
...Keindahan sesungguhnya adalah keindahan ilmu dan adab...
...☘️...
Aksara sempat tidak percaya jika hal itu yang akan Khadijah katakan pada dirinya.
Namun fokus Aksara bukan pada ucapan istrinya, namun darimana Abah mendapatkan uang sebanyak itu, bahkan nominal yang di ucapkan Khadijah hampir separuh dari hutang Aziz pada perusahaanya.
Tentu Aksara merasa terkejut, dari mana mereka mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang tergolong singkat, 'pikir Aksara'.
"Em"
Tidak banyak yang Aksara katakan sebab kebingungan masih begitu mendominasi di pikiran nya.
"Lalu dari mana uang itu ?"
Meski tidak ingin bertanya, namun rasa penasaran di hatinya, membuat Aksara memilih untuk menanyakan langsung hal itu pada Khadijah.
"Tenang saja Mas, uang itu halal, dan Insya Allah Abah mendapat kan itu semua dari sesuatu yang baik"
Agaknya Khadijah menangkap rasa tidak percaya di wajah Aksara, tentang darimana uang tersebut, yang mungkin saja dianggap Aksara tidak wajar.
Khadijah tahu orang seperti Aksara tentu tidak akan mau berurusan dengan masalah hukum yang akan merusak Citra dan reputasinya, itulah mengapa Aksara mempertanyakan dari mana dan dari siapa uang tersebut, 'pikir Khadijah'.
Namun hal itu di sadari oleh Aksara yang menangkap maksut lain dari ucapan Khadijah. Namun jujur saja disini Aksara hanya ingin menanyakan darimana uang itu Abah dapatkan , itu saja.
Aksara hanya tidak ingin Abah Hasyim benar-benar menjual tanah pesantren seperti ucapanya saat itu.
"Lalu kapan setengah nya ?"
Ucap Aksara pada akhirnya, dan mendengarkan ucapan Aksara tentu saja Khadijah terdiam untuk sesaat.
"Tunggulah satu atau dua bulan lagi mas"
"Kenapa begitu ?"
Khadijah semakin menundukkan kepala nya, menyadari Aksara mungkin saja menuntut sebuah jawaban pasti dari nya. 'Pikir khadijah'
"Karena rumah dan tanah yang Abah jual tentu butuh waktu untuk --"
__ADS_1
"Rumah ?. Tanah ? Milik siapa ?"
Benar dugaan Aksara, jika pancingan yang dia tanyakan sebelumnya bisa membuat Khadijah mengatakan kejujuran yang dia inginkan.
"Atau uang yang saat ini kalian dapatkan juga hasil berjualan ?"
"Lalu apa yang kalian jual ?"
Tegas Aksara dengan mata tajam menatap Khadijah. Jujur saja Aksara mulai melupakan masalah uang tersebut, dan berniat untuk mengikhlaskan nya saja.
Mendengar Pertanyaan Aksara, Khadijah pun kembali terdiam dan menundukkan wajahnya, karena jujur saja dugaan Aksara benar adanya.
Khadijah pun lantas menceritakan darimana uang itu berasal, yang diantaranya dari hasil berjualan rumah dan tanah serta sawah warisan Abah, serta rumah yang saat ini di tempati oleh Abah dan Umi pun juga menjadi barang yang di jual oleh Abah Hasyim.
Tidak hanya itu saja, selain dari sana, bantuan dari Mas Umar dan Mas Ali juga andil di dalam nya. Selain itu Abah menjual beberapa usaha nya di kota seperti beberapa ruko dan toko yang dia sewakan sebelumnya.
Hasil sewa ruko yang dipergunakan untuk keberlangsungan Pesantren, terutama diperuntukkan bagi siswa-siswa kurang mampu di pesantrennya.
Terakhir yang paling mencengangkan bagi Aksara, adalah saat Khadijah menceritakan, bahwa dia turut merelakan rumah peninggalan kedua orang tuanya untuk menjadi salah satu bagian penebus hutang Kaka nya.
Dan hal itu tentu saja membuat Aksara tidak percaya, jika ternyata sejauh itu pengorbanan keluarga Khadijah.
Yang lebih menyedihkan adalah saat Khadijah menceritakan soal rumah peninggalan orang tuanya, Mungkin Khadijah ikhlas namun agaknya Aksara menangkap ketidak berdayakan di wajah wanita nya.
"Oh. Jadi begitu"
Ucapan yang pada akhirnya keluar dari mulut Aksara. Jujur karena memang tidak ada yang bisa Aksara katakan pada Khadijah.
***
Waktu menunjukan pukul 06.23
Masih begitu pagi, namun untuk rutinitas sarapan memang selalu di lakukan di pagi hari, sebab Abah dan Umi yang harus mengajar para santri, membuat keduanya memilih untuk memulai semua di pagi hari.
Semua masakan dan olahan makanan yang sebelumnya Khadijah siapkan bersamaan umi Amina telah siap tersaji di atas meja.
Tidak hanya berdua saja, namun juga ada Aisyah yang turut membantu kesibukan di dapur rumah umi Aminah. Sebab Aisyah merupakan salah satu santri yang memang kurang mampu, sehingga seluruh biaya pendidikannya ditanggung oleh Abah dan Umi Amina sehingga.
Aisyah yang merupakan gadis baik, memilih untuk tinggal bersama Umi dan Abah di rumah utama, serta membantu seluruh kerepotan yang mungkin bisa dia lakukan, sebagai ganti, ataupun balas budi atas kebaikan Abah dan Umi Amina.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama Abah, Umi, Aksara, Dion, dan juga Azis telah berkumpul di meja makan.
Jika tidak sedang ada tamu, Khadijah pun akan ikut serta sarapan bersama, namun bukan karena alasan itu saja, meja makan yang hanya muat untuk menampung 6 orang disana membuat Khadijah memilih untuk sarapan bersama Aisyah di belakang saja.
Aksara terus saja memandangi wajah Khadijah yang tertunduk, dengan kesibukan menyiapkan makanan di meja, sementara setelahnya dia tidak duduk bersama.
Jujur saja Aksara menangkap kesedihan di wajah Khadijah, dan tentu saja sebabnya tidak lain adalah obrolan pagi tadi bersama dirinya, 'pikir Aksara'.
Berbeda dengan Aksara yang sibuk memikirkan Khadijah, justru saat ini Dion tengah sibuk dengan mata nya, terpesona dengan sosok yang ada di hadapannya, wanita yang baru ke dua kalinya dia temui di rumah Abah dan Umi Amina, 'Aisyah'.
Meski mengenakan hijab besar, namun Aisyah tidak seperti Khadijah, yang mengenakan cadar, sehingga Dion dapat leluasa menikmati dan melihat kecantikan Aisyah.
Bahkan tanpa disadari ekor mata Dion mengikuti setiap langkah kaki Aisyah, dan hal itu tentu saja menyita perhatian Aksara, karena jujur saja dia merasa malu dengan sikap asistennya. Mungkin juga tidak hanya Aksara, namun yang lainnya juga menangkap keanehan di wajah Asisten nya.
"Nak Dion Betah di sini ?" Ucap umi Amina.
Pertanyaan Umi Aminah yang seketika membuyarkan lamunan Dion dengan tatapannya pada Aisyah.
Dion yang tidak siap dengan pertanyaan yang baru saja di ajukan, hanya tersenyum pias pada Umi Amina.
"I iya Umi"
Umi Amina pun tersenyum pada Asisten menantunya, Jujur saja mungkin Umi juga melihat tatapan lain Dion pada Aisyah.
"Dijah, kalau sudah selesai, kamu sarapan di dalam saja sama Aisyah"
Mendengar titah dari Umi, Khadijah pun mengiyakan dan menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai menyiapkan makanan di meja, Khadijah beserta Aisyah kembali ke dalam.
Sementara setelah kepergian Khadijah dan Aisyah, suasana di meja makan tampak terasa canggung, terlebih antara Aksara dan kedua mertuanya.
"Nak Aksa makan yang banyak" ujar Abah dengan mengulas senyum di wajahnya.
Ini merupakan kali kedua, setelah sebelumnya malam tadi Abah Hasyim dan Umi Amina, menjamu Aksara sebagai menantunya.
Aksara pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, meski ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun Aksara berusaha bersikap biasa saja di depan kedua mertuanya.
"Baik Bah. Terima Kasih" Ucap Aksara
__ADS_1
***