TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 40. PULANG


__ADS_3

...Jika melupakan masih sulit untuk dilakukan, mungkin pura-pura lupa adalah cara terbaik untuk menghilangkan. ...


...☘️...


Prankkk!!!


Belum juga Ashila menjauh dari ruang kerja Aksara, Ashilla telah mendengar bunyi pecahan kaca dari dalam ruang kerja bos besarnya.


Ashilla meyakini jika bunyi tersebut merupakan cangkir yang sebelumnya dia bawa dan dilemparkan Aksara begitu saja.


Menyadari hal itu, Ashilla semakin merasa kesal hingga hentakan kakinya terdengar di seluruh lorong ruang kerja.


Sementara Aksara yang merasa kesal, lantas menekan tombol interkom yang ada di atas mejanya.


"Dion !"


Benar saja, tidak lama dari panggilan Aksara sebelumnya Dion telah datang dengan menunduk hormat.


"Ada yang bisa saya bantu Pak ?"


Tidak heran jika Dion terlihat begitu profesional, selain karena jam terbang pekerjaannya yang sudah sangat tinggi, juga karena loyalitas Dion pada Aksara yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi.


Dion sedikit terkejut melihat pecahan kaca berserakan di mana-mana, Dion hanya berpikir mungkin saja kemarahan Aksara dari Ashila yang sebelumnya mengganggu bos besarnya, 'pikir Dion'


"Siapkan penerbangan sore ini juga aku ingin menemui Khadijah !!"


Dion pun terperangah, mendengar titah dari sang bos besar yang mengatakan Ingin menyusul istrinya.


Ini tentu bukan merupakan sesuatu yang biasa, bahkan Dion merasa ini merupakan pertama kalinya Aksara ingin menemui wanita dan sosok wanita tersebut adalah Khadijah.


"Apa kau tidak mendengar ku !!"


Menyadari Dion masih tetap diam dan justru menatap Aksara, seolah ada rasa ketidak percayaan di hati nya.


"Maaf pak. Akan segera saya siapkan !"


Melihat betapa garang nya Aksara, Dion pun bergegas untuk berlalu meninggalkan ruang kerjanya, karena Dion tentu tahu, semakin lama berhadapan dengan Aksara maka dia akan menjadi sasarannya.


***


Waktu menunjukkan pukul 12.47


Aksara begitu gelisah dan sangat marah, entah karena sebab apa, namun dia merasa hatinya tidak tenang memikirkan keberadaan Khadijah.

__ADS_1


Terlebih jika mengingat kembali ucapan sang adik pagi tadi, Aksara semakin menjadi murka membayangkan nya saja.


Aksara masih belum dapat memahami perasaannya, sebab yang mendominasi dan Aksara rasakan hanyalah kemarahan, jujur tidak ingin adiknya menemui Khadijah.


Setelah kepergian Dirga, Aksara hanya mondar-mandir menghabiskan waktunya, tanpa mengerjakan satupun pekerjaan yang sebelumnya begitu menumpuk di atas meja kerja nya.


"Dion !!!"


Untuk kesekian kalinya Aksara memanggil asisten pribadinya.


" Jam berapa penerbangan kita nanti"


Dion hanya dapat menghembuskan nafasnya, Jujur saja ini merupakan pertanyaan ketiga sejak dirinya memesan tiket penerbangan.


"Jam 16.45 Pak"


Mendengar jawaban Dion, Jujur saja Aksara menjadi sangat marah.


"Kenapa tidak memesan tiket jam 02.00 jam 03.00 atau jam 01.00 Saja !!?"


Mendengar hal itu Dion pun hanya tersenyum getir, Jujur saja dia sudah mulai jengah mendengar ucapan protes dari Bos besarnya.


Tiket itu saja dia dapatkan hasil dari menyabotase tiket penumpang eksekutif lain yang dia ganti dengan harga 3 kali lipat dari harga normal nya.


Soekarno Hatta Internasional Airport..


Waktu yang dinanti telah tiba, saat ini Aksara tengah melakukan penerbangan ke Surabaya. Entah mengapa justru perasaannya menjadi tidak karuan.


Aura persaingan tetap ada, sebab dari status WhatsApp Dirga, Aksara melihat jika Dirga juga tengah melakukan perjalanan ke Surabaya .


Entah Karena sebab apa namun aksara begitu tidak suka dengan sikap adiknya yang selalu berusaha untuk mengganggu kehidupan rumah tangganya.


"Berapa menit lagi ?"


"Kita baru Terbang 5 menit yang lalu pak"


Dion hanya bisa menggelengkan kepalanya, menyadari Aksara begitu tidak sabaran.


***


Sore ini Khadijah tengah menikmati harinya bersama Abah, Sebab kemarin Abah telah diperbolehkan untuk pulang, sehingga Khadijah merasa lega karena pada akhirnya sang Abah baik-baik saja.


"Nduk Apa kabar suami mu ?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan sang abah Khadijah pun hanya bisa mengulas senyum di wajahnya, Jujur saja dia sendiri tidak tahu kabar Aksara bagaimana, sebab sejak kedatangannya ke Jombang belum sekalipun Aksara menghubunginya begitu juga sebaliknya.


Dan ini juga merupakan kali pertama Khadijah mengobrol bersama Abah, sebab, Sejak kedatangan dari rumah sakit, Abah tidak pernah berhenti mendapatkan tamu, yang sekedar untuk membesuk dan memastikan kondisi Abah yang telah membaik.


Banyak doa, banyak cinta, dan banyak kerabat, serta saudara yang berbondong bondong untuk datang, membesuk sang Abah, sebab di rumah sakit memang terbatas untuk pembesuk, sehingga mereka memilih untuk datang ketika Abah telah pulang.


"Alhamdulillah Abah, Mas Akasa baik"


Cukup lama hingga pada akhirnya kalimat itu yang terucap dari mulut Khadijah, meski dia tidak begitu yakin Namun sepertinya memang Aksara baik-baik saja.


"Apa dia juga memperlakukanmu dengan baik ?"


Spontanitas pertanyaan Abah membuat Khadijah terperangah.


Khadijah kembali terdiam, Jujur saja, tidak mungkin dia mengatakan jika keluarganya tidak sedang baik baik saja, namun.


Terlebih sikap sang suami yang selalu tidak pernah menganggapnya ada.


Melihat diamnya Khadijah, Abah pun lantas tersenyum.


"Tidak perlu kamu jawab Nduk, jika memang kamu tidak ingin menjawabnya, cukup simpan rapat dalam hatimu baik buruknya kehidupan rumah tangga kalian"


"Seorang istri berkewajiban untuk tidak menceritakan aib pasangan. Pun sebaliknya" Abah mengingatkan.


هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ


Artinya :"Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka". (Al-Baqarah [2]: 187).


Sejujurnya tanpa dengan bertanya pun Abah paham jika Khadijah tidak akan dengan mudah melewati kehidupan rumah tangga yang berawal dari keterpaksaan saja, namun Abah pun juga tidak berhenti berharap jika pada akhirnya nanti Aksara akan bisa seutuhnya mencintai Khadijah begitu juga sebaliknya,'Harapan abah'.


"Kita doakan saja suamimu semoga ada kesempatan untuk dia bisa membina rumah tangga yang baik dengan mu Nduk".


"Amin Abah, semoga harapan Khadijah dan harapan Abah bisa Allah ijabah"


Abah selalu berusaha membesarkan dan menguatkan hati Khadijah, mengingat kedua orang tua Khadijah yang sudah tidak ada.


"Mungkin kelak, kehidupan akan membuatmu terpaksa menorehkan senyuman palsu saat kamu tidak ingin tersenyum. Lakukan lah, namun jangan pernah menorehkan air mata palsu." ujar Abah.


Khadijah pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, jujur berbicara dan menghabiskan waktu dengan Abah tidaklah sia-sia sebab banyak nasihat dan wejangan yang Abah berikan pada Khadijah.


"Oh ya Nduk , setelah pulang nanti, tolong kamu sampaikan pada suamimu jika uang yang dibawa Azis sudah bisa terkumpul separuhnya, Insya Allah Abah akan segera mengembalikannya.


Mendengar ucapan Abah, Khadijah pun kembali tersenyum dalam diam nya, jujur dia bahagia karena pada akhirnya meski tidak sepenuhnya namun Abah telah bisa dan di mampu kan untuk mengembalikan apa yang menjadi hak perusahaan Aksara.

__ADS_1


***


__ADS_2