
"Akhh......."
Davira meringis karena titik sakit yang dia rasakan di pergelangan kakinya terus saja dipijat oleh Berta.
"Lalu mansion ini dibiarkan kosong begitu saja? Atau ada keluarga lain yang menempati?" tanya Davira, dia hanya merasa penasaran. Entah mengapa dia ingin mengetahui banyak hal tentang Nathan dan masa lalu Nathan sebelum bertemu dengannya.
Berta tidak langsung menjawab, dia terdiam selama beberapa saat, begitu juga dengan gerakan tangannya.
"Tuan Aaron dulunya tinggal di sini sendirian untuk kuliah," jawab Berta membuat Davira mengernyit.
"Siapa itu Aaron?" Davira tidak terlalu hapal silsilah keluarga Xie yang tentunya sangat banyak.
"Sepupu Tuan Aaron, tapi sekarang dia menetap di Indonesia."
Davira membulatkan sedikit mulutnya pertanda mengerti. Tiba-tiba saja sesuatu terbersit di dalam pikirannya, dia menjadi sangat penasaran dan harus menanyakannya kepada Berta.
"Apa Nathan pernah memiliki kekasih?" tanya Davira dengan mata yang terus menelisik raut wajah Berta.
"Tidak pernah, Nona," Berta mulai berdiri dari duduknya.
"Kaki Nona hanya terkilir biasa dan sudah saya pijat, cobalah digerakkan," ucap pelayan itu membuat Davira segera turun dari ranjang dan berjalan pelan.
"Kau benar, kakiku sudah tidak sakit lagi."
Berta tersenyum tipis kemudian membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Saya permisi, Nona."
"Tunggu dulu," cegah Davira masih memiliki pertanyaan untuk Berta.
"Aku tidak percaya jika Nathan tidak pernah memiliki kekasih," Davira bersedekap dada.
"Tapi saya tidak berbohong, Nona. Entah saya yang memang tidak mengetahui secara pasti, atau Tuan Nathan yang memang benar-benar tidak pernah memiliki kekasih. Lagi pula Tuan tinggal di sini hanya sampai umur lima belas tahun, wajar jika tidak memiliki kekasih. Saya tidak tahu bagaimana kehidupan Tuan di Indonesia, yang jelas......Tuan tidak pernah membawa seorang wanita saat ke sini selain Nona Scott."
"Nah siapa itu Nona Scott?" tanya Davira dengan mata yang memicing.
Berta berdehem singkat kemudian melangkahkan kakinya agar lebih mendekat kepada Davira. Berta tahu bahwa sebenarnya dia tidak diperkenankan untuk banyak bicara dengan Davira, namun melihat Davira yang datang dengan status sebagai tawanan dari Nathan. Dia merasa harus menceritakan sedikit tentang kehidupan Nathan, Berta hanya tidak ingin jika Davira terlalu terkejut nantinya. Melihat hubungan keduanya yang bagaikan sepasang kekasih, Berta ingin Davira mengerti posisi Nathan nantinya.
"Dia..... adalah sahabat Tuan Nathan sedari kecil, nama lengkapnya adalah Emma Scott. Nona Emma akan selalu datang ke sini jika Tuan Nathan datang."
"Emma? Aku yakin hubungannya tidak sebatas persahabatan biasa bukan?"
"Sepertinya Nona harus mengetahui sesuatu, Nona Emma adalah--"
"Kau sudah selesai memijat kaki Davira, Berta?" suara barton terdengar membuat Berta segera berbalik dan menampilkan senyum tipisnya.
Pelayan itu terlihat begitu tenang, ia menundukkan sedikit kepalanya kepada Nathan.
"Sudah, Tuan. Kaki Nona Davira sudah tidak sakit lagi," jawab Berta bersamaan dengan kedua pelayan yang keluar dari walk in closet setelah selesai merapikan barang-barang Davira.
"Kalian bisa pergi," ucap Nathan membuat Berta dan kedua pelayan lainnya meninggalkan kamar Davira.
Nathan segera menutup pintu kamar membuat Davira menatapnya tajam. Selain karena masih marah kepada Nathan, dia juga kesal karena Nathan memotong pembicaraannya dengan Berta. Sekarang Davira begitu penasaran hingga rasanya ingin mati.
"Siapa itu Emma?" batinnya bertanya-tanya, entah mengapa dia ingin tahu dan ingin melihat wajah wanita bernama Emma.
"Ku pikir orang seperti Nathan tidak akan mempunyai teman seorang wanita, aku yakin hubungan mereka bukan sekedar teman," Davira membatin sembari melepaskan mantel polos yang dia kenakan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Davira dengan nada ketusnya.
"Kau pikir apa lagi? Tentu saja melihat keadaanmu," jawab Nathan kemudian berjongkok di hadapan Davira membuat wanita itu terperanjat kaget.
"Kau ingin apa?" Davira kebingungan karena Nathan memegang kakinya yang tadi terkilir.
"Memeriksa apakah Berta melakukan tugasnya dengan benar," Nathan kembali berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah jendela.
Nathan membuka tirai di jendela agar cahaya matahari bisa masuk dan kamar Davira lebih terlihat terang tanpa harus menyalakan lampu karena sekarang memang masih jam 2 siang.
"Kau sudah memeriksa keadaanku, jadi sebaiknya keluar sekarang. Aku ingin istirahat," usir Davira kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Davira, kita perlu bicara," Nathan berdiri di depan jendela dengan membelakangi Davira.
"Tentang apa?" tanya Davira sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Tentangmu," Nathan menghela nafasnya panjang.
"Apakah kau memang se-percaya itu kepada Damian?"
Davira sontak bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk.
"Nathan, aku sudah lelah dan aku tidak ingin berdebat. Ku rasa pertanyaan mu tidak perlu aku jawab."
"Perlu, Davira. Kau harus menjawab pertanyaan ku agar aku tahu langkah apa yang harus ku ambil selanjutnya, kau cukup mengatakan apakah kau sangat mempercayai Damian atau masih ada sedikit keraguan?"
Davira tertegun untuk sejenak di tempatnya, dia menatap punggung Nathan dengan rasa bingung yang menghampirinya.
"Kenapa kau menanyakan hal seperti ini? Tentu saja aku sangat mempercayai Damian, dia adalah calon suamiku. Kami juga bersama cukup lama, aku dan Damian sudah saling mengenal satu sama lain, begitu juga dengan keluarga kami," jawab Davira pada akhirnya.
Mendengar jawaban Davira membuat sudut bibir Nathan sedikit tertarik ke samping, Nathan berbalik membuat netra keduanya kini saling bertubrukan.
"Kau masih menyimpan dendam kepadaku?"
Davira meremas kuat sprei di bawahnya, dia masih dendam dan bahkan merencanakan sesuatu untuk bisa membalaskan dendamnya. Namun haruskah dia mengatakan hal itu kepada Nathan? Tapi dia juga tidak mungkin menjawab bahwa dia telah memaafkan Nathan bukan? Sangat tidak masuk akal dan kebohongannya akan semakin kentara.
"Tentu saja, Nathan. Setiap aku mengingat bagaimana kau menghancurkan pernikahanku, rasanya aku ingin membunuhmu. Dan setiap kali aku mengingat wajah ayah dan ibuku, aku juga ingin membunuhmu."
Nathan menatap manik mata Davira lekat-lekat.
"Bagaimana bisa kau mengetahui bahwa yang menyerang keluargamu waktu itu adalah orang-orang suruhan keluarga Xie?"
Davira tercengang untuk sesaat ia menatap Nathan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Davira merasa marah, kesal, dan ada keinginan untuk membunuh Nathan saat ini juga. Namun satu perasaan juga dia rasakan secara bersamaan, dan Davira tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Entah mengapa perasaan yang dia rasakan membuat hatinya terasa begitu perih dan pikirannya menjadi tidak karuan.
"Kau masih belum ingin mengakui bahwa orang-orang itu memang suruhan keluarga Xie?"
"Aku bertanya, Davira. Jawab saja pertanyaan ku," ucap Nathan dengan suara yang terdengar begitu dingin.
"Tatto, orang-orang mu selalu memakai tatto di leher. Bentuknya X dan naga, aku membunuh dua orang yang memiliki tatto seperti itu. Dan tatto itu adalah bukti yang sangat kuat, kau tidak bisa lagi mengelak Nathan," mata Davira terlihat memerah, rasanya dia ingin menangis ketika mengingat kembali malam kelam itu.
Setelah menatap Davira selama beberapa detik, Nathan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar wanita itu. Meninggalkan Davira yang sedang kebingungan sendirian di dalam sana.
"Kenapa sikap Nathan aneh seperti itu? Dan kenapa dia masih terlihat menyangkal bahwa memang keluarga Xie yang melakukan pembantaian kepada keluargaku? Nathan membantai seluruh keluarga Lee dan juga Damian secara terang-terangan di depan mataku. Tapi Nathan masih menyangkal tentang apa yang terjadi pada malam itu?"
Davira menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.
"Apa mungkin Nathan tidak mengetahui apa-apa tentang pembantaian itu? Apakah keluarga Xie bergerak tanpa memberitahu Nathan? Sedari awal Nathan terlihat kebingungan."
π_π
Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan tubuhnya, Davira duduk di depan meja rias dan memandangi wajahnya cukup lama. Pikirannya terus melayang memikirkan hal-hal yang membuat kepalanya terasa sakit, entah mengapa dia menjadi ragu untuk menyalahkan Nathan atas kematian keluarganya. Namun dia juga ragu untuk mempercayai pria itu, Davira merasa takut jika saat ini Nathan hanya mencoba untuk menipu dan mempermainkannya.
Davira menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak boleh merasa ragu seperti ini. Nathan dan keluarganya adalah pelaku utama, Davira mencoba menanamkan pemikiran itu di dalam otaknya. Davira mengambil nafasnya dalam-dalam sebelum memutuskan untuk mengganti handuk yang melilit tubuhnya dengan pakaian yang baru saja ia beli.
Davira mulai memberikan sedikit riasan di wajah cantiknya dan menata rambutnya.
"Aku harus fokus dan menahan diri, aku sudah bersumpah akan membalaskan dendam Papa dan Mama. Nathan tidak bisa melemahkan aku seperti ini," gumam Davira kemudian berdiri dari duduknya dan segera keluar dari kamar itu.
Kakinya melangkah menyusuri lorong di mana kamarnya berada, dia menatap sekilas pintu yang ia yakini adalah kamar Nathan. Dia segera menuruni undakan tangga yang memutar dan akan membawanya ke lantai bawah.
Namun langkahnya terhenti saat berada di pertengahan tangga, matanya melihat seorang wanita kini sedang memeluk erat tubuh Nathan di bawah sana. Dan Nathan terlihat membiarkannya walaupun tidak membalas pelukan wanita itu.
Davira memilih untuk tetap diam di tempatnya hingga wanita itu melepaskan pelukannya dari Nathan, kini wajahnya terlihat dengan jelas. Wajah yang sangat cantik dan khas Eropa, tatapan matanya kepada Nathan terlihat begitu memuja membuat Davira tersenyum miring.
"Nathan disukai banyak wanita rupanya," batinnya yang entah mengapa sebenarnya ingin sekali menjambak rambut wanita itu.
"Sudah sangat lama kau tidak ke sini, aku merindukanmu, Nathan. Kau tidak mengangkat teleponku ataupun membalas pesanku," suara wanita itu terdengar begitu lembut.
Mereka berdua kini terlihat duduk di ruang tamu dengan posisi yang menempel, lebih tepatnya wanita itu terus menempeli Nathan membuat Davira merasa geram melihatnya.
"Kau tahu aku sangat sibuk, Emma. Lagi pula aku ke sini setiap tahun, ku rasa itu bukan waktu yang lama," ucap Nathan membuat raut wajah Emma terlihat tidak terima.
__ADS_1
Emma berdehem singkat, "Apakah berita yang ku dengar itu benar, Nathan?"
"Berita yang mana? Ada banyak pemberitaan tentangku."
Emma berdecak kesal, Nathan selalu saja seperti itu. Dan Nathan tidak berubah sama sekali, sangat dingin dan tanpa ekspresi, bahkan saat sedang memberikan perhatian sekalipun. Emma tidak mengerti mengapa dia bisa sampai bersahabat begitu lama dan jatuh cinta kepada pria seperti Nathan, bahkan dia tergila-gila kepada pria yang kejam dan tidak berperasaan itu.
"Tentang wanita yang kau hancurkan pernikahannya. Davira Handoko, kenapa kau melakukan hal itu kepadanya? Dan di mana sekarang dia berada? Aku merasa marah kepadamu, Nathan. Kau tidak pernah menceritakan sedikit pun tentang dia kepadaku, siapa dia sebenarnya?"
Nathan terlihat hanya diam dan tidak menjawab.
"Nathan, jawab saja pertanyaan ku. Davira adalah wanita yang kau cintai?" tanya Emma dengan hati yang terluka.
Perasaan Emma hancur begitu juga dengan harapannya saat berita tentang apa yang dilakukan oleh Nathan kepada wanita bernama Davira terdengar. Sekarang dia merasa pengorbanannya sia-sia, namun dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak ada yang lebih pantas bersama Nathan selain dirinya. Emma yakin bahwa di mata Nathan, Davira tidak lebih berharga dari pada dia yang sudah berteman lama dengannya dan sudah berkorban banyak hal.
"Aku membawanya ke sini, agar aman dari keluargaku dan aku juga ingin mengenalkannya kepadamu," ucap Nathan membuat wajah Emma seperti ditampar.
Namun Emma tetap berusaha tersenyum agar Nathan tidak merasa curiga, dia tidak pernah ingin Nathan mengetahui perasannya yang sebenarnya sampai Nathan memiliki perasaan yang sama kepadanya.
"Benarkah? Aku melihat beberapa fotonya di sosial media dan aku juga tahu keluarganya sangatlah terkenal di Indonesia maupun di Spanyol, sekarang aku tidak sabar melihat dia segera langsung."
"Hah? Dia sudah mencari tahu tentangku rupanya. Dasar stalker! Ternyata aku se-terkenal ini di lingkungan keluarga Nathan maupun di lingkungan pertemanannya," batin Davira bersorak senang.
Entah mengapa dia merasa puas dan tidak sabar dipanggil oleh Nathan untuk berkenalan dengan Emma. Melihat wajah Emma yang cukup polos membuat dia tidak sabar untuk membuat wajah itu merah karena menahan cemburu.
"Aku akan memanggilnya, tunggulah di sini."
Nathan segera berdiri dan melangkahkan kakinya, namun melihat Davira yang sudah menuruni tangga membuatnya terdiam di tempatnya. Wanita itu terlihat sangat mempesona di matanya, belum lagi aroma parfum yang dipakai oleh Davira benar-benar memabukkan dirinya
"Kau ingin ke mana?" tanya Nathan membuat Davira tersenyum dan segera menggandeng lengan kekar pria itu.
"Tentu saja menemui temanmu, kau ingin mengenalkan kami berdua bukan?"
"Kau menguping?"
Davira menggelengkan kepalanya dengan senyum yang langsung hilang dari wajahnya, kini dia mulai menatap Nathan datar.
"Aku hanya mendengarkan," jawab Davira membuat Nathan hanya bisa menghela nafas panjang.
Entah apa yang akan Davira lakukan, Nathan cukup merasa khawatir karena tampaknya Davira sengaja menggandeng lengannya.
Wajah Emma terlihat begitu terkejut melihat kedatangan Davira yang bergelayutan di lengan Nathan. Emma merasa bingung karena tidak menyangka bahwa Davira akan se-dekat itu dengan Nathan yang sudah menghancurkan pernikahannya. Selain itu, Emma juga merasa terkejut karena nyatanya Davira jauh lebih cantik dari apa yang dia lihat di foto, Davira terlihat sempurna secara fisik membuatnya merasa khawatir.
Davira memasang senyum manis di wajahnya kemudian melepaskan gandengannya dari Nathan, dia berubah pikiran dan ingin terlihat elegan dan tidak murahan di mata Emma.
Davira ingin menunjukkan bahwa dia berbeda dari Emma, tanpa harus menggandeng dan menempeli Nathan pun dia sudah membuat pria itu terpikat dan ingin terus berada di dekatnya. Davira meletakkan bokongnya di sofa, memberi jarak yang sedikit jauh dengan Nathan.
Dan benar saja, pria itu langsung menggeser tubuhnya dan menggenggam tangannya. Hal itu tidak luput dari perhatian Emma.
"Kau ingin berkenalan denganku?" tanya Davira membuat Emma mengangguk canggung dan segera mengulurkan tangannya terlebih dahulu.
Davira menyambutnya dengan senyuman di wajahnya.
"Davira, kau sudah mengetahuinya bukan?"
"Emma," wanita itu melirik kalung yang ada di leher Davira, X dan D. Kalung yang terlihat sangat indah.
"Kau ini temannya Nathan?" tanya Davira membuat Emma terkekeh kecil.
"Aku sahabatnya," jawab Emma seolah begitu bangga dengan statusnya itu.
Davira membulatkan sedikit mulutnya, "Kalian terjebak freindzone rupanya," ejeknya.
Emma hanya tersenyum mendengarnya, ia melirik Nathan yang tampaknya lebih memilih untuk tetap diam.
"Dan kau? Apa hubungan mu dengan Nathan? Kalian tinggal bersama."
"Emma," tegur Nathan merasa takut kalau-kalau Davira marah seperti saat Amara menghinanya waktu itu.
Davira terkekeh kecil, pertanyaan Emma seolah sengaja ingin merendahkannya. Namun hanya sesaat, senyuman dan tawa kini menghilang, digantikan oleh wajah datar Davira.
__ADS_1
"Aku adalah tawanannya."