
Gelapnya malam ibukota tidak membuat gemerlap tempat Marissa berada menjadi redup. Semua tampak terang dengan iringan musik yang semakin kencang.
"Om. Aku sudah tidak ada urusan apa-apa lagi ya dengan om !!"
Masih dengan nada ketus Marissa berusaha melepaskan diri dari cengkeraman laki-laki di hadapannya, laki-laki yang sejujurnya berusia sebaya dengan papa nya.
"Sayang..."
"Santai lah, om kan hanya ingin bersenang-senang sebentar dengan mu"
Mendengar ucapan pria di hadapannya, tentu saja Marissa semakin muak mendengar nya, jijik sekali rasanya melihat wajah yang sangat tidak ingin Marissa lihat.
Sekuat tenaga Marissa berusaha berontak dari laki-laki yang sedari tadi mencekal nya, namun agaknya pria di hadapan Marissa juga tidak ingin melepaskan nya begitu saja.
Marissa merasa tidak ada pilihan lain selain berteriak hingga suara kencang nya melengking memekakkan pasang telinga pria di hadapan nya.
"Tolongggg !!!!"
Namun sial, bukan mendapatkan pertolongan justru Marissa merasa seseorang membekapnya dari belakang, dan seketika itu pula pandangan mata nya kabur. Tubuhnya terasa lemas dan entah apa yang terjadi pada dirinya.
Marissa merasa udara dingin yang langsung menusuk kulit nya, tubuh lemah menyadarkan nya, jika semalam dia bersama laki-laki hidung belang yang membuatnya seperti ini.
Susah payah Marissa mengerjabkan mata nya, hingga perlahan dua bola mata nya terbuka sempurna. Lagi-lagi pagi ini Marissa terbangun di kamar hotel, namun semua tampak masih sama, Marissa masih mengenakan gaun malam dan semua pakaian dalamnya masih dia kenakan.
Marissa cukup lega, sebab hal itu meyakinkan dirinya jika semalam laki-laki hidung belang itu tidak menggagahi dirinya. Dan benar saja, dia tidak merasa kan sesuatu yang aneh pada inti tubuh nya.
Marissa mencoba untuk bangun, meski masih terasa begitu sakit kepala nya, namun hal ini tidak menyurutkan niatnya untuk segera pergi dari tempat tersebut.
Entah kesialan dari mana, namun tatapan Marissa seketika tertuju pada sofa di depan nya. Alangkah terkejutnya dia mendapati laki-laki hidung belang yang sebelumnya dia pikir tidak ada, nyatanya tengah duduk, dengan kepulan asap membumbung dari mulut nya, seringai yang sulit diartikan jelas mengarah pada Marissa.
Melihat pria di hadapannya tampak tidak bereaksi Marissa bergegas bangkit dan menyibak selimut di tubuhnya, namun kesialan nyatanya kembali menghampiri dirinya, kaki sebelah kiri Marissa telah di ikat pada bagian kaki tempat tidur dan hal itu membuat Marissa semakin ketakutan.
"Om, Aku mohon lepaskan aku"
Dengan tidak berdaya dan mata berkaca-kaca Marisa memohon pada pria hidung belang di hadapan nya untuk di lepaskan, namun sepertinya usaha nya sia-sia saja.
__ADS_1
Pria tersebut justru mematikan Putung rokok di tangan nya, dan berjalan mendekat pada Marissa, satu persatu yang menempel pada tubuhnya dia lepaskan, sama seperti dulu saat mereka masih bersama namun dalam kondisi suka sama suka.dan tentu karena Marissa mendapatkan imbalan nya.
Senyum lebar dari bibir pria di hadapan Marissa membuat nya semakin jijik dan takut melihatnya, Marissa semakin memundurkan tubuhnya, berusaha melepaskan ikatan di kaki nya, nahas situasi ini membuatnya semakin panik dan bingung untuk melakukan apa.
"Om. Aku mohon"
"Lepaskan aku !!!"
Bukan mendengarkan ucapan dan rengekan Marissa namun, laki-laki tersebut justru semakin mendekati nya. Hingga reflek Marissa menendang bagian vital pria di hadapan nya.Sontak hal itu seketika membuatnya kesakitan, disaat itu pula Marissa kembali berusaha untuk melepaskan ikatan di kaki nya.
Namun sial nyatanya pria hidung belang tersebut telah lebih dulu bangkit dan mencengkeram bahu Marissa.
"Dasar perempuan murahan !!!"
Plak !!!
Sebuah tamparan melayang begitu saja di pipi mulus Marissa. Namun Marissa yang sudah merasa jengah pun tanpa pikir panjang meludah pada wajah pria di hadapan nya.
"Jangan harap aku Sudi melayani mu lagi !!!"
"Jika bukan karena kasihan, aku sudah melakukan ini semalam" bisik pria di hadapan Marissa
"Tapi ingat !!! , Om tahu aturan mainnya sayang"
"Jadi om tunggu kamu sampai sadar"
Senyum seringai terlihat jelas di mata Marissa,dan tentu saja hal itu membuatnya semakin jijik saja. Terlebih tangan besar dan tubuh tambul yang semakin menghimpit nya membuat Marissa semakin tidak berdaya.
Marissa memalingkan wajahnya, tatkala tangan pria hidung belang di atasnya membelai lembut wajahnya, tentu saja hal itu juga membuat Marissa merasa muak.
"Mari kita lakukan sekarang sayang"
"Om akan pelan-pelan"
Bisikan yang terus saja memenuhi telinga Marissa membuatnya risih dan semakin murka. Marissa seolah tidak lagi memiliki kesempatan untuk meloloskan diri.
__ADS_1
Cuihh... !!
Marissa kembali meludah di wajah pria hidung belang di hadapan nya. Namun hal itu justru mengundang gelak tawa dari pria di atasnya. Entah apa yang membuatnya begitu bersemangat dan bahagia, karena yang jelas Marissa merasa sudah tidak tahan.
"Ayo lah sayang, cukup sekali om melakukan tanpa permisi, dan rasanya berbeda sekali"
Marissa membelalakkan kedua bola matanya, ingatan nya seketika tertuju pada kemarin malam dimana situasi yang sama dia alami, berada di dalam kamar hotel, sendiri dan dengan kondisi kacau.
"Jadi !!!"
"Kau !!"
Tajam mata Marissa menatap laki-laki di hadapan nya, dan benar saja, tawa kecil dan anggukan kepala menjadi jawaban pria di hadapan Marissa atas pertanyaan nya, meski tidak secara langsung namun Marissa telah menemukan pelakunya.
Dan seketika hal itu semakin menambah kemarahan nya, dan untuk ke sekian kalinya Marissa berusaha untuk berontak dan menendang ************ pria di hadapannya, namun nyatanya tidak semudah perkiraannya, tubuh nya yang tidak seimbang membuat Marissa kualaha menghadapi nya.
"Karena itu sayang om ingin melakukan nya saat kamu sadar, supaya kamu pun menikmati nya"
Cuihh !!!
Suara lembut yang terdengar menyebalkan bagi Marisa kembali menusuk telinga nya, dan hal itu membuat Marissa Kembali meludah pada laki-laki di hadapan nya, namun hal itu justru membuat laki-laki tersebut semakin bersemangat seperti nya.
"Bang sit.. !!!
"Bajigurr!!!!"
Marissa semakin berontak dan berusaha melepaskan dirinya,tidak hanya meludah saat ini Marissa juga mengumpat , dan berteriak sejadi jadinya. Berharap akan ada orang yang mendengar teriakan nya,dan menolongnya dari aksi pria hidung belang di hadapannya.
"Tenang sayang, om akan melakukanya perlahan, nikmati, dan mari kita saling melepaskan"
Sial. Bisikan yang semakin membuat Marissa semakin jijik saja mendengar nya.
Pria hidung belang di hadapan Marissa telah berhasil menguasai dirinya, mencengkeram kuat kedua tangan nya. Meski Marissa masih berusaha berontak, namun sepertinya semua usahanya sia-sia saja.
***
__ADS_1