
...Tak akan jadi hebat jika tak kuat, tak akan jadi besar Jika Tak sabar. Tetap Semangat ...
...☘️...
Juanda International Airport.
Sudah hampir Maghrib saat Aksara tiba di Surabaya.
Surabaya tidak jauh berbeda dengan Jakarta, hiruk pikuk kota membuat aksara semakin pusing rasanya. Bukan kali pertama Aksara ke Surabaya, karena beberapa cabang usahanya juga terdapat di kota tersebut, sehingga Aksara sudah cukup familiar dengan kota tersebut.
Masih dibutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam untuk sampai ke tempat tujuan. Pesantren Daarul Quran yang memiliki letak di pinggiran Kota Jombang.
Aksara masih harus menunggu beberapa saat, sebab mobil anak cabang perusahaan di Surabaya, tiba tidak sesuai dengan rencananya.
"Apa tidak sebaiknya Pak Aksara makan malam terlebih dahulu, sembari menunggu"
Mendengar saran dari asisten pribadinya, Aksara pun hanya memutar bola matanya.
Dion sendiri paham Apa maksud dari tatapan Bos besarnya, dan pada akhirnya Dion hanya bisa diam dan menurut saja.
Tidak butuh waktu lama, yang ditunggu pun akhirnya tiba, supir dari perusahaan Aksara yang berada di Surabaya kini sudah siap mengantarkannya ke tujuan Aksara, Pesantren Darul Quran, di pinggiran Kota Jombang.
Masih butuh waktu cukup lama hingga keduanya tiba di tempat tujuan.
Sembari menunggu Aksara pun memanfaatkan waktu untuk memainkan ponselnya. Entah mengapa sedari tadi status WhatsApp adiknya selalu mencuri perhatian nya.
Namun yang berbeda adalah sudah sejak beberapa jam yang lalu Dirga tidak mengganti status whatsapp-nya.
***
Kurang dari 5 menit Aksara akan tiba di tempat tujuan, dan saat ini dia merasakan hatinya begitu berdebar entah karena apa.
Kepanikan di wajah Aksara ternyata diamati oleh Dion yang berada di sampingnya, Jujur saja melihat Aksara dengan wajah tegang nya seperti itu, Dion ingin sekali tertawa.
"Apa Pak Aksa Butuh sesuatu ?"
Jujur saja sebenarnya Dion hanya basa basi saja bertanya, hanya untuk mengalihkan suasana hati Aksara yang terlihat semakin tegang.
Namun nyatanya Aksara hanya diam dan tidak menjawab ucapan Dion sebelumnya.
Pesantren.
Mobil pun memasuki area pesantren, ada pemandangan yang berbeda dalam pandangan Aksara, dimana Aksara mendapati Khadijah tengah berdiri di ambang pintu rumah Abahnya.
"Kita sudah sampai pak" ucap Dion dengan membuka pintu untuk Aksara.
Aksara ditemani Dion berjalan masuk ke kediaman Abah Hasim.
__ADS_1
"Mas. Perjalanannya lancar ?" ucap Hadijah dengan sopan.
Mendengar pertanyaan Khadijah, Jujur saja Aksara merasa terkejut, sebab dari nada bicaranya seolah Khadijah memang tengah menantinya. Menantikan kedatangan yang lebih tepatnya.
"Em. Iya"
Mendengar jawaban singkat Aksara, Khadijah pun langsung mengulurkan tangannya meraih tangan sang suami, dan mencium punggung tangan Aksara dengan takzim.
Meski tengah mengenakan cadar nya, namun tidak lupa Khadijah tersenyum pada sang suami.
Kedatangan Aksara yang tiba-tiba, tentu membuat Khadijah merasa bahagia, bahkan Khadijah melakukan persiapan untuk penyambutan.
Dari mulai menyiapkan makanan, minuman dan juga tidak lupa Khadijah merias sedikit wajahnya, agar ketika Aksara melihatnya Khadijah tampak lebih segar. Meski tidak secara langsung Aksara dapat melihat wajahnya.
Benar saja riasan tipis di mata Khadijah, mampu membuat seorang Aksara terpesona, Jujur saja Khadijah memang sangat cantik.
Meski begitu mengagumi pesona dari mata Khodijah, namun sikap Khadijah tentu juga membuat Aksara merasa bingung, terlebih ini juga merupakan pertemuan pertama sejak beberapa hari yang lalu keduanya berpisah.
"Ehemm !!"
Dion yang masih berada di sana merasa terabaikan begitu saja, karena Aksara sedari tadi begitu fokus menatap Khodijah.
Tidak hanya Khadijah namun Aksara pun juga merasa salah tingkah. Nyatanya tatapan Aksara pada Khodijah dapat dilihat dengan jelas oleh asisten pribadinya, hingga hal itu tentu saja membuat Aksara sehingga hal itu pantesan sama untuk acara masak jantung merasa canggung rasa nya.
"Ohya. Dirga dimana ?"
Aksara yang tidak tahu ingin memulai pembicaraan dari mana, atau berkata apa lantas menanyakan adiknya.
'Dirga' batin Khadijah.
"Bagaimana Dijah bisa tahu Mas. bukanya dia di Jakarta dengan kalian?"
Khadijah pun lantas bertanya pada sang suami, sebab jika memang yang ditanyakan adalah adiknya, maka tentu salah, karena Khadijah pun tidak mendapati Dirga berada di sana.
"Dirga tidak di sini ?" Aksara kembali bertanya
Khadijah pun menggeleng kan kepala nya, sebagai jawaban atas pertanyaan Aksara sebelum nya.
Jujur saja Khadijah sempat berharap jika kedatangan Aksara adalah untuk menemui nya, Namun ternyata kedatangan Aksara hanya untuk menanyakan keberadaan dari adiknya saja.
Khadijah merasa sedih, karena nyatanya harapannya terlalu tinggi. Aksara masih sama, dingin dan masih tetap mengabaikannya.
"Jika yang mas Aksa tanyakan keberadaan Dirga, maka jawaban Khadijah tidak tahu, Namun sebelumnya Dirga sempat menghubungi Dijah--"
Melihat tatapan Aksara, Khadijah pun menggantungkan kalimatnya.
"Menghubungimu ?. Untuk apa !?"
__ADS_1
Aksara begitu penasaran dengan kelanjutan ucapan Khadijah.
"Dirga mengatakan, jika Mas akan datang kemari"
Deg.
Mendengar ucapan Khadijah yang begitu mengejutkan, Jujur saja Aksara tidak begitu saja dapat mempercayai nya.
"Benarkah" Tanya Aksara
"Bukankah Mas Aksa bisa menanyakan sendiri pada dia"
Tidak hanya Aksara saja namun nyatanya Dion juga merasakan hal yang sama, sama terkejutnya dengan Aksara.
Dion pun lantas menyimpulkan jika ini semua merupakan rencana dari adik Bos besarnya.
Sementara Khadijah, jujur saja semangat 45 yang sebelumnya Khadijah rasakan, kini memudar begitu saja, sebab ternyata Aksara tidak datang untuk menemuinya.
"Oh ya Silakan duduk Mas, Dijah siapkan minum dulu"
Belum sempat Khadijah melangkah kan kaki nya, Abah dan Umi Amina telah keluar untuk menyambut kedatangan menantunya.
"MashaAllah, Nak Aksa"
Abah Hasyim terlihat begitu bahagia, melihat kedatangan sang menantu tentu karena alasan untuk menemui Khadijah dan mungkin saja juga untuk membesuk nya, 'pikir Abah'.
"Assalamualaikum pak Ustad"
Terdengar kaku dari nada bicara Aksara. Namun Abah paham jika situasi canggung mungkin saja masih dirasakan oleh sosok laki-laki di hadapannya, laki-laki yang telah sah menjadi menantunya.
"Panggil Abah saja. Seperti Khadijah"
Abah pun mengulas senyum ramah di wajahnya, begitu juga Aksara yang seketika tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Dijah Kamu siapkan makanan untuk suami mu" titah Umi Amina.
Khadijah pun lantas menganggukkan kepalanya, dan berlalu meninggalkan mereka.
Tidak berselang lama dari kepergian Khadijah, Aziz pun datang, dan bergabung bersama mereka.
Raut wajah tidak suka masih jelas terlihat di wajah Aksara, sementara Aziz yang tampaknya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, memilih untuk menyapa dan menyambut Aksara dengan sopan dan keramah-tamahannya.
Mau bagaimanapun hati Aksara, tetap pada kenyataannya mereka terlibat persaudaraan karena Aksara telah menikahi adiknya, Khadijah.
Merasa tidak diabaikan, Azis pun lantas berbincang dengan Dion, sang asisten pribadi Aksara yang dulu sempat menjadi rekan kerjanya, ketika Azis bekerja di kantor Aksara.
Melihat Abi tengah berbincang bersama Umi Amina sementara Dion juga tengah berbincang bersama Aziz, agaknya Aksara mulai merasa bosan.
__ADS_1
Sesekali terlihat Aksara celingukan mencari keberadaan Khadijah.
***