
"Pertemuan satu Juli," gumam Davira baru saja mengingat hal terpenting yang seharusnya tidak dia lupakan.
Sebelumnya dia dan Damian sudah merencanakan akan membalas dendam di hari itu, saat keluarga Xie mengadakan pertemuan di tanggal satu Juli. Dan itu artinya tinggal dua minggu lagi, pertemuan itu adalah kesempatannya untuk bisa membalaskan semua rasa sakitnya.
Tapi bagaimana caranya? Sekarang dia sendirian, tidak memiliki anak buah dan tidak memiliki akses untuk bisa menyewa orang agar melakukan penyerangan. Davira menatap pantulan wajahnya di cermin, dia harus bisa pergi ke sana untuk melihat secara langsung bagaimana pertemuan itu, dan di mana letaknya.
Satu-satunya cara agar dia bisa pergi ke sana hanyalah dengan memintanya kepada Nathan. Dan agar dikabulkan, maka dia harus bersikap baik kepada pria itu. Sekarang dia berharap semoga saja Nathan benar-benar menganggapnya sebagai seorang pasangan, dengan begitu dia akan diperkenalkan kepada keluarga Xie saat pertemuan itu bukan?
Setelah merias wajahnya, Davira segera beranjak dan berjalan keluar kamar. Ia melangkah menuju ke ruang makan, di sana sudah terlihat beberapa hidangan yang tampaknya baru saja selesai dimasak.
Davira melirik ke arah dapur yang pintunya terbuka, dia juga mendengar suara tawa seorang wanita membuatnya segera menghampirinya karena merasa penasaran. Ia mengintip dengan menyembulkan kepalanya, terlihat sosok Emma yang sedang memasak. Wanita itu terlihat ahli dan sepertinya sudah terbiasa berkutat di dapur.
Wajah Emma terlihat begitu cerah dengan senyuman yang terus dia perlihatkan, sedangkan di sebelahnya ada Nathan yang tengah duduk dan memperhatikan. Davira mendengus kasar, lagi-lagi ada Emma. Sudah dua minggu mereka di Roma, dan Emma selalu saja berkunjung. Hampir setiap hari, dan hal itu membuat Davira merasa jengah.
"Seharusnya kau tidak perlu memasak, Emma," entah sudah berapa kali Nathan mengatakannya.
"Diam lah, Nathan. Sedari dulu kau tahu aku selalu merasa senang ketika memasak," sahut Emma membuat Davira yang mendengarnya memutar bola matanya merasa malas.
"Aku tahu, kau bahkan ingin mengikuti kursus memasak. Tapi Om Arthur tidak mengizinkanmu, dan keputusannya sangatlah tepat," ucap Nathan terdengar begitu santai.
Emma berdecak kesal, "Kalian berdua sama saja, padahal tidak ada yang salah dengan memasak."
Davira mengepalkan tangannya, "Ini tidak bisa dibiarkan, bagaimana jika Emma berhasil mengambil hati Nathan? Aku bisa ditendang atau bahkan dibunuh sebelum sempat membalas dendam. Ini tidak boleh terjadi!" batinnya merasa khawatir.
Selain itu, Davira juga merasa kesal melihat kedekatan Nathan dan Emma. Apalagi Emma terlihat begitu ingin menarik perhatian Nathan, Davira yakin bahwa memasak hanyalah akal-akalan Emma agar Nathan merasa tertarik kepadanya.
"Nathan," panggil Davira segera masuk ke dalam dapur.
Raut wajah Emma seketika berubah, Emma hanya tersenyum tipis kepada Davira. Senyum yang sangat dipaksakan, sangat berbeda dengan Nathan yang tentunya langsung berdiri dari duduknya.
Davira menghampiri pria itu, kini tangan Nathan mulai memeluk pinggangnya membuat Davira bersorak gembira di dalam hati. Baru kali ini dia merasa begitu senang ketika disentuh oleh Nathan.
"Ada apa? Kau baru saja bangun, Davira?" tanya Nathan tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantik wanita itu.
"Aku sangat lapar," keluh Davira membuat Nathan mengernyit.
"Ku rasa di meja makan sudah tersedia sarapan untukmu, apakah sudah dingin?"
"Sepertinya belum," jawab Davira kemudian melirik Emma yang sedang membuat pancake.
"Pancake nya terlihat enak, Emma. Kau terlihat pintar memasak," puji Davira sebagai basa-basi.
"Terima kasih, Davira. Ini belum selesai," sahut Emma berusaha untuk tetap tenang, walaupun kini hatinya terbakar melihat tangan Nathan yang melingkar di pinggang Davira seolah pria itu tidak ingin melepaskan Davira barang sedetik pun.
"Nathan, aku ingin makan. Bisakah kau temani aku? Selama dua minggu di sini, kau jarang menemani aku makan. Hanya pernah beberapa kali," ucap Davira membuat Nathan tersadar dan merasa bersalah.
Nathan memang lebih sibuk saat berada di Roma, dia mengurus sesuatu yang sangat penting dan juga Emma yang terus saja ingin berada di dekatnya. Walaupun begitu, kedekatannya dengan Davira juga terjalin cukup baik selama dua minggu berada di Roma.
Nathan masih selalu tidur bersama dengan Davira setiap malamnya, dan Davira sama sekali tidak keberatan. Terkadang mereka masih bertengkar dan Davira masih terus mengumpat kasar kepadanya, namun pertengkaran mereka berlalu begitu saja. Dan Nathan tahu ada yang salah dengan hal itu, Davira seolah sedang menahan emosinya agar tidak meledak-ledak.
"Kita tunggu sampai Emma selesai memasak pancake-nya, bagaimana?" tanya Nathan sembari melirik ke arah Emma yang lebih memilih untuk diam.
"Aku sudah sangat lapar, Nathan. Tapi....jika ingin menunggu Emma, aku akan maka lebih dulu saja. Aku bisa pingsan," Davira segera melepaskan tangan Nathan dari pinggangnya dan berniat untuk melangkahkan kakinya.
Nathan dengan cepat menahan tangan Davira membuat wanita itu tersenyum tipis.
"Aku temani," Nathan tidak ingin membuat Davira merasa kecewa, sekalipun dia tahu wanita itu hanya sedang bersandiwara saat ini.
Nathan ingin Davira tahu bahwa dirinya memanglah prioritas Nathan, hanya dirinya lah yang akan Nathan dahulukan.
"Emma, aku harus menemani Davira sarapan. Jika terlambat, asam lambungnya bisa naik."
"Lalu bagaimana denganku, Nathan?" batin Emma merasa terluka.
"Tidak masalah Nathan, lagi pula aku bisa makan sendirian," sahut Emma membuat Davira mengumpat di dalam hati, Davira tahu bahwa Emma sedang menyindirnya.
__ADS_1
"Ayo Nathan, aku tidak bisa jika tanpamu," ucap Davira lalu menarik tangan Nathan yang menggenggamnya.
Mereka berdua segera berjalan ke arah ruang makan, Nathan langsung menarik satu kursi agar Davira duduk di sana. Beberapa pelayan segera menghampiri dan membantu mereka berdua untuk mengambil makanan yang ingin mereka santap.
"Nona Scott sudah selesai, Tuan?" tanya Berta selaku kepala pelayan.
"Belum, bantulah dia. Tapi jika dia menolak, biarkan saja," jawab Nathan sembari mengambil alih piring Davira dan memotongkan steak ayam untuk wanita itu.
"Baik Tuan," Berta segera memasuki dapur.
Mata Davira terus bergerak mengikuti Berta, sejak pertemuan mereka di hari pertama Davira di mansion ini, Berta seolah menghilang bak ditelan bumi. Pelayan itu tidak lagi menampakkan diri dan setelah dua minggu berlalu, baru hari ini dia kembali melihatnya.
Dan itupun saat ada Nathan di sampingnya, Davira benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk bisa mencari tahu tentang hubungan Nathan dengan Emma. Berta tahu sesuatu, dan sepertinya Berta menghindarinya. Sampai sekarang Davira masih sangat penasaran, hubungan Nathan dan Emma pastinya lebih dari sekedar pertemanan.
"Makanlah," suara Nathan membuyarkan lamunan Davira.
"Terima kasih," ucap Davira secara spontan, padahal selama ini dia tidak pernah mengatakan hal itu kepada Nathan.
Nathan tersenyum tipis lalu mengusap puncak kepala Davira untuk menyalurkan rasa sayangnya kepada wanita itu.
"Aku mencintaimu," ucap Nathan tiba-tiba, dan hal itu membuat Davira hampir saja tersedak.
Nathan buru-buru membantu Davira untuk minum dan mengusap punggung Davira sampai wanita itu kembali tenang.
"Kenapa harus kaget?" tanya Nathan menelisik raut wajah Davira yang tampaknya begitu terkejut.
Davira menggigit bibir bawahnya, dia merasa jantungnya berdebar-debar tidak karuan mendengar pernyataan Nathan barusan. Ini memang bukan pertama kalinya, namun kali ini terasa berbeda. Hatinya menghangat ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Nathan.
"Aku hanya terkejut, tiba-tiba saja kau mengatakan hal itu," Davira berdehem singkat kemudian kembali melanjutkan makanannya, ia berusaha keras untuk menghindari kontak mata dengan Nathan.
"Wajahmu memerah," ucap Nathan membuat Davira semakin gelagapan. Apalagi usapan lembut pria itu terasa di pipinya yang saat ini terasa memanas.
"Nathan, bisakah untuk fokus makan? Jangan memandangiku seperti itu!" bentak Davira sembari memasukkan potongan daging ayam ke dalam mulutnya.
"Kau gugup?"
"Kenapa sekarang kau menjadi sangat menggemaskan?" Nathan mengacak-acak rambut Davira, dia benar-benar melihat sisi lain dari wanita itu.
Dulunya dia hanya mengenal sosok Davira yang tegas, dingin dan tidak tersentuh. Jarang terlihat tersenyum, kecuali jika sedang bersama dengan Damian. Namun sekarang dia melihat wajah Davira yang memerah dan tersipu malu membuat Nathan semakin terpikat dalam pesona wanita itu.
"Pancake kesukaanmu sudah siap, Nathan," suara lembut Emma terdengar membuat Davira menghela nafas lega, setidaknya rasa gugupnya bisa sedikit ia atasi karena fokus Nathan akan terbagi.
Wanita itu terlihat membawa sebuah nampan dan meletakkannya di atas meja, dia duduk di sebelah Nathan lalu meletakkan piring berisi pancake di hadapan pria itu. Pancake buatannya memang terlihat menarik dengan taburan gula halus dan potongan buah di atasnya.
Nathan tertegun melihat hanya ada dua piring berisi pancake, satu piring untuknya dan yang satunya untuk Emma.
"Kenapa hanya diam? Biasanya kau akan langsung memakannya," tanya Emma kemudian melirik ke arah Davira yang terlihat begitu santai menikmati makanannya, Davira terlihat acuh dan tidak mempedulikan kehadirannya.
"Aku akan memakannya, Emma. Pancake buatan mu selalu enak, Davira harus mencobanya," jawab Nathan membuat senyum di wajah Emma luntur seketika.
"Davira, cobalah pancake ini," Nathan memotong pancake itu dan menyodorkannya ke depan mulut Davira.
"Emma, tidak masalah aku memakan pancake buatan mu?" tanya Davira yang sebenarnya merasa begitu senang saat ini.
"Tentu saja, Davira. Kau harus mencobanya, itu adalah pancake kesukaan Nathan dan aku selalu membuatkannya ketika dia sedang berada di sini," jawab Emma kemudian memperlihatkan senyum manisnya.
Davira segera membuka mulutnya untuk menerima suapan Nathan, pupil matanya sedikit melebar merasakan enaknya pancake buatan Emma.
"Ternyata dia benar-benar bisa memasak," batinnya.
"Bagaimana? Kau suka?" tanya Nathan memastikan.
"Sangat suka, rasanya enak. Manisnya pun pas," jawab Davira membuat Nathan kembali menyuapi wanita itu.
"Makanlah kalau begitu," Nathan terlihat menggeser piring Davira dan menggantikannya dengan piring berisi pancake, membiarkan wanita itu memakannya.
__ADS_1
"Nathan, aku membuatkan pancake itu untukmu," tegur Emma akhirnya membuka suara.
Nathan segera memakan potongan kecil pancake dari piring Davira.
"Aku sudah sering memakannya, dan pancake mu memang selalu enak, Emma. Terima kasih, tapi sepertinya Davira menyukainya dan aku akan memberikan pancake itu untuknya. Kau keberatan?"
Emma menggenggam erat garpu di tangannya kemudian terkekeh kecil.
"Sama sekali tidak, Nathan."
Sedangkan di tempat yang berbeda, Julian terlihat sedang duduk di kursi kerjanya sembari menelepon seseorang dengan Amara yang duduk di sampingnya.
"Jadi dia berada di Roma? Nathan membawanya ke mansion?"
Julian menghembuskan asap rokoknya kasar mendengar informasi dari orang-orang suruhannya. Julian segera memutus sambungan teleponnya secara sepihak, dia mengetuk-ngetukkan ujung telunjuknya di atas meja.
"Nathan pindah ke Roma? Pantas saja mansion di Jepang kosong," Amara berdiri dari duduknya.
"Julian, kita harus mulai bergerak. Wanita itu harus kita singkirkan, dia adalah anak dari Gaffar Handoko. Aku tidak ingin wanita itu meracuni pikiran Nathan dan membuat Nathan menjadi semakin membangkang. Aku yakin bahwa Davira akan memanfaatkan Nathan untuk bisa menghancurkan keluarga kita."
Julian memijit pangkal hidungnya, "Diamlah, Amara. Aku sedang memikirkan caranya, Nathan akan semakin melawan kita jika kita membunuh Davira. Kau tahu bagaimana Nathan tergila-gila dengan wanita itu."
"Pikirkan cara yang disarankan oleh Laura, cari kambing hitam itu, Julian. Jangan biarkan tangan kita kotor."
Julian segera menelepon seseorang tanpa pikir panjang lagi.
"Katakan pada bos-mu bahwa saat ini Nathan sedang berada di Roma, dan dia sedang bersama dengan kekasihnya. Katakan kepada bos-mu jika ingin membuat Nathan lemah, maka bunuh Davira," perintah Julian kepada salah satu orangnya yang sudah berhasil menyelinap menjadi anak buah salah satu musuh Nathan selama bertahun-tahun.
"Aku ingin kekasih Nathan yang bernama Davira sudah tiada besok malam."
Setelah melayangkan perintahnya, Julian langsung melemparkan ponselnya ke atas meja.
Amara tersenyum tipis, "Tenanglah, sayang. Semuanya akan berjalan dengan lancar, Nathan tidak akan lama lagi bersama dengan wanita itu."
Tanpa mengatakan apapun, Julian beranjak dari duduknya lalu mengambil ponselnya. Pria itu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan Amara sendirian di dalam sana.
Amara hanya menatapnya datar kemudian mengambil rokok bekas Julian yang masih menyala di dalam asbak. Amara segera menyesapnya dan mengembuskan asap rokoknya secara kasar.
"Wanita mana lagi yang akan kau temui, Julian? Haruskah aku kembali mengotori tanganku?"
ฯ_ฯ
Mobil yang dikemudikan oleh Paul melaju dengan cepat membelah jalanan yang cukup sepi, hari ini mereka harus melakukan transaksi dengan Edgar yang mereka suruh untuk mendatangi mereka ke Roma secara langsung.
Sorot mata Nathan yang dingin melirik ke arah arloji yang menunjukkan pukul 6 pagi, mereka akan pergi ke pelabuhan dan melakukan transaksi terakhir mereka dengan Edgar. Nathan tersenyum miring sembari memasang sarung tangan kulit miliknya.
Butuh waktu 45 menit hingga akhirnya mobilnya berhenti di pelabuhan, beberapa anak buah Nathan turun secara bersamaan. Paul segera membukakan pintu untuk Nathan, pria itu langsung turun dengan penuh wibawa.
Wajahnya yang terlihat begitu tegas membuat Edgar tertegun di tempatnya, Edgar menelan salivanya susah payah. Anak buah yang ia bawa langsung bersiaga di depannya.
"Kita bertemu lagi, Tuan Edgar," sapa Nathan saat sudah berdiri di jembatan.
Sedangkan Edgar masih berada di atas kapal pesiarnya.
Edgar berusaha untuk tetap tenang walaupun terasa sulit karena dia memang melakukan kesalahan. Sekarang Edgar hanya bisa berharap semoga Nathan belum mengetahui tentang rencana yang bahkan belum ia jalankan.
"Tuan Xie, sepertiku di sini ada kesalahpahaman," ucap Edgar menatap manik mata Nathan yang menatapnya dingin.
"Aku belum mengatakan apapun, kenapa mendahuluiku, Tuan Edgar?"
Continue.......
......๐ฆ๐ฆ๐ฆ......
Jangan lupa tinggalkan jejak biar aku makin semangat ngetiknya, mohon maaf kalau misalkan masih banyak typo ya๐
__ADS_1
Semoga kalian sudah dengan cerita itu, kasih dukungan dengan komen, like dan hadiahnya yaa๐นโ
See you All๐