TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 74. RUMAH MAMA


__ADS_3

Pagi hari menjelang siang, dengan udara ibu kota yang sedikit panas, membuat Aksara kembali bersemangat.


"Sayang" Panggil Aksara dengan suara mendayu merdu


"Em"


Mendengar jawaban singkat Khadijah membuat Aksara tidak puas mendengarnya, dan hal itu tentu membuat Aksara semakin mengeratkan tangannya, hingga melingkar sempurna ke bagian depan perut Khadijah.


"Mas Geli !"


Tubuh Khadijah menggelinjang seketika merasakan sensasi tangan Aksara yang intens memeluk nya.


Berbeda dengan Khadijah yang merasa geli dengan sedikit rasa tidak nyaman, justru hal itu membuat Aksara semakin bersemangat untuk menggoda istrinya.


"Apa kamu tidak ingin mencoba nya di kamar ini?" Bisik Aksara tepat di telinga Khadijah.


Khadijah membulatkan kedua bola matanya.


Jujur saja dia tidak menyangka jika Aksara akan menanyakan hal itu pada dirinya, hingga rasa tidak percaya itu membuat Khadijah terperangah dengan mulut sedikit terbuka.


"Astaghfirullah Mas !!" Protes Khadijah


Sebagai wanita dewasa tentu Khadijah tahu dan sangat paham apa maksud dan ucapan suaminya.


Mendengar reaksi Khadijah tentu saja Aksara terkekeh mendengarnya. Bagaimana tidak, Khadijah begitu menggemaskan bagi Aksara, dengan gaya malu-malu yang masih sangat kentara. Terlebih Rona merah di wajah Khadijah yang sudah semakin jelas terlihat oleh Aksara dari pantulan kaca di depan nya.


"Hanya olah raga sayang"


"Kita bisa mencoba nya, Sekali saja dan tidak akan lama"


Mendengar ucapan Aksara, Khadijah hanya terdiam dengan rasa bingung dan tidak percaya.


Hingga Aksara kembali berbisik tepat di telinga Khadijah, dan seketika hal itu pun kembali membuat Khadijah menggelinjang dengan sensasi geli yang menusuk pendengaran nya.


"Ta tapi Mas, Mas Aksa bukanya harus ke kantor ?"


Tidak lagi mendapatkan jawaban, sebab Aksara saat ini tengah sibuk melepaskan hijab besar yang Khadijah kenakan.


"Mas !!"


"Em!!"


"Tidak bisakah nanti malam saja ?!"


Khadijah mengatupkan bibirnya, setelah mengucapkan kalimat sebelumnya, jujur saja Khadijah merasa sangat malu pada Aksara yang dengan berani meminta untuk melakukannya pada malam nanti.


Aksara meletakkan hijab besar Khadijah di meja, dan menghentikan aktifitasnya. Mendengar permintaan Khadijah jujur saja Aksara ingin sekali tertawa. Namun entah mengapa hal itu justru membuat Aksara semakin ingin menggoda istrinya.


Jika tadi tangan Aksara berada di pinggang istri nya, kini justru Aksara meraih tangan Khadijah. Khadijah pun refleks berbalik, dan menatap wajah suaminya.


Jujur saja, diam nya Aksara membuat Khadijah merasa bersalah, meski tidak secara langsung menolak, namun ucapanya mungkin membuat Aksara kecewa. Dan sampai detik ini keduanya saling bertatapan Aksara tidak satupun mengucapkan kata-kata. Hal itu tentu membuat Khadijah semakin merasa bersalah.


Namun yang tidak di sangka justru Aksara mengarahkan tangan Khadijah pada area pusaka milik nya, hingga tangan Khadijah tanpa sengaja, namun merupakan kesengajaan dari Aksara, menyentuh dan merasakan sesuatu yang menonjol dan keras di bawah sana.

__ADS_1


Menyadari hal itu Khadijah pun refleks menarik tangan nya.


"Astaghfirullah!!"


Hingga reaksi Khadijah mengundang tawa kecil Aksara, bukan marah, justru Aksara sangat menyukai kepolosan istri nya.


"Mas Kok gitu sih !!" Kesal Khadijah


"Kenapa sayang ??"


Masih dengan tawa menghiasi bibirnya, Aksara kembali berbicara.


"Ini juga hanya satu bagian dari anatomi tubuh manusia, Anggap saja dia pasien yang meminta untuk di sembuhkan sayang" Ucap Aksara dengan enteng nya.


Khadijah terperangah.


Ucapan Aksara tentu saja membuat Khadijah geleng kepala, bagaimana tidak, Aksara begitu kekeh membujuk nya.


Aksara kembali mendekatkan tubuhnya, kali ini Aksara berusaha meraih dan melepaskan ikatan rambut Khadijah. Rambut panjang yang sebelumnya di ikat, kini terlihat indah dengan gelombang panjang. Sungguh sesuatu yang sulit untuk Aksara lewatkan.


"Mas !"


"Em ?"


"Dijah malu"


Khadijah menundukkan wajahnya, lirih ucapanya membaut Aksara menghentikan aktifitasnya.


Lembut suara Aksara kembali meyakinkan Khadijah. Jelas terlihat keraguan di wajah istrinya, meski Khadijah tidak menolak namun Aksara tahu jika Khadijah belum merasa nyaman.


"Kalau ada yang melihat ?, Mendengar ?, atau orang yang tiba-tiba masuk kamar ??"


"Atau mama tiba-tiba datang ?"


Terdengar banyak pertanyaan Khadijah yang memberondong Aksara, Aksara paham tentu hal itu karena ketakutan di hati istrinya, yang membuat Khadijah merasa tidak nyaman melakukan pada siang hari.


Aksara lantas tersenyum, dan membelai lembut rambut Khadijah.


"Sayang, mama tidak akan pernah masuk ketika aku dan kamu di sini, dan untuk yang lainnya aku rasa tidak akan ada yang berani masuk ke ruangan ini"


"Terus kalau ada yang dengar suara kita ?"


"Tidak akan !!"


"Kamar ini sangat luas, Lagi pula kamar ini ada peredam suara nya, sekeras apapun kamu berteriak tidak akan ada orang yang mendengar nya"


Mendengar hal itu Khadijah pun menautkan kedua alisnya, jujur Khadijah masih ragu, namun tidak mungkin pula Aksara membohongi diri nya.


"Jadi bagaimana sayang ?"


"Apa nya ?"


Aksara pun refleks menepuk jidatnya, pertanyaan spontan Khadijah membuatnya semakin tidak sabar.

__ADS_1


"Olahraga ??"


"Mas Aksa yakin ?"


"Kenapa tidak"


Khadijah pun memejamkan matanya, perlahan dia menganggukan kepala nya, isyarat jika dia bersedia melayani Aksara.


"Yes !!"


Aksara begitu bersemangat untuk melakukanya, dan ini merupakan pertama kali di kamar nya.


"Sayang, aku ingin kamu pakai salah satu baju itu"


Tunjuk Aksara pada deretan lingerie yang tertata rapi dalam lemari. Khadijah pun tersipu malu, permintaan Aksara tentu tidak bisa ditolak oleh Khadijah, namun ada rasa tidak nyaman di hatinya, sebab dia akan mengenakannya saat hari masih siang benderang.


"Mas, tapi aku malu"


"Hanya aku yang akan melihat mu sayang"


Khadijah pun menurut dan bergegas memilih salah satu di sana, sementara Aksara memilih untuk meninggalkan Khadijah dan menunggunya di luar walk in closet.


***


"Menaklukkan satu laki-laki saja kamu tidak bisa !!"


"Dasar tidak becus !!"


Mendengar kalimat itu semakin murka Marissa di buatnya, bagaimana tidak dia telah berusaha meski langkahnya terasa sulit, dan saat ini justru dia menerima Omelan dari orang tuanya.


Marissa tidak menyangka jika Papa nya akan datang dan menemuinya.


"Aksa bukan laki-laki seperti papa, yang mudah tergoda dengan rayuan wanita !!!?"


"Diam !!!"


Suara lantang pria paruh baya di hadapan Marissa, guratan kemarahan jelas terlihat di wajahnya, hingga matanya berubah memerah menahan amarah.


"Jaga ucapan mu Marissa!!"


"CK. !" Marissa hanya menertawakan ucapan orang tuanya.


Marissa jelas tahu dan sangat paham bagaimana sifat papa nya, bagaimana usaha keluarganya bisa hancur. Salah satu sebab nya adalah karena sang papa yang memilih menyimpan wanita lain di luar sana.


"Dasar anak tak berguna !!"


"Apa ??"


"Bukankah, Papa dan aku tidak jauh berbeda, jadi jangan marah jika aku seperti ini"


Segar di ingatan Marissa bagaimana saat ini sang mama terpaksa harus tinggal di rumah sakit jiwa karena tidak tahan dengan sikap sang papa dan kenyataan keluarganya sudah tidak memiliki apa-apa.


***

__ADS_1


__ADS_2