TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 29. CERITA LAMA


__ADS_3

...Teruslah melangkah Kedepan. Karena masih ada harapan yang perlu di Wujudkan...


...☘️...


Senja mulai menyapa Ibukota, merah jingga juga mulai terlihat di kejauhan sana. Mungkin sebentar lagi waktu magrib juga akan tiba.


Khadijah sendiri merasa lelah, jujur sejak dari kantor Aksara sebelumnya , Khadijah hanya terus saja melangkahkan kakinya diatas trotoar, dibawah teriknya sinar matahari. Sebab sebelumnya semua yang Khadijah bawa raib diambil oleh orang yang menjambret nya.


Tidak butuh waktu lama Aksara telah memasuki gerbang rumah nya, dari kejauhan tampak Bu Gita dan Pak Lukman tengah menyambut mereka.


Kepanikan jelas terlihat di wajah keduanya, sebab sejak pagi tadi mereka tidak melihat keberadaan Khadijah, sementara terakhir kali justru putranya menanyakan Khadijah pada mereka.


"Dijah"


Melihat Khadijah baru keluar dari mobil Aksara, Bu Gita langsung saja menghambur dan memeluk menantu nya.


"Kamu tidak papa ?"


Sudut bibir Khadijah terangkat keatas, menyadari hangatnya hati mendapatkan perlakukan dan kasih sayang yang begitu Khadijah impikan dari ibu mertuanya.


"Alhamdulillah Ma. Dijah baik-baik saja"


Tidak percaya begitu saja,Bu Gita lantas meneliti pakaian yang di kenakan menantu nya, jujur saja dia begitu mengkhawatirkan nya, kalau-kalau terjadi sesuatu dengan Khadijah di luar sana.


"Ya sudah kalian masuk gih" ajak Bu Gita pada menantu dan anak nya.


Melihat sang mama yang begitu mengkhawatirkan Khadijah , Aksara memilih untuk mendorong kursi roda papa nya.


***


Setibanya dirumah Khadijah langsung melaksanakan tiga raka'at kewajiban nya, mengingat waktu magrib yang tidak lah panjang.


Baru setelah urusan dengan kewajiban selesai, Khadijah bergegas membersihkan diri nya.


Masih dengan Balutan handuk yang melingkar di kepala nya, Khadijah mendapati pintu kamarnya diketuk dari luar sana.


Cepat-cepat Khadijah mengenakan kembali hijab nya, belum sampai Khadijah berhasil mengenakan cadar nya, Entah siapa namun tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka.


"Dijah"


Sesuai dugaan Khadijah, jika ibu mertua nya lah yang terlah membuka pintu kamarnya.


"Maaf ya mama buka, habis kamu lama" ujar Bu Gita. Khadijah pun lantas tersenyum.


"Tidak papa ma, maaf tadi Dijah masih dikamar mandi"


Khadijah merasa sungkan sebab untuk yang kedua kalinya Khadijah seolah mengabaikan ibu mertuanya, meski Bu Gita tidak menganggap demikian.


"Ya sudah. Kita makan malam sama-sama ya, kamu siap-siap gih" Ujar Bu Gita.

__ADS_1


Dengan senyum di wajah nya, Khadijah pun tidak lupa menganggukkan kepala nya.


"Baik ma"


Ohya Dijah, kamu bener nggak papa kan ?"


Masih saja ibu mertuanya mengkhawatirkan dirinya.


"Tadi Aksa bingung nyari kamu, dia telfon mama bilang kalau kamu hilang"


Sudut bibir Khadijah pun terangkat, mendengar cerita dari ibu mertuanya, jujur saja dia merasa bahagia, karena nyatanya Aksara mengkhawatirkan dirinya.


"Alhamdulillah Ma, Dijah baik-baik saja" Jawab Khadijah dengan mengulas senyum di wajahnya.


Jujur Khadijah merasa bahagia karena ibu mertua nya selalu memperhatikan dirinya, bahkan Khadijah menemukan sosok lain ibu nya di dalam diri ibu mertua nya.


Harapan Khadijah tidak hanya ibu mertua nya saja, namun Aksara juga bisa menerima dirinya, meski rasanya masih sangat sulit untuk meruntuhkan hati dan ego suami nya.


Namun Khadijah percaya jika tidak ada yang tidak mungkin jika kekuatan doa telah berbicara.


***


Setelah kepergian ibu mertuanya, Khadijah segera bersiap-siap untuk mengganti pakaian dan juga hijab yang dia kenakan.


Sekilas tatapan Khadijah tertuju pada beberapa paperbag yang masih berada diatas sofa kamar nya.


Khadijah lantas meraih salah satu nya, dan benar dugaan nya, gamis berwarna biru langit dengan hijab berwarna senada, menjadi pilihan Khadijah.


Setelah selesai dengan semua nya, Khadijah pun bergegas untuk keluar. Berjalan menuju ruang makan, Khadijah mendapati hanya ada tiga orang saja disana.


'Dimana Mas Aksa?' batin Khadijah bertanya.


'Mungkin masih di kamar nya' pikir Khadijah.


"Dijah ?"


Suara Bu Gita mengudara tatkala melihat kedatangan Khadijah yang baru saja.


Bu Gita lantas melambaikan tangan nya, dan meminta sang menantu untuk duduk di samping nya.


"Mas Aksa belum turun ma ?"


Meski merasa canggung, namun Khadijah memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan sang suami.


"Aksa bilang mau keluar, ada pertemuan mendadak" ujar Bu Gita pada Khadijah.


Khadijah lantas mengangguk-anggukan kepala. Sementara Dirga yang juga berada di sana tampak tidak nyaman dengan Khadijah yang menanyakan kakak nya.


Bukan tidak suka ,hanya saja Dirga masih belum sepenuhnya bisa menerima.

__ADS_1


Khadijah sendiri tahu jika terjadi perubahan di wajah adik iparnya ketika dia menanyakan Aksara, namun itu lebih baik, setidaknya Dirga tidak akan lagi berharap pada Khadijah.


Acara makan malam pun telah selesai, satu persatu orang di ruang makan telah meninggalkan meja masing-masing.


Sementara Khadijah memilih untuk singgah sejenak.


"Mbok Nah ?"


Panggil Khadijah di sela-sela Mbok Nah membereskan meja makan sebelum nya.


"Iya Mba "


"Mas Aksa memang sering keluar malam ya ?"


Jujur saja Khadijah begitu penasaran, pasalnya kerap kali dia mendapati sang suami keluar atau pulang larut malam.


Sejenak Mbok Nah menghentikan aktifitasnya.


"Dulu tidak seperti ini Mba. Mas Aksa banyak berubah sejak---"


Mbok nah tampak ragu untuk mengatakan.


"Sejak di tinggal kekasih nya?"


Melihat perubahan wajah Mbok Nah agak nya Khadijah paham kemana arah bicara asisten di rumah ibu mertua nya.


Dan benar saja anggukan kepala pun menjadi jawaban mbok nah atas tebakan Khadijah.


Mbok Nah pun lantas menceritakan jika, dulu Aksara orang yang sangat hangat, meski hidup dalam gelimang harta tidak lantas membuat kepribadian Aksara berubah begitunsaja.


Namun semua berubah, pada saat usaha orang tuanya diancam kebangkrutan, wanita yang sangat Aksara cintai tiba-tiba meninggalkan dan memilih pria lain yang lebih mapan.


Disaat yang bersamaan, Pak Lukman mengalami kecelakaan, hingga membuat Pak Lukman mengalami kelumpuhan, dan harus berada di kursi roda sampai saat ini.


Sejak saat itu pula Aksara dipercaya untuk mengelola semua usaha keluarga, dan mulai berkembang pesat hingga seperti saat ini.


"Mas Aksa itu memang selalu menyibukkan diri nya di kantor Mba"


"Kalau kata para pekerja di sini, mas Aksa itu sedang berusaha menghibur dirinya dari wanita yang sudah menyakiti nya"


Khadijah lantas mengangguk-anggukan kepala, menyadari betapa spesial wanita yang pernah mengisi hati suami nya.


Jika tidak spesial di hati Aksara tidak mungkin hingga saat ini Aksara belum bisa melupakan nya.


"Dia cantik ya mbok ?"


Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Khadijah, sungguh rasa penasaran di hati nya muncul begitu saja.


***

__ADS_1


__ADS_2