
"Davira!"
"Davira!"
Suara teriakan seorang wanita yang memanggilnya dari luar kamar membuat Davira tersentak kaget. Davira dan Nathan sontak saling menatap satu sama lain, Davira yang saat ini tengah duduk sembari membaca buku dengan Nathan yang memeluknya segera melepaskan diri.
"Itu suara Atvita."
"Apa yang kalian lakukan di dalam?! Davira! Nathan!"
Davira buru-buru melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu kamarnya, kini dia bisa melihat Atvita yang berdiri sembari bersedekap dada dengan senyum jahilnya.
"Atvita, kau tidak mengatakan padaku akan ke Bali," Davira tersenyum tipis kemudian memeluk Atvita.
"Aku sengaja tidak memberitahu kalian berdua," Atvita membalas erat pelukan Davira, sudah dua bulan sejak kejadian waktu itu, mereka berdua menjadi sangat dekat walaupun selama satu bulan ini Davira dan Nathan memutuskan untuk menetap di Bali sehingga Atvita dan Davira tidak lagi bertemu.
"Di mana Lea, kau membawanya?" tanya Nathan menghampiri.
"Lea di Spanyol," cicit Atvita setelah pelukannya dan Davira terlepas.
Nathan mengernyit, "Di Spanyol? Apa maksudmu dia di Spanyol?"
"Kau tahu selama dua bulan ini Alvar tidak pernah menyerah dengan hubungan kami, dia berusaha untuk memperbaikinya. Dan Alvar pintar, dia berhasil mengambil hati Lea dengan cepat. Sekarang dia dan Lea tidak bisa dipisahkan, apalagi setelah Lea berteman dengan Alvaro."
"Alvaro itu....... anaknya Alvar?" tebak Davira yang mana langsung mendapat anggukan kepala dari Atvita.
"Dua hari yang lalu Alvar ingin kembali ke Spanyol karena bisnisnya, Lea tidak ingin berpisah dan terus merengek. Jadi aku mengizinkan Alvar membawanya," Atvita menghela nafas panjang kemudian masuk ke kamar Nathan dan Davira tanpa permisi.
Atvita langsung duduk di tepi ranjang sembari mengedarkan pandangannya, memperhatikan seisi kamar yang tidak seluas kamar Nathan di mansion, namun jauh lebih indah.
"Apa Aaron tahu?" tanya Nathan sembari memasang kaosnya.
"Jangan sampai dia tahu Lea dibawa oleh Alvar, dia bisa mengamuk dan menyusul ke Spanyol. Saat ini Aaron sedang berada di Kalimantan, dia sangat sibuk, sudah satu bulan lebih dia di sana."
"Lalu kau akan membiarkan Lea tinggal bersama Alvar berapa lama?"
"Lusa aku akan menyusul ke Spanyol, tapi hari ini aku ingin bersantai dulu di Bali," Atvita menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang terasa begitu empuk.
Matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang menerawang, memikirkan tentang Lea yang saat ini diasuh oleh Alvar.
"Tidurlah di sini, apa kau perlu pengawalan saat nanti ke Spanyol?"
"Tidak perlu, Nathan. Aku akan pergi sendirian," tolak Atvita.
"Baiklah, aku hanya ingin mengatakan padamu, Atvita. Kau sudah dewasa, kau berhak menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi ingat bahwa Alvar pernah menyakitimu, jadi jangan terlalu memercayainya," setelah mengatakan hal itu, Nathan keluar dari kamarnya, meninggalkan Davira dan Atvita di sana.
__ADS_1
Davira segera menutup pintu kemudian merebahkan diri di samping Atvita.
"Kau masih mencintainya?" tanya Davira membuat Atvita menoleh.
"Apakah sangat terlihat?"
Davira terkekeh kecil, "Dengan membiarkan Alvar masuk kembali ke dalam kehidupanmu saja sudah menunjukkan bahwa kau masih mencintainya, kau ingin melihat bagaimana cara dia memperbaiki hubungan kalian bukan? Kau tidak pernah benar-benar mengusirnya pergi."
"Kau benar, Davira. Apa aku bodoh jika memberikannya kesempatan? Aku....hanya ingin bersamanya, saat melihat dia kembali setelah lima tahun dengan sikap yang berbeda membuat aku memiliki harapan."
"Kau tidak bodoh, memberi kesempatan bukan kebodohan. Ku rasa lebih baik memaafkan dari pada harus menyiksa diri sendiri karena menekan perasaan dan lebih mengutamakan kemarahanmu. Kau hanya harus jujur dengan dirimu sendiri, Atvita."
Atvita tersenyum tipis mendengarnya, apa yang Davira katakan memanglah benar. Dengan terus menyangkal dan menekan perasaannya sendiri, dia menjadi tersiksa dan tidak akan pernah merasa bahagia.
"Bagaimana hubunganmu dengan Nathan, Davira?"
"Seperti yang kau lihat, kami baik-baik saja."
"Maksudku tentang Bibi Amara, apakah dia sudah menerimamu?"
Davira tidak langsung menjawabnya, ia teringat dengan pertemuannya dengan Amara dua minggu yang lalu.
"Dia tidak menunjukkan rasa benci, tapi tidak juga menunjukkan rasa suka. Lebih seperti dia sudah tidak peduli tentang wanita mana yang menjadi pasangan Nathan."
"Yang terpenting adalah Nathan, Atvita. Selagi dia memilih tetap mempertahankanku dan selalu membelaku, aku tidak mempedulikan yang lainnya."
Davira kembali merubah posisinya menjadi duduk, wanita itu tersenyum kecil saat melihat Nathan yang ternyata berdiri di ambang pintu dan sepertinya mendengarkan pembicaraan mereka sedari tadi.
π_π
Angin pantai berhembus begitu kencang, rambut panjang Davira berkibar dengan indah, kulit putih mulus wanita itu terlihat sedikit memerah terkena sinar matahari yang sangat terik.
Davira berdiri menyambut sapuan ombak di kakinya, raut bahagia terus terpancar di wajah cantiknya. Wanita itu mulai memejamkan matanya untuk merasakan angin yang menerpa tubuhnya.
Davira selalu merasa begitu nyaman saat sedang berada di pantai, dia seperti mendapatkan ketenangan. Sudut bibirnya sontak tertarik ke samping saat merasakan tangan kekar yang tiba-tiba saja melingkar di perutnya membuat Davira menyandarkan belakang kepalanya pada dada bidang pria yang memeluknya.
"Kau merasakannya, Davira?"
Nathan meletakkan dagunya di atas kepala Davira kemudian mengecupnya.
"Bagaimana mungkin aku melepaskanmu, bagaimana bisa aku membiarkanmu pergi."
Davira mengusap pelan tangan kekar Nathan, berada di dekat pria itu benar-benar membuatnya merasa aman dan nyaman.
"You can't."
__ADS_1
"Apa kau bisa?" tanya Nathan membuat Davira menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau tahu aku juga tidak bisa."
Nathan tersenyum mendengarnya kemudian membalik tubuh Davira membuat mereka kini saling berhadapan. Nathan mengusap wajah Davira lalu mengecup bibirnya sebelum mengangkat tubuh wanita itu.
Davira tertawa kecil sembari mengusap kepala Nathan, pria itu mengangkat tubuhnya dengan begitu mudah seolah dia sangatlah ringan.
"I will always love you, Davira. You know i will always love you."
"I know," Davira menatap netra Nathan lekat-lekat, perasaannya kepada pria itu terasa semakin besar.
"Sebaiknya turunkan Davira!"
"Shitt," Nathan mengumpat pelan kemudian menoleh ke samping, begitu juga dengan Davira.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Nathan sembari menurunkan Davira.
"Tentu saja untuk bertemu dengan Davira, kami merindukannya!" sahut Luca membuat Nathan menghela nafas kasar.
Davira tertawa kecil, ia merasa sangat senang karena, Jakob, Luca, Liam, Fedrix, Dex dan juga Mario datang setelah dua bulan lamanya tidak bertemu.
Davira segera berlari ke arah mereka membuat Jakob langsung memeluknya.
"Arghh aku merindukanmu."
"Kau senang kami datang, Davira?"
"Tentu saja aku senang," jawab Davira setelah pelukan mereka terlepas.
"Ini pertama kalinya aku ke Bali! Di sini sangat menyenangkan!" seru Mario penuh dengan semangat.
"Sepertinya ada yang tidak senang dengan kedatangan kami," ucap Fedrix tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Nathan merasa terganggu.
"Kalian datang di saat yang tidak tepat."
Nathan segera menarik tangan Davira agar sedikit menjauh dari Jakob dan yang lainnya.
Jakob berdecak melihatnya, "Kami tahu Nathan, dia milikmu."
Nathan mengecup pipi Davira kemudian memeluknya.
"Kalian tahu hal itu."
Davira kembali tertawa di dalam pelukan Nathan, dia merasa sangat bahagia. Mungkin dia memang kehilangan banyak hal dalam hidupnya, namun dengan adanya Nathan membuatnya merasa kuat dan memiliki Nathan dalam hidupnya lebih dari apapun.
__ADS_1