnya.

__ADS_1


Sejujurnya Khadijah masih ingin bertanya, namun Khadijah urungkan niatnya, karena sudah pasti Dion akan menjawab jika dia hanya menjalankan tugas. Sebaiknya Khadijah langsung bertanya pada suami nya saja.


***


__ADS_2