Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Balas Dendam - Part 85


__ADS_3

Braak.


Aaron menendang pintu di depannya, sekarang mereka bisa melihat Arthur dan Erick yang berdiri menghadang mereka.


"Aku mengormati Arthur," ucap Nathan pelan.


"Dia bagianku, Nathan. Kau urus Erick, aku tahu kau dan dia bermusuhan sejak lama."


"Kalian datang untuk membunuh putriku?" Arthur menatap Nathan dan Aaron dengan begitu tenang.


"Kami datang untuk membunuh seseorang yang sudah membunuh nenek kami, orang gila itu sudah begitu berani menyentuh keluarga kami," sahut Aaron membuat Arthur terkekeh kecil.


"Kau akan membunuh Atvita, Nathan? Apa kau sudah lupa dengan pengorbanannya? Di dalam tubuhmu ada ginjal putriku! Jika bukan karena Emma yang gila itu, kau sudah mati Nathan!" suara Arthur terdengar meninggi.


"Tutup mulutmu bang*sat! Jangan terus-terusan mengandalkan pengorbanan omong kosong itu kepada Nathan! Yang dilakukan oleh Emma tidak berarti apa-apa, Nathan tidak berhutang apapun kepada Emma karena Nathan juga terluka karenanya! Mereka impas!"


"Sebaiknya kau yang menutup mulutmu, Aaron. Aku akan merobeknya!" sentak Erick membuat Aaron terkekeh.


"Ku patahkan tanganmu sebelum kau berhasil merobek mulut sepupuku," desis Nathan kemudian tersenyum kecil.


"Aku tidak akan membunuh Emma, tidak akan ku lupakan pengorbanan berharganya itu. Tapi aku tidak bisa mencegah keluargaku untuk melakukannya."


"Kalau begitu kalian akan berurusan denganku, kalian tidak akan pernah ku biarkan membunuh putriku!"


"Aku akan senang berurusan denganmu," Aaron mengeratkan genggamannya pada palunya kemudian berlari ke arah Arthur.


Bughh.


Arthur langsung menendang perut Aaron sebelum Aaron berhasil menghantamkan palu ke kepalanya. Aaron langsung terpelanting ke belakang, punggungnya membentur meja kaca hingga pecah.


"Arghh, sial."


Nathan segera mengulurkan tangannya, membantu Aaron berdiri.


"Jangan mempermalukan dirimu sendiri, Aaron. Kita ke sini bukan untuk kalah," bisik Nathan membuat Aaron menatapnya tajam.


Mereka berdua berdiri sejajar, nafas Aaron memburu menatap Arthur yang sudah siap menyambut serangannya dengan tongkat bisbol yang sudah berada di tangannya.


"Kau bisa mengatasinya Erick?" tanya Arthur yang mana langsung mendapat anggukan kepala dari pria itu.


Nathan segera melangkahkan kakinya maju, begitu juga dengan Arthur dan juga Aaron.


Mereka berempat mulai saling menyerang, mencoba untuk membunuh satu sama lain.


Bughh.


Nathan menendang tulang kering Erick, pria itu hampir tersungkur, namun Erick segera menghantamkan tongkat bisbolnya ke punggung Nathan yang kini menyeruduk perutnya dengan menggunakan kepala membuat punggung Erick membentur tembok dengan keras.


"Arghh!"


Aaron kembali tersungkur ke lantai, melihat Arthur yang ingin menumbuk dadanya dengan tongkat bisbol membuat Aaron segera berguling kemudian menghantam kaki Arthur dengan palu berdurinya.


"Akhhh!" Arthur berteriak kesakitan lalu menendang wajah Aaron yang masih berada di lantak.


"Fu*ck!" Aaron mengumpat merasakan darah keluar dari hidungnya.


Aaron segera menghantamkan palunya kembali ke kaki Arthur kemudian menariknya hingga membuat Arthur tersungkur. Aaron segera menindih tubuh pria itu lalu melayangkan tinjunya berkali-kali.


"Arghhh!"


Arthur mencengkram kuat wajah Aaron kemudian menghantamkan tongkat bisbolnya ke kepala Aaron.


Nathan melompat dan menendang dada Erick membuatnya tersungkur, setelah itu Nathan mengambil kursi yang berada di sana lalu menghantamkannya ke tubuh Erick hingga hancur.


"Sialan!" Erick berusaha untuk bangkit, namun Nathan kembali menendang dadanya tanpa memberikan kesempatan sama sekali.


"Tidak seharusnya kau ikut campur," Nathan terus menendang tubuh Erick membuat Erick tidak bisa bergerak lagi.


"Arghhh!"


Bughh.


Nathan berniat memukul kepala Erick dengan tongkat bisbolnya, namun Erick segera berguling kemudian meraih pecahan kaca dan menancapkannya di pergelangan kaki Nathan.


"Akhh....." Nathan langsung menindih tubuh Erick kemudian memukul kepala pria itu dengan tongkat bisbol berkali-kali sampai wajah Erick tidak lagi berbentuk.


Nathan terus memukulnya dengan penuh amarah, dia tidak berhenti walaupun saat ini Erick sudah tiada.


Praang.


"Arghh!"


Suara teriakan Aaron sontak membuat Nathan berhenti, ia langsung menoleh dan mendapati Aaron yang tergeletak di lantai karena ditendang oleh Arthur sehingga membentur lemari kaca dan membuatnya pecah.


Melihat Arthur yang ingin menyerang Aaron dengan menggunakan pisau membuat Nathan segera beranjak dari tubuh Erick kemudian berlari menerjang Arthur hingga mereka sama-sama tersungkur.


"Arghh!" Nathan berteriak kesakitan saat lengannya terkena sabetan pisau Arthur.


"Kau akan mati Nathan!" teriak Arthur yang sudah diselimuti oleh amarah.


"Kau yang akan mati bang*sat," Aaron berusaha untuk menusukkan pecahan kaca ke mata Arthur, namun Arthur berhasil berkelit.


Arthur kembali berdiri dan berniat untuk menyerang Nathan, Aaron segera menghadangnya, Aaron tahu bahwa Nathan tidak akan melawan Arthur dengan benar sehingga Aaron harus mencegah Arthur agar tidak menyerang Nathan.


Bughh.


"Akhh!"


Darah segera langsung keluar dari pipi kiri Aaron karena ujung pisau Arthur yang berhasil menggoresnya.


"Fu*ck!" Aaron mengumpat marah lalu mendorong tubuh Arthur sehingga mereka berdua kini menembus kaca balkon.


Bughh.


Bughh.

__ADS_1


Aaron melayangkan tinjunya berkali-kali ke wajah Arthur kemudian menangkap tangan Arthur yang berusaha untuk menghunuskan pisau itu ke perutnya.


Nathan menatap perkelahian keduanya dengan perasaan was-was, apalagi saat Arthur berhasil menghimpit tubuh Aaron ke pembatas balkon.


"Akhhh!"


Aaron menahan dorongan Arthur sekuat tenaga, namun saat Arthur menghunuskan pisaunya di bahu kirinya membuat Aaron sedikit melemah sehingga Arthur mencoba untuk mengangkatnya.


Bughh.


Sebelum Arthur berhasil menjatuhkan tubuh Aaron dari atas balkon, Nathan menghantam kepala Arthur terlebih dahulu membuat Aaron segera mendorong tubuh Arthur yang menghimpitnya.


Aaron tersungkur di lantai, tangannya terasa gemetaran saat mencoba mencabut pisau yang masih tertancap di bahunya.


"Rasa hormatku kepadamu sudah menghilang."


Mata Arthur terbelalak saat Nathan melayangkan tinjunya kemudian mendorong tubuhnya hingga terjatuh dari atas balkon yang begitu tinggi.


Nafas Nathan terdengar memburu, ia menatap Arthur yang tergeletak bersimbah darah di bawah sana.


"Akhh......."


Nathan segera berjongkok, "Tahanlah."


Nathan membantu Aaron untuk mencabut pisau itu sehingga Aaron berteriak semakin kencang.


"Ada apa?" Alvar dan Jakob masuk ke dalam ruangan itu.


"Arghh kalian terlambat sialan," Aaron menyandarkan punggungnya dengan nafas yang terdengar ngos-ngosan.


Nathan segera mengeluarkan sapu tangannya kemudian menempelkannya pada luka Aaron.


"Terus tahan."


"Siapa dia?" tanya Jakob menatap mayat Erick yang wajahnya tidak bisa ia kenali.


"Erick," jawab Nathan kemudian berdiri.


"Emma, cari dia," ucap Aaron membuat Nathan menghela nafas panjang.


"Aku akan mencarinya, tetaplah di sini. Kalian jaga dia."


"Aku ingin mencari Atvita."


"Davira, Liam dan Fedrix pasti sudah menyelamatkannya, Alvar. Kau harus percaya kepada mereka."


"Nathan, tunggu. Aku ikut mencari Emma, aku tidak percaya padamu, kau tidak akan bisa membunuhnya."


Melihat Aaron yang kesulitan berdiri membuat Jakob segera membantunya.


"Kami tidak akan membopongmu mengelilingi mansion untuk mencari Emma."


"Aku tidak meminta kalian untuk membopongku, Jakob," Aaron segera menepis tangan pria itu.


"Akhh..... cepat Nathan, pasti ada ruang rahasia di mansion ini."


"Lalu setelah itu apa? Kau tidak akan bisa membunuhnya!"


"Memang tidak bisa, tapi kalian bisa. Aku akan menyeretnya ke hadapan keluarga kita, aku berjanji."


Aaron berdecak kesal sembari memegangi bahunya.


"Cari Emma sampai dapat."


Nathan hanya mengangguk pelan kemudian melangkahkan kakinya.


"Aku ikut denganmu, kau bisa menjaganya sendirian Jakob!"


Alvar buru-buru menyamakan langsung dengan Nathan.


"Sepertinya kau sangat hapal seluk-beluk rumah ini."


"Emma sahabatku," ucap Nathan pelan membuat Alvar tertegun.


Bisa Alvar lihat raut wajah Nathan yang berbeda dari sebelumnya, Nathan terlihat begitu resah saat ini.


"Kita mulai dari kamarnya," Nathan membuka kamar Emma, memasuki kamar yang begitu luas itu dan tidak menemukan apa-apa selain foto dirinya dan Emma yang pada saat itu masih remaja.


"Kau bisa membiarkannya hidup, Nathan," ucap Alvar mengerti apa yang dirasakan oleh pria itu.


Nathan menggelengkan kepalanya pelan sembari membalik foto itu agar dia tidak melihatnya.


"Aku tidak bisa menyelamatkan dua wanita sekaligus, Emma bersalah dan keluargaku menginginkannya. Aku tidak bisa melindunginya, Alvar. Jika itu ku lakukan, maka aku akan menjadi musuh bagi keluargaku, aku akan dikejar begitu juga dengan Davira. Seumur hidup kami tidak akan mendapatkan ketenangan."


Nathan dan Alvar kini keluar dari kamar Emma kemudian berjalan ke arah kamar Arthur.


Mereka berdua memasuki kamar itu, Nathan mengedarkan pandangannya, tidak ada siapapun di dalam sana. Namun matanya tertuju pada rak buku yang terlihat sedikit berantakan membuatnya segera mendekat.


"Emma," panggil Nathan membuat Emma yang berada di dalam sana tersentak kaget.


"Aku tahu kau ada di dalam, Emma. Aku juga sudah tahu semuanya. Kau membuatku kecewa, semua orang tahu aku sangat menyayangimu. Kau ku anggap seperti adikku sendiri, kenapa kau harus melakukan itu Emma? Kenapa kau membunuh nenekku? Kenapa kau menjebak wanita yang sangat ku cintai? Jika saat itu Davira dihujani tembakan, aku juga bisa mati, Emma. Kau tidak memikirkan hal itu."


Emma mengepalkan tangannya kuat-kuat, hatinya terasa begitu perih saat ini.


"Aku mencintaimu Nathan! Kau tahu itu tapi kau menutup mata seolah buta! Membawa Davira, memperkenalkannya kepadaku tanpa memikirkan perasaanku! Kau menyayangiku, terus seperti itu. Sedangkan aku hanya ingin kau cintai Nathan! Aku tidak memerlukan dirimu sebagai seorang kakak! Aku tidak menginginkan hal itu!"


Mendengar suara Emma membuat Nathan segera mendorong rak buku itu, ia menatap kunci yang masih berada di lubangnya. Nathan segera memutarnya membuat pintu itu terbuka, kini terlihat sosok Emma yang duduk bersimpuh di lantai.


Netra keduanya saling bertemu, Emma terlihat begitu kacau tidak seperti biasanya.


Nathan berjongkok di hadapan Emma, "Apa yang sudah kau lakukan Emma? Kau menghancurkan persahabatan kita, kau mengacaukan semuanya. Sekarang aku harus apa? Aku tidak bisa menyelamatkanmu."


Emma kembali terisak, tubuhnya sampai terlihat gemetaran.


"Aku melakukan ini semua untukmu, Nathan. Davira terus berada di dekatmu, dia membuatmu jauh dariku. Kau tidak akan pernah bisa mencintaiku jika dia masih hidup," suara Emma terdengar begitu parau.

__ADS_1


Nathan menggelengkan kepalanya pelan kemudian meraih tangan Emma untuk ia genggam.


"Kau salah Emma, jika tidak ada Davira, tidak ada wanita lainnya. Semuanya tetap akan sama, aku tidak akan pernah bisa mencintaimu. Maafkan aku, Emma. Aku menyayangimu, kau harus tahu itu."


"Arghhh aku membencimu Nathan, aku membencimu!" teriak Emma membuat Alvar yang memperhatikan tersentak kaget.


"Ini semua karena Davira! Gara-gara dia kau berpaling dariku! Kau bisa mencintaiku jika saja dia tidak ada Nathan!"


π_π


Aaron duduk bersandar di kursinya, dia baru saja selesai di obati, namun pria itu tidak memilih untuk tidur dan beristirahat. Aaron lebih memilih bergabung bersama dengan keluarga besar Xie di ruang bawah tanah.


Memperhatikan seorang wanita yang kini duduk bersimpuh di lantai dengan tangan yang terikat.


Julian berdiri di hadapan pria itu, menatapnya tanpa rasa iba sedikitpun.


"Seharusnya kau bisa menjadi menantuku," Julian geleng-geleng kepala kemudian berjongkok di hadapan Emma yang hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apa-apa.


"Tidak ingin mengatakan apapun Emma?"


"Semuanya sudah terbongkar, tidak ada yang harus ku katakan," jawab Emma terdengar begitu lemah.


"Bagus, kalau begitu aku yang akan mengatakan sesuatu kepadamu. Aku ingin mengatakan bahwa Erick dan juga ayahmu sudah tiada, kau harus menyusul mereka berdua secepatnya."


Mendengar hal itu membuat Emma mengepalkan tangannya, air matanya terlihat berjatuhan.


"Arghhh kalian semua akan ku bunuh!" teriak Emma penuh amarah.


Semua orang yang berada di dalam ruangan itu sontak menertawakannya, kecuali Nathan yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.


"Sayangnya kami yang akan melakukannya terlebih dahulu," sahut Arya sembari membawa secangkir wine di tangannya.


"Kita harus bersulang," Julian mengambil alih cangkir itu dari Arya kemudian tersenyum tipis.


Julian mencengkram kuat rahang Emma yang mulai menggelengkan kepalanya. Emma tahu di dalam wine itu pasti terdapat racun yang dulu ia gunakan untuk membunuh Gayatri.


"Arghh Nathan!" teriak Emma membuat Nathan memejamkan matanya sejenak kemudian melangkahkan kakinya menjauh tanpa menatap wajah wanita itu sama sekali.


"Arghh lepaskan!"


Nathan hanya bisa mendengar suara teriakan Emma dan tawa keluarganya hingga Nathan buru-buru mempercepat langkahnya sampai suara itu tidak terdengar lagi di telinganya.


Nathan segera masuk ke dalam kamar yang dia sediakan untuk Davira, wanita itu tampak berbaring di atas tempat tidur dan langsung tersenyum tipis saat melihat kehadirannya.


"Kau terluka."


"Sudah di obati," Davira menatap wajah Nathan, mata pria itu terlihat memerah membuat Davira segera merubah posisinya menjadi duduk kemudian merentangkan kedua tangannya.


Nathan langsung menghampiri Davira dan masuk ke dalam pelukan wanita itu, Davira mengusap kepala Nathan, membiarkan Nathan menumpahkan air mata di dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa Nathan," Davira mengecup kepala Nathan, dapat ia rasakan punggung Nathan yang bergetar.


"Maafkan aku Davira, maafkan aku. Tidak seharusnya aku menangisi orang yang sudah menjebakmu."


"Jangan meminta maaf, aku sangat mengerti. Emma mungkin adalah orang yang menjebakmu, tapi dia sangat mencintaimu. Wajar jika kau merasa sedih dan menangis, tidak masalah Nathan. Kau mengenalnya sejak lama, setelah aku bertemu dengan Jakob dan yang lainnya, aku menjadi paham bahwa kehilangan seorang sahabat tentunya sangatlah menyakitkan."


Nathan memeluk erat pinggang Davira, menumpahkan air matanya di dada wanita itu. Dia perlu mengeluarkan rasa sesak di dadanya, perasaan bersalah, kecewa, dan marah semuanya menjadi satu.


Sedangkan Atvita kini tengah memeluk erat tubuh Lea yang tertidur di pangkuannya, ia bersandar di ranjangnya dengan tatapan yang kosong. Pikirannya sedang tidak berada di tempatnya, melihat wajah Alvar setelah lima tahun tidak bertemu membuat perasaannya kembali kacau.


Atvita tidak mengerti mengapa Alvar sampai harus membantunya, selama ini Atvita menganggap bahwa Alvar sudah tidak peduli kepadanya. Tapi sekarang Alvar ada dan membantu keluarganya untuk menyelamatkan nyawanya.


Tok. Tok. Tok.


"Atvita."


Mendengar namanya dipanggil membuat lamunan Atvita seketika buyar, ia langsung menoleh ke arah Alvar yang kini berdiri di ambang pintu.


"Boleh aku masuk?" tanya Alvar membuat Atvita mengangguk canggung.


Alvar segera duduk di tepi ranjang, ia menatap Lea yang terlihat begitu nyaman di dalam pelukan Atvita.


"Kau akan mengasuhnya?"


"Apa yang kau lakukan di sini?" Atvita bertahta tanpa menjawab pertanyaan Alvar terlebih dahulu.


"Siapa namanya?"


"Kenapa kau menolongku?"


"Anak ini cantik."


"Kenapa kau ada di sini Alvar?!" suara Atvita mulai meninggi membuat Alvar beralih menatapnya.


"Karena aku mengkhawatirkanmu, aku juga merindukanmu, Atvita. Kau pikir aku akan diam saja saat kau tiba-tiba datang ke Spanyol dan memiliki masalah? Setelah sekian lama aku kembali melihatmu, aku tidak bisa tinggal diam saat nyawamu dalam bahaya."


"Kenapa tidak bisa?" tanya Atvita membuat Alvar menghela nafasnya panjang..


"Kau tahu apa alasanku, Atvita. Kau tahu itu, jangan berpura-pura tidak mengetahuinya."


"Sekarang apa yang kau inginkan, Alvar?"


"Memperbaiki semuanya, hubungan kita tidak bisa berakhir begitu saja. Ada banyak kesalahan yang harus ku perbaiki, kau tidak bisa meninggalkanku saat semuanya belum benar-benar selesai. Kita tidak pernah selesai, Atvita."


"Apa yang akan kau lakukan untuk memperbaiki hubungan kita? Sudah tidak ada lagi yang bisa kau lakukan, Alvar. Semuanya sudah berakhir sejak wanita itu datang dengan membawa anak laki-laki kepadamu, kau mengkhianatiku sampai memiliki anak dengannya. Apa fakta itu bisa di ubah?"


Alvar tertegun untuk sejenak, "Aku tidak pernah mengkhianatimu, Atvita. Kau tahu aku hanya mencintaimu selama hidupku."


Atvita tersenyum miris mendengarnya, dia tahu akan fakta itu. Dia tahu bahwa Alvar sangatlah mencintainya dan bisa melakukan apa saja untuknya. Saat itu mereka berdua masih sangat muda, Alvar adalah remaja yang tidak teratur. Memiliki kehidupan yang terlalu bebas, bahkan saat menjalin hubungan dengan Atvita, Alvar tidak berubah.


"Kau memang tidak pernah mengkhianatiku, kau memang selalu mencintaiku. Tapi kau selalu tidur dengan wanita-wanita ja*lang itu, Alvar. Kau menikmati tubuh mereka, saat itu aku sudah bersabar, menganggap bahwa kelakuanmu adalah hal biasa yang ku anggap wajar. Aku bahkan menjemputmu saat kau mabuk berat dan bersama seorang wanita, aku tidak pernah mempermasalahkan apapun. Tapi aku tidak melihat adanya niatan dirimu untuk berubah sampai kau memiliki seorang anak dari salah satu ja*lang favoritmu."


"Aku menyesalinya, Emma. Saat itu aku bodoh, aku tidak bisa berpikir dengan benar. Harusnya aku meninggalkan kehidupanku itu sedari dulu saat kau memintanya."


"Apa gunanya mengatakan hal itu? Sebaiknya kau pergi, Alvar. Lepaskan aku sekali lagi, kau tidak perlu muncul di hadapanku apapun alasannya. Aku ingin besok pagi kau sudah pergi dari tempat ini."

__ADS_1


Atvita menatap wajah Alvar dengan dada yang terasa begitu sesak.


"Maafkan aku, Atvita. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melepaskanmu lagi kali ini. Untuk pertama kalinya, aku akan memperjuangkanmu karena aku sudah tahu bagaimana rasanya hidup tanpa adanya dirimu."


__ADS_2