TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 81. BERSIAP


__ADS_3

Aksara menuruni satu-persatu anak tangga di kediaman nya, ketampanan Aksara memang sudah tidak lagi dapat di ragukan, belum lagi postur tubuh tegap dan sedikit berotot membuat nya semakin mempesona.


Tidak heran sosok di bawah sana juga tengah terpesona menatap maha karya ciptaan sang Maha Kuasa tersebut.


"Jaga matamu !!"


Dion mengeratkan giginya, dengan berbisik pada partner kerja nya. Namun agak nya Asilla tidak begitu menggubris ucapan Dion.


Asilla memilih fokus mengagumi Aksara meski tidak pernah dapat memiliki.


"Gue Colok juga tu mata !!"


"Isshhh.. Apan sih !!"


"Mau kamu liatin Sampek bosen juga pak Aksa tidak akan tergoda !!" sindir Dion


"Iihhh, kok situ sewot !!"


Dengan mengibaskan rambutnya, Asilla tidak kalah ketus menjawab ucapan Dion, keduanya tengah berdiri menunggu kedatangan Aksara, sebab sebelumnya Aksara meminta Dion dan Asilla untuk membeli beberapa barang yang akan dibawa ke Jombang.


Meski tidak seperti sebelum nya, namun Asilla masih terlihat jelas mengagumi sosok bos nya. Jujur saja tatapan Dion dan peringatan nya membuat Asilla takut jika terus memandangi Aksara.


"Selamat sore pak !"


Sapa Dion dan Asilla secara bersama, keduanya menundukkan sedikit badanya, sebagai rasa hormat pada Aksara, dan Aksara pun menganggukan kepalanya sebagai balasan atas sapaan kedua nya.


"Bagaimana ?, Sudah kalian siapkan semua ?"


"Sudah pak" Jawab Asilla dengan cepat.


Aksara tampak mengangguk-anggukkan kepala nya, dan melongo pada beberapa paperbag yang sebelumnya di bawa oleh kedua asisten nya.


"Lalu pesanan khusus saya sudah kamu siapkan ?"


Pertanyaan Aksara tersebut seketika membuat Dion bereaksi dan berjalan mendekat pada Bos besarnya.


"Silahkan pak"


Dengan sopan Dion menyodorkan paper bag yang sedari terus dia bawa, sebab isinya yang begitu spesial tentu nya.


Aksara lantas meraih dan memastikan isi di dalam nya, sebuah kotak kecil berwarna hitam yang Aksara ambil dan sekilas melihat isi nya, lalu tidak lama dia masukkan kedalam saku nya.

__ADS_1


"Antarkan ini pada istriku !" Titah Aksara pada Asilla


Asilla sedikit terkejut dengan ucapan Aksara yang tiba-tiba mengagetkannya.


"Sa Saya pak ?" Tunjuk Asilla pada dirinya sendiri.


"Siapa lagi, Apa aku harus minta Dion untuk mengantar ini pada istriku ?"


Jujur saja Asilla tidak begitu yakin dengan perintah bos nya, namun melihat paperbag yang sebelumnya Aksara bawa kini di sodorkan pada dirinya. Membuat Asilla yakin jika dia tidak salah dalam mendengar perintah bos nya.


"Ba Baik pak"


Asilla sedikit gelagapan dengan ucapanya, tidak hanya itu Asilla juga agak ragu menerima paper bag dari Aksara, yang meminta nya untuk memberikan pada istri bos besarnya.


Meski begitu mengagumi Aksara, namun jika harus berhadapan dengan Khadijah agaknya Asilla merasa sedikit sungkan. Terlebih dengan penampilannya yang serba terbuka, penampilan yang pernah mendapatkan sindiran dan teguran dari partner kerjanya.


Setelah menerima paper bag dari Aksara, Asilla lantas menaiki satu persatu anak tangga di rumah besar tersebut, menuju kamar Aksara yang sebelumnya telah di jelaskan dimana tempatnya oleh Aksara.


Sementara Aksara duduk di ruang tamu bersama Dion asisten nya. Keduanya tampak serius membicarakan sesuatu. Tentu hal itu berkaitan dengan pekerjaan di kantor yang akan di tinggalkan oleh Aksara beberapa hari ini.


Tok tok tok.


Sedikit ragu, namun dengan mantap Asilla mengetuk pintu di hadapan nya.


"Masuk saja mas, tidak di kunci !"


Terdengar suara dari dalam kamar yang memberi isyarat pada Asilla untuk masuk kedalam kamar saja, namun nalurinya mengatakan jika sebaiknya Asilla menunggu di bukakan saja, sebab tentu dia tidak bisa lancang begitu saja masuk kedalam kamar tersebut, sebab orang yang Khadijah pikir adalah Aksara.


Hingga pada akhirnya Asilla memilih untuk kembali mengetuk pintu kamar di hadapannya.


Ceklek.


"Kan udah di bilang mas nggak di kunci"


Khadijah dengan lembut berbicara pada sosok di hadapannya, yang dia anggap adalah Aksara. Namun tatapan nya seketika terkunci tatkala yang berdiri di depannya bukanlah sang suami.


Khadijah menajamkan penglihatannya, hingga terlihat kerutan halus di kening nya. Sama hal nya dengan Khadijah yang merasa terkejut, Asilla pun juga tidak kalah terkejut nya melihat Khadijah yang tengah tidak mengenakan cadar nya.


Wajah cantik istri bos besarnya membuat Asilla begitu terpaku melihatnya, nyatanya pemikiran nya soal istri bos besarnya sangat salah dan kenyataan berkata lain, melihat wajah yang begitu bersih dan seolah memancarkan keteduhan dari wajah tersebut.


"Maaf ada apa ya ?" Lembut suara Khadijah seketika menyadarkan Asilla.

__ADS_1


Menyadari sikap tidak sopan nya, Asilla hanya bisa mengerjakan mata beberapa kali.


"Ma Maaf Bu, Saya di minta pak Aksa untuk mengantarkan ini pada anda"


Khadijah kembali menautkan kedua alisnya, dan pertemuan ini menyadarkan nya, bahwa sosok wanita di hadapan nya merupakan sekertaris suami nya.


Beberapa saat berfikir, Khadijha lantas menerima paper bag yang di sodorkan oleh Sekertaris suaminya, tidak lupa Khadijah mengucapkan terima kasih setelah nya.


Begitu juga dengan Asilla, rasa terkejut yang masih belum bisa dia hilangkan, membuat Asilla memilih untuk segera berlalu setelah menjalankan tugasnya.


Seperti sebelumnya Asilla kembali menuruni satu persatu anak tangga, pikiran yang masih melayang pada sosok Khadijah membuat Asilla sadar mengapa sedikitpun Aksara tidak meliriknya, jika di bandingkan saja mungkin dia tidak ada apa-apa nya dengan istri bos nya.


'Bodohnya aku'


'Dilihat dari mana-mana jelas Bu Dijah pemenangnya' gumam Asilla dengan menggeleng-gelengkan kepala.


Mungkin hal ini juga yang menjadi salah satu sebab mengapa Dion selalu menyuruhnya untuk tidak terlalu berharap, sebab memang seharusnya dia tidak berharap.


Tanpa terasa langkah kaki Asilla telah membawanya hingga ke ujung tangga, dan kembali berjalan menyusul Aksara dan Dion di sana.


Tanpa di sadari oleh Asilla gelagat dan perubahan wajah nya, telah di amati oleh Dion sejak Asilla kembali dari kamar Khadijah sebelum nya.


Namun tidak heran, sebab Dion tahu apa yang saat ini tengah ada dalam pikiran partner kerjanya tersebut.


"Untuk rapat dan agenda kunjungan lapangan kamu jadwal kan ulang Asilla"


Mendengar titah Aksara, Asilla hanya mengangguk dan menurut saja. Sementara Dion terlihat menahan tawa.


"Baiklah kalian boleh pergi"


Setelah beberapa hal penting telah Aksara sampaikan, Dion dan Asilla pamit untuk undur diri.


Aksara pun kembali memastikan semua persiapan telah siap sesuai dengan arahan dari dirinya. Ini juga mungkin merupakan kali pertama Aksara berkunjung kerumah mertua nya dengan segala persiapan. Mengingat dulu saat pernikahannya semua hanya hal-hal dadakan dan tanpa.persiapan.


"Aksa bagaimana Apa semua sudah siap ?"


Bu Gita dan pak Lukman yang baru saja keluar dari kamarnya berjalan menghampiri sang putra. Senyum merekah di bibir Aksara melihat kedua orang tuanya telah siap.


"Sudah ma"


"Aku juga minta Dion untuk menyusul setelah pekerjaan kantor selesai"

__ADS_1


Bu Gita menganggukan kepala sebagai jawaban atas pernyataan sang putra.


***


__ADS_2