TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 43. AISYAH


__ADS_3

...Tidak ada hidup tanpa masalah. Pun tidak ada Perjuangan tanpa rasa lelah. Tetap semangat !. Sampai pada saat Bismillah menjadi Alhamdulillah !...


...☘️...


Sementara Aksara dan Khadijah tengah menikmati masa-masa pendekatan nya, justru Dion merasa sangat tidak suka dengan kondisi dan situasi yang terasa menyudut kan nya.


Sedari tadi Dion memilih untuk menenangkan dirinya di luar rumah Abah Hasyim, dan Umi Amina.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Dion dapat dengan jelas melihat lalu lalang santri dengan segala kegiatan malamnya.


Pikir Dion dia akan bisa beristirahat setelah mengantarkan Aksara hingga tujuannya, Namun nyatanya tidak, dia masih harus tetap berada di sini dan menemani Aksara hingga entah sampai kapan nanti.


Bagaimana tidak, dari tadi Dion terus saja menggerutu, Sebab dia terpaksa harus menginap di pesantren, mengikuti kemauan Aksara, sementara membayangkan besok dia yang juga harus bangun pagi, rasanya sudah malas memikirkannya.


"Pak Dion Kamar sebentar lagi siap, Mari saya antar"


Entah sejak kapan Azis berada di belakangnya, namun ucapan Azis, nyatanya mampu membuyarkan lamunan nya.


"Baik. Terima kasih"


Dion yang memang tidak memiliki kegiatan apapun, memilih untuk mengikuti Azis masuk ke dalam kamarnya.


Dion sendiri tidak begitu memikirkan tentang kebutuhan Aksara, sebab mungkin saja bersama Khadijah , Dion tidak lagi di butuhkan oleh bos nya. 'pikir Dion'.


Dengan langkah malas Dion menyusuri lorong kediaman Abah dan Umi Aminah.


"Silahkan Pak, Kamarnya di sini, baru saja selesai di bersihkan" ujar Azis, pada mantan atasan nya.


"Terima kasih ya Ziz"


Setelah cukup ber basa-basi, Dion pun memilih untuk segera masuk, tubuh dan pikiran lelah nya, ternyata membuat Dion tidak kuasa untuk menahan kantuk nya.


Meski sempat tidak menginginkan untuk menginap, namun melihat kasur dari kejauhan tampaknya begitu sangat menggoda untuk Dion segera tidur di atasnya.


Baru beberapa saat melihat bantal dan guling, Dion merasa ingin segera merebahkan tubuhnya di atas sana.


"Astaghfirullah!!"


Baru kemeja bagian atas nya Dion tanggalkan, sebuah suara tiba-tiba mengagetkan nya.


"Astaghfirullah Astaghfirullah!!!"


Dion pun tidak kalah kaget, hingga latah tiba-tiba terdengar keluar dari mulut nya.


"Kamu siapa !!. Ngapain kamu di sini ?"


Tajam mata Dion menatap seorang wanita muda yang tiba-tiba berada di kamarnya.

__ADS_1


Entah Sejak kapan namun Dion pun juga merasa terkejut dengan kehadiran nya.


"Ma maaf Pak. saya hanya bertugas membersihkan kamar ini saja"


"Sebelumnya saya merapikan kamar mandi, saya pikir bapak belum di sini"


"Maaf pak"


Ujar wanita di hadapan Dion dengan menunduk kan wajahnya, terlihat pula ketakutan di sana. Suara yang bergetar menandakan jika wanita di hadapan Dion memang tidak sedang mengada-ada. 'Pikir Dion'.


Wanita tersebut terlihat gugup dan salah tingkah, mendapati Dion tidak mengenakan pakaian atas nya. Melihat hal itu Dion pun segera meraih kembali kemeja yang sebelumnya diletakkan di atas tempat tidur, dan segera mengenakan nya kembali.


"Aisyah, sudah selesai ?"


Di tengah kepanikan, tiba-tiba sebuah suara tengah memanggil seseorang


Wanita di hadapan Dion pun lantas mendongakkan kepalanya, menatap sekilas Dion yang berdiri tidak jauh dari nya, Dan kemudian menunduk lagi.


"Sudah Umi"


Umi Amina yang baru saja tiba, ternyata memang tengah memanggil seseorang yang kini berada di kamar Dion.


"Nak Dion, Semoga suka dengan kamar nya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan, katakan saja" ujar umi Amina


Dion pun lantas menganggukan kepala nya, tidak lupa dengan mengulas senyum terbaik nya.


Umi Amina pun berbalik, di susul Aisyah yang berada di belakangnya, dengan membungkukkan badanya, Aisyah pun keluar dan berlalu dari kamar Dion.


Sementara Dion hanya dapat memandangi punggung Aisyah yang mulai menghilang di balik pintu kamar nya.


'Aisyah'


Senyum Dion terlihat jelas menghiasi bibir nya, tatkala mengingat sebelumnya keduanya sempat saling memandang dalam kepanikan.


'Manis' Batin Dion


Dion pun segera menutup kembali pintu kamar nya, dan memastikan pintu tersebut telah tertutup rapat dengan kunci manual yang telah bergeser ke arah kiri.


***


Setelah acara makan malam selesai, semua orang tampak kembali ke kamar masing-masing, tidak terkecuali Aksara yang juga kembali ke kamar Khadijah.


Untuk beberapa orang lainnya seperti Umi dan Abah, mungkin masih melakukan beberapa kegiatan seperti mengajar malam dan juga kegiatan malam lainnya.


Berada di kamar Khadijah, Aksara sejenak memilih untuk melihat-lihat sekilas kamar Khadijah yang tampak rapi dan bersih, ukurannya memang tidak terlalu besar, hanya saja sangat nyaman dan cukup jika hanya digunakan untuk berdua saja. 'Pikir Aksara'.


Terdapat meja rias beserta satu buah kursi di bawah nya, tempat tidur berukuran sedang, serta pojok baca dan juga kamar mandi yang berada di pojokan sana.

__ADS_1


Terlalu sibuk dengan kegiatannya, Bahkan Aksara sampai belum sempat membersihkan dirinya, Entah mengapa saat ini apa pun yang menyangkut Khadijah, begitu menarik bagi nya.


Pojok baca yang Aksara lihat di sana hanya berkaitan dengan buku Agama, Sirohnabawiah, mushaf, dan juga novel-novel islami.


Ceklek


Khadijah sedikit terkejut melihat Aksara yang masih terjaga, Khadijah sempat berfikir jika Aksara mungkin saja telah lelap dalam tidurnya.


"Mas Aksa belum tidur ?"


Mendengar pertanyaan Khadijah Aksara pun menoleh, sejenak dia menatap wajah Khadijah dengan penutup cadar di sana.


"Belum, aku juga belum mandi"


Mendengar hal itu, Khadijah pun lantas mendongakkan kepalanya, menatap sekilas Aksara, dan biasanya Aksara memang masih mengenakan pakaian yang sama dengan saat kedatangan nya tadi.


"Sebaiknya Mas Aksara membersihkan diri dulu"


"Em. Khadijah siapkan pakaian Mas Aksara, bajunya ada di mobil kan ?"


Aksara pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Khadijah sebelumnya.


Khadijah lantas berlalu meninggalkan Aksara, dan bergegas mengambilkan pakaian untuk suaminya.


Namun baru beberapa langkah Khadijah keluar dari kamar , Dion ternyata sudah lebih dulu menghampirinya, dan membawa satu buah koper berukuran sedang yang sepertinya itu merupakan milik Aksara.


"Ibu mau mengambil koper ini ?" tanya Dion pada Khadijah


"Iya. Kebetulan sekali" jawab Khadijah dengan mengulas senyum di wajah nya.


Dion pun lantas memberikan koper yang sebelumnya dia bawa kepada Khadijah, sementara setelah itu keduanya kembali ke kamar masing-masing.


Khadijah kembali ke kamar lebih cepat, sementara Aksara ternyata masih berada di dalam kamar mandi, dan bergegas Khadijah menyiapkan pakaian untuk sang suami.


Belum selesai Khadijah menyiapkan pakaian untuk sang suami, Aksara telah lebih dulu keluar dari kamar mandi, melihat Aksara yang hanya bertelanjang dada dan hanya menutup area bawah nya saja, jujur Khadijah begitu terkejut, dan spontan menutup mata nya.


Namun seketika Khadijah tidak dapat menahan tawa nya, tatkala menyadari handuk yang kenakan Aksara, merupakan handuk milik nya yang berwarna merah muda.


Khadijah bahkan harus menutup mulutnya Untuk menghentikan tawa yang seolah tidak sanggup untuk dihentikannya.


Ini merupakan pemandangan pertama dan benar-benar pertama kalinya pula bagi Khadijah mendapati seorang pria bertelanjang dada di hadapan.


"Apa kamu sudah puas menertawakan ku ?"


Rona merah di wajah Aksara seolah sudah tidak lagi dapat di sembunyikan, dan Khadijah dapat melihat dengan jelas, beberapa saat ini Aksara tengah berusaha menahan rasa malu nya.


***

__ADS_1


__ADS_2