Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 57 - Memukul Mundur


__ADS_3

Andreas dan Paul mulai saling menyerang dengan senjata masing-masing, Paul terlihat begitu cepat mengayunkan tongkat bisbolnya, sedangkan Andreas tampak lihai dengan palunya.


Keduanya terlihat sama-sama kuat dan berpengalaman, mereka berkelahi seolah benar-benar akan saling membunuh satu sama lain.


Bughh.


"Arghh!"


Tongkat bisbol Paul berhasil menghantam punggung Andreas membuat pria berambut pirang itu terdorong ke depan dan meringis pelan merasakan sakit.


Davira menatap sekelilingnya, benar-benar terlihat kacau. Suara ringisan, tembakan dan pukulan terus terdengar di telinganya membuat kepala Davira terasa berputar.


"Hiaah!"


Davira masih saja merasa tersentak melihat cara anak buah Nathan menyerang lawan-lawannya, begitu brutal dan juga cepat. Walaupun saat ini mereka kalah jumlah, namun hal itu tidak membuat anak buah Nathan menjadi kalah telak, mereka tetap terlihat seimbang.


Mayat mulai terlihat bergelimpangan dengan bersimbah darah, Davira menatap Jakob yang sedang berkelahi dengan banyak orang-orang, terlihat wajahnya yang sudah babak belur seperti teman-temannya yang lain. Beberapa luka bahkan terlihat jelas di wajah Liam serta Fedrix yang menyerang tanpa rasa takut seolah mereka siap mati hari ini.


Bugh.


"Bangs*at! Kau harusnya menyerahkan Davira atau membunuhnya!" teriak Aaron yang benar-benar telah diliputi oleh emosi.


Nathan meludahkan darah yang terasa asin di dalam mulutnya, ia mengusap pelan sudut bibirnya yang robek karena pukulan keras dari Aaron.


"Lebih baik aku membunuhmu," sahut Nathan membuat Aaron semakin merasa marah.


Nathan bergerak maju lalu menendang perut Aaron tanpa sempat pria itu untuk menghindarinya. Aaron tersungkur ke aspal dan meringis kesakitan.


"Akhh.....sial," umpat Aaron sembari memegangi perutnya.


Aaron menatap tongkat bisbol yang tergeletak di dekatnya, tanpa pikir panjang ia langsung mengambilnya lalu berdiri dan berusaha untuk menghantamkannya ke kepala Nathan.


Tentu saja Nathan berkelit, gerakan Aaron begitu cepat, pria itu berusaha keras untuk bisa mengalahkan Nathan yang kini menatapnya dengan tatapan meremehkan.


"Tangan kosong," Nathan berdecih pelan karena kini Aaron menggunakan senjata.


Dor.


Nathan segera menunduk saat peluru yang ditembakkan secara tidak beraturan hampir saja mengenainya.


Dengan cepat Nathan berlari membuat Aaron segera mengejarnya, Nathan berniat mencari tempat yang sedikit jauh dari perkelahian anak buah mereka. Nathan tidak ingin tertembak peluru secara tiba-tiba.


Sembari berlari Nathan mengambil palu yang dipenuhi dengan duri untuk menjadi senjatanya. Nathan berlari hingga kini mereka sampai di jembatan.


Bughh.


Nathan tersungkur ke depan saat punggungnya ditendang oleh Aaron yang masih mengejarnya.


"Kau tidak bisa kabur Nathan!"


Nathan segera bangkit kembali walaupun dengan punggung yang tentunya terasa begitu sakit.


"Aku tidak pernah kabur!" sentak Nathan tidak terima.


"Kita selesaikan hari ini juga! Ku pastikan kalian tidak bisa menyentuh Davira!" teriak Nathan kemudian bergerak menyerang Aaron.


Traang.


Kedua senjata mereka kini saling berbenturan seperti tatapan mata mereka.


Davira berdiri gelisah dengan pistol di tangannya, ia terus memperhatikan Paul dan teman-temannya yang sedang berkelahi sembari sesekali menembak orang-orang Aaron yang mencoba untuk menangkapnya.


Davira mengarahkan pistonnya kepada Andreas yang saat ini tengah menindih tubuh Paul, tampaknya Paul kewalahan menghadapi pria itu.


Namun tiba-tiba saja tubuh Davira diterjang membuatnya tersungkur dengan pistol yang langsung terlepas dari tangannya.


Mata Davira melebar ketika pria berkulit hitam seperti legam menarik tangannya dan berusaha untuk menyeretnya.


"Arghh!"


Davira tentu saja berusaha untuk berontak, ia mencoba untuk melepaskan tangannya, namun cengkraman pria itu begitu kuat membuat tangannya seperti akan diremukan.


Davira dipaksa berdiri, dengan tertatih-tatih Davira terpaksa mengikuti langkahnya yang sepertinya akan membawa Davira ke dalam mobil Aaron.


Bugh.

__ADS_1


Davira menelan salivanya susah payah saat tendangannya yang begitu kuat tidak berhasil membuat pria itu tersungkur, pria itu malah menatapnya tajam dan mengangkat tangannya berniat untuk menamparnya.


"Hiaah!"


Bugh.


Entah dari mana, Mario tiba-tiba datang dan langsung menghantam pria itu.


Keduanya kini berguling di aspal, Mario segera bangkit dan mencoba untuk menghunuskan pisaunya pada pria berkulit hitam itu.


Davira menatapnya was-was, pasalnya tubuh Mario terlihat jauh lebih kecil dari pada lawannya.


"Arghh sialan!" teriak Mario saat bogeman mendarat di rahangnya.


Davira tidak bisa tinggal diam, dia dengan cepat menendang pria itu sekuat tenaganya membuat pria itu terdorong ke belakang walaupun tidak sampai terpental.


Kini Davira berdiri di samping Mario, mereka berdua terlihat sudah begitu siap menghadapi pria itu.


Bughh.


Keduanya tersentak saat tiba-tiba darah muncrat sampai ke wajah mereka saat kepala pria itu dihantam oleh Fedrix dengan menggunakan palu berduri.


Mata pria itu terbelalak lebar seolah akan terlepas dari tempatnya.


Bruk.


Tubuh pria itu tumbang setelah ditendang oleh Fedrix, kepalanya terlihat remuk dan mengelus banyak sekali darah.


Mario geleng-geleng kepala, "Kau sangat brutal."


Fedrix hanya menatapnya dengan nafas yang terdengar memburu, ia segera bergerak menyerang yang lain tanpa mengatakan apapun.


"Dia menyeramkan," gumam Davira sembari menyeka darah di wajahnya.


"Davira, ini kesempatan, kita harus segera kabur," Jakob mendatanginya dan langsung menggenggam pergelangan tangan Davira membuat wanita itu meringis pelan.


Jakob segera melepaskannya saat melihat pergelangan Davira yang membiru, ia beralih menggenggam tangan Davira, wajahnya terlihat begitu serius.


"Kita pergi selagi mereka semua sibuk berkelahi," ucap Jakob segera menuntun Davira ke arah mobil siapapun yang ada di dekat mereka.


"Tuan benar, aku akan memberitahu yang lain."


"Davira, cepat masuk mobil."


Davira tertegun di tempatnya sembari menatap Paul yang meringis di atas aspal sembari memegangi bahu kirinya yang tertembak.


"Di mana Nathan?" batin Davira bertanya-tanya.


Mata Davira terus mengikuti ke arah Andreas yang berjalan ke arah jembatan, di sana terlihat dua orang pria yang sedang berkelahi satu lawan satu. Walaupun posisi mereka jauh, namun Davira masih bisa tahu bahwa kedua pria itu pastinya adalah Nathan dan juga Aaron.


"Ada apa Davira? Kita tidak punya banyak waktu, Jonathan ataupun Aaron yang menang sama saja, kau dan kami akan dibunuh!"


"Bagaimana jika perkataan Nathan itu benar?" tanya Davira sembari menatap manik mata Jakob.


"Apa maksudmu?"


"Aku harus melihat bukti yang dimaksud oleh Nathan, aku harus tahu siapa orang yang sudah membantai keluargaku!"


"Tunggu apa lagi? Ayo kita pergi!" Liam datang dengan tubuh yang dipenuhi dengan luka.


"Kita bantu Jonathan mengalahkan anak buah Aaron," ucap Jakob membuat semuanya begitu terkejut termasuk Davira.


"Jangan gila! Dia adalah musuh!" sentak Liam.


"Kita harus lari dari mereka! Jonathan hampir saja membunuh kita!" teriak Luca penuh amarah.


"Davira ingin tahu kebenarannya! Dia ingin tahu siapa yang sudah membantai keluarganya, apakah benar-benar Damian seperti yang dikatakan oleh Jonathan, atau tidak?"


"Apakah itu penting? Ku rasa nyawa lebih penting saat ini! Lihat, anak buah Jonathan semakin menipis, biar bagaimanapun nyatanya Jonathan kalah jumlah. Anak buahnya dan anak buah Aaron memiliki kemampuan dan keahlian yang hampir sama, karena mereka pastinya mendapatkan pelatihan yang sama. Mereka adalah keluarga Xie!" sahut Dex membuat Davira menghembuskan nafasnya kasar.


"Kalau begitu kalian pergi saja, aku harus berbicara dengan Nathan dan melihat bukti itu!" Davira segera berlari dengan kaki yang terasa sakit, ia berniat untuk menghampiri tempat perkelahian Nathan dan Aaron karena perasaannya begitu tidak nyaman.


Davira mengambil pistol milik salah satu anak buah Nathan yang sudah meninggal, ia terus berlari membuat Jakob segera mengejarnya.


"Kalian akan tetap kabur?" tanya Fedrix segera menyusul begitu juga dengan Liam dan Luca.

__ADS_1


Mereka bertiga mulai kembali menghadapi anak buah Aaron yang benar-benar tinggal tersisa sedikit.


Dex dan juga Mario saling menatap satu sama lain.


"Aku setuju dengan perkataan mu bahwa nyawa lebih penting dari pada apapun, Jonathan memang kalah jumlah dan ini seperti bunuh diri. Tapi aku tidak ingin menjadi pengecut," ucap Mario membuat Dex menghela nafas panjang.


"Aku juga tidak! Kalau begitu kita habisi anak buah Aaron itu, dan kita lihat siapa yang sebenarnya sudah membuat Davira menderita!" sahut Dex kemudian berlari untuk membantu teman-temannya.


Nathan melayangkan tinjunya berkali-kali ke wajah Aaron tanpa memberi kesempatan karena senjata keduanya sudah sama-sama terlepas dari tangan mereka. Aaron bahkan tidak bisa membalas pukulan Nathan saat ini.


Bughh.


Tubuh Nathan terpelanting secara tiba-tiba karena dorongan Andreas, Aaron tersenyum licik karena orang kepercayaannya itu datang membantu.


Nathan meringis, Andreas menarik kerah kemejanya dan memaksanya untuk berdiri. Nathan melayangkan tatapan tajam, bogeman mentah kini mendarat di wajahnya, tubuh Nathan didorong ke belakang membuat punggungnya menabrak pembatas jembatan.


Nafas Nathan sudah tersengal-sengal, ia menatap Aaron yang masih terbaring di aspal, sepupunya itu terlihat terkekeh membuatnya mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Dor.


"Nathan!" teriak Davira saat timah panas yang berasal dari pistol Andreas berhasil menembus dada kiri Nathan tanpa diduga-duga.


"Akhh."


Tiba-tiba saja Aaron bangun dan langsung memukul wajah Nathan kemudian mendorongnya sekuat tenaga hingga terjatuh dari atas jembatan dan masuk ke dalam air.


Davira terpaku di tempatnya, sedangkan Jakob langsung menembak Andreas sampai peluru di pistolnya habis.


"Sial, anak buah Jonathan sudah habis! Kita harus lari Davira!" teriak Liam berlari menghampiri, terlihat masih ada sekitar 15 orang yang juga telah terluka masih namun masih mampu bertarung sedang berdiri di antara tubuh orang-orang yang sudah tumbang, entah mereka semua sudah mati atau hanya terluka parah sehingga tidak bisa bangkit lagi.


"Ini gila! Mereka semua sangat terlatih dan jumlah mereka sejak awal jauh lebih banyak dari pada kita!" Luca langsung menarik tangan Davira.


"Nathan terjatuh ke dalam air! Kita harus menyelamatkannya!" ucap Davira segera melepaskan tangan Luca kemudian berlari secepat yang ia bisa sembari menahan sakit di kakinya yang terus mengeluarkan darah.


"Bagaimana ini Tuan?" tanya Luca merasa bimbang.


"Tuan mereka masih hidup, aku yakin orang-orang itu tidak akan membiarkan Aaron mati, karena jika hal itu terjadi, maka mereka akan di amuk oleh keluarga besar Xie," jawab Jakob kemudian langsung mengambil tongkat bisbol di tangan Luca lalu berlari ke arah Aaron.


Bughh.


Jakob langsung memukulkannya ke tubuh Aaron tanpa pikir panjang lagi membuat Aaron tersungkur.


"Arghh sialan!" teriak Aaron merintih kesakitan.


"Tuan kalian akan mati jika kalian tetap menyerang kami!" ancam Jakob membuat 15 anak buah Aaron terdiam di tempat mereka.


Jakob menempelkan mulut pistolnya di pelipis Aaron.


"Aku tidak main-main, aku masih memiliki lima orang yang akan siap menghadapi kalian, tapi itu jika kalian tetap menyerang dan ingin melihat Tuan kalian ini mati," ucap Jakob dengan tersenyum miring.


Liam dan yang lainnya langsung berdiri di sisi kiri dan kanan Jakob..


"Ini adalah pilihan, mundur atau tetap menyerang dan kehilangan Tuan kalian!"


"Ja-jangan dengarkan....."


Bughhh.


Baru saja ingin membuka mulutnya, Jakob langsung memukul kepala Aaron dan membuatnya pingsan.


"Apa yang kau lakukan kepada Tuan kami?!" teriak salah satu dari mereka merasa panik.


"Hanya membuatnya pingsan, sekarang pilihlah, bawa dia atau kita bertarung?!"


Orang-orang itu sontak saling menatap, mereka semua tidak mungkin membiarkan Aaron mati begitu saja.


"Lepaskan Tuan kami maka kami akan membawanya dari sini, kami akan mundur!"


"Jangan coba-coba untuk membohongiku! Saat ku lempar Aaron kepada kalian, maka kalian harus segera pergi. Karena jika tidak, aku akan langsung menyerang kalian, kami mampu mengalahkan kalian. Sudah terlihat buktinya, ada berapa banyak teman-teman kalian yang mati di tangan orang-orangku?!"


Hal itu tentu saja membuat anak buah Aaron merasa gentar dan berpikir dua kali untuk menipu Jakob.


"Kami benar-benar akan mundur," ucap salah satu dari mereka membuat Jakob segera mendorong tubuh Aaron yang tidak sadarkan diri.


Mereka semua terlihat memeriksa denyut nadi dan juga pernafasan Aaron sebelum membopongnya untuk dibawa ke dalam mobilnya, mereka benar-benar pergi dengan mobil mereka karena sepertinya terlalu khawatir dengan keadaan Aaron.

__ADS_1


Byur.


"Davira! Apa yang kau lakukan?!"


__ADS_2