
...Bukan tidak suka, Atau trauma, hanya saja tidak ingin melewati kesalahan yang sama untuk kedua kali nya. ...
...☘️...
Sinar Surya telah kembali pada peraduan nya. Tergantikan dengan rembulan malam yang mulai menampakkan keindahan di kala malam.
Malam ini terasa begitu indah dari malam-malam sebelumnya, sebab Aksara merasakan hidupnya kembali sempurna, dan Khadijah menjadi obat dari luka yang selama ini dia derita.
"Kamu mau makan apa sayang ?"
Aksara begitu manja, hingga Khadijah pergi sebentar untuk mengenakan hijabnya saja dia mengekor di belakang nya.
"Apa pun Mas, Khadijah pasti suka"
Khadijah pun tersenyum melihat tingkah Aksara dari pantulan kaca besar di depan nya. Menyilangkan dagu di pundak nya dan menautkan tangannya di pinggang Khadijah, rasanya mereka seperti pengantin baru yang juga baru merasakan manisnya cinta. Hingga sedikitpun Aksara tidak ingin melepaskan Khadijah.
"Duduk lah mas, sebentar lagi Dijah akan selesai"
Bukan mengindahkan ucapan Khadijah, Aksara justru menggelengkan kepala nya, dan hal itu tentu membuat Khadiah merasa geli di leher nya.
Mengenakan Hijab dan cadar bagi Khadijah sejujurnya sangat mudah, cukup satu menit saja semua beres, namun kini butuh waktu lebih lama hingga kurang lebih 15 menit dia baru menyelesaikan nya, sebab Aksara terus saja bergelayut manja pada dirinya.
Setelah sekian drama mereka lakukan, Akhirnya Khadijah dan Aksara siap untuk pergi makan malam di luar, sebab siang tadi nyatanya Bu Gita kembali mengirimkan makanan untuk mereka berdua. Barulah malam ini Aksara memiliki kesempatan untuk mengajak Khadijah keluar bersama, sekedar menikmati angin malam.
Dengan tawa bahagia keduanya melangkah keluar kamar bersama, dan suara tersebut tentu membuat Marissa merasa penasaran, tidak butuh waktu lama dia pun keluar dari kamarnya menghampiri Aksara dan Khadijah.
"Kalian mau kemana ?"
Lihat tatapan penuh tanya di wajah Marissa. Aksara tentu sadar apa yang saat ini tengah diinginkan oleh mantan kekasihnya.
"Bukan urusan tamu, ke mana tuan rumah akan pergi" ucap Aksara dengan semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Khadijah.
Jelas terlihat kekesalan di wajah Marissa, terlebih melihat Bagaimana sikap Aksara pada istrinya, selain marah juga sudah pasti cemburu tentu nya.
"Kita cuma mau keluar sebentar Mba"
__ADS_1
Meski Aksara terlihat ogah meladeni Marissa, namun Khadijah tetap menjawab pertanyaan mantan kekasih suaminya.
Setelah mengatakan hal itu, Aksara pun lantas menarik Khadijah dan berlalu meninggalkan Marissa begitu saja.
"Argh !!!"
Marisa kembali mengacak rambutnya, sebab kekesalan begitu memenuhi kepalanya. Merasa keberuntungan tidak lagi berpihak padanya, sementara dirinya saat ini tengah begitu membutuhkan Aksara.
Bersamaan dengan itu, dering telepon, seketika membuat Marissa kaget.
"Halo !!!"
Terdengar ketus nada suara Marissa menghubungkan panggilan telepon, dengan seseorang di ujung sana. Marissa pun terlihat menautkan kedua alisnya mendengarkan setiap pembicaraan dari seseorang di ujung telepon sana, terlihat pula kemarahan di wajahnya dan seketika membuat Marissa melemparkan begitu saja ponselnya.
***
Tibalah Aksara dan Khadijah di sebuah restoran bintang lima, di sebuah hotel kenamaan ibukota.
Aksara membawa Khadijah masuk, nyatanya keduanya telah di sambut oleh beberapa pelayan yang langsung mengarahkan mereka pada ruang yang sebelumnya telah di pesan Aksara.
Sepanjang jalan Aksara terus saja menggandeng tangan Khadijah, langkah jenjangnya membuat Khadijah sedikit kesulitan untuk mengimbangi Aksara.
Tibalah keduanya pada sebuah ruangan yang sebelumnya ditunjukkan oleh pelayan.
Pelayan tersebut melebarkan pintu di hadapan nya, dan mempersilahkan Aksara juga Khadijah masuk ke dalam sana, tepat di hadapan Khadijah berdiri seorang koki yang juga telah bersiap menyambut mereka.
Dari interior ruangan dan perawakan koki di hadapan nya, Khadijah yakin jika makanan yang akan di suguhkan merupakan jenis Japanese food, jujur jarang sekali Khadijah menikmati makanan jenis tersebut, bukan tidak suka, hanya Khadijah lebih memilih menghemat pengeluaran saja.
Keduanya di layani dengan begitu baik dan ramah, hingga beberapa menu terhidang Khadijah tampak sangat menikmati.
Cukup lama keduanya mencicipi makan malam yang langsung di sajikan oleh koki yang juga langsung di datangkan dari jepang tentunya.
Tidak sedikit gocek yang harus Aksara keluarkan, namun hal itu tidak masalah, sebab Aksara telah mendapatkan lebih dari apa yang dia keluarkan, karena Khadijah tentu tidak ternilai harganya.
Beberapa saat berlalu, Aksara dan Khadijah pun telah selesai dengan makan malam mereka, keduanya sepakat untuk langsung kembali.
__ADS_1
Setibanya di lobby, Khadijah sedikit terkejut, sebab Aksara tidak membawanya keluar, namun justru Aksara menariknya kedepan sebuah pintu lift, yang Khadijah sendiri tidak tahu akan kemana Aksara membawanya.
"Mas ??!"
Dengan jelas Aksara dapat melihat kebingungan di wajah Khadijah, Aksara lantas tersenyum manis pada istri nya.
"Tenang saja, kamu pasti suka"
Aksara meyakinkan Khadijah jika semua akan baik-baik saja. Khadijah pun mengangguk saja, sebab tidak mungkin juga Aksara akan mencelakakan dirinya, 'pikir Khadijah'.
Pintu lift terbuka, menampakkan sebuah lorong panjang yang sangat indah arsitektur nya, terpampang beberapa lukisan yang tentu mahal pula harga nya.
Khadijah memang tidak begitu paham tentang lukisan, hanya saja dalam penglihatan nya, semua tampak indah dalam pandangan mata.
"Mas kita mau kemana ?"
Bukan menjawab pertanyaan Khadijah, Aksara hanya mengulas senyum di bibirnya saja. Tentu hal itu juga semakin membuat Khadijah merasa bingung dengan sikap suami nya.
Erat tangan Aksara membawa Khadijah kedepan sebuah pintu ruang yang Khadijah yakini merupakan sebuah kamar.
Tidak butuh waktu lama Aksara membuka pintu di hadapannya, sebuah ruangan luas terpampang nyata di hadapan Khadijah, sebuah kamar hotel presidential Suite menjadi pilihan Aksara untuk menghabiskan malam bersama Khadijah.
"Mas, kenapa harus kesini, tidak butuh waktu lama bukan untuk pulang ke apartemen atau pun rumah mama ?"
Pertanyaan Khadijah tentu membuat Aksara terkekeh seketika.
"Lagi pula kita tidak membawa baju ganti"
Menyadari Aksara yang hanya menertawakan dirinya, Khadijah merasa sedikit kesal, sebab apa yang dia protes kan selalu tidak berarti apa-apa untuk suami nya.
Berbeda dengan Khadijah yang merasa semua sikap Aksara hanya pemborosan saja, justru Aksara beranggapan lainya. Aksara hanya merasa belum membahagiakan Khadijah. Sejak pernikahan kedua nya Aksara hanya memberi kesedihan pada wanita di hadapan nya.
Aksara hanya berusaha untuk menebus setiap kesalahan yang pernah dia lakukan ada Khadijah, mungkin Khadijah memang telah memaafkan dirinya, hanya saja Aksara merasa setiap waktu yang terlewatkan begitu berharga bagi nya.
***
__ADS_1