
Nathan langsung memeluk erat tubuh Davira saat tubuh mereka terpelanting karena efek ledakan. Lantai yang mereka pihak terasa bergetar, beruntung mereka sempat berlari menjauh hingga ledakan itu tidak membuat tubuh mereka semua tercerai berai.
"Kita harus segera keluar dari gedung ini!" teriak Aaron saat reruntuhan mulai menimpa mereka semua.
"Davira, kau baik-baik saja?" tanya Nathan memastikan.
Pria itu segera membantu Davira untuk berdiri.
"Aku baik-baik saja," jawab Davira sembari mengikuti langkah kaki Nathan dengan tangan yang terus berpegangan.
"Davira?! Mana Davira?!"
Suara teriakan Jakob terdengar dari arah belakang.
"Aku ada di sini Jakob! Cepatlah, kita harus keluar sekarang juga sebelum kita tertimbun!" sahut Davira kemudian berlari kecil.
Mereka semua berlarian hingga berhasil keluar dari gedung. Aaron mengusap wajahnya kasar kemudian mengumpat pelan.
"Di mana Erick? Gedung ini hanya jebakan!"
"Aku juga tidak tahu! Aku tidak akan menyeret kalian semua dalam bahaya!" Aaron mengacak-acak rambutnya yang basah oleh keringat.
"Sepertinya kau memperkerjakan orang-orang yang tidak becus," ucap Alvar membuat Aaron menatapnya tajam.
"Tutup mulutmu sebelum aku merobeknya sialan!" Aaron mendorong bahu Alvar merasa marah mendengar perkataan mantan kekasih adiknya itu.
"Aku akan mematahkan tanganmu sebelum kau melakukannya," Alvar menatap Aaron tanpa rasa takut membuat Aaron langsung melayangkan tinjunya.
Bughh.
Alvar tentunya membalas tinjuan Aaron tepat mengenai rahangnya.
"Harusnya kau tidak perlu menolong kami bang*sat! Bantuanmu tidak pernah berguna! Kau tidak pernah melindungi Atvita dengan benar! Kenapa kau membiarkan orang-orangnya itu membawanya hah?! Kenapa kau tidak mencegahnya? Harusnya kau mengejarnya!"
"Aku sudah berusaha sialan."
Bughh.
Aaron meludahkan darah dari mulutnya, "Itu yang selalu kau katakan, berusaha? Atvita tidak pernah menginginkan hal itu!"
Alvar sontak tertegun mendengarnya, perasaan bersalah atas gagalnya hubungan mereka di masa lalu memang selalu menyelimutinya.
Nathan hanya menghela nafas panjang melihat pertengkaran Aaron dan Alvar yang tidak ada habisnya. Kedua pria itu memiliki sifat yang sama, emosi keduanya tidak terkendali dan cenderung bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Kenapa sekarang kau diam bang*sat?!"
Bughh.
Aaron kembali melayangkan tinjunya ke wajah Alvar membuat pria itu terhuyung ke belakang.
"Jangan coba-coba untuk ikut campur!" suara Nathan terdengar meninggi saat orang-orang Alvar berniat maju untuk menyerang Aaron.
Alvar segera mengangkat satu tangannya untuk memberi isyarat kepada orang-orangnya agar tidak ikut campur dengan urusannya dan Aaron.
"Sshhsss......" Alvar menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
__ADS_1
"Aku akan memperbaiki semuanya, aku tidak akan membiarkan Atvita terluka."
"Tidak ada yang perlu kau perbaiki, Atvita akan selamat bahkan tanpa bantuan darimu," Aaron ingin kembali maju menyerang Alvar, namun tubuhnya langsung ditahan oleh Nathan.
"Berhenti bertengkar, ini bukan waktu yang tepat. Nyawa Atvita sedang dalam bahaya, kita harus segera bergerak karena kita sudah tertinggal jauh dari Erick. Aku akan meminta orang-orangku melacak keberadaan Erick, jadi jangan bertengkar sampai Atvita kita dapatkan."
Aaron menepis tangan Nathan kemudian masuk ke dalam mobilnya. Davira mengernyit, dia tidak mengerti dengan Aaron, pria itu terlihat begitu membenci Alvar. Apa kesalahan yang pernah Alvar lakukan di masa lalu sehingga Aaron sangat membencinya?
Apa Alvar sangat menyakiti Atvita? Batin Davira mulai bertanya-tanya tentang apa yang terjadi di antara, Alvar, Aaron dan juga Atvita.
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Kita tunggu informasi dari orang-orangku, Jakob."
"Apa Atvita akan baik-baik saja?" tanya Alvar dengan rasa khawatir yang semakin membesar.
"Aku akan menguliti Erick jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Atvita."
"Lalu bagaimana dengan Emma Scott, Jonathan? Ku rasa dia akan melarikan diri, apa keluargamu di sana sudah bergerak meringkusnya?" Luca bersedekap dada.
"Mereka belum bergerak sebelum ada isyarat dariku dan juga Aaron, kita harus mengesampingkan urusan Emma terlebih dahulu."
"Kita akan kembali ke mansion sekarang?"
Alvar menganggukkan kepalanya, "Kita tunggu informasi dari orang-orangnya Jonathan."
Sedangkan di tempat yang berbeda, Emma melangkahkan kakinya dengan cepat saat melihat kedatangan seorang pria yang sedari tadi ia tunggu-tunggu.
"Bagaimana?" tanya Emma dengan jantung yang berdebar-debar.
Emma menggigit kuat bibir bawahnya, rasa takut mulai membuat tangannya gemetaran.
"Sekarang bagaimana Erick? Aku akan dibunuh oleh keluarga Xie! Nathan pasti membenciku!" teriak Emma dengan mata yang sudah begitu memerah.
Erick segera menangkup wajah Emma, "Aku berjanji keluarga Xie tidak akan menyentuhmu, aku sudah menculik Atvita."
"Menculik Atvita? Apa yang kau lakukan Erick?! Keluarga Xie akan semakin marah kepadaku, mereka benar-benar akan membunuhku!"
"Tidak akan! Atvita ada bersama kita, mereka tidak mungkin bisa membunuhmu karena aku akan membunuh Atvita jika sampai itu terjadi!"
Emma mengacak-acak rambutnya merasa frustasi kemudian mengambil vas bunga di atas meja.
Praang.
Vas bunga itu langsung pecah berkeping-keping di lantai.
"Nathan akan membenciku, Nathan akan membenciku Erick!" satu tetes cairan bening mulai keluar dari pelupuk mata wanita itu.
"Arghhh bagaimana jika keluarga Xie datang dan membunuhku?! Sekarang apa yang harus ku lakukan? Ada di mana Nathan?" tanya Emma sembari berjalan mondar-mandir.
"Mereka masih berada di Spanyol dan aku sudah menjebak mereka," jawab Erick membuat Emma mengernyit.
"Apa maksudmu? Kau menjebak Nathan dan Aaron?"
Erick menganggukkan kepalanya, "Jakob, Nathan, Aaron bahkan Davira telah ku jebak. Mungkin sekarang mereka sudah mati karena bom itu."
__ADS_1
Mata Emma seketika terbelalak mendengarnya.
Plaak.
Satu tamparan keras langsung mendarat di pipi Erick, Emma menatapnya nyalang dengan nafas yang memburu.
"Apa yang sudah kau lakukan?! Kenapa kau menjebak Nathan?! Kau sudah gila Erick!" teriak Emma begitu marah sekaligus ketakutan membayangkan Nathan tiada.
"Ada apa denganmu Emma? Aku melakukan ini semua untukmu! Dia harus ku lenyapkan agar nyawamu tidak terancam!"
"Arghh Nathan tidak boleh mati Erick, Nathan tidak boleh mati!" Emma terus berteriak sembari membanting barang-barang yang ada di atas meja.
"Emma! Kau haru sadar, dia akan membunuhmu. Nathan sudah mengetahui semuanya, keluarga Xie juga pastinya akan datang sebentar lagi untuk membalas dendam. Dengan kematian Aaron dan Nathan, setidaknya mereka sedikit melemah!"
Emma menggelengkan kepalanya cepat, wanita itu terduduk di antara pecahan vas bunga membuat Erick merasa khawatir.
"Aku tidak bisa! Aku tidak bisa, aku membencimu Erick!" suara Emma sampai terdengar parau.
Emma mengambil pecahan vas bunga yang cukup besar dan menggenggamnya erat.
"Emma apa yang kau lakukan?" Erick segera berjongkok dan meraih tangan wanita itu.
Darah segera terlihat menetes dari telapak tangan Emma yang sobek, Emma tidak terus menggenggamnya erat membuat Erick merasa panik.
"Apa yang terjadi di sini?!"
Erick sontak menoleh, matanya melebar melihat Arthur yang kini berdiri di ambang pintu.
Artur menatap putrinya yang duduk bersimpuh di lantai.
"Lepaskan benda itu dari tanganmu, Emma," Arthur melangkahkan kakinya menghampiri putrinya itu.
Arthur berjongkok di hadapan Emma kemudian meraih tangan anak perempuannya itu. Emma menatapku dengan perasaan yang tidak karuan, air mata terlihat sudah membasahi pipinya.
"Ayah tahu semua yang kau lakukan, ayah juga sudah mendengar semuanya hari ini, dan ayah sangat terkejut, Emma. Bagaimana bisa kau melakukan hal gila seperti itu?"
Arthur menghela nafas panjang sembari membuka genggaman tangan Emma secara perlahan untuk mengambil pecahan vas bunga yang sudah berlumuran darah.
"Sekarang semuanya sudah terbongkar, kenapa kau tidak memberitahu ayah tentang permasalahanmu ini sedari awal? Dan kenapa kau melakukan itu Emma? Hanya karena Nathan, sekarang nyawamu dalam bahaya," Arthur mengusap kepala Emma.
"Maafkan ayah karena ayah terlambat mencari tahu tentang urusanmu, jika saja ayah tahu lebih awal, ayah akan membereskan semuanya untukmu."
"Sekarang bagaimana ayah? Nathan membenciku, keluarga Xie juga akan membunuhku," Emma terisak, tubuhnya terlihat bergetar ketakutan.
"Itu tidak akan terjadi, ayah tidak akan membiarkan keluarga Xie menyentuhmu. Ayah akan melindungimu, Emma," Arthur menarik tubuh Emma ke dalam pelukannya.
"Apa ayah tidak merasa marah?"
"Ayah sangat marah, kau bertindak bodoh hanya untuk mendapatkan seorang pria. Membahayakan nyawamu dan membuat bisnis ayah terancam karena hubungan kita dengan keluarga Xie setelah ini akan sangat rumit. Tapi apa boleh buat? Semuanya sudah terjadi, sekarang yang bisa ayah lakukan hanyalah melindungimu dengan berbagai macam cara."
Arthur beralih menatap Erick, "Yang dilakukan oleh Erick itu benar, menyekap Atvita adalah keputusan yang tepat. Dan jika Nathan tiada karena bom itu, maka satu ancaman untukmu akan menghilang."
Mendengar hal itu membuat Emma langsung melepaskan diri dari pelukan Arthur.
"Jangan mengatakan hal itu ayah! Aku tidak bisa jika Nathan tiada! Dia harus tetap hidup apapun yang terjadi!"
__ADS_1