
Flashback On -
"Ada di mana kalian?" tanya Nathan kepada seseorang di seberang telepon.
"Kenapa bertanya? Perlu bantuan?"
"Sepertinya aku memang akan memerlukan bantuanmu, aku akan pergi ke Spanyol bersama dengan kedua sepupuku. Tanpa pengawalan atau apapun itu, hanya kami bertiga. Tapi aku perlu kalian untuk mengawasi, aku tidak tahu ada apa di Spanyol, aku harus tetap berjaga-jaga."
"Tunggu, apa yang sedang kau bicarakan Jonathan? Aku tidak mengerti, katakan semuanya dengan jelas. Aku akan membantu jika itu menguntungkan untukku."
"Ini masih berhubungan dengan Davira, aku yakin kau akan membantuku menyelesaikan masalah yang bersangkutan dengannya. Aku mencurigai salah satu security, namanya Dario Steffan, sekarang dia berada di Spanyol. Maka dari itu kami akan pergi ke sana untuk menangkapnya karena kami yakin dia terlibat, dia akan menuntun kita pada pembunuh nenekku yang sebenarnya. Davira akan bebas dari ancaman keluargaku jika semuanya bisa kita ungkap."
"Aku akan membantu, kirimkan alamat yang akan kalian tuju. Kami akan mengawasimu, tapi kenapa kau tidak meminta orang-orangmu saja yang melakukannya?"
"Aku tidak ingin jika keluarga besarku sampai tahu hal ini, tidak ada yang bisa dipercaya. Bisa saja pembunuh nenek salah satu dari mereka, aku tidak ingin jika upayaku dalam mencari tahu tentang pembunuh yang sebenarnya digagalkan oleh seseorang."
"Baiklah, Jonathan. Kami akan ke Spanyol sekarang juga, kapan kau akan berangkat?"
"Sekarang, aku akan menghubungimu setelah tiba. Jangan muncul jika tidak ada sesuatu yang mendesak, jika semuanya berjalan dengan lancar, maka kalian bisa tetap sembunyi."
"Ku harap pembunuh pengecut itu segera terungkap, Davira tidak bisa terus-terusan bersembunyi layaknya pelaku yang sebenarnya."
"Aku hanya diberi waktu satu minggu untuk mengungkap kebenarannya, jika waktu satu minggu itu habis, maka tidak ada lagi kesempatan. Seluruh keluargaku akan terus memburu Davira seumur hidupnya."
Setelah mengatakan hal itu, Nathan segera memutus sambungan teleponnya karena melihat Aaron dan juga Atvita yang berjalan mendekat.
"Siapa yang kau telepon?"
"Paul, dia harus mengurus beberapa hal di sini."
"Dia tidak ikut? Apa kau yakin kita hanya pergi bertiga? Tanpa pengawal?"
"Aku sangat yakin Atvita, semuanya akan baik-baik saja," jawab Nathan kemudian melangkahkan kakinya terlebih dahulu memasuki jet pribadi miliknya yang sudah menunggu sedari tadi.
Sedangkan Jakob langsung bergegas menemui Liam, Dex, Fedrix, Luca dan Mario yang saat ini tengah berkumpul sembari menonton film di ruang tengah setelah selesai melakukan pekerjaan mereka.
"Kita harus segera pergi."
Semua orang sontak menoleh ke arah Jakob, mereka berlima mengernyit kebingungan.
"Apa ada polisi? Kita akan digerebek lagi?" tanya Mario segera bangkit dengan wajah yang terlihat panik.
Jakob menggelengkan kepalanya, "Kita akan ke Spanyol untuk membantu Nathan, lebih tepatnya......kita akan membantu Davira."
Mendengar nama Davira membuat Liam langsung merasa khawatir.
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu dengannya?"
"Dia berada dalam bahaya dan akan selalu berada dalam bahaya, maka dari itu kita harus membantunya. Kita bantu Nathan menangkap pembunuh Nyonya Gayatri yang sebenarnya agar Davira terbebas dari kecaman keluarga Xie."
"Ke mana kita akan pergi?" Luca menekan ujung rokoknya pada asbak sembari memakai jaketnya.
"Di mana kita bisa menemukan bajingan pemfitnah itu?"
"Spanyol," jawab Jakob membuat Dex yang mendengarnya langsung bersemangat.
"Aku suka gadis Spanyol, mereka seksi! Kita harus pergi sekarang juga?"
"Ya, tidak perlu membawa pakaian. Kita bisa memakai baju yang sama berhari-hari, sebelum pergi kita harus menjemput seseorang terlebih dahulu."
Fedrix mengernyit, "Siapa?"
"Tentu saja Davira, dia harus ikut menyelesaikan masalahnya. Jonathan tidak berubah, tetap memenjaranya. Kita harus melibatkan Davira, dia akan senang."
"Apa yang Jonathan lakukan itu benar, dia menjauhkan Davira dari bahaya. Dan sekarang kau ingin menyeret Davira pada bahaya?"
Jakob terkekeh lalu menepuk pelan pundak Liam.
"Aku mengajari Davira menghadapi bahaya, hal yang tidak pernah diajarkan oleh Jonathan kepadanya."
Liam seketika tertegun mendengarnya, sekarang dia menjadi bimbang. Liam tahu bahwa Davira menyukai kebebasan dan tantangan, namun Liam juga mengkhawatirkan keselamatan wanita itu, dia menyukai keputusan Nathan yang lebih memilih untuk tidak melibatkan Davira.
"Apa sekarang Davira masih berada di mansion Carlos, apa kita harus menjemputnya?"
"Apa Jonathan tahu kita akan menjemput Davira?"
"Tentu saja tidak, kita akan membawa Davira secara diam-diam dari mansion Carlos."
"Itu namanya menculik, Carlos akan melapor kepada Jonathan dan fokus Jonathan akan pecah, semuanya akan menjadi kacau," ucap Dex merasa tidak setuju.
"Kenapa harus menculiknya jika kita bisa berbicara baik-baik kepada Carlos?"
Jakob menghela nafas panjang, "Terserah kalian saja, kita jemput Davira sekarang."
- Flashback Off -
Alvar hanya bisa terdiam di tempatnya setelah mendengar semua yang diceritakan oleh Davira, sekarang dia tahu apa alasan Atvita kembali lagi ke Spanyol setelah sekian lama tidak terlihat.
"Jadi siapa pelaku yang sebenarnya?" tanya Alvar membuat Davira berdehem singkat.
"Aku juga belum tahu, kita harus menanyakan kepada Nathan dan juga Aaron. Tapi yang jelas Erick terlibat, dia berusaha menculik mereka bertiga."
Davira mengembuskan asap rokoknya kasar, sebenarnya dia mencurigai satu orang sedari dulu. Dan sekarang kecurigaannya semakin membesar saat melihat adanya Erick.
"Aku sudah mengirimkan orang-orangku untuk mencari Erick, dia membawa Atvita dan aku yakin Erick akan menjadikan Atvita sebagai ancaman. Apakah mungkin jika pria bernama Erick itu pembunuh Nyonya Gayatri?"
__ADS_1
"Ku rasa bukan dia, tapi seseorang yang selalu ingin dia lindungi. Aku tidak bisa mengatakan siapa orang itu karena aku tidak memiliki bukti apapun yang mendasari kecurigaanku."
Luca menepuk pelan pundak Davira membuat wanita itu menoleh.
"Jonathan sudah sadar dan Aaron juga."
Davira dan Alvar segera berdiri, keduanya berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke kamar tempat dimana Aaron dan Nathan berada.
Mata Nathan sedikit melebar melihat Davira yang baru saja masuk bersama dengan Alvar.
"Davira, kenapa kau ada di sini? Dan kenapa ada Alvar?"
"Sial," umpat Aaron dengan tatapan yang menyiratkan kebencian terhadap Alvar.
"Alvar menolong kalian," sahut Jakob membuat Aaron semakin mengumpat pelan.
"Aku tidak butuh bantuanmu Alvar!" Aaron langsung berdiri kemudian menghampiri Alvar dengan amarah yang menyelimutinya.
"Harusnya kau tidak membantu kami sialan!" Aaron mendorong kasar dada Alvar.
"Aku tidak ingin menolong kalian, tapi aku ingin menolong Atvita," ucap Alvar membuat Aaron tersenyum sinis.
"Atvita tidak lagi memerlukanmu."
Kedua pria itu saling menatap tajam membuat Davira segera menarik tangan Alvar menjauh.
"Ku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk berkelahi, kita harus segera menyelamatkan Atvita dan kalian harus memberitahu kami semua, siapa pembunuh itu?"
"Apa maksudmu menyelamatkan Atvita?" tanya Aaron tidak mengerti.
"Erick berhasil membawanya, kami tidak bisa menghentikannya."
"Shitt, kau memang tidak pernah bisa di andalkan."
Bughh.
Aaron langsung melayangkan tinjunya ke wajah Alvar membuat Alvar tentunya tidak terima dan melakukan hal yang sama.
Nathan menghela nafas kasar melihat Aaron dan Alvar yang mulai saling memukul satu sama lain, ternyata permusuhan keduanya belum juga berakhir. Nathan segera berdiri kemudian menarik tubuh Aaron ke belakang lalu menendang perut Alvar membuat kedua pria itu tersungkur ke lantai.
"Arghh bang*sat!"
"Ada apa denganmu Nathan?!"
"Shut up!" teriak Nathan sembari menunjuk Aaron kemudian beralih kepada Davira.
Nathan melayangkan tatapan tajam pada Davira, membuat wanita menggigit pelan bibir bawahnya.
"Shitt......." umpat Davira pelan.
__ADS_1
"Sekarang jelaskan, kenapa kau bisa berada di sini, Davira?"