
Waktu menunjukkan pukul 21.45
Jujur saja Asilla merasa tubuhnya sangat lelah, sudah jadi kebiasaan Asilla setiap pulang kerja dia akan langsung pulang ke apartemennya, namun kali ini berbeda sebab Asilla masih harus mengurus dan menjaga Marissa.
Ceklek
Asilla sedikit terkejut dengan pintu kamar Marissa yang terbuka, tidak berselang lama disusul sosok dokter yang sebelumnya memberikan penanganan pada Marissa keluar dari sana.
"Bagaimana keadaan nya dok ?" Tanya Asilla
Mendengar pertanyaan Asilla seketika dokter mengulas senyum di wajah nya.
"Apakah anda saudara dari pasien ?"
Tidak langsung memberikan jawaban atas pertanyaan nya, dokter dihadapan Asilla justru menanyakan perihal keluarga Marissa. Spontan Asilla pun menggelengkan kepalanya, sebab memang antara dirinya dan Marissa tidak ada hubungan keluarga, jangankan keluarga bersahabat dan berteman saja tidak, 'pikir Asilla'.
"Saya hanya menolongnya saja dok saat dia pingsan di jalanan" jujur Marissa pada dokter di hadapan nya.
Dokter tersebut tampak menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang dikatakan oleh Asilla sebelumnya.
"Bagaimana dok apa dia baik-baik saja" Asilla kembali bertanya pada dokter di hadapan nya.
"Untuk saat ini kondisi pasien baik"
"Namun pasien mengalami depresi yang cukup berat, dan hal itu juga yang menyebabkan emosi pada pasien meledak-ledak"
"Pasien membutuhkan dukungan dari keluarganya untuk memberikan semangat dan support"
"Hal ini akan baik untuk kesehatan janin dalam kandungan nya"
Dengan ramah dokter memberikan penjelasan pada Asilla perihal kondisi Marissa. Asilla pun lantas menganggukkan kepalanya.
Meski paham dengan apa yang baru saja dijelaskan, namun Asilla merasa sedikit kebingungan, Sebab Dia sendiri tidak mengetahui siapa Marissa sebenarnya, dan di mana keluarganya, hal itu yang menjadi kendala bagi Asilla untuk menghubungi keluarga mantan kekasih bos besar nya.
Tidak lupa Asilla berterima kasih pada dokter yang sebelumnya memberikan penanganan pada Marissa.
Setelah dokter dan dua perawat meninggalkan ruangan, Asilla memutuskan untuk masuk, melihat dan Memastikan kondisi Marissa baik-baik saja. Benar saja, tampaknya Marissa lebih baik dari sebelumnya, obat penenang yang diberikan dokter membuat Marissa menjadi lebih tenang dan saat ini lelap dalam tidurnya.
Asilla memilih untuk duduk di sudut ruangan yang terdapat sofa panjang di sana, menatap langit-langit atap rumah sakit, jujur saja Asilla merasa semakin bingung memikirkan nya, Asilla meraih ponsel yang ada di dalam tas milik nya.
__ADS_1
Terlihat beberapa kali Asilla mencoba menghubungkan panggilan dengan entah siapa, namun agaknya panggilan darinya tidak mendapatkan respon dari sang penerima. Hal itu tentu membuat Asilla kembali merasa bingung memikirkan nya.
Mendapati 0anggilan darinya yang selalu diabaikan, Asilla memilih untuk mengirimkan pesan pada seseorang di ujung sana. Asilla menceritakan semua yang terjadi padanya hingga berakhir dirumah sakit bersama Marissa memalui pesan teks yang telah dia tulis.
***
Udara malam dengan sedikit mendung menutup indah nya malam, hingga tidak lagi tampak gemerlap bintang gemintang yang menghiasi pekat malam.
Khadijah, Aksara dan kedua orang mertua nya baru saja sampai di ibukota kurnag lebih dua jam yang lalu. Lelah tubuh nya membuat Khadijah merasakan begitu kantuk yang teramat sangat.
"Mas ?"
Jujur saja Khadijah merasa tidak enak pada Aksara yang langsung menyentuh berkas-berkas kantor setibanya mereka dari Jombang, sementara Khadijah justru terus saja menguap sedari tadi.
"Em" Jawab Aksara singkat.
Mendengar jawaban dari suaminya, tentu semakin membuat Khadijah merasa tidak enak jika mengatakan ingin langsung tidur sementara Aksara masih harus lembur.
"Ada apa sayang??"
Melihat sang istri yang justru hanya diam, membuat Aksara menghentikan aktifitasnya, dan berjalan mendekati Khadijah.
Aksara meraih tubuh ramping Khadijah dan membawanya duduk di tepian tempat tidur. Aksara tahu jika ada sesuatu yang ingin Khadijah tanyakan pada diri nya.
"Tidak mas, aku hanya.. !" Khadijah menggantungkan ucapannya.
"Hanya apa sayang, katakan??" Tanya Aksara dengan kerlingan mata.
"Em. Tidak Mas. Ohya mas Aksa butuh sesuatu, aku akan siapkan ??"
Mendengar pertanyaan Khadijah, Tentu saja hal itu membuat Aksara merasa bahagia. Entah mengapa senyum merekah begitu saja di sudut bibirnya.
"Sebenarnya aku menginginkanmu" Bisik Aksara tepat di telinga Khadijah. Sontak saja hal itu membuat Khadijha tersipu malu, tidak hanya itu rasa bergidik, hingga bulu-bulu halus di tengkuknya berdiri.
"Baiklah. Dijah siap-siap dulu ya mas"
Lembut suara Khadijah mengatakan hal itu pada Aksara. Melihat Khadijah yang akan bangkit dari duduk nya, Aksara pun lantas menghentikan nya.
"Kamu yakin mau melayani ku ?"
__ADS_1
Mendengar hal itu Khadijah pun lantas tersenyum.
"Tentu Mas. Bagaimana Aku bisa menolaknya jika melayani suami ku bernilai ibadah dan syurga sebagai jaminan nya ?"
Restu atau ridho suami bagi seorang istri memiliki arti yang sangat besar. Restu suami atas istri menunjukkan bakti dan khidmat sang istri terhadap suaminya dalam bentuk perilaku keseharian yang tentunya dalam batas-batas kewajaran dan proporsional.
Khidmat dan bakti seorang istri yang diwujudkan dalam perilaku keseharian dan hubungan rumah tangga yang baik dapat menuai hasil yang sempurna.
Rasulullah SAW menyebut arti penting khidmat dan bakti istri atas suami. Seorang perempuan tidak hanya dituntut untuk mencari ridha Allah, tetapi juga restu suaminya. Seorang perempuan mesti bersikap salehah secara ritual, tetapi juga baik secara perilaku dalam menjalani hubungan rumah tangga.
فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ...والذي نفس محمد بيده لا تؤدي المرأة حق ربها حتى تؤدي حق زوجها
Artinya:
“Rasulullah SAW bersabda, ‘… Demi Allah, Zat yang memegang jiwa Muhammad, seorang perempuan belum memenuhi kewajiban Tuhannya hingga ia memenuhi kewajiban terhadap suaminya,’” (HR Ibnu Majah).
Panjang lebar Khadijah memberi penjelasan, bukan semata untuk mencerahkan pengetahuan sang suami, namun lebih kepada Khadijah sungguh ikhlas melayani, dan tidak ada sedikitpun keraguan, meski saat ini Khadijah jujur saja juga merasa lelah.
Aksara lantas tersenyum dengan ucapan istrinya yang terdengar begitu lembut masuk di telinganya, tanpa ada sedikitpun kalimat menggurui atau merendahkan Aksara sebagai imam keluarga.
"Tidak sayang, Aku tidak sungguh-sungguh. Aku mungkin memang menginginkan nya"
"Tapi aku lebih mementingkan istriku yang sepertinya sangat lelah ini" Ucap Aksara dengan mencubit lembut hidung mbangir Khadijah.
"Tidurlah, aku akan menyusul mu sebentar lagi"
Aksara mencium punggung tangan Khadijah, dan dengan senyuman Aksara meminta Khadijah untuk beristirahat saja.
"Mas yakin. Tidak jadi menginginkan ku ?"
Rona merah di pipi Khadijha tidak lagi dapat di tutupi, namun jujur saja Khadijah sangat ingin bertanya pada Aksara tentang kesungguhannya meminta Khadijah beristirahat.
"Em. Mungkin nanti Setelah kamu cukup istirahat"
Lagi-lagi Khadijha mendapatkan bisikan dari Aksara, lembut nafas Aksara yang menyentuh daun telinga nya, tentu membuat Khadijah kembali merasa merinding.
"Sudah. Tidurlah, sebelum aku berubah pikiran"
Aksara kembali meminta Khadijha untuk segera mengistirahatkan tubuh nya.
__ADS_1
***