
...Mungkin memang belum sampai, Namun bukan berarti tidak tercapai...
...☘️...
Sinar Surya semakin menampakkan eksistensinya, hiruk pikuk kota Jakarta juga semakin terasa, polusi udara yang juga tidak kalah di sana, semakin membumbung tinggi di udara, namun hal itu tidak sedikitpun menyurutkan niat Aksara pada Khadijah.
Meski sinar mentari telah menyapa di pagi ini, sebab malam tadi nyatanya Aksara lupa menutup pintu balkonnya.
Hal itu juga yang mungkin menyebabkan Aksara malam tadi mendadak demam dan menggigil kedinginan. Sungguh kekonyolan yang sudah di takdirkan oleh Sang Maha Kuasa, atau memang kesengajaan dari Aksara, 'Entah lah'.
Perlahan namun pasti Khadijah pun menggelengkan kepalanya, menatap wajah sendu Aksara yang seolah menginginkan sesuatu dari diri nya, namun untuk saat ini belum dapat Khadijah penuhi tugas sebagai seorang istri.
"Maaf mas Khadijah belum bisa"
Melihat respon Khadijah, Aksara pun lantas menautkan kedua alisnya, menampakkan guratan-guratan halus di keningnya, menatap tidak percaya pada sosok wanita di hadapan nya.
"Kamu menolak ku ?"
Ucap Aksara dengan kekesalan di wajahnya, dan hal itu tentu saja tidak luput dari penglihatan Khadijah. Menyadari perubahan sikap suaminya tentu Khadijah pun tahu jika saat ini Aksara kecewa padanya. Cepat-cepat Khadijah memberikan penjelasan pada Aksara.
"Bukan begitu Mas, hanya saja memang saat ini Khadijah belum bisa" ujar Khadijah terbata.
"Kenapa ?"
Jujur saja Aksara penasaran sebab Apa yang membuat Khadijah menolak diri nya, dan menolak permintaan pertamanya. Karena yang Aksara tahu, dalam agamanya Seorang Istri dilarang keras menolak permintaan suami.
Meski tidak begitu paham tentang agama, namun untuk hal itu Aksara tentu saja mengerti. Terlebih mengenai yang satu ini.
Aksara yang belum bisa menerima sebab penolakan Khadijah, seketika menajamkan penglihatannya, menatap lekat wajah wanita di hadapannya, dan menantikan penjelasan apa yang akan Khadijah berikan padanya.
"Khadijah tidak bisa bukan karena tidak Mau mas, Tapi karena memang tidak bisa"
"Untuk saat ini Khadijah sedang berhalangan, itu sebabnya, belum bisa memberikan hak mas Aksa atas diri Khadijah"
Sempat ragu untuk mengatakan hal itu, namun Khadijah juga tidak bisa untuk diam saja, karena Aksara akan kecewa dan tentu saja marah pada nya. Sebab komunikasi tentu yang utama dalam keberlangsungan rumah tangga. Terutama bagi mereka yang baru saja membina, Seperti hal nya Aksara dan Khadijah.
Perlahan namun pasti, Khadijah pun mengulurkan tangannya, mengusap lembut dada Aksara, dan mengatakan sesuatu di sana.
__ADS_1
"Sabar sebentar ya, tunggu sampai saat nya tiba" Bisik Khadijah tepat di depan dada kekar Aksara.
Aksara pun lantas tersenyum, melihat sikap Khadijah dan kelembutan yang ditunjukkan pada dirinya, sempat akan marah namun seketika sirna begitu saja, Entah mengapa kelembutan Khadijah membuatnya terlena.
Aksara pun lantas mengerat kan tangannya, mengikis jarak di antara mereka, dan entah mengapa tiba-tiba saja Aksara pun tertawa menyadari kekonyolan dirinya.
Begitu juga dengan Khadijah yang sedikit demi sedikit mulai merasakan perubahan besar dari Aksara, baru kemarin rasanya Aksara begitu dingin pada dirinya, namun hari ini Khadijah merasakan kelembutan dari suaminya. Dan juga merupakan kali pertama Khadijah merasakan hal itu dari seorang pria.
Khadijah menyadari Aksara semakin mendekatkan wajahnya, dan hal itu tentu saja membuat Khadijah kembali merasakan gugup luar biasa.
Aksara semakin mendekat, bahkan Khadijah dapat merasakan hangat nya hembusan nafas suami yang menyentuh kulit pipi nya. Meski jantung bertalu tak menentu, namun untuk permintaan Aksara yang satu ini mungkin saja Khadijah bisa memberikan nya.
Ceklek.
Keduanya terkejut bukan main mendapati Bu Gita telah berada tepat di hadapan mereka, namun nyatanya tidak hanya Mereka saja yang terkejut, sebab Bu Gita pun juga begitu terkejut melihat Putra dan menantunya dalam posisi yang sangat tidak terduga.
"Ma !!!!"
Teriak Aksara dengan menutup wajah Khadijah.
Bu Gita pun berbalik membelakangi mereka. Sebab Bu Gita tentu tahu jika mungkin saja saat ini menantu nya sangat malu.
Begitu panik setelah membaca pesan singkat dari Khadijah yang mengatakan jika Aksara, semalam mengalami demam, membuat wanita paruh baya itu bersiap melihat kondisi putranya.
Nahas Bu Gita yang memang mengetahui segalanya tentang kedua putranya, termasuk Smart Lock apartemen Aksara, memilih masuk begitu saja tanpa permisi sebelumnya, dan pemandangan pagi ini cukup mengejutkan baginya.
Bu Gita pun terkekeh menyadari kekonyolan dirinya, dan juga bahagia dengan pemandangan pagi ini, yang begitu menyegarkan matanya.
Sepertinya Bu Gita perlu menanyakan apa yang semalam terjadi pada Khadijah, namun itu nanti, 'pikir Bu Gita' Bu Gita pun lantas tertawa.
Menyadari Khadijah telah masuk ke dalam kamar, Bu Gita pun lantas mendekati putranya, dan duduk di sofa tepat di samping Aksara.
Meski begitu merasa malu, namun Aksara seolah bersikap biasa saja, seperti sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa.
"Katanya sakit !!"
Ujar Bu Gita sembari meletakkan barang bawaannya, Paperbag yang merupakan makanan untuk sarapan Khadijah dan Aksara. Bukan masakannya sebab Bu Gita memesannya dari restoran yang dia lewati sebelumnya.
__ADS_1
"Eh nggak tahu nya malah enak-enak"
Mendengar ucapan bernada sindiran dari orang tuanya, tentu saja Aksara semakin merasa malu, namun Aksara tetap bersikap biasa saja.
"Tumben mama pagi-pagi kesini"
"Memangnya nggak boleh !!"
Sejujurnya keduanya hanya berbasa-basi saja, sebab Aksara tentu tahu alasan ibunya ke sana dan begitupun juga dengan Bu Gita.
"Gimana Cantik kan ?!!" Goda Bu Gita pada putranya.
Sembari menyiapkan makanan di meja, Bu Gita sekali membercandai putranya, dan tentu saja hal itu seketika membuat wajah Aksara memerah seketika.
"Udah lah lama" keluh Aksara yang tidak tahan dengan godaan dari mamanya.
"Makanya jangan sok jual mahal jadi orang, Baru tahu rasa kan pas udah liat lemper di buka. Beuhhhh !!!"
Bu Gita begitu menggebu menggoda putranya, dan tentu saja hal itu semakin membuat Aksara mati kutu saja.
"Ma. Please!!"
Tidak ingin perbincangan mereka didengar oleh Khadijah, yang nantinya mungkin juga akan membuat istrinya merasa malu, Aksara pun memohon pada ibunya untuk tidak lagi membercandai nya.
Bu Gita pun lantas tertawa seketika, melihat perubahan sikap putranya yang begitu mengkhawatirkan Khadijah. Hal ini tentu sangat kontras dengan sikap Aksara sebelum nya, yang terkesan acuh dan abai pada Khadijah.
Tidak butuh waktu lama, Khadijah telah kembali keluar dari kamarnya, menyusul ibu mertua yang sibuk menyiapkan sarapan di meja makan.
"Maaf ma"
Kata pertama yang tiba-tiba saja keluar dari mulut Khadijah.
Bu Gita lantas tersenyum pada menantu nya, dan menepuk lembut bahu Khadijah.
"Kenapa harus minta maaf ?. Mama justru senang sekali"
***
__ADS_1