TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 84. PECI


__ADS_3

Malam terasa begitu panjang, gemerlap bintang gemintang menambah terang benderang lautan awan. Tidak hanya bintang yang berbahagia, namun juga dengan dua anak manusia yang baru saja memadu cinta, Aksara dan khadijah baru saja selesai melakukan sunah malam Jumat nya.


Ini juga merupakan kali pertama keduanya melakukan nya di kediaman Abah dan Umi Aminah. Segar di ingatan Khadijha saat tadi sempat ragu untuk melayani sang suami, bukan menolak hanya saja kamar yang keduanya tempati tidak memiliki kunci.


Hal itu tentu membuat Khadijah merasa waspada jika melakukan nya bersama Aksara, namun tidak dengan Aksara yang justru merasa tertantang untuk melakukanya. Suasana dan tempat baru membuat Aksara semakin bersemangat seperti nya.


Sementara tempat tidur dengan dengan bahan kayu membuat setiap pergerakan keduanya menimbulkan suara terasa kencang tentu nya.


Bukan Aksara namanya jika tidak bisa membuat Khadijah nyaman dan mau melayani nya, Aksara melakukan nya dengan sangat hati-hati dan berusaha meredam suara yang akan mengundang curiga dari keluarga.


Hingga pergulatan antara kedua anak manusia berakhir dengan epik, keduanya tampak bahagia, tidak hanya Aksara namun juga Khadijah tampak nya merasa puas dengan aksi suami nya.


Beberapa kali Aksara mendaratkan kecupan di puncak kepala Khadijah, selain merasa puas, Aksara juga begitu bahagia, entah karena sebab apa namun rasa cinta yang dia miliki untuk Khadijah semakin bertambah.


Semakin malam semakin menambah suasana bahagia, canda tawa, dengan cerita sederhana masa kecil Khadijah dan Aksara menjadi warna dalam gulita yang tengah di lewati oleh keduanya.


Sepertinya malam ini Khadijah tidak akan bisa beristirahat dengan nyenyak, sebab Aksara nyatanya kembali meminta nya. Dengan segala upaya dan godaan Aksara, dengan suka rela pada akhirnya Khadijah kembali menganggukan kepala, dan siap untuk kembali melayani Aksara.


Hingga pada akhirnya untuk, dan entah ke berapa kalinya dua anak manusia tersebut melakukan nya.


***


Berbeda dengan Aksara yang merasa bahagia, dan sangat puas dengan pelayanan dari pasangan halal nya, ditempat berbeda justru Marissa tengah berusaha meloloskan diri nya dari setan yang terus membuatnya tidak berdaya.


Pria paruh baya di hadapan Marissa semakin mendekatkan tubuhnya, deru nafas yang semakin terasa membuat Marissa merasa jijik. Meski demikian Marissa masih tetap berusaha untuk berontak dan melepaskan dirinya, hingga penyatuan itu benar-benar terjadi.


Ingin rasanya Marissa menangis dan memohon untuk menyudahi aksi brutal pria di hadapannya, namun sayang sekeras apa pun suaranya tetap tidak ada yang mendengarnya, dan lagi-lagi pria di hadapannya tidak memperdulikan dirinya,bahkan seolah begitu bahagia dengan Marissa yang tak berdaya di bawahnya.


Tidak ada kenikmatan atau kebahagiaan, Marissa merasa jijik bahkan hanya ada kemarahan dalam hati nya, hingga tanpa sadar tangan nya yang tengah berontak mendapati di atas meja ada sebuah botol minuman keras entah milik siapa, Namun Marissa yakin botol itu milik pria yang menggagahinya.


Brakkkkk !!!!!

__ADS_1


Sekuat tenaga Marissa menghantam kepala pria paruh baya di hadapannya, kenikmatan yang sebelumnya dia rasakan berhenti seketika, bersamaan dengan itu pula berhenti lah pergerakan tubuh pria yang diatas Marissa.


Lelehan darah mengalir dari tengkuk pria tersebut, melihat hal itu tidak sedikitpun Marissa merasa bersalah. Pecahan kaca botol berserakan diatas tempat tidur, namun Marissa yang merasa tidak perduli, menghempas kasar pria paruh baya yang sudah lagi tidak berdaya.


Cepat-cepat Marissa mengenakan pakaian yang sebelumnya di buka paksa oleh pria yang telah melecehkan dirinya, tanpa ampun Marissa meninggalkan nya begitu saja.


Marissa sempat menoleh sebelum benar-benar meninggalkan pria tersebut dan lambaian tangannya seolah memohon pada Marissa untuk menolongnya, namun sedikitpun tidak ada niat Marissa untuk membantu pria tersebut, Marissa memilih untuk segera berlalu meninggalkan kamar hotel tersebut.


***


Waktu menunjukkan pukul 04.15


Kumandang adzan baru saja selesai di perdengarkan, begitu juga dengan Aksara dan Khadijah yang juga baru saja selesai dengan mandi wajib nya. Tentu juga mereka melakukan bersama-sama sebelum nya.


Keduanya tengah bersiap untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid, bersama para santri, dan beberapa pengurus pesantren tentu nya.


"Mas pakai peci ya" Pinta Khadijha


"Nggak sih, cuma pengel lihat aja mas pakai peci"


Entah sejak kapan Khadijha menyiapkan nya untuk Aksara, namun tidak ada salahnya Aksara menuruti permintaan istrinya, toh juga hanya peci saja.


Aksara pun lantas menerima peci dari Khadijha dan langsung saja memakainya.


"MashaAllah, Tampan nya suami ku"


Binar bahagia jelas terpancar dari manik mata Khadijha, Entah mengapa dia begitu bahagia melihat suaminya dengan sarung, baju Koko dan peci yang melekat di tubuhnya, belum lagi kekarnya otot Aksara yang sedikit tampak dari balik baju yang di kenakan nya. Semakin menambah debaran jantung Khadijha ketika memandang suami nya.


"Memangnya sebelumnya aku tidak tampan ?"


Mendengar hal itu Khadijha lantas kembali tersenyum.

__ADS_1


"Bukan begitu Mas, Mas Aksa memang tampan,namun kali ini berbeda" puji Khadijha


Sontak saja kalimat pujian dari istrinya membuat Aksara bahagia, sebab tentu sangat jarang Khadijha menguatkan kekagumannya, dan ini mungkin untuk pertama kalinya.


"Kalau begitu perlukah kekantor aku mengenakan peci ??"


Gelak tawa keluar begitu saja dari bibir Khadijah, sebab ucapan suaminya terdengar lucu bagi nya.


Setelah cukup bercanda, Aksara dan Khadijah keluar dari kamar, di ruang tamu nyatanya sudah ada Abah, Umi dan juga kedua orang tua Aksara yang telah menanti mereka.


"Maklum. Penganten baru Umi, jadi lama siap-siap nya"


Sindiran dari Bu Gita menjadi sebutan pagi bagi Aksara dan Khadijah, dan tentu saja hal itu membuat Khadijah merasa malu hingga tidak berani menampakkan wajahnya dihadapan Abah, Umi serta kedua mertuanya.


"Ah mama, kaya nggak pernah muda aja"


Berbeda dengan Khadijah yang merasa malu, justru Aksara menampakkan sikap bangga nya, dan sontak saja hal itu mengundang gelak tawa dari Abah dan Umi Amina.


"Iya deh.."


Bu Gita pada akhirnya memilih mengalah dari sang putra. Jika di lawan sejujurnya berdebat dengan Aksara mudah saja mengalahkan nya, hanya saja rasanya malu harus berdebat di hadapan besan nya.


"Mari pak Lukman, kita ke masjid sekarnag" Ajak Abah Hasim


"Baik Bah" jawab pak Lukman


Aksara dengan sigap meraih kursi roda sang papa,dan langsung mendorongnya ke masjid, bersama Abah Hasim.


Sementara Khadijha tentu berjalan di belakan nya bersama Umi Aminah dan ibu mertua nya.


Tidak butuh waktu lama perjalanan mereka akhirnya samai pada Masjid yang di tuju, Aksara dan Khadijah tentu sudah berpisah sejak tadi sebab tempat sholat antara jamaah putra dan putri yang memang di pisah letak nya.

__ADS_1


***


__ADS_2