
Seluruh penjaga yang ada di sana begitu terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Damian kepada Angga, semuanya terjadi begitu cepat dan tanpa diduga-duga.
"Lakukan dengan cepat," ucap Damian sembari memasang sarung tangannya.
Puluhan orang-orangnya langsung menembaki para penjaga di mansion itu, baku tembak pun terjadi dengan sangat cepat.
Damian dan Keenan segera memasuki mansion, mereka berdua langsung menembak siapa saja yang terlihat oleh mata mereka.
Dor.
Dor.
Para penjaga di mansion tentunya terus berdatangan mendengar suara tembakan di lantai bawah. Semua anak buah yang Damian bawa menembaki orang yang berdatangan dengan sangat cepat dan juga brutal.
"Bereskan lantai satu, aku akan menyapa nenek Davira terlebih dahulu. Ku dengar dia merindukanku, susul aku secepatnya," Damian menepuk pelan pundak sepupunya.
Keenan terkekeh kecil mendengarnya, "Kau benar-benar gila, ku harap Davira tidak mengetahui hal ini."
Dor.
Keenan tersentak kaget karena Damian menembak seorang penjaga yang berada di atas tangga tanpa aba-aba.
"Tentu saja Davira tidak boleh mengetahui hal ini, kau tahu aku tidak bisa kehilangannya," Damian segera berlari kecil memasuki lift.
"Dan aku tidak bisa kehilangan keluargaku," gumamnya pelan.
Ting.
Pintu lift terbuka lebar, Damian langsung menembaki para penjaga yang sudah menghadangnya.
Damian sedikit tersentak melihat neneknya Davira sudah berada di depannya dengan mata yang terbelalak kaget melihat kejadian barusan.
"Apa yang kau lakukan Damian!" teriak wanita paruh baya itu.
"Ku dengar nenek merindukanku," Damian berjalan mendekat membuat wanita tua itu melangkah mundur.
Namun Damian menarik tubuhnya kemudian mendorongnya hingga tersungkur ke dalam lift.
"Akhh......kau!"
"Maafkan aku nenek."
Dor.
Damian memejamkan matanya untuk sejenak kemudian kembali berlari, meninggalkan nenek Davira yang tiada di dalam lift karena pelurunya.
Damian menghela nafas panjang, sebagian anak buahnya kini menyusulnya ke lantai dua. Mereka terus menembaki para penjaga yang berdatangan, tidak memberi ampun kepada siapapun.
__ADS_1
Dor.
"Sial," umpat Damian saat melihat Gaffar yang keluar dari kamarnya.
Gaffar terlihat begitu ahli menembaki anak buahnya membuat Damian merasa was-was.
Mata mereka kini bertemu, Gaffar terlihat begitu marah dan pastinya kecewa kepadanya.
"Berani-beraninya kau mengkhianati putriku!" teriak Gaffar kemudian mengarahkan pistolnya pada Damian.
Dor.
Belum sempat Gaffar menarik pelatuknya, Keenan sudah menembak kakinya terlebih dahulu sehingga pria itu tersungkur ke lantai.
"Arghh! Kau benar-benar pria pengecut!"
"Kita harus menyeretnya ke kamar, kita juga harus menemui Nyonya Roselyn," ucap Keenan membuat Damian yang tertegun di tempatnya langsung tersadar.
"Ku rasa ini salah," ucap Damian membuat Keenan mengernyit menatapnya.
"Ingin berhenti dan kehilangan semuanya? Keluarga Lee akan mencampakkan mu, kau akan diburu oleh keluarga Xie, dan kau akan kehilangan Davira. Kita sudah di sini, Damian. Tidak ada kata mundur lagi, sedari awal kita berdua tahu ini salah."
Damian menghembuskan nafasnya kasar kemudian segera menendang pistol yang hampir berhasil di ambil oleh Gaffar.
"Arghh sialan!" teriak Gaffar saat Damian mulai menyeret lengannya.
"Roselyn! kunci pintunya!" Gaffar berteriak kencang membuat sang istri yang sudah sedari tadi berdiam diri di kamar karena perintah Gaffar semakin merasa panik.
Roselyn tersentak saat Keenan sudah mendobrak pintunya, pria itu langsung menghampirinya dan mendorong tubuhnya hingga terhimpit ke tembok.
"Akhh......"
"Katakan! Di mana aset-aset berharga milik kalian!" teriak Keenan di depan wajah Roselyn.
Namun Roselyn malah terkekeh, "Aku baru tahu, ternyata keluarga Lee adalah perampok," desisnya di akhir kalimat membuat emosi Keenan tersulut.
Plakk.
Tamparan keras mendarat di pipi Roselyn hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
Mata Roselyn melebar saat melihat suaminya yang diseret masuk ke dalam kamar.
"Damian, kita bunuh saja mereka berdua. Aku yakin mereka tidak akan pernah memberitahu tentang apapun kepada kita. Kau hanya perlu mengoreknya dari Davira, dan selesai."
Damian mengangguk pelan kemudian memasang penutup wajahnya.
"Gunakan penutup wajahmu, aku tidak ingin Davira mengenali kita berdua "
__ADS_1
"Arghh aku akan membunuh kalian, jangan menyentuh Davira!"
Davira segera menutup layar laptop dengan mata yang sudah begitu memanas, dia tidak akan sanggup untuk melanjutkan video tersebut. Davira tidak bisa melihat kembali kejadian yang selama ini ia coba untuk lupakan.
Davira tidak bisa melihat orang tuanya disiksa dan perlakukan dengan sangat kasar oleh Damian.
"Kenapa tidak dilanjutkan? Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Mario membuatnya langsung mendapatkan pukulan keras dari Dex di pundaknya.
"Bodoh," celetuk Dex merasa kesal dengan pertanyaan Mario.
Davira segera berdiri dengan rasa sesak di dadanya, Nathan meraih tangannya, namun Davira langsung menggelengkan kepalanya membuat Nathan mengerti.
"Aku akan selalu ada," ucap Nathan kemudian melepaskan genggaman tangannya.
Davira buru-buru keluar dari kamar itu, ia melangkahkan kakinya menyusuri lorong. Tubuhnya mulai terasa gemetaran, air matanya perlahan berjatuhan tanpa bisa ia tahan-tahan lagi.
Davira terus berjalan menaiki undakan tangga yang dia tidak tahu akan membawanya kemana hingga ia menemukan sebuah pintu. Davira langsung membuka pintu itu dengan tangannya yang gemetaran, angin kencang langsung menerpa tubuhnya.
Davira melangkah di rooftop yang tampak begitu indah, sangat bertolak belakang dengan perasaannya. Davira memegang besi pembatas, ia menatap langit yang berwarna kekuningan.
Tangisan Davira semakin pecah, kakinya terasa lemas membuatnya kini terduduk di lantai rooftop yang dingin. Davira menyandarkan kepalanya pada besi pembatas sembari terus terisak.
"Arghh.....aku membencimu Damian, aku sangat membencimu."
Davira begitu kecewa, ia sangat membenci Damian, saat ini sudah tidak ada lagi rasa cinta di hatinya. Yang tersisa hanyalah kebencian dan juga kekecewaan untuk Damian.
"Bastard," desisnya mengingat semua tentang kenangan indah mereka.
Mengetahui semua itu hanyalah kebohongan Damian membuatnya benar-benar merasa begitu bodoh.
"Semuanya bohong," gumam Davira kemudian memukul-mukul kepalanya sendiri, mencoba untuk menghilangkan bayangan Damian dari kepalanya.
Saat-saat mereka bahagia, tertawa, kebahagiaan abadi yang dijanjikan oleh Damian semuanya adalah omong kosong.
Davira membenci Damian dengan seluruh hatinya, bahkan sekarang dia merasa ingin membongkar kuburan Damian kemudian menembaki mayat pria itu dengan seluruh peluru di pistolnya.
Sebuah sentuhan kini ia rasakan di pundaknya.
"Aku menuduhmu, aku bodoh, Nathan. Aku sangat bodoh," gumam Davira, suaranya bahkan sudah terdengar parau.
Nathan segera menarik tubuh Davira membuat wanita itu menghadap ke arahnya.
"Kau tidak bodoh, Davira. Kau tidak salah," ucap Nathan kemudian memeluk tubuh Davira, membiarkan wanita itu kembali menangis di dalam pelukannya.
"Harusnya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan Damian, harusnya aku langsung membunuhnya di pertemuan pertama. Dia benar-benar berhasil menghancurkan aku, Nathan. Dia merenggut kedua orang tuaku, dia menipuku."
Nathan mengusap kepala Davira, ia hanya diam, mendengarkan semua yang Davira katakan.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak pernah meninggalkanku, Nathan? Kenapa kau tidak pernah berpaling?" tanya Davira sembari membenamkan wajahnya di dada Nathan, membuat air matanya membasahi kaos yang dipakai oleh pria itu.
"You have my love, that's why I never leave you."