
...Manusia itu seperti buku, ada yang menipu kita dengan cover nya, ada pula yang mengejutkan kita dengan isi nya. ...
...☘️...
Hentakan kaki yang menggema di ruang kerja Aksara begitu terasa memekakkan telinga, terutama bagi Khadijah yang memang jarang dan bisa di bilang hampir tidak pernah mengenakan high heels seperti Asila, rasa-rasa nya mendengar nya saja, Khadijah merasa ngilu jadi nya.
Beruntung Pintu kaca di ruang kerja Aksara memiliki pengaman dan peredam, sehingga gerakan kasar Asila tidak membuat ruangan tersebut hancur karena ulah nya.
Setelah kepergian Asila dan Dion, kini hanya tersisa Khadijah dan Aksara saja.
Melihat betapa tajam nya mata Aksara melihat Khadijah, jujur saja hal itu cukup membuat Khadijah salah tingkah, bukan karena alasan cinta tentu nya, atau takut, hanya saja Khadijah menyadari kesalahan yang baru saja di buat nya, datang ke kantor Aksara tanpa meminta izin sebelum nya, bisa jadi saat ini Aksara tengah mendalam kekesalan pada Khadiah, 'batin Khadiah'.
"Maaf Mas, Dijah tidak bermaksud mengganggu mas Aksa"
Menyadari kesalahan nya, Khadijah hanya menundukkan wajahnya, jujur saja saat ini mungkin rasa takut mulai menghinggap di hati Khadijah, pasalnya Aksara telah bangkit dari duduk nya, dan terlihat saat ini tengah berjalan ke arah nya.
"Maaf Mas"
Entah mengapa justru kata maaf saja yang bisa Khadijah berikan pada Aksara, sementara niat nya untuk mengatakan kabar Abah, Khadijah lupakan begitu saja.
Beberapa kali Khadijah mengatakan maaf, namun agaknya Aksara benar-benar marah, karena Khadijah tidak kunjung mendapatkan tanggapan dari suami nya.
Beberapa saat saling berhadapan, hingga Khadijah melihat Aksara begitu dalam menatap wajah nya. Sekuat hati Khadijah berusaha mengatakan alasan kedatangan nya. Meski jujur saja dia tidak begitu berani menatap wajah Aksara yang kini berdiri tepat di hadapan nya.
"Jadi begini Mas ,--"
"Apa tujuan mu mendatangi ku !"
Terdengar tegas dan jelas, ucapan Aksara pada Khadijah. Namun entah mengapa ada sesuatu yang Khadijah tangkap dari nada suara suami nya
Khadijah merasa Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Aksara sebelumnya, begitu penuh intimidasi, seolah menuntut sebuah kejujuran yang begitu dalam.
Namun mengingat karena alasan apa tujuan Khadijah datang menemui suami nya, Khadijah kembali bersemangat untuk menjawab ucapan Aksara.
"Oh. Ini mas , jadi --"
"Apa kau ingin tahu seberapa kaya diriku ?"
Belum selesai Khadijah dengan ucapan nya, Aksara lebih dulu memotong dengan Kalimat yang begitu menohok bagi Khadijah.
Hingga kalimat itu mampu membuat dua bola mata Khadijah membulat Sempurna.
__ADS_1
"Atau kau sudah mulai mencintai ku ?, sehingga dengan berani kau mendatangi ku ?"
Mendengar ucapan Aksara, jujur saja Khadijah seolah tidak percaya jika asumsi Aksara atas kedatangan diri nya hanya sebatas itu saja.
"Mas --"
Untuk sesaat Khadijah merasakan kepercayaan diri nya runtuh begitu saja. Hingga suasana terasa hening sebab Khadijah sadar jika mungkin memang kehadirannya hanya mengganggu saja bagi Aksara.
"Sudah lah. Akui saja, jika memang itu kenyataanya !"
Kembali Aksara berbicara, terdengar begitu dingin dan datar saja, tidak lupa tatapan mata Aksara pada Khadijah, hingga membuat Khadijah merasa, semua ucapan Aksara begitu menyudut kan dan terasa begitu menyakitkan bagi Khadijah.
Hening.
"Mas Aksa mungkin memang memiliki segala nya, namun alasan Khadijah mau menikah bukan karena apa yang mas Aksa punya !"
"CK"
Tawa terdengar menggema di ruang kerja Aksara, dan Khadijah tahu jika saat ini suami nya tengah meremehkan dan tidak mempercayai ucapan nya.
"Masih bisa mengelak rupanya"
Sudut mata Khadijah berembun seketika. Jujur bukan karena kemarahan Aksara, namun Khadijah sungguh tidak menyangka jika sebatas itu saja penilaian Aksara pada dirinya, 'hanya karena harta'.
Tawa kembali terdengar menggema di ruang kerja Aksara. Sementara Khadijah masih setia dengan diam nya, bukan takut untuk menjawab atau membalas kalimat Aksara yang begitu menyudutkan dirinya.
Hanya saja lebih pada, tidak ingin semakin memperpanjang masalah, karena Khadijah sadar jika penilaian Aksara pada dirinya tidak akan berubah begitu saja, meski Mati-matian Khadijah membela diri nya.
"Apa kau tahu !. Seribu banding satu. Wanita yang benar-benar menikah bukan karena alasan har---"
"Dan aku akan menjadi satu dari seribu wanita itu !!" tegas Khadijah.
Belum sempat Aksara menyelesaikan kalimatnya, Khadijah telah lebih dulu mencekal dengan kata-kata nya.
"Maaf mas Aksa. Aku mungkin memang salah, datang tanpa seizin dari mu, telah mengganggu waktu mu, mengganggu pekerjaanmu. Namun aku sungguh datang bukan karena alasan yang mas Tuduhkan sebelumnya "
Pelan namun penuh penekanan, dengan menyeka air mata yang hampir saja membasahi cadar nya, Khadijah kembali melanjutkan ucapan nya.
"Aku memang bukan orang berada, aku juga bisa kuliah hanya karena belas kasihan dari perusahaan mas saja. Namun meski begitu bukan karena alasan Harta aku mau mengorbankan diriku menjadi taruhan nya!"
"Maaf"
__ADS_1
Khadijah memutar langkah nya, berbalik dan ingin meninggalkan Aksara, jujur Khadijah sudah tidak sanggup jika harus mendengar kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut suami nya.
"Ohya mas"
Khadijah kembali menghentikan langkah nya, berbalik dan kini berusaha menatap Aksara.
"Mudah saja mas jika hanya untuk menumbuhkan cinta. Karena yang sulit adalah menjaga dan membuat perasaan itu tetap ada dalam hati kita!"
Khadijah teringat jika di awal perbincangan, Aksara mengatakan pertanyaan itu pada Khadijah.
"Assalamualaikum"
Ucap Khadijah pada akhirnya, meski tidak bersambut namun Khadijah tetap mengatakan itu pada suaminya.
Hingga pintu tertutup Aksara masih terpaku dalam lamunannya. Jujur saja perasaan Aksara saat ini mulai tidak baik-baik saja.
Entah perasaan dari mana, hanya saja dia merasa menyesal telah mengatakan semua itu pada Khadijah, hanya karena kesalahan Sekertaris Aksara sebelumnya, dia menumpahkan kemarahan nya pada Khadijah.
"Arkkkhhhh !"
Aksara berteriak sejadi-jadinya, meluapkan kemarahan yang sebelumnya sempat menguasai hati nya, hingga dia melampiaskan kemarahan pada wanita yang sejujurnya tidak tahu apa-apa.
Sementara Khadijah yang berada di luar ruang kerja Aksara, hanya bisa terisak dengan menyembunyikan suara nya, jujur ini begitu menyakitkan bagi nya.
"Maaf Bu, anda tidak papa ?"
Melihat sikap lain dari Khadijah, Dion yang memang berada di luar ruang kerja Aksara lantas bertanya.
Gelengan kepala menjadi jawaban Khadijah, atas pertanyaan asisten pribadi suaminya.
"Baiklah jika begitu, mari saya antar Bu" ucap Dion pada akhirnya.
"Tidak. Saya bisa sendiri, terima kasih telah mengantar saya kesini"
Tidak kuasa menahan kesedihannya, hingga Khadijah memilih untuk pergi sendiri saja.
"Tapi Bu --"
"Tidak papa. Terima kasih, kamu kembali saja bekerja"
"Assalamualaikum "
__ADS_1
Khadijah kembali mengayunkan langkah nya, berbekal ingatan yang terasa masih segar, seharusnya dia tidak lupa atau bingung mencari jalan keluar dari kantor besar Aksara. 'pikir Khadijah'.
***