TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 57. SKIN TO SKIN


__ADS_3

...Berbohong adalah urusanmu, Sebab tugasku cuma pura-pura percaya, untuk membuatmu bahagia....


...☘️...


Seperti yang sudah Aksara katakan sebelumnya, kedua nya akan tidur terpisah, Khadijah tidur di kamar dan Aksara akan tidur di sofa.


Tidak ingin berdebat dengan Aksara, tentu saja Khadijah memilih menerima titah suaminya, Khadijah kembali masuk ke dalam kamarnya. Namun tidak berselang lama dia keluar lagi dengan membawa bantal dan guling untuk suami nya.


 Khadijah tengah sibuk menyiapkan bantal dan guling untuk Aksara, yang dia tata di atas sofa, sementara Aksara tengah berdiri di balkon apartemennya.


Meski berada di balkon, namun tatapan Aksara tertuju pada Khadijah, sungguh Khadijah sangat berbeda dan itu mampu membius mata Aksara untuk selalu menatapnya.


Mendapati kemolekan tubuh istrinya, tentu saja Aksara harus susah payah menelan ludahnya, menyadari sesuatu di bawah sana telah mengeras tanpa diminta.


"Mas"


Suara lembut Khadijah yang seketika membuyarkan lamunan Aksara , dan entah sejak kapan, Aksara mendapati Khadijah telah berdiri tepat di hadapannya.


Sepoi angin malam meniup anak rambut Khadijah terurai, menutup sebagian wajahnya, hitam rambutnya tentu sangat kontras dengan warna kulit di wajah Khadijah, dan hal itu tentu saja membuat Aksara semakin bergairah.


"Ada apa ?" ucapan Aksara


Mendengar pertanyaan suaminya, Khadijah pun lantas tersenyum.


"Cuma mau mengingatkan Mas Aksa, sudah lewat tengah malam, sebaiknya Mas Aksa segera istirahat"


"Lagi pula berada di sini lebih lama tentu tidak baik untuk kesehatan Mas Aksa"


Menyadari angin malam di balkon apartemen Aksara memang cukup kencang, dan benar apa kata Khadijah, baru beberapa saat Aksara merasa tubuhnya begitu dingin.


"Em" jawab Aksara singkat.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Khadijah pun lantas kembali masuk, beranjak meninggalkan Aksara yang agaknya masih betah berlama-lama di sana.


***


Waktu menunjukkan pukul 02.47


Dini hari terasa begitu sepi, hiruk pikuk kota Jakarta telah terhenti sejak beberapa jam sebelumnya.


Meski tengah berhalangan, namun Kebiasaan malam Khadijah yang melaksanakan tahajud, membuatnya terbangun saat itu. Selain itu Khadijah terbangun, karena sebab dahaga yang mulai melanda tenggorokan nya.


Sayup-sayup Khadijah mendengar di luar sana, seseorang tengah bersin-bersin, dan yang Khadijah yakini suara tersebut merupakan milik suaminya 'Aksara'.


'Mas Aksa kenapa ?' gumam Khadijah dalam hati nya.


Perlahan namun pasti, Khadijah beranjak dari tidurnya, keluar dari kamar dan menghampiri Aksara yang tengah meringkuk di atas sofa.


Benar saja, suara yang sebelumnya Khadijah dengar merupakan suara Aksara yang sepertinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Mas ?. Mas Aksa kenapa ?" ucap Khadijah


Tidak adanya termometer sehingga membuat Khadijah sulit menentukan berapa suhu tubuh suami nya, namun yang jelas buku-buku tangan Khadijah menangkap jika suhu tubuh Aksara sangat tinggi rasa nya.


Khadijah pun lantas mengambil Baki menyiapkan air dan juga handuk kecil untuk mengompres Aksara, sebagai pertolongan pertama terhadap demam yang tengah dialaminya.


Kepanikan mulai melanda, sementara di Apartemen Aksara, tidak terdapat satu obat pun di sana.


Sembari memberikan kompres pada kening Aksara, Khadijah pun berencana untuk menghubungi Bu Gita, namun seketika dia urungkan niatnya, sebab tidak mungkin Khadijah mengganggu mertuanya di saat pagi buta seperti ini.


Khadijah pun lantas berpikir untuk menghubungi Dion asisten pribadi Aksara, tanpa pikir panjang, Khadijah langsung saja mencari kontak Dion di ponsel nya, namun baru saja dia ingat jika Khadijah tidak memiliki nya.


Tidak menyerah, Khadijah meraih ponsel Aksara yang dia letakkan di meja, dan mencoba mencari bantuan di sana, namun nihil sebab Aksara mencantumkan smart lock di ponselnya.

__ADS_1


Dalam situasi seperti ini, tentu Khadijah tidak boleh panik, berbekal pengalaman yang dia miliki, Khadijah pun lantas memikirkan ide dan cara lain untuk membantu Aksara.


Tidak ada pilihan dan cara lain bagi Khadijah saat ini selain menghangatkan Aksara dengan tubuhnya, 'Pikir Khadijah' .


Jujur saja sempat ada keraguan di hati Khadijah, sebab mungkin saja Aksara akan dengan tegas menolaknya, namun mengingat kondisi Aksara yang tidak baik-baik saja, Khadijah tentu tidak bisa tinggal diam, dia sudah pasti tidak cukup tega, untuk membiarkan Aksara begitu saja.


Khadijah lantas kembali ke kamarnya, dan tidak butuh waktu lama Khadijah keluar lagi dengan membawa selimut untuk Aksara, tidak sampai di situ, Khadijah pun lantas melepaskan outer yang dia kenakan sebelumnya. Dan tidak hanya dirinya saja, sebab Khadijah juga melepaskan kancing piyama yang dikenakan oleh Aksara, melepaskan baju bagian atasnya.


Khadijah pun seolah menghilangkan rasa malunya, sebab saat ini tentu Aksara lebih membutuhkan pertolongan dari nya.


Sofa yang sebelumnya digunakan Aksara cukup lebar, dan sepertinya muat untuk digunakan bersama, tanpa pikir panjang Khadijah pun langsung saja memeluk tubuh Aksara yang menggigil karena kedinginan, tidak lupa Khadijah menutupi tubuh mereka dengan selimut yang sebelumnya dia bawa.


Sementara Aksara yang tengah tidak berdaya, Hanya bisa pasrah dan menerima apapun yang Khadijah lakukan padanya, karena tentu yang dilakukan istrinya, adalah yang terbaik untuk nya, 'pikir Aksara'.


Aksara merasa kan lembut kulit Khadijah menyentuh kulitnya, hangat tubuhnya begitu menenangkan bagi Aksara, rasa dingin yang sebelumnya begitu mengulitinya hilang dan sirna begitu saja. Seolah Aksara telah mendapatkan obatnya dari Khadijah.


Meski tengah dalam kondisi tidak berdaya, namun otak Aksara masih jelas dan sadar untuk mengingatnya, apa yang saat ini Khadijah lakukan padanya.


Waktu semakin bergulir, tanpa terasa suhu tubuh Aksara mulai turun dan tampaknya semakin baik-baik saja. Rasa kantuk membuat Khadijah kembali memejamkan matanya , entah Karena rasa lelah, mengantuk, atau memang Khadijah merasa nyaman berada dalam dekapan Aksara.


Entah Sejak kapan, Khadijah yang sebelumnya memeluk Aksara , justru kini berbalik Aksara yang memeluk dirinya.


Dua jam setengah, ternyata cukup bagi Aksara untuk memulihkan dan mengembalikan kesehatan dan kebugaran tubuh nya. Mungkin saja semua ini memang berkat dari Khadijah, yang dengan ikhlas merawat dirinya, 'pikir Aksara'.


Aksara sudah terjaga sejak beberapa menit yang lalu, sementara Khadijah tampaknya begitu lelap dalam tidurnya. Begitu juga Aksara yang tidak menyangka, jika pagi ini dia akan sedekat ini dengan Khadijah.


Bukan ingin memanfaatkan kesempatan, hanya saja Aksara ingin memanfaatkan peluang, dan entah mengapa Aksara justru ingin berlama-lama dengan Khadijah.


Lembut kulitnya, membuat Aksara tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Aksara pun lantas memeluk Khadijah sama seperti yang dilakukan Khadijah sebelumnya pada dirinya.


Tidak lupa Aksara menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Khadijah, tidak disangka jika wajah istrinya benar-benar mengagumkan di mata Aksara.

__ADS_1


Aksara pun lantas tersenyum melihat teduhnya wajah Khadijah yang berada dalam pelukannya. Sungguh ini merupakan kali pertama bagi Aksara merasakan jantungnya bertahun-tahu tak menentu, bahkan hal ini belum pernah dia rasakan pada Marissa, sosok wanita yang sebelumnya pernah sangat Aksara cinta.


***


__ADS_2