
Waktu menunjukkan pukul 00.45
Sudah lewat tengah malam dan Aksara belum juga menyelesaikan pekerjaan yang telah tertunda satu Minggu lamanya.
Sementara berada di Jombang memang Aksara meminta pada Asisten pribadi nya untuk tidak sekalipun di ganggu dengan pekerjaan jenis apapun itu.
Namun ini lah imbas dari dia yang tidak bekerja dalam waktu yang cukup lama. Meski merupakan seorang CEO dari AVB Group Aksara tetap akan bertanggung jawab penuh atas semua pekerjaan bawahannya.
Tidak hanya lelah, namun Aksara juga merasakan kantuk yang teramat sangat, hingga untuk sesaat Aksara memilih menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya.
Tidak ingin larut dalam kenikmatan kursi kebesaran, Aksara memilih memainkan ponselnya, sebab jika dia hanya diam saja, tentu sudah pasti matanya akan lelap begitu saja.
Hal pertama yang Aksara lakukan tentu mengecek berita hari ini, mengamati progres kompetitor perusahaanya, dan pastinya mengecek pesan, atau panggilan telepon yang masuk kedalam ponsel nya.
Sebuah nama yang tidak asing bagi Aksara mengirim cukup banyak pesan pada nya. Tidak hanya itu saja, Terdapat pula panggilan telepon yang juga dilakukan beberapa kali.
Melihat siapa pengirimnya, Aksara memutuskan untuk segera menghubungi seseorang.
Tidak butuh waktu lama panggilan telepon darinya segera mendapat sambutan dari sang penerima.
"Selamat malam pak, ada yang bisa saya bantu?"
Terdengar suara sumbang dari ujung telepon Aksara, namun hal itu wajah saja, sebab saat ini merupakan tengah malam, sudah pasti orang yang dia hubungi baru saja bangun dari alam mimpi.
Aksara lantas mengatakan apa yang ingin dia katakan, tanpa bertele-tele Aksara memerintah Asisten pribadi nya malam itu juga.
***
Asilla merasa tubuhnya begitu lelah, hingga tanpa terasa matanya terpejam begitu saja. Asilla yang sebelumnya beberapa kali menghubungkan panggilan pada Aksara memilih untuk menghubungi bosnya di luar ruangan Marissa.
Bukan tanpa alasan, Asilla hanya tidak ingin mengganggu Marissa, namun justru dirinya yang tertidur di kursi jaga depan ruangan Marissa.
Asilla terbangun tatkala tubuhnya merasa hangat, tidak seperti sebelumnya yang begitu terasa dingin dan menusuk tulang.
Bagaiman tidak, Asilla hanya mengenakan kemeja tipis dengan rok pendek sebatas lutut nya sejak pulang kerja tadi, tentu pendinginan di rumah sakit membuatnya begitu kedinginan.
Asilla mencoba mengerjabkan mata nya, meski begitu ngantuk namun Asilla tetap berusaha untuk terjaga. Setelah kesadarannya kembali sempurna, Asilla mendapati, sebuah jaket yang telah menempel di bahu nya, namun yang tidak kalah mengagetkan, Dion telah duduk di samping Asilla tidur sebelum nya.
Sama hal nya dengan Asilla, Dion pun juga beberapa kali menguap menahan kantuk nya.
"Ngagetin aja Loe !!"
__ADS_1
"Ngapain Loe Kesini ??"
Jujur Asilla merasa kesal sebab pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban dari Dion yang jelas duduk di sampingnya. Meski Asilla melihat Dion memejamkan mata nya, namun Asilla yakin jika Dion tidak tidur.
"Ishhh... Dasar kulkas dua pintu !!!"
"Sana tidur aja terosss !!!" Ketus Asilla
Mendengar hal itu, Dion hanya menguap dan mengabaikan Asilla. Jujur saja rasa kantuk membuatnya malas berbicara apalagi berdebat dengan partner kerja yang selalu membuatnya pusing.
"Lagian, Siapa suruh hubungin Pak Aksa malem-malem !!!".
"Ganjen amat sih Loe !!!"
Mendengar ucapan Dion sebelum nya, sontak saja hal itu membuat Asilla merasa geram tentu nya. Bukan bermaksud mengganggu, hanya saja Asilla merasa buntu sejak dokter menanyakan keluarga Marissa, dan yang terlintas dalam pikirannya hanya Aksara saja.
"Siapa yang ganjen !!!"
"Lagian gue kan juga gak salah, Dia kan emang mantannya pak Aksa !!"
Asilla yang tidak ingin di salahkan memilih meninggikan suaranya untuk menguatkan argumen nya.
"Cuma mantan ganjen !!! Udah gak punya hubungan !!" Ucap Dion dengan wajah malas.
Meski merasa kesal, namun Asilla tidak berniat untuk mengajak Dion berdebat lagi, jujur saja Asilla juga merasa begitu ngantuk saat ini.
"Nih jaket loe !!"
Asilla menyerahkan jaket Dion dengan paksa. Melihat tingkah dan sikap arogan Asilla Dion hanya menghela nafas dalam saja.
"Pakai !!!"
"Aku tidak mau kamu masuk angin dan besok tidak ke kantor, karena alasan sakit !!"
Dion pun tidak kalah ketus, hingga memaksa Asilla untuk mengenakan jaket nya. Dan benar saja gertakan Dion membaut nyali Asilla menciut seketika. Mau tidak mau pada akhirnya Asilla menerima dan mengenakan jaket milik Dion.
Sama-sama merasa ngantuk, keduanya sudah saling tidak bersemangat untuk kembali berdebat, Asilla memutuskan untuk segera memejamkan matanya, meski hanya bisa duduk di kursi jaga, namun setidaknya itu lebih baik karena saat ini sudah ada Dion yang menemani dirinya. Urusan Marissa akan dia pikirkan lagi besok.
***
Ayam bangkok peliharaan Pak Lukman sepertinya berkokok lebih awal dari hari-hari biasanya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Aksara yang nyatanya terlelap di atas kursi kebesarannya, terbangun karena alarm alam dari ayam Bangkok sang papa.
__ADS_1
"Hoammm !!!"
Dengan tergesa Aksara berjalan keluar dari ruang kerjanya, namun dari kejauhan tampak Aksara melihat Khadijah tengah tetap dalam tidurnya.
Wajah teduh Khadijah tentu membuat Aksara tidak tega untuk membangunkannya, meskipun Aksara begitu sangat menginginkan Khadijah untuk memuaskan nafsunya.
Aksara memilih membaringkan tubuhnya di samping Khadijah, membelai lembut pipi mulus sang istri yang pada siang hari tertutup oleh cadar, dan hanya Aksara yang dapat menikmatinya. Wajah cantik Khadijah yang tentu hanya Aksara sebagai pemiliknya.
Aksara pun lantas tersenyum, menyadari betapa beruntung dirinya memiliki Khadijah, wanita sholehah yang tidak hanya terjaga wajahnya namun hatinya, tingkah laku, dan budi pekertinya, semua yang ada pada Khadijah tampak sempurna di mata Aksara.
"I Love You Sayang" Ucap Aksara lembut dengan senyum menghiasi bibir nya.
"Astaghfirullah . Mas !!"
"Mas Ngagetin aja !"
Sayup-sayup Khadijah mendengar ucapan Aksara sebelumnya, hal itu membuat Khadijah terbangun dari tidurnya, dan sungguh terkejut mendapati Aksara yang telah berbaring di sampingnya, dengan begitu dalam menatap dirinya.
"Ya Allah mas, Maaf Dijah nggak tahu mas udah di sini"
Sungguh Khadijah begitu menyesal telah mengabaikan Aksara, hingga dia tidak mengetahui suaminya telah selesai dari pekerjaan sebelumnya. Namun berbeda halnya dengan Aksara yang justru menampakkan senyum bahagia.
"Tidak sayang aku juga baru saja"
Tidak ingin membuat Khadijah merasa bersalah, sebab Aksara sendiri pun juga sebelumnya tertidur di ruang kerja karena ketidaksengajaan nya.
"Dijah Siap-siap ya mas" Lirih Khadijah dengan beranjak bangkit dari tidur nya.
"Eits mau kemana ?"
Aksara menghentikan Khadijah sebelum dia beranjak meninggalkan tempat tidur, menyadari Khadijah ingin beranjak dari sisinya, Aksara pun sigap kembali menarik Khadijah untuk kembali tidur di samping nya.
"Mas. Bukankah tadi mas bilang menginginkan Khadijah ?"
Mendengar ucapan lirih Khadijah tentu saja Aksara ingin sekali tertawa, namun melihat kepolosan istrinya Aksara merasa tidak tega untuk menertawakan Khadijah. Aksara tidak menyangka jika Khadijah masih mengingat permintaan nya sebelum Khadijah tidur.
Entah mengapa sikap Khadijha membuat sudut hati Aksara menghangat tatkala Khadijah masih memikirkan tentang kewajiban dan permintaannya.
"Kita lakukan nanti saja sayang setelah solat subuh"
"Sebentar lagi subuh, nanti tidak puas"
__ADS_1
Bisikan Aksara yang tepat di telinga, membuat Khadijah membulatkan kedua bola matanya, Khadijah yang sebelumnya masih merasa begitu ngantuk, kini terjaga seutuhnya dan kesadarannya kembali sempurna tatkala mendengar ucapan Aksara yang begitu menggoda iman nya.
***