
Atvita segera menahan tangan Nathan sekuat tenaga, ia merasa begitu terkejut saat melihat Paul ada di depan pintu unit apartemen Aaron membuatnya bergegas masuk, dan benar saja, ada Nathan yang lagi-lagi berkelahi dengan Aaron.
"Hentikan Nathan! Aaron!" teriak Atvita merasa frustasi ketika ia didorong oleh Nathan.
"Arghh sialan," desis Aaron kemudian mengapit leher Nathan dengan kakinya.
"Aaron lepaskan dia!"
"Kalian ini kenapa?!"
Braak.
Kursi yang tadinya di pegang Nathan kini patah ketika pria itu menghantamkannya ke lantai karena Aaron yang langsung menghindar.
Bughh.
Nathan membenturkan kepalanya ke kepala Aaron, kemudian kembali melayangkan tinjunya.
"Akhhh! Bang*sat!"
Aaron semakin mengapit leher Nathan sekuat tenaga hingga wajah Nathan terlihat memerah. Namun Nathan segera berdiri dan menghempaskan tubuh Aaron yang ikut terangkat.
Braak.
Aaron yang tergeletak di lantai langsung menendang tulang kering Nathan membuat Nathan ikut tersungkur bersamanya di lantai.
Atvita terperanjat kaget melihatnya, wanita itu mulai menghela nafas panjang kemudian meletakkan tasnya di atas meja. Atvita mengangkat tinggi dress-nya lalu berlari ke arah Nathan dan Aaron yang terlihat berusaha untuk bangkit dan kembali berkelahi.
Bughh.
Atvita melayangkan tinjunya di wajah Aaron dan juga Nathan secara bergantian, gerakan wanita itu begitu cepat membuat Aaron dan Nathan tercengang di tempat mereka.
Atvita mencengkram erat lengan kedua pria itu dengan nafas yang memburu menahan amarah.
"Aku tahu kalian berdua berasal dari keluarga Xie, aku pun juga! Tapi tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cara seperti yang kalian lakukan!" bentak Atvita benar-benar merasa muak dengan permusuhan keluarga.
"Siapa yang mengatakan kami berkelahi untuk menyelesaikan masalah, Atvita? Sekarang lepaskan aku," Aaron mencoba menarik tangannya, namun Atvita semakin erat mencengkram dan malah melayangkan tatapan tajam kepadanya.
"Dan kau Nathan? Ku dengar kau tertembak, kenapa kau berada di sini? Kenapa menemui Aaron?" tanya Atvita beralih menatap Nathan yang sama babak-belurnya dengan Aaron.
"Aku ke sini untuk berbicara dan menyelesaikan masalah," jawab Nathan membuat Atvita melepaskan cengkramannya dari lengan pria itu.
Sedangkan Aaron langsung berdecih mendengarnya.
"Menyelesaikan masalah," Aaron terkekeh.
__ADS_1
"Dengan menendangku dan masih menyembunyikan pembunuh nenek?"
"Kau yang memulainya dan Davira bukan pelakunya!" teriak Nathan masih diliputi amarah.
"Bullshit, kau hanya ingin melindunginya!"
"Stop it!" bentak Atvita sembari menahan keduanya yang sama-sama ingin kembali mendekat untuk menghajar wajah satu sama lain.
"Menyingkir Atvita, jangan sampai tinjuku salah sasaran."
"Dan jangan sampai aku kembali meninjumu Aaron!" Atvita menghela nafas kasar.
"Nathan, cepat katakan apa yang ingin kau katakan dan setelah itu pergi karena aku tidak ingin lagi melihat kalian berdua berkelahi."
"Aku datang ke sini hanya untuk meminta kepada Aaron agar tidak lagi memerintahkan orang-orangnya mencari Davira, jangan pernah berniat untuk mengganggunya apalagi menculiknya dariku karena dia bukan pelakunya."
"Bang*sat kau selalu membelanya! Racun itu ada di dalam tas Davira!"
"Dia dijebak! Davira tidak akan bisa meracuni nenek, dia terus bersamaku sepanjang acara! Dia juga tidak mungkin bisa mendapatkan racun itu!"
Atvita berdiri di depan Aaron dengan tangan yang terus menahan tubuh kakaknya itu.
"Tapi Nathan, Aaron dan keluarga kita tidak akan berhenti mencari Davira karena memang dialah yang memiliki racun itu di tasnya. Dia juga membenci keluarga kita karena mengira bahwa kitalah yang sudah membantai keluarganya. Alasan Davira meracuni nenek sangat kuat dan masuk akal, siapa lagi yang bisa melakukan itu selain dia?"
"Ada banyak yang bisa melakukan itu selain Davira, kau yakin bisa mempercayai semua anggota keluarga Xie? Apa kah yakin tidak ada yang berkhianat?"
"Diam dulu Aaron!"
"Kau yang diam Atvita! Nathan benar-benar sudah buta! Mana mungkin anggota keluarga Xie yang melakukannya, nenek adalah orang yang paling dihormati!"
"Maka dari itu aku datang ke sini untuk meminta waktu! Aku ingin mencari kebenarannya, aku ingin menyeret pelaku yang sebenarnya ke hadapan kalian semua karena aku yakin memang bukan Davira pelakunya!"
"Bagaimana bisa kau begitu yakin hah?!"
"Davira tidak akan bisa masuk ke ruang cctv, Davira juga tidak pernah mendekat ke meja makan. Dia bersamaku sepanjang waktu, aku akan benar-benar menemukan pembunuh itu. Jadi berhenti memburu Davira untuk sementara waktu! Aku sudah berbicara dengan ayahku dan dia memberiku waktu satu minggu untuk membereskan masalah ini!"
"Kalau begitu kami juga akan memberimu waktu seperti yang ditentukan oleh paman Julian, temukan pelaku yang sebenarnya dan seret ke hadapan kami. Jika dalam waktu satu minggu kau belum menemukannya, maka kami tidak akan berhenti mengejar Davira. Akan ku pastikan dia tidak bisa mendapatkan ketenangan dalam hidupnya."
"Apa yang kau katakan Atvita? Aku tidak setuju!" Aaron menatapnya tidak terima.
"Dengarkan aku, Aaron. Ini lebih baik dari pada kalian harus terus menerus berkelahi, memberi Nathan waktu tidak ada salahnya. Lagi pula aku tidak ingin kita salah bunuh jika memang bukan Davira pelakunya."
"Nathan bisa saja memanipulasi bukti agar Davira tetap aman!"
"Aku tidak selicik itu sialan!" sahut Nathan ingin mendekat untuk melayangkan tinjunya, namun tentu saja Atvita menahannya.
__ADS_1
"Begini saja!"
"Kau ingin kembali menyerangku Nathan?!"
"Aku ingin membunuhmu!"
"Diam! Dengarkan aku!" teriak Atvita benar-benar merasa lelah dengan situasi sekarang ini.
"Aaron, kau harus ikut andil dengan Nathan untuk mencari bukti itu!"
"Aku tidak akan bekerjasama dengannya!" tolak Nathan.
"Jika memang bukan Davira pelakunya kau harus menyetujuinya Nathan! Kau harus setuju agar bukti itu tidak dicurigai oleh Aaron dan semua anggota keluarga kita."
"Aku setuju dengan saran Atvita, aku akan ikut menyelidikinya bersamamu. Dan jika aku menemukan bukti yang lagi-lagi mengarah pada Davira, maka aku akan langsung membunuhmu dan juga dia."
Nathan tersenyum sinis, "Membunuhku? Latihanlah lebih keras jika ingin melakukannya."
"Baiklah Atvita, aku setuju dengan saranmu. Aku akan mulai menyelidiki tentang kematian nenek besok pagi, ku sarankan agar kau datang menemuiku sebelum jam enam," ucap Nathan sembari melangkahkan kakinya.
"Aku bukan anak buahmu sialan!" teriak Aaron tidak terima, namun Nathan tidak lagi menanggapinya dan terus melangkah keluar dari apartemen Aaron.
"Kita pulang ke mana Tuan?" tanya Paul sembari memperhatikan lebam dan luka di wajah Nathan yang semakin bertambah banyak.
"Ke apartemenku, aku tidak ingin ke mansion."
"Baik Tuan, saya akan memanggil dokter untuk mengobati luka anda."
Atvita mengusap kasar wajahnya melihat betapa kacaunya apartemen yang saat ini ditempati oleh kakaknya. Pecahan kaca ada dimana-mana, kursi dan meja tidak berada di tempatnya.
"Harusnya kau tidak datang, Atvita," Aaron menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang, ia benar-benar merasa lelah.
"Dan membiarkanmu terus berkelahi sampai mati dengan Nathan?" Atvita duduk di sebelah Aaron sembari mengusap punggung tangannya yang memerah karena meninju Nathan dan juga Aaron.
"Kau harus benar-benar mengikuti saranku tadi, Aaron. Aku tidak membela Nathan, tapi dia memang harus diberi waktu untuk membuktikan keyakinannya terhadap Davira. Dan saat waktu itu habis, maka tidak ada lagi alasan Nathan untuk terus melindungi Davira."
"Aku juga ingin tahu pelaku yang sebenarnya jika memang bukan Davira, aku penasaran siapa yang begitu berani melakukan hal gila itu," Aaron menatap langit-langit kamarnya.
"Maka dari itu selidiki semuanya bersama dengan Nathan mulai besok pagi. Dan ingat Aaron, belajarlah untuk mengendalikan emosimu. Jangan sampai kau dan Nathan menghabiskan waktu hanya untuk berkelahi, kita ini keluarga. Jangan menyerang satu sama lain."
Aaron terkekeh kemudian bangkit membuatnya dan Atvita kini duduk sejajar.
"Aku tidak bisa berjanji Atvita, sebaiknya sekarang obati lukaku dan telepon seseorang untuk membereskan kekacauan ini."
Atvita memutar bola matanya kemudian menepuk pipi Aaron yang membiru.
__ADS_1
"Sialan kau Atvita!"