
Mobil Nathan langsung oleng saat peluru itu menembus ban mobilnya, namun bukannya panik, ia malah terkekeh sembari geleng-geleng kepala.
"Tidak semudah itu, Davira," gumamnya bersamaan dengan mobilnya yang kini bertabrakan dengan mobil Liam.
"Liam!" teriak Davira sambil berpegangan se-erat mungkin.
Brukk.
Tabrakan itu tidak bisa lagi dihindari, bagian depan mobil keduanya terlihat remuk.
"Shhsss......." Davira meringis memegangi dahinya yang terhantup, terlihat darah menetes dari sana.
"Arghh," Liam yang juga terluka langsung melirik ke arah Davira.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya untuk sekedar memastikan.
Davira tidak menjawabnya, wanita itu terpaku di tempatnya dengan nafas yang terdengar memburu. Netranya kini bertemu dengan netra milik Nathan yang sudah cukup lama tidak ia lihat.
Nathan menatap Davira tanpa ekspresi sedikitpun, dengan tangan yang terasa sakit, Nathan segera keluar dari dalam mobilnya lalu melangkahkan kakinya mendekat ke mobil Liam yang mana membuat pria itu langsung mengunci pintu mobilnya.
"Buka," ucap Nathan begitu dingin.
"Aku menjemputmu, Davira. Sudah waktunya kita pulang."
Davira mengerjapkan matanya beberapa kali, ia menatap Nathan tajam dengan rasa marah yang mulai menyelimutinya.
"Pulang? Kau merenggut rumahku, keluargaku!" teriak Davira meluapkan emosinya.
"Dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu, harus berapa kali aku mengatakannya? Bukan aku atau keluargaku yang melakukan pembantaian itu!" suara Nathan terdengar meninggi.
Davira berdecih, "Nenekmu sendiri yang sudah mengatakan semuanya kepadaku, kau tidak perlu lagi mengelak. Aku tidak akan mempercayaimu."
"Aku mempunyai banyak bukti, dan kau akan mempercayai bukti itu," ucap Nathan membuat Davira tertegun untuk sejenak.
"Bagaimana aku bisa tahu bahwa bukti yang akan kau berikan itu adalah benar?"
Nathan menghembuskan nafasnya kasar, pria itu berjongkok untuk menatap wajah Davira dari kaca jendela yang sudah pecah.
"Jangan sampai aku memaksamu," desis Nathan namun tidak membuat Davira merasa gentar.
Dor.
Suara tembakan terdengar nyaring, Nathan sontak menegakkan kembali tubuhnya. Di sana terlihat Jakob dan yang lainnya sudah keluar dari mobil masing-masing dengan senjata mereka.
"Dia tidak akan ikut bersamamu Jonathan!" ucap Jakob membuat Nathan menatapnya tajam.
Seluruh anak buah Nathan langsung mengambil posisi, mereka semua mengepung Jakob dan anak buahnya.
"Nona Davira akan ikut bersama dengan Tuan Xie," Paul mengeluarkan pistolnya dan langsung mengarahkannya kepada Jakob membuat Luca melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Melihat hal itu membuat Davira kembali terlempar ke masa lalu, di mana dia kehilangan Damian karena Nathan yang langsung menembaknya tanpa sempat ia cegah sama sekali. Dan sekarang Davira tidak ingin jika Jakob tiada hanya karenanya, Davira tidak akan membiarkan Nathan membuatnya kembali kehilangan orang-orang yang berada di sekitarnya.
"Tetap di mobil," Liam langsung menahan tangan Davira membuat wanita itu sontak menoleh.
"Dan membiarkan Jakob ditembak?" Davira melepaskan cengkraman tangan Liam kemudian membuka pintu mobilnya membuat dirinya kini berada tepat di depan pistol yang sedang di pegang oleh Paul.
"Shitt," umpat Liam segera keluar dari mobilnya dengan kaki yang terasa begitu sakit.
"Turunkan pistolmu, Paul," perintah Nathan kemudian mendekat kepada Davira.
Keduanya kini saling bertatapan, mata Davira terlihat begitu memerah, tangan wanita itu terkepal kuat di samping tubuhnya.
"Bisakah kau membiarkan aku hidup dengan tenang? Jangan mencoba untuk mencariku lagi! Aku benar-benar sudah lelah Nathan! Apa yang sebenarnya kau inginkan?! Kau ingin membunuhku karena kau mengira aku yang sudah membunuh nenekmu?"
Nathan hanya diam dengan tatapan yang kini mengarah pada pergelangan kaki Davira, di sana terlihat kain yang merah karena darah.
"Kau terluka, sebaiknya ikut aku dan obati lukamu," Nathan meraih tangan Davira, tetapi wanita itu langsung menghempaskannya.
"Jangan menyentuhku! Aku tidak akan pernah ikut bersamamu!" suara Davira terdengar meninggi.
Nathan sontak membalas tatapan matanya dengan sangat tajam.
"Jangan memancing kemarahanku, Davira. Aku sudah mencarimu kemana-mana, dan sekarang kau sudah berada di depan mataku, aku akan membawamu bersamaku. Kau ingin Jakob dan teman-temanmu itu mati hari ini?"
"Berhenti menjadikan seseorang sebagai ancaman agar Davira bersamamu, Jonathan! Kau terlalu memaksakan kehendak mu!" sahut Jakob bersamaan dengan Liam yang tiba-tiba saja menarik tangan Davira agar lebih mendekat kepada mereka.
"Singkirkan tanganmu itu," desis Nathan namun tidak dihiraukan oleh Liam.
"Davira tidak akan ikut dengan Anda," ucap Liam membuat Nathan langsung terkekeh.
"Kau sudah membuat kesabaranku ini habis, tidak seharusnya kalian melawan. Dan kau, tidak seharusnya menjadi gadis pembangkang, Davira. Beruntung aku tidak langsung membunuh Jakob dan teman-teman barumu ini, harusnya kau berterima kasih dan ikut bersamaku agar mereka semua tetap bisa hidup, dan ini pilihan untukmu."
Davira sontak menatap Jakob yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Jangan hiraukan ancamannya, kita akan menghadapi ini bersama-sama. Kau ingin kembali bersamanya? Dia bisa membunuhmu," ucap Jakob membuat Davira merasa bimbang.
"Aku semakin membencimu, Nathan. Kau adalah pria paling egois yang pernah aku temui, jika niatmu ingin membunuhku, maka lakukan sekarang juga! Kau bisa menembakku! Tapi kau tidak perlu mengancam Jakob ataupun teman-temanku!"
"Sudah ku katakan aku tidak akan pernah membunuhmu, kau hanya harus ikut bersamaku, seperti waktu itu. Tidak ada yang berubah, Davira. Kita jalani hidup sesuai dengan keinginanmu, tetapi bersama-sama."
Davira terkekeh mendengarnya, "Setelah semua yang kau lakukan? Aku tidak akan pernah ingin hidup bersamamu setelah tahu semuanya Nathan!"
"Bukan aku yang membunuh keluargamu!" teriak Nathan penuh dengan amarah.
"Lalu siapa?! Kau selalu membohongiku! Kau terus saja mengelak, padahal nenekmu sendiri yang sudah membongkar semuanya!"
Nathan mengusap wajahnya kasar lalu melangkahkan kakinya untuk mendekat, Liam dan Jakob yang berdiri di sisi kanan dan kiri Davira sontak bersikap waspada.
"Kau ingin tahu siapa yang sudah membantai keluargamu?" Nathan menatap Davira lekat-lekat.
__ADS_1
"Aku sudah tahu, kau pelakunya! Jangan coba-coba untuk mengambinghitamkan orang lain!"
"Inilah alasan kenapa aku tidak pernah memberitahumu siapa orang yang sudah melakukan pembantaian itu! Kau tidak akan pernah percaya kepadaku! Tapi sekarang aku sudah mempunyai semua bukti itu, Davira. Dan kau harus ikut bersamaku untuk melihatnya agar kau tahu bahwa pria yang kau puja-puja itulah yang sudah membunuh keluargamu!"
Deg.
Jantung Davira terasa berhenti berdetak untuk sejenak, ia menatap Nathan tanpa berkedip sedikitpun.
"Susah payah aku mencari bukti dan mengumpulkannya hanya agar kau percaya bahwa Damian adalah dalang di balik pembantaian itu!"
Davira menggelengkan kepalanya cepat, ia menatap Nathan tidak percaya.
"Itu tidak mungkin!"
"Tapi itu kenyataannya! Dia dan keluarganya adalah pelaku utama Davira!"
"Kau mencoba untuk membohongiku!" Davira masih tidak bisa mempercayai Nathan begitu saja.
Apa yang Nathan ucapkan tentang Damian bahkan tidak pernah ia pikirkan sebelumnya, tidak mungkin jika Damian pelakunya. Damian dan dia sudah menjalin hubungan begitu lama, Damian tidak mungkin tega kepadanya.
"Aku mempunyai bukti, Damian memang pelakunya. Kau tahu apa alasannya? Karena dia dan keluarganya menginginkan bisnis kalian, itulah alasan mengapa kau dibiarkan tetap hidup. Agar kau bisa menikah dengan Damian, dan semua harta kekayaan serta bisnismu bisa dia kuasai!"
"Tutup mulutmu Nathan! Aku tidak ingin mendengarnya lagi!" Davira menutup kedua telinganya dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.
"Kau harus melihat semua buktinya, aku tidak membual. Aku mengatakan kebenaran, aku tidak pernah berbohong dan aku tidak pernah melimpahkan kesalahanku kepada orang lain."
Nathan memegang kedua pundak Davira, ia mencoba untuk meredam amarahnya.
"Jangan membawa-bawa nama Damian, Nathan," ucap Davira dengan suara yang terdengar bergetar.
Jakob dan yang lainnya hanya bisa terdiam, mereka tidak tahu harus melakukan apa. Ingin menyerang terlebih dahulu, mereka juga pasti kalah karena saat ini mereka sudah dikepung. Selain itu Jakob merasa sangat terkejut mendengar apa yang Nathan katakan.
Jakob tahu bahwa Damian adalah kekasih Davira, dan sangat mengejutkan saat mendengar Nathan mengatakan bahwa Damian pelaku yang sebenarnya.
"Pergi dari hadapanku Nathan, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" teriak Davira membuat gigi Nathan langsung bergemelutuk.
"Berhenti keras kepala dan ikut aku sekarang juga! Aku tidak main-main dengan perkataanku, mereka semua akan mati jika kau tetap membangkang!"
"Jangan menggunakan kami sebagai ancaman sialan!" umpat Jakob bergerak maju dan segera menarik Davira agar berlindung di belakangnya.
Bughh.
Nathan yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya langsung melayangkan tinjunya ke wajah Jakob.
"Bang*sat!"
Dor.
Dor.
__ADS_1