
Nathan dan Jakob berdiri berhadapan, saling memandang dengan tatapan yang masih menyiratkan adanya permusuhan. Jakob benar-benar masih merasa marah dan kini dia begitu kesal memikirkan Davira yang akan kembali bersama Nathan jika Nathan bisa membuktikan semua perkataannya.
Entah mengapa Jakob merasa tidak ikhlas, dia ingin Davira tetap ikut dengan mereka. Tapi dia tidak bisa memaksa Davira, dia tetap akan menghargai keputusan wanita itu.
"Setidaknya ucapkan terima kasih, jika bukan karena kami, kau akan mati tenggelam," ucap Jakob membuat Nathan terkekeh kecil.
"Aku baru ingin mengatakannya, kita baru bertemu hari ini bukan?" Nathan terlihat sudah begitu rapi dengan kemeja berwarna hitamnya, rambutnya yang panjang hingga sebatas tengkuk tampak ia ikat sebagian ke belakang, dia selalu terlihat menawan walaupun dengan beberapa lebam di wajahnya.
"Davira, kau sudah siap?" tanya Nathan melihat Davira yang sudah keluar dari kamarnya.
"Tidak ada yang perlu ku siapkan, tidak ada baju yang bisa ku bawa," jawab Davira lalu berdiri di sebelah Jakob dan juga Luca.
"Kita akan membeli banyak baju."
"Tidak perlu, aku ingin langsung melihat bukti itu setibanya di sana," ucap Davira sembari melirik Liam sekilas.
Liam, Jakob dan juga teman-temannya yang lain sangat paham dengan matanya yang berbicara, memberikan isyarat kepada mereka tentang rencana cadangan yang sudah mereka siapkan.
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang juga," Nathan berniat untuk menarik tangan Davira, namun wanita itu langsung menyembunyikannya.
"Jangan menyentuhku, aku bisa berjalan sendiri tanpa harus dituntun."
Nathan hanya tersenyum kecil mendengar nada bicara Davira yang terdengar begitu ketus.
"Paul, semuanya sudah kau siapkan?"
"Sudah, Tuan. Sebaiknya kita pergi dari tempat ini sekarang, karena saya mendapatkan informasi bahwa Tuan Aaron mengerahkan anak buahnya untuk mencari tahu tentang keberadaan Nona Davira."
Nathan berdecak, "Arghh......Aaron benar-benar mencari masalah denganku."
"Sepertinya Tuan Aaron menjadi sangat gigih untuk bisa mendapatkan Nona Davira karena....Tuan Julian lah yang menyuruhnya."
"Aku akan segera berbicara dengan ayah setelah urusanku dan Davira selesai," ucap Nathan lalu kembali menatap Jakob, Liam, Luca, Dex, Fedrix dan Mario secara bergantian.
"Akan ke mana kalian setelah ini?" tanyanya dengan satu alis yang sedikit terangkat.
"Mohon maaf aku tidak bisa memberitahu ke mana tujuanku setelah ini, Tuan Xie. Aku tidak pernah memberitahu siapapun mengenai keberadaan ku," jawab Jakob sembari tersenyum tipis.
Nathan hanya menatapnya datar, "Kita berangkat sekarang, Davira."
"Berhati-hatilah, Davira. Ku harap kau tidak salah mengambil keputusan," Jakob memeluk tubuh Davira membuat Nathan menatapnya tajam.
"Lepaskan Davira," desisnya.
__ADS_1
"Diamlah, Nathan. Kau tidak memiliki hak, lagi pula kami hanya sedang berpamitan," ucap Davira sembari membalas pelukan Jakob.
"Aku akan berhati-hati," bisik Davira kemudian melepaskan pelukannya, ia tersenyum tipis melihat Liam dan juga yang lainnya.
"Kami akan merindukanmu," ucap Mario membuat Davira terkekeh.
"Aku juga akan merindukan kalian."
Tiba-tiba saja Liam memeluk Davira, "Apapun hasilnya, ku harap kita semua tetap akan bertemu lagi setelah ini," bisiknya pelan.
"Pasti, Liam."
"Sudah cukup berpamitannya," Nathan menarik tubuh Davira dan menggenggam erat lengannya.
"Pergilah," ucap Luca membuat Davira mengangguk.
"Lepaskan tanganku," Davira mencoba untuk menariknya, namun tidak dihiraukan oleh Nathan.
"Saranku, tinggalkan markas ini sekarang. Karena aku yakin orang-orang Aaron akan segera memeriksa tempat ini."
"Itu pasti, Jonathan," sahut Dex.
Nathan segera melangkahkan kakinya membuat Davira mau tidak mau berjalan untuk mengikutinya. Davira hanya menoleh dan melambaikan tangannya.
"Dia tidur," jawab Nathan santai.
Davira mengernyit, "Tidur? Apakah dia tidak mendengar suara kita?"
"Aku tidak tahu," Nathan tersenyum kecil karena sebenarnya dia sudah memberi obat tidur di minuman Emma sehingga wanita itu tidak kunjung terbangun.
Nathan hanya tidak ingin Emma membuat rencananya menjadi kacau.
"Kalian akan pergi sekarang?"
"Iya Rolan, kami harus buru-buru. Dan terima kasih karena sudah menerima kami dengan baik di sini," sahut Paul membuat Rolan berdecak.
"Tidak perlu berterima kasih, lagi pula ini adalah markas Tuan Scott. Ke mana kalian akan pergi?"
"Kami tidak bisa mengatakannya, Rolan. Tapi tolong beritahu Emma bahwa aku kembali ke Roma saat dia sudah bangun," ucap Nathan yang tentunya membuat Rolan mengernyit heran.
"Jadi.....saya harus mengatakan hal itu? Tapi saya tidak berani membohongi Nona Emma, dia putri kesayangan Tuan Scott."
"Bukan kau yang berbohong, tapi aku. Katakan saja bahwa memang aku yang memberitahumu tentang ke mana aku pergi, katakan padanya aku memiliki urusan mendadak jadi tidak sempat untuk menunggunya."
__ADS_1
"Baik Tuan," ucap Rolan tidak bisa menolak permintaan Nathan.
"Aku sudah mengirimi hadiah sebagai tanda terima kasih ke nomor rekening mu," Nathan menepuk pelan pundak Rolan sembari berlalu menuju ke mobilnya.
Mata Rolan melebar mendengarnya, iya buru-buru memeriksa saldo di rekeningnya, melihat nominal yang bertambah drastis membuatnya begitu terkejut.
"Apa ini serius Tuan?"
Paul tersenyum, "Uang itu sudah ada padamu, jadi itu artinya Tuan Nathan tidak main-main."
"Arghh aku benar-benar tidak menyangka, terima kasih banyak Tuan!" seru Rolan merasa sangat senang sekaligus terkejut, ia tidak menyangka akan mendapatkan imbalan.
"Masuklah," Nathan membukakan pintu mobil untuk Davira.
Wanita itu duduk dengan tenang di sebelah Nathan, Paul mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Davira hanya diam di sepanjang perjalanan, wanita itu duduk bersandar dengan pandangan yang mengarah keluar jendela, menatap jalanan yang terlihat basah.
Matahari masih belum sepenuhnya muncul ke permukaan sehingga langit masih terlihat gelap.
Nathan memandangi wajah Davira lekat-lekat, dia sangat merindukan wanita itu. Melihat Davira kini berada di dekatnya membuat dia merasa bahagia.
Pandangan Nathan beralih ke leher Davira, ia tersenyum kecil saat melihat kalung inisial yang ia berikan masih dipakai oleh wanita itu.
"Davira, aku ingin menanyakan sesuatu, ku harap kau ingin menjawabnya agar aku bisa tenang," Nathan membuka suara ditengah keheningan yang tadinya menyelimuti mereka berdua.
Davira sontak menoleh pelan, ia menatap wajah Nathan, perasaannya menjadi tidak karuan.
"Ini tentang kematian nenekku, kau hanya perlu menjawab apakah kau pelaku yang sebenarnya atau tidak?"
Davira tertegun untuk sejenak sebelum membuka suaranya.
"Tidak," jawabnya singkat, namun hal itu berhasil membuat perasaan Nathan menjadi lega.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Karena aku percaya padamu, aku yakin kau jujur. Setelah ini aku akan mencari tahu siapa yang sudah menjebakmu, membuatmu diburu oleh keluargaku dan membuat keselamatanmu terancam."
Davira mengepalkan tangannya, "Kenapa kau langsung mempercayaiku? Bisa saja aku berbohong bukan?"
Tangan Nathan bergerak mengusap kepala Davira.
"Yang ku butuhkan hanyalah pengakuanmu, dan aku memiliki keyakinan yang kuat atas dirimu."
__ADS_1