Tawanan Tuan Xie

Tawanan Tuan Xie
Part 71 - Diberi Waktu


__ADS_3

"Lebih cepat lagi, Paul. Aku ingin segera menemui ayahku."


"Baik Tuan," Paul segera menambahkan kecepatan mobilnya, membelah jalan raya yang cukup ramai.


Nathan menatap ke arah luar jendela, menatap langit malam Roma yang terlihat begitu indah. Nathan sontak teringat dengan Davira, dia sudah merindukan wanita itu, padahal dia baru saja menginjakkan kaki di Roma.


Nathan tersenyum kecil mengingat Davira yang terus berusaha membujuknya untuk ikut bersamanya ke Roma, namun Nathan tetap dengan keputusannya. Dia tidak ingin mengambil resiko, Davira harus tetap aman sampai semuanya berhasil dia bereskan.


Di Roma sangat berbahaya untuk Davira. Aaron, ayahnya, dan hampir seluruh keluarga besar Xie masih mencari-cari keberadaan Davira.


Suara dering ponselnya kini terdengar, Nathan segera merogoh benda pipih itu, nama Emma tertera di layar ponselnya. Emma terus saja menelepon dan mengiriminya pesan sejak ia tinggalkan begitu saja ke Republik Dominika, Nathan tahu Emma pastinya sangat marah kepadanya.


Nathan akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon dari Emma, ia menempelkan ponselnya ke telinganya, suara wanita itu mulai terdengar.


"Akhirnya kau mengangkat teleponku, aku benar-benar mengkhawatirkanmu, Nathan. Sebenarnya kau ke mana? Kau pergi begitu saja, kau mengatakan akan ke Roma, tapi ternyata kau membohongiku."


"Maafkan aku untuk itu, Emma. Ada masalah yang memang harus ku selesaikan, dan aku tidak ingin kau terlibat, hanya itu."


"Jadi sekarang kau di mana? Apakah Davira bersamamu? Kau tahu Nathan? Ayahmu mencarimu, dia bahkan selalu menanyakan keberadaanmu kepadaku karena dia tahu aku menyusulmu ke Saltykovka waktu itu."


"Aku ada di Roma sekarang, aku akan menemuinya."


"Benarkah? Kau.....tidak sedang membohongi aku kan?"


"Tidak, Emma. Apa ada hal penting? Aku akan mematikan teleponnya jika tidak ada."


Emma menghela nafas panjang, "Aku ingin kita bertemu, dan aku ingin tahu di mana kau menyembunyikan Davira? Kau tidak bisa seperti itu Nathan, seluruh keluargamu sedang mencarinya saat ini."


"Aku tidak bisa bertemu denganmu, masih banyak hal penting yang harus ku urus. Aku juga tidak bisa memberitahumu keberadaan Davira, yang jelas dia berada di tempat yang aman."


"Kau tidak mempercayaiku Nathan?"


Nathan tersenyum kecil, "Aku tidak bisa mempercayai siapapun, apalagi setelah Aaron berhasil melacakku."


"A-apa maksudmu Nathan?"


"Kau tahu apa maksudku," Nathan segera memutus sambungan telepon mereka secara sepihak.


Pria itu mengusap layar ponselnya yang memperlihatkan foto dirinya dan Davira saat sedang berada di pantai, mereka berdua terlihat sangat bahagia membuatnya selalu tersenyum saat melihat foto tersebut.

__ADS_1


Berbeda dengan Emma yang mulai merasa ketakutan, wanita itu berjalan mondar mandir di kamarnya dengan perasaan yang tidak tenang.


"Nathan sudah di Roma, aku harus menemuinya. Sepertinya dia sudah tahu bahwa aku yang memberitahu Aaron tentang keberadaan Davira di Moskow waktu itu," gumamnya kemudian berdecak kesal ketika melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Emma langsung teringat dengan Erick yang memintanya untuk bertemu malam ini, Emma harus membuat keputusan. Ini menyangkut keselamatan nyawanya, dia harus memilih antara tetap mengejar cinta Nathan, atau menjadi kekasih Erick agar mendapatkan perlindungan dari pria itu.


Dan Emma sepertinya sudah memutuskan langkah apa yang harus dia ambil, Emma tidak akan membuat nyawanya terancam, dan Emma juga tidak akan melepaskan Nathan.


"Silahkan, Tuan," Paul membukakan pintu mobil untuk Nathan saat mereka sudah berada tepat di depan pintu utama mansion.


Nathan segera turun sembari melepaskan jasnya, menyisakan kemeja berwarna hitam yang melekat pada tubuh atletisnya.


Beberapa penjaga terlihat terkejut melihat kedatangannya, Nathan melangkah dengan tenang memasuki mansion bersama dengan Paul yang mengikutinya di belakang.


Langkah kaki Nathan terhenti saat melihat Julian yang sedang menuruni tangga bersama dengan seorang wanita bertubuh seksi yang tidak Nathan kenali sama sekali.


Julian yang awalnya terlihat tertawa kini langsung terdiam saat melihat kehadiran Nathan, Julian sontak melepaskan rangkulannya dari wanita yang sudah satu bulan ini menjadi simpanannya.


Julian mempercepat langkahnya hingga ia berhadapan dengan Nathan.


Bughh.


Bogeman mentah langsung dilayangkan oleh Julian tepat mengenai rahang Nathan.


Bughh.


"Bagaimana bisa kau menyerang Aaron hanya untuk melindungi wanita itu?!"


Julian benar-benar terlihat diliputi amarah membuat Paul dan Jessica, wanita simpanannya merasa was-was.


"Aku ke sini untuk menyelesaikan masalah ini ayah!"


"Menyelesaikan? Apa kau membawa Davira?! Apa kau akan membunuhnya di hadapan keluarga besar Xie?!"


Bughh.


Julian kembali meninju wajah Nathan hingga sudut bibir putranya itu robek dan mengeluarkan darah, Julian mendorong tubuh Nathan membuatnya tersungkur menabrak meja.


"Membunuh Davira bukanlah penyelesaian masalah! Karena bukan dia pelakunya!" Nathan meludah merasakan asin dari darah di mulutnya.

__ADS_1


"Lalu untuk apa kau memperlihatkan dirimu di sini?! Kau sudah mengkhianati keluarga Xie dengan menyelamatkan orang yang sudah membunuh nenekmu sendiri?!"


Julian menatapku tajam sembari menarik kerah kemeja Nathan.


"Davira tidak melakukannya! Dia tidak pernah meletakkan racun itu pada minuman nenek!"


Bughh.


"Berhenti membelanya Nathan!"


"Aku akan terus membelanya karena dia memang tidak bersalah, dia adalah wanita yang menjadi tawananku selama berbulan-bulan. Aku membawanya ke acara pertemuan itu dan dia selalu bersamaku sepanjang waktu, bagaimana bisa dia mendapatkan racun itu dan menaruhnya dalam minuman nenek?! Bagaimana bisa Davira pergi ke ruang cctv dan rekaman video di beberapa sudut ruangan sedangkan dia sendiri tidak tahu dimana letak toilet!"


Nathan menepis tangan Julian dari kerah kemejanya, ia menatap sang ayah tanpa rasa takut sedikitpun.


"Aku ke sini hanya untuk memperingati ayah agar tidak lagi menyuruh seseorang untuk menangkap atau bahkan membunuh Davira, siapapun yang melakukannya akan berurusan denganku. Tidak ada yang boleh menyentuh Davira sampai pelaku yang sebenarnya ku temukan, akan ku seret pembunuh nenek ke hadapan kalian semua."


"Bagaimana jika benar-benar Davira yang membunuh nenekmu?" tanya Julian membuat Nathan terkekeh sembari menyeka darah yang keluar dari hidungnya.


"Bukan dia pelakunya, aku tidak akan datang ke sini jika aku tidak yakin. Beri aku waktu untuk membuat kalian semua percaya dan berhenti menganggu Davira."


Julian mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia benar-benar merasa kewalahan menghadapi sikap keras kepala Nathan. Jika saja Nathan bukan putra kandungnya, maka sudah sedari dulu ia lenyapkan. Nathan selalu saja bertentangan dengannya, melawannya tanpa rasa takut. Dan sekarang Nathan sedang memeringatinya untuk tidak lagi mengincar Davira.


"Aku akan memberimu waktu tujuh hari, jika setelah tujuh hari pelakunya belum kau bawa ke hadapan kami, maka itu artinya Davira adalah pelaku yang sebenarnya, dan kami akan membunuhnya, Nathan."


"Beritahukan kepada keluarga besar Xie agar tidak mencari keberadaan Davira selama tujuh hari, terutama Aaron, katakan padanya untuk tidak lagi mengganggu Davira. Akan ku seret pelaku itu secepatnya," ucap Nathan begitu yakin.


"Untuk Aaron, aku tidak bisa mengatasinya. Kau harus menemuinya sendiri, dia tidak akan melepaskan Davira setelah semua yang terjadi."


"Aku akan menemuinya," Nathan beralih menatap Jessica kemudian terkekeh.


"Ada dimana ibu sekarang? Apa dia tahu ada ******* di mansion ini? Sepertinya setelah menyeret pembunuh nenek, aku harus mulai menyeret setiap ******* yang kau bawa."


"Tutup mulutmu Nathan! Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan pribadiku!"


"Begitu juga denganmu! Setelah pelaku itu ku temukan, maka aku dan Davira benar-benar akan bebas! Tidak ada yang boleh menyentuhnya, dan ayah tidak boleh ikut campur mengenai urusan pribadiku. Tidak akan ada yang bisa melarangku untuk bersama dengan Davira."


Setelah mengatakan hal itu, Nathan segera berbalik dan melangkahkan kakinya.


"Kau akan ke mana lagi Nathan?!"

__ADS_1


Nathan menerima sapu tangan yang diberikan oleh Paul untuk membersihkan darah di wajahnya.


"Menemui Aaron, dia harus tahu aku masih hidup."


__ADS_2