
...Terkadang tanda cinta tidak hanya berupa harta dan benda, Karena Tanda Cinta yang Sesungguhnya adalah Doa. ...
...☘️...
Terlihat Mbok Nah tengah menatap lekat manik mata Khadijah. Setelah sebelumnya mendengar pertanyaan Khadijah, ada sedikit keraguan di hati Mbok Nah untuk menjawab nya.
"Cantik Mba"
Deg.
Mendengar dua kata bernada pujian dari Mbok Nah, jujur saja Khadijah merasa sedikit kecewa. Entah mengapa Khadijah sedikit tidak suka dengan kejujuran Mbok Nah sebelum nya.
Namun meski begitu, Khadijah pun sudah menduga jika mantan kekasih suami nya tentu sangat cantik, jika Aksara saja memiliki ketampanan diatas rata-rata, sudah pasti mantan kekasihnya memiliki kecantikan yang juga paripurna, 'Pikir Khadijah'.
"Tapi dia matre Mba !!"
Spontan ucapan Mbok Nah yang baru saja Khadijah dengar, begitu membuat Khadijah tidak bisa menahan tawa nya.
Mendengar renyah tawa Khadijah, tentu Mbok Nah pun juga ikut tertawa.
Setelah berhasil menguasai dirinya, Khadijah lantas begitu penasaran akan sosok wanita yang pernah mengisi hari-hari Aksara.
"Aduhh... Seru nya, Pada ngomongin apa sih ?"
Entah sejak kapan, namun Khadijah dan mbok Nah sedikit terkejut dengan kedatangan Bu Gita yang tiba-tiba saja.
"Mama pikir kamu sudah istirahat Di."
"Ma...Dijah Belum ngantuk, ini sekalian tunggu Mas Aksa" jawab Khadijah dengan suara lembut nya.
"Mama butuh sesuatu ?, biar Dijah Ambilkan"
Bu Gita lantas tersenyum mendengar tawaran bernada perhatian dari menantu nya, jujur ini merupakan keinginan nya sejak lama, tidak memiliki anak perempuan tentu membuat Bu Gita sangat mengharapkan sosok menantu yang perhatian.
"Boleh. Mama lagi pengen jahe hangat"
Tidak menunggu lama, Dijah segera bangkit dari duduk nya. Seperti biasa meski terdapat banyak bahan minuman dalam bentuk sachet, namun Khadijah lebih memilih menggunakan bahan yang alami saja, karena tentu lebih sehat dan tanpa pengawet buatan.
Tangan-tangan terampil Khadijah mulai mengupas kulit jahe emprit pilihan nya, sebelum nantinya akan di bakar dan kemudian di seduh menggunakan Air mendidih.
Tidak butuh waktu lama, Jahe bakar geprek yang di seduh menggunakan air panas, dengan gula batu dan sedikit perasaan lemon telah siap Khadijah sajikan.
"Wah. Harum sekali Mba"
Mbok Nah yang juga masih berada di sana, memuji kepiawaian Khadijah dalam membuat setiap sajian dari tangan terampil nya.
__ADS_1
"Ah bisa aja mbok Nah ini"
Secangkir Jahe tidak lupa juga Khadijah buatkan untuk Mbok Nah yang masih bersama mereka.
"Lho. Mbok Nah di buatkan juga mba Khadijah?"
"Sekalian Mbok" Jawab Khadijah
"Makasih mba"
Ketiganya bersama menikmati minuman jahe buatan Khadijah yang terasa begitu nikmat.
Jujur saja Bu Gita pun juga memuji kepiawaian tangan Khadijah. Sejak kedatangan nya di rumah ini, Khadijah memang selalu ikut melayani keluarga terutama soal isi perut tentu nya.
Ketiganya mengobrol bersama, Bu Gita, Khadijah, dan Mbok Nah juga masih bersama mereka.
Mbok Nah selain beliau merupakan pelayan terlama, juga beliau merupakan orang kepercayaan keluarga Brawijaya, sudah sejak Aksara bayi beliau sudah berada di rumah tersebut. Sehingga Mbok Nah juga sudah seperti keluarga bagi keluarga Brawijaya.
"Maaf Bu, saya permisi dulu, Masih ada kerjaan di Laundry" ujar Mbok Nah.
"Iya Mbok" Jawab Bu Gita.
Setelah kepergian Mbok Nah, kini hanya tersisa Bu Gita dan Khadijah saja.
Keduanya kembali menikmati jahe panas yang saat ini sudah menjadi hangat sepertinya.
"Iya Dijah. Ada apa ?"
Jujur Khadijah merasa sungkan untuk mengatakan. Namun rasa-rasanya Khadijah perlu untuk mengutarakan. Berkaitan dengan kondisi kesehatan Abah.
Meski masih dalam hitungan hari Khadijah berada di rumah ini, Khadijah berharap mertua dan tentu suami nya akan mengizinkan dia pulang dan membesuk Abah nya.
Sejak pagi tadi agak nya Khadijah tidak bisa fokus dan terus terpikirkan tentang kondisi Abah Hasim yang berada di Jombang.
"Katakan. Ada apa ?"
Menyadari Khadijah masih terdiam dalam lamunan nya, Bu Gita pun lantas kembali membuka suara.
"Maaf Ma. Boleh Dijah minta tolong ?"
Mendengar ucapan menantunya, tentu saja Bu Gita seketika menautkan kedua alisnya. Karena tentu saja Bu Gita penasaran dengan apa yang ingin Khadijah bicarakan.
"Katakan Dijah, Jika bisa, mama pasti akan membantu"
Khadijah cukup lega mendengar ucapan ibu mertuanya, meski belum mengatakan niat dan tujuan nya, namun setidak nya tanggapan baik dari Bu Gita cukup melegakan bagi Khadijah.
__ADS_1
"Kalau Dijah minta izin pulang, apakah boleh Ma?"
"Jujur saja Dijah ragu untuk meminta izin Mas Aksa, Apakah mama bisa bantu Dijah?"
Tidak lupa Khadijah mengatakan jika Abah tengah dalam masa perawatan, sebab sebelumnya tidak sadarkan diri dan saat ini tengah berada di rumah sakit.
Jika tidak karena alasan Abah, mungkin Dijah juga tidak akan meminta izin pada keluarga Brawijaya, karena komunikasi lewat telepon saja Khadijah rasa sudah cukup.
Sedikit ada keraguan di hati Khadijah, melihat ekspresi wajah Bu Gita yang sulit di artikan oleh nya, namun apa pun nanti tanggapan ibu mertua nya, Dijah sudah siap menerima. Sekalipun penolakan yang akan dia terima.
Toh tidak mungkin juga bagi Khadijah untuk pergi tanpa izin suami.
Terdengar helaan nafas dalam dari lawan bicara Khadijah. Dan hal itu semakin menguatkan dugaan nya, jika memang dia tidak akan mendapatkan izin dari ibu mertua ataupun suami nya.
"Kalau mama tidak masalah Dijah"
"Tapi soal Aksa, sebaiknya kamu katakan sendiri pada dia, Mama yakin Aksa akan bisa menerima"
Bukan Bu Gita tidak ingin membantu menantunya, bisa-bisa saja dia mengatakan itu pada putranya, dan tentu Aksara tidak akan pernah menolak permintaan ibu nya, namun jika Bu Gita membantu Khadijah, maka tidak akan ada kesempatan Khadijah untuk semakin dekat dengan Aksara, 'pikir Bu Gita'.
Meski pernikahan diantara keduanya adalah sebuah keterpaksaan saja, namun Bu Gita sendiri menaruh harapan besar atas Khadijah, pun Bu Gita juga berharap Khadijah akan segera melahirkan Aksara kecil nanti nya.
Mendengar ucapan ibu mertuanya, jujur saja memang benar ada nya, karena baiknya Khadijah meminta izin langsung pada Aksara.
"Baik Ma. Semoga Mas Aksa mau memberi izin Dijah nanti nya"
"Aamiin "
Keduanya lantas kembali menikmati sisa minuman yang tinggal beberapa teguk saja.
"Mama udah ngantuk, Mama ke kamar dulu ya"
"Iya Ma. Dijah mau tunggu Mas Aksa dulu Ma"
Setelah panjang lebar perbincangan antara Bu Gita dan Khadijah, kini hanya menyisakan Khadijah yang masih setia duduk di ruang tengah menanti kedatangan suaminya.
Sekelebat ingatan Khadijah, menangkap perbincangan dirinya kemarin malam dengan Dirga.
Tidak pikir panjang, Khadijah memilih untuk bangkit dari duduk nya, dan langsung masuk saja ke kamar nya, karena tidak ingin interaksi seperti kemarin malam kembali terjadi.
Berada di kamar, Khadijah merasa sedikit lega, meski tidak sepenuhnya tenang hati nya. Karena tujuan utama Khadijah belum dia sampaikan pada Aksara.
Tidak ingin melewatkan kepulangan Aksara, Khadijah memilih untuk membuka sedikit hordeng jendelanya, menunggu sang suami dari balik pembatas kaca di sana, tujuannya hanya satu untuk melihat kapan suaminya akan kembali. Dan Khadijah bisa segera meminta izin pada Aksara untuk menemui Abah nya.
Sembari menanti, Khadijah memanfaatkan waktu untuk Murojaah. Mengirimkan tanda cinta melalui doa untuk Abah yang berada jauh di sana.
__ADS_1
***