TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 47. PAGI


__ADS_3

...Kupikir hanya lagu, ternyata cerita hidupku ...


...☘️...


Setelah dari masjid Aksara memilih untuk segera kembali ke kamarnya, kali ini bukan kamar Dion yang menjadi tujuannya melainkan kamar Khadijah.


Dengan perasaan yang campur aduk Aksara pun melangkahkan kaki menuju kamar yang semalam sempat akan dia tempati.


Entah mengapa Aksara sangat ingin meminta maaf pada Khadijah, sebab mungkin saja semalam sikapnya membuat Khadijah bingung.


Berdebar?, sudah pasti.


Terlebih Aksara yang memang bukan tipe orang peminta maaf, tentu ada rasa gengsi yang menyelimuti hati.


Ceklek.


Setelah tiba di kamar, Aksara mendapati kamar tampak sepi, tidak hanya itu, namun juga kamar yang sudah rapi dengan selimut dan bantal yang telah tertata pada tempatnya.


'Kemana Khadijah' batin Aksara.


Aksara pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sosok yang ingin dia temui, namun hasilnya sama Khadijah tidak berada di sana.


Aksara semakin bingung kemana perginya Khadijah sepagi ini.


Selain masih pagi, juga di luar sana masih begitu gelap.


Ditengah kebingungan nya, Aksara di kagetkan dengan sebuah suara yang tiba-tiba terdengar di belakang nya.


"Mas Aksa sudah baikan ?"


Suara Khadijah yang seketika mengagetkan Aksara.


Namun entah mengapa, melihat kedatangan Khadijah, Aksara merasa tenang melihat nya.


Meski senang melihat kedatangan Khadijah, namun Aksara tetap diam dan enggan memberikan jawaban.


Bukan tanpa alasan Aksara tidak menjawab nya, hanya saja Aksara merasa baik-baik saja, dan tidak mengalami cedera ataupun terluka atau bahkan sakit seperti dugaan Khadijah malam tadi pada nya.


"Tadi sebelum subuh Dijah sempat bilang sama Abah kalau mas Aksa kurnag sehat"


Mendengar ucapan Khadijah, Aksara pun mengawetkan kedua alisnya.


"Kamu juga bilang kalau aku semalam tidur di kamar Dion ?!"

__ADS_1


Aksara begitu penasaran. Dengan jawaban apa yang Khadijah akan katakan padanya.


Namun dugaan aksara ternyata tidaklah sama, perlahan Khadijah menggelengkan kepalanya, hal itu tentu Aksara pahami jika Khadijah tidak mengatakan jika semalam Aksara tidur di kamar asistennya.


Entah mengapa, melihat respon Khadijah Aksara merasa sedikit lega.


"Tidak Mas. Khadijah hanya Sampaikan pada Abah jika pagi tadi ada sesuatu yang mendesak, dan mengharuskan Mas Aksa Menemui Dion di kamar nya"


Mendengar jawaban langsung dari Khadijah, Aksara pun semakin merasa lega, hingga dengan cerah terlihat di wajah tampan.


Pantas saja, pagi tadi Abah Hasyim tidak banyak tanya pada Aksara, ketika melihat dia yang berada di kamar Dion.


Niat Abah yang ingin membangunkan asisten nya, tentu terkejut tatkala melihat Aksara juga berada di sana, namun nyatanya Khadijah telah menyelamatkan harga diri nya.


"Bagaimanapun kondisi dan keadaan rumah tangga kita, Dijah rasa Abah tidak perlu tahu tentang hal itu, dan sebagai seorang istri, Sudah menjadi kewajiban Khadijah untuk menutupi aib pernikahan kita, bukan begitu Mas Aksa ?"


Setelah mengatakan hal itu, Khadijah pun menundukkan wajahnya, jujur saja Khadijah tidak kuasa menahan kesedihannya, pernikahan baginya bukan sebuah permainan semata, namun pada kenyataannya Aksara memang benar-benar belum bisa atau bahkan tidak bisa menerimanya.


Melihat Khadijah dengan kesedihannya, jujur saja Aksara merasa tidak tega, namun dia sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa.


"Em--" Aksara tampak berfikir


"Ohya. Hampir saja lupa, ini Dijah bawakan minuman jahe hangat untuk mas Aksa"


"Mungkin bisa sedikit memperbaiki stamina dan daya tahan tubuh Mas Aksa"


Aksara pun melihat pada cangkir yang ada di tangan Khadijah. Cangkir yang saat ini disodorkan Khadijah pada dirinya.


Melihat hal itu Aksara pun semakin merasa bersalah pada Khadijah, meski dia terus menyakitinya namun Khadijah tetap saja memperdulikan dan memperhatikan nya.


'Entah terbuat dari apa hati istrinya' batin Aksara.


Aksara pun lantas menerima cangkir dari tangan Khadijah, tidka lupa dia mengatakan terima kasih setelah. menerimanya


Menyadari sudah tidak ada lagi obrolan yang ingin Khadijah bicarakan dengan suami nya, Khadijah pun memilih untuk beranjak meninggalkan Aksara, sebab pagi ini rencananya Khadijah akan membantu Umi Amina di dapur besar pesantren.


"Maafkan aku"


Baru dua langkah kaki Khadijah, namun seketika terhenti tatkala mendengar permohonan maaf dari sang suami.


Khadijah pun lantas tersenyum, dan kembali berbalik menatap sang suami yang ada di belakangnya.


Tidak perlu bertanya kenapa, Khadijah paham dengan alasan apa yang membuat Aksara mengatakan maaf pada diri nya.

__ADS_1


"Tidak perlu merasa sungkan Mas, memang seperti ini


bukan kehidupan kita di Jakarta, Khadijah pun sudah terbiasa"


"Dan Mas Aksa tidak perlu mengatakan maaf" Ucap khadijah dengan mengulas senyum di balik cadar yang di kenakan nya.


Mendengar hal itu, bukan merasa lega, justru Aksara semakin merasa bersalah saja, entah mengapa ucapan Khadijah begitu menggores di hati nya, dan rasanya ucapan istrinya merupakan sindiran keras bagi Aksara.


Jujur meski tersenyum, namun Khadijah juga merasa sedih dan kecewa, sebab pernikahan yang sudah satu bulan lamanya, namun antara dirinya dan Aksara hanya terikat hubungan pernikahan saja, namun tidak pernah benar-benar menjalin kehidupan rumah tangga sebagai mana pasangan suami istri lain nya.


Meski berawal dengan cara yang tak terduga, namun sebagai wanita, Khadijah tentu ingin membina rumah tangga seperti kebanyakan wanita di luar sana.


Melayani suami, menyiapkan segala kebutuhan nya, menjadi partner setia, menjadi teman bercerita, bercanda, dan tertawa. Khadijah juga sangat ingin merasakan nya, namun rasanya untuk saat ini semua itu masih begitu mustahil dia dapatkan dari Aksara.


Aksara mungkin memang hanya menganggapnya sebagai pengikat saja, bukan sebagai istri yang dia halalkan untuk menjadi teman hidup nya.


Buliran bening seketika tergenang di pelupuk mata Khadijah, namun secepat itu juga dia berusaha menyeka, agar tidak jatuh membasahi pipi nya.


Namun sepertinya hal itu juga di sadari oleh Aksara, yang seketika semakin merasa bersalah pada Khadijah.


Di detik itu pula Khadijah teringat ucapan Abah sebelum nya.


Sejujurnya Khadijah ragu untuk mengatakan nya, namun ini juga bagian dari pesan Abah yang diminta untuk Khadijah segera mengatakan pada suami nya.


"Ohya mas "


Khadijah pun mendongakkan wajahnya, menatap lekat Aksara yang berdiri di hadapan nya.


Tidak jauh berbeda dengan Khadijah, Aksara pun juga melakukan hal yang sama, menatap Khadijah yang berdiri di hadapannya, sejenak keduanya saling melemparkan tatapan, dan Aksara tahu ada keseriusan di mata istri nya.


"Abah menitipkan pesan pada Khadijah --"


Mendengar ucapan Khadijah, jujur saja Aksara merasa penasaran, terlebih Khadijah menjeda ucapanya, yang semakin membuat Aksara tidak sabar menanti kelanjutan ucapan istri nya.


"Katakan !"


Masih dengan nada dingin nya Aksara meminta pada Khadijah.


"Em. Abah menitipkan pesan jika uang yang sempat beliau janjikan untuk mengganti hutang Mas Azis pada perusahaan, sudah ada sebagian nya"


"Abah memang belum bisa mengembalikan semuanya, Namun InshaAllah dengan waktu yang mas Aksa berikan, Abah akan mengembalikan seluruh nya"


"Dan yang sudah ada, Abah berniat untuk segera memberikan uang itu pada Mas Aksa"

__ADS_1


Mendengar hal itu, Aksara pun menajamkan penglihatannya, menatap pada Khadijah yang berdiri di hadapan nya.


***


__ADS_2