
Davira sontak menyeka kasar air mata yang membasahi pipinya, ia berusaha agar berhenti untuk menangis karena tidak ingin terlihat lemah di hadapan Nathan. Davira tidak ingin jika Nathan merasa berhasil telah menyiksanya dan membuat hidupnya menderita.
Pria itu kini berjongkok di belakangnya membuat Davira segera berbalik dan menepis kasar tangan Nathan yang berada di kedua pundaknya. Ia menatap Nathan dengan matanya yang memerah dan terlihat begitu sembab.
"Berhenti menangisi pria itu, aku tidak ingin melihatmu seperti ini, Davira," Nathan menatap dalam manik mata milik wanita di hadapannya.
Davira tertegun untuk sejenak, ia menatap Nathan dengan tatapan tidak percaya.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu di saat kaulah yang sudah membuatku kehilangan semuanya! Jika kau tidak ingin melihat aku menangis, maka seharusnya kau melepaskan aku saat ini."
"Bukan itu poin utama dari ucapan ku, Davira. Aku tidak ingin kau terus-menerus menangisi kematian pria itu! Damian tidak pantas untukmu dan dia tidak sebaik yang kau pikirkan! Kau harus mengetahui hal itu, selama ini kau tidak pernah mencari tahu tentang kekasihmu sendiri. Kau pikir dia adalah malaikat, Davira?" Nathan menggelengkan kepalanya pelan.
"Dia adalah iblis yang sebenarnya, dan kau sudah tertipu terlalu lama."
Davira mengepalkan tangannya kemudian berniat menampar wajah Nathan karena merasa begitu marah, namun pria itu dengan cepat menahan tangannya.
"Harusnya kau malu telah mengatakan hal itu Nathan! Kau telah membunuh Damian di depan mataku lalu sekarang kau menyebut bahwa dia adalah seorang iblis? Apa kau tidak berkaca dan tidak menyadari satu hal yang sangat penting? Kaulah iblis itu, Nathan. Kau sudah membuat aku kehilangan banyak hal dalam hidupku, jadi jangan pernah menjelek-jelekkan Damian lagi karena aku tahu siapa yang harus dibenci di sini!"
Nathan sontak mendorong tubuh Davira membuat wanita itu terhimpit di antara pembatas balkon, tangannya mencengkram kuat rahang Davira hingga terlihat memerah.
"Mulai sekarang kau harus melupakan Damian, hatimu dan pikiranmu harus terbebas darinya. Aku tidak ingin jika milikku terus mengenang pria lain, Damian sudah mati, Davira. Dia tidak akan kembali lagi, jadi lupakan dia sekarang!" suara Nathan terdengar meninggi.
Davira meringis kesakitan sembari memukul-mukul lengan kekar Nathan.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah melupakan Damian dan sampai kapanpun aku bukan milikmu, Nathan. Harus berapa kali aku mengatakan hal ini kepadamu?" tanya Davira disela-sela ringisannya.
Praang.
Nathan meninju besi pembatas balkon tepat di sebelah wajah Davira hingga wanita itu terperanjat kaget.
"Lupakan Damian dan cintai aku, maka kau akan merasakan surga. Tapi sepertinya kau lebih memilih neraka untuk saat ini," Nathan melepaskan cengkeramannya dari wajah Davira dengan kasar.
Rahang Nathan terlihat mengeras menahan amarah, sedangkan Davira hanya diam menatapnya dengan nafas yang terdengar memburu.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Nathan langsung pergi begitu saja meninggalkan Davira yang terduduk di lantai. Davira mengepalkan tangannya kuat menatap punggung Nathan yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.
"Arghhh...... bisa-bisanya dia mengatakan hal-hal buruk tentang Damian?!" teriaknya merasa tidak terima.
Davira mengusap pelan rahangnya yang terasa begitu perih dan juga sakit, ia segera berdiri dan membawa langkah kakinya menjauh dari balkon. Davira berhenti di depan cermin untuk menatap pantulan wajahnya yang terlihat begitu kacau, mata yang sembab dan rahang yang memerah.
Davira langsung membuka lemari dan mengambil gaun tidur berwarna silver yang cukup panjang. Davira segera mengganti pakaiannya dengan gaun tidur itu, ia sudah sangat mengantuk dan perlu memejamkan matanya saat ini walaupun malam belum sepenuhnya tiba.
Setelah selesai berganti pakaian, Davira memandangi pantulan dirinya di cermin untuk beberapa saat sebelum keluar dari walk in closet itu, gaun tidur itu kelihatan begitu pas di tubuhnya. Hal itu membuat Davira merasa kebingungan karena pakaian-pakaian yang ada di sana memang sepertinya cocok dengan ukurannya.
Davira langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkelana sebelum rasa kantuk benar-benar menelannya.
π_π
__ADS_1
Nathan melirik jarum jam yang sudah menunjukkan pukul satu malam, dia masih belum bisa terlelap padahal pekerjaannya sudah selesai sejak dua jam yang lalu. Dia terus berusaha untuk memejamkan matanya, tetapi tidak bisa.
Nathan menghembuskan nafasnya kasar, ia terus-menerus memikirkan Davira dan menyesali perbuatannya kepada wanita itu beberapa saat yang lalu. Tidak seharusnya dia bersikap se-kasar itu kepada Davira yang sedang terpuruk.
Entah mengapa dia tidak bisa menahan emosinya saat mengetahui Davira masih saja menangisi Damian, Nathan merasa marah dan cemburu dengan fakta yang mengatakan bahwa Davira masih mencintai pria lain.
Sebenarnya Nathan tahu dan paham betul bahwa melupakan seseorang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi apa boleh buat? Dia tidak bisa menahan amarahnya dan Davira terus saja memancingnya.
Nathan merubah posisinya menjadi duduk, ia memijit pangkal hidungnya kemudian berdiri. Nathan menatap punggung tangannya yang terlihat memerah karena memukul besi pembatas di balkon kamar Davira. Tanpa pikir panjang lagi, pria itu segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamarnya dan pergi menuju ke kamar Davira.
Beberapa pengawal yang berjaga di depan pintu kamar wanita itu terlihat terkejut melihat kedatangannya. Nathan hanya menatap mereka sekilas kemudian masuk tanpa mengatakan apapun kepada pengawal-pengawal yang sedang bertugas malam.
Nathan menatap Davira yang saat ini tengah terlelap, sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk sebuah senyuman yang teramat tipis. Pria itu segera naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Davira, ia memandangi wajah cantik Davira dari jarak yang begitu dekat.
Dapat ia dengar deru nafas Davira yang terdengar begitu teratur, hal itu membuat perasaan Nathan langsung merasa tenang.
Tangannya kini bergerak mengusap rahang Davira, masih terlihat bekas kemerahan akibat cengkeramannya.
"Maafkan aku, Davira," gumamnya begitu pelan karena takut mengganggu tidur nyenyak wanita itu.
Nathan segera menarik pinggang Davira dan memeluknya seperti guling, ia meletakkan dagunya di atas kepala Davira yang kini tenggelam di pelukannya. Nathan menghirup dalam-dalam aroma rambut Davira yang begitu ia sukai, aroma favoritnya dan baru kali ini dia benar-benar bisa menikmatinya dengan jarak sedekat ini.
Ia tersenyum tipis, untuk pertama kalinya dia merasa begitu nyaman dan tenang. Jika saja Nathan tahu bahwa memeluk Davira senyaman ini, maka sudah dari dulu dia menculiknya dan menyimpan wanita itu hanya untuknya.
__ADS_1
Nathan mulai memejamkan matanya dengan tangan yang mengusap-usap kepala Davira, tiba-tiba saja ia merasakan tangan Davira mulai melingkar di perutnya. Hal itu tentu saja membuat jantung Nathan berdebar-debar, selama hidupnya dia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
"Sialan, ternyata aku benar-benar mencintaimu."