Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 70 - Ancaman Erick


__ADS_3

Davira tertawa lepas ketika Nathan berlari dengan dia yang masih berada di dalam gendongan pria itu.


Davira sontak memeluk erat leher Nathan, pria itu berlari hingga setengah tubuh mereka tenggelam di dalam air pantai. Davira terkekeh merasakan sapuan ombak di kulitnya.


Gadis itu segera turun dari pundak Nathan kemudian berdiri di hadapan pria itu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Nathan sembari menarik pinggang Davira agar lebih mendekat kepadanya.


Davira mengusap pelan rahang tegas Nathan sembari terus menatap lekat netra pria itu.


"Kau memenuhi janjimu, sunsetnya sangat indah, Nathan," ucap Davira membuat Nathan tersenyum.


"Kaulah yang indah," Nathan menarik tengkuk Davira kemudian mendekatkan wajahnya, membuat bibir mereka kembali bertemu.


Davira sontak mengalungkan lengannya ke leher Nathan dan melingkarkan kakinya di pinggang pria itu saat tubuhnya di angkat dengan begitu mudah.


Nathan melu*mat bibir Davira yang terasa begitu manis, tangan gadis itu bergerak mengusap rahang Nathan, membuat Nathan semakin memperdalam ciuman mereka.


"Aku mencintaimu, Davira," ucap Nathan disela-sela ciuman mereka.


Davira terkekeh kecil, "Aku tahu."


Nathan melepaskan pagutan bibir mereka, ia tersenyum menatap wajah Davira yang berada tepat di depan matanya.


"Aku senang melihat senyummu, kau jarang sekali tersenyum seperti ini," Davira mengusap kepala Nathan dengan mata yang tidak lepas dari pria itu.


"Kau yang membuatku tersenyum, jangan pernah meninggalkanku lagi, Davira."


"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu lagi? I will never leave you, Nathan," Davira memeluk leher Nathan sembari mengusap belakang kepala pria itu.


Nathan memeluk erat tubuh Davira, sesekali mengecup pundak wanita yang begitu ia cinta itu.


π_π


Nathan memeluk tubuh Davira, wanita itu tengah bersandar dengan nyaman di dada bidangnya. Besok dia akan meninggalkan wanita itu dan kembali ke Roma untuk berbicara langsung dengan ayahnya, dia harap Julian akan memberinya kesempatan untuk mencari bukti mengenai kematian neneknya.


"Nathan, apa aku benar-benar tidak bisa ikut ke Roma?" tanya Davira sembari mempermainkan jari-jarinya di dada telanjang Nathan.


"Kita sudah membicarakan hal itu sebelumnya, Davira. Kau akan tetap di sini, kau akan aman."


"Aku lebih senang berada dalam bahaya bersamamu," ucap Davira membuat Nathan terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


Nathan mengecup dahi Davira, "Aku akan kembali secepatnya, aku akan lebih senang jika kau tidak pernah berada dalam bahaya."


Davira menghela nafas panjang, entah mengapa dia merasa khawatir dan merasa berat ditinggalkan oleh Nathan. Davira merasa takut, dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada Nathan.


"Sebaiknya kau ceritakan, hal menyenangkan apa saja yang kau lakukan saat bekerja dengan Jakob?"


Davira sontak tertawa kecil, "Memangnya apa yang ingin kau dengar? Tentang aku yang menjadi pengawal narkoba dengan mobil tanpa pelindung dan berkelahi dengan perampok amatir?"


"Itu menyenangkan, wajar saja kau betah dan sangat berat berpisah dengan mereka," Nathan mengecup singkat bibir Davira.


"Memang, kehidupan yang sangat bebas, tanpa ada rasa takut, tanpa memikirkan kematian."


"Kau menyukai kehidupan seperti itu?"


Davira menganggukkan kepalanya pelan lalu tersenyum sembari mengusap kalung yang selalu ia kenakan.


"Aku menyukai kehidupan seperti itu, tidak menyembunyikan kesalahan, hanya lari dari polisi karena memang melakukan kesalahan. Tidak lari karena sesuatu yang tidak pasti, hidup tanpa adanya aturan ataupun beban."


π_π


"Aku tidak menyangka kau akan mengatakan itu padaku, Erick."


"Apa aku salah, Emma? Aku hanya meminta imbalan, kau pikir aku akan terus membantumu? Kau tahu permasalahan yang harus ku bereskan ini tidaklah mudah, aku harus membahayakan nyawaku sendiri. Dan aku tidak akan melakukan hal itu hanya untuk seorang wanita yang tidak memiliki hubungan apapun denganku."


"Apa maksudmu Erick? Sudah berapa lama kita menjadi sahabat? Apa itu bukan hubungan?"


Erick terkekeh kecil, "Persahabatan itu omong kosong, aku tidak pernah menganggap mu sebagai sahabatku. Sedari awal kau tahu hal itu, kau mempertahankanku di sisimu dengan alasan persahabatan hanya agar kau tidak kehilangan seorang pria yang selama ini terus melindungimu, terus menjaga dan membereskan masalahmu."


"Kau salah menilaiku, Erick. Aku benar-benar menganggapmu sebagai sahabatku, jika kau mencintaiku, itu adalah salahmu. Aku tidak pernah bersikap berlebihan kepadamu."


"Aku tidak pernah salah dalam menilai seseorang, Emma," Erick menghela nafas panjang kemudian tersenyum menatap wajah Emma yang tampak begitu tegang.


"Begini saja Emma, jangan berbelit-belit. Ku rasa apa yang ku katakan padamu di telepon sudah sangat jelas. Aku akan mencari orang itu, menyingkirkan semua bukti yang tersisa, dan membereskan kekacauan yang kau ciptakan. Tapi itu semua tidak gratis, aku ingin kau menjadi milikku. Tidak ada lagi Nathan, hanya aku. Kau harus berhenti mencintai Nathan jika ingin hidupmu tenang, Emma. Jangan menyia-nyiakan hidupmu yang sempurna hanya untuk dia."


Emma meremas kuat ujung dress yang ia kenakan.


"Aku tidak akan pernah menjadi milikmu, kau tahu aku sangat mencintai Nathan sampai-sampai rasanya aku akan gila! Aku tidak bisa melepaskan Nathan begitu saja, aku harus bisa mendapatkan Nathan! Jika kau tidak ingin membantuku, maka aku bisa meminta bantuan kepada ayahku, aku yakin dia bisa membereskan masalah ini, bahkan lebih cepat darimu."


Erick sontak tertawa membuat Emma mengernyit menatapnya.


"Tidak ada yang lucu Erick!" bentak Emma mulai habis kesabaran.

__ADS_1


"Kau tidak akan meminta bantuan kepada ayahmu."


"Aku akan, kenapa tidak?"


Tawa Erick seketika reda, ia menatap Emma dengan wajah yang mengeras.


"Karena aku akan mendapatkan orang itu dan semua bukti tentang apa yang kau lakukan sebelum ayahmu yang mendapatkannya, setelah itu aku akan menyerahkannya kepada mereka."


Braak.


Emma langsung menggebrak meja, "Jangan main-main denganku Erick! Kau tidak bisa mengancamku seperti ini! Kau tidak akan pernah menyerahkan bukti itu kepada mereka!"


"Aku bisa Emma! Kau pikir aku tidak bisa melakukannya!" suara Erick terdengar meninggi membuat Emma menatapnya was-was.


"Kau tega melakukan hal itu kepadaku?"


"Kenapa tidak, Emma? Aku sudah memberimu pilihan, jadi pikirkanlah baik-baik sebelum semuanya terlambat. Aku memberimu waktu dua puluh empat jam untuk berpikir, bersamaku atau semuanya terbongkar. Kau hanya perlu menjadi milikku, melupakan semua tentang Nathan dan berhenti bertemu dengannya. Kita akan menghilang seperti bukti itu."


Emma tertegun mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Erick, ia menatap wajah Erick dengan mata yang mulai memerah.


"Aku membencimu, Erick," desis Emma segera berdiri dari duduknya.


Melihat Emma yang berniat meninggalkannya membuat Erick segera menahan lengan wanita itu.


"Lepaskan aku!" Emma mencoba untuk menarik lengannya, namun cekalan Erick begitu kuat.


"Aku tidak main-main dengan perkataanku, Emma. Aku sedang mencari orang itu dan juga semua bukti yang tersisa, aku jelas sudah melangkah jauh dari pada ayahmu untuk permasalahan ini. Jadi hanya akulah yang bisa membantumu, pikirkanlah imbalan yang ku minta."


"Ku kira selama ini kau mencintaiku, Erick. Tapi ternyata aku salah, kau bahkan tega melakukan ini kepadaku."


"Apa maksudmu Emma? Jelas aku mencintaimu, seperti cinta Nathan kepada Davira, dan seperti cintamu kepada Nathan, kita semua sama. Kita bertiga melakukan segala cara untuk mendapatkan orang yang kita cintai," ucap Erick kemudian melepaskan cekalannya dari lengan Emma.


Erick mengusap pipi wanita itu kemudian tersenyum kecil melihat kemarahan yang terlihat dari tatapan mata Emma, selama ini dia tidak pernah mendapatkan tatapan seperti itu dari Emma.


"Sampai jumpa besok malam, Emma. Aku akan menunggu keputusanmu," Erick berbalik kemudian melangkahkan kakinya menuju balkon.


Emma menatap punggung Erick yang menjauh dengan tangan yang terkepal kuat. Emma segera keluar dari apartemen Erick, perasaannya benar-benar kacau. Otaknya mulai buntu, dia tidak tahu harus apa. Selama ini ia selalu bergantung kepada Erick dan mempercayakan semua masalahnya kepada pria itu.


Tapi sekarang Erick membuatnya tersudut, mendorongnya hingga ke tepi jurang dan membuatnya hanya mempunyai dua pilihan, yaitu menyambut uluran tangan Erick dan selamanya digenggam oleh pria itu, atau terjatuh ke dalam jurang dengan resiko kematian hanya untuk menghampiri Nathan.


Namun Emma tidak bisa jika harus melepaskan Nathan begitu saja, dia tidak akan bisa bersama dengan Erick. Emma tidak mencintai Erick, yang dia inginkan hanya Nathan. Sejak dulu hingga sekarang, tidak ada yang berubah. Hanya perasaan ingin memilikinya yang semakin kuat.

__ADS_1


__ADS_2